Episode Ibu dan 3 Anak

Padatnya tugas kantor yang mau tidak mau mengharuskan saya menyediakan waktu lebih untuk menyelesaikannya,terkadang membuat saya kesal, marah, sedih dan entah apalagi. Hal ini berarti semakin mengurangi porsi saya berada di rumah bersama anak-anak. Terlebih saat saya harus berangkat ke kantor seperti saat akhir pekan lalu. Meskipun begitu, rasa tanggungjawab terhadap pekerjaan membuat saya tetap berangkat.

Setelah seharian berdiskusi bersama rekan-rekan di manajemen, akhirnya kami memutuskan melanjutkan pekerjaan pada senin pagi. Perjalanan menuju rumah relatif lancar. Kereta commuter line yang saya naiki, relatif kosong, dapat tempat duduk, dan nyaman. Saat tiba di stasiun Bogor, saya melanjutkan perjalanan dengan angkutan kota. Di sebuah perempatan lampu merah, seorang anak kecil dengan pakaian kotor dan lusuh, naik . Sudah beberapa tahun terakhir pengamen jalanan semakin bertambah jumlahnya di kota Bogor. Saya amati, didominasi oleh anak-anak dan remaja tanggung. Saya pikir, anak kecil tersebut juga akan mengamen.

Ternyata dugaan saya salah. Dia naik bersama Ibu, kakak, dan adiknya. Dan, Astaghfirullahaladzim….. saat mereka bertiga naik, aroma tidak sedap seperti bau got langsung menguar. Refleks saya menahan napas. Beberapa penumpang lain saya lihat mencoba menutupi hidung meskipun tidak secara terang-terangan. Usia anak pertama saya perkirakan sekitar 4 tahun, kemudian 3 tahun, dan 1 tahun. Rambut mereka tampak kaku kemerahan, nampaknya akibat terpanggang terik matahari. Pakaian mereka kotor, kulit mereka seperti bersisik dan berlumpur. Lebih prihatin lagi menyaksikan anak terkecil yang hanya mengenakan kaos seadanya Dan pampers, tanpa dibalut pakaian luar. Malam itu udara cukup dingin karena hujan baru saja usai mengguyur bumi. Sempat terpikir di benak saya, di manakah Ayah dari anak-anak tersebut? Apakah memang Ibu itu seorang orangtua tunggal?

Berbicara mengenai hal tersebut, saya juga berperan sebagai orangtua tunggal. Tetapi saya bekerja sehingga mempunyai penghasilan. Saya masih bisa memberikan makanan dan pakaian yang terbaik untuk anak-anak. Saya masih mampu membelikan susu yang harganya tidak murah. Saya masih bisa mengajak anak-anak jalan-jalan di akhir pekan. Saya masih nisa menyediakan tempat tinggal yang layak meski masih jauh dari rumah impian saya di masa kecil. Apalagi? Sangat berbanding terbalik dengan keluarga kecil yang saya jumpai itu.

Di antara keluhan yang terucap dalam hati saja, Allah kirimkan Ibu dan 3 anak tersebut ke hadapan saya sebagai pengingat. Di tengah menurunnya kadar ibadah dan doa, Allah hadirkan Ibu dan 3 anak tersebut sebagai perintah untuk lebih mendekat padaNya. Ampuni hamba Ya Rabb, jika selama ini tak peka dengan curahan cinta dariMu.

Warmest regards,
Me – the Web Owner

About

Mom of two kids, living within good books and extraordinary people

No Comments

Leave a Comment

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.