Renungan 30

Ini adalah tulisan pertama di usia saya yang ke-30. Ingin sekali tulisan ini saya buat tepat di hari lahir saya. Tetapi, kesibukan pekerjaan di kantor yang saat itu benar-benar terasa pada titik puncak, membuat saya menundanya dan berencana untuk menuliskannya di dalam perjalanan pulang. Tetapi sungguh luar biasa lelah saya pada periode tersebut dan akhirnya menundanya lagi dan berencana menundanya sampai tiba di rumah. Tetapi, keinginan untuk tertawa dan bercanda bersama anak-anak akhirnya kembali menunda tulisan tersebut hingga batas waktu hari ini. Kemarin kami sekeluarga seharian berkeliling Jakarta dan Tangerang, sampai rumah malam sekali, anak-anakpun tidak langsung tidur. Hasilnya, saat ini mereka berdua masih terlelap. Dan, menulislah saya…

Tulisan ini menjadi janji saya kepada diri saya sendiri disaksikan oleh Allah. Suatu keharusan kualitas hidup harus meningkat bahkan sebisa mungkin melaju dengan cepat. Fokus pada tujuan, apakah itu? Satu hal penting bahwa saya harus memastikan segala sesuatu yang saya lakukan, baik ucapan, sikap, maupun tindakan, akan berarti dan bermanfaat bagi keluarga, lingkungan, bangsa, dan agama saya. Jika ternyata tidak bermanfaat, menahan diri jauh lebih baik. Bagaimana dengan tulisan? Karena saya pun masih dalam tahap belajar, mohon maaf sekali jika ternyata tulisan-tulisan saya belum masuk kategori tulisan bermanfaat.

Teringat ucapan salah seorang sahabat baik saya sejak jaman SMP bahwa dia tidak suka pada orang yang suka memotret gambar makanan yang tengah dimakan lalu diunggah dalam suatu media sosial karena menurutnya orang tersebut sudah bersikap sombong. Ada kemungkinan orang yang melihat sudah lama mengidam-idamkan menyantap makanan tersebut tetapi belum mampu membelinya. Sederhana sekali tapi sangat mempengaruhi saya. Terkadang rasa ingin menunjukkan tersebut melekat juga dalam diri saya. Dan bukankah rasa tersebut termasuk dalam riya’? Astaghfirullahaladziim… Maha Besar Allah mengaruniakan sahabat sebaik dia, yang mengingatkan saya untuk menjauhi sifat riya’. Maka, cukuplah media sosial saya jadikan media untuk berbagi ilmu dan pengetahuan saja. Hal-hal pribadi, cukup disimpan sendiri atau dalam web-blog saja. Tidak perlu saya menginformasikan kepada semua orang, sedang berada di mana, sedang apa, sedang makan apa dan lain sebagainya.

Saat hati saya terasa rusuh, mengadu kepada Allah adalah hal terbaik yang dapat dilakukan. Allah selalu berikan petunjuk dan jalannya melalui banyak cara. Melalui keyakinan hati saya, menggerakkan saya untuk membeli buku agar saya menemukan petunjuk Allah di dalamnya, menggerakkan saya untuk mengikuti seminar/workshop dan membukakan mata hati dan pikiran saya dari acara tersebut, dan lain-lain. Menjadi seorang pemberani: Dalam arti mengakui kesalahan diri kita. Jika apa yang selama ini saya inginkan belum dikabulkan olehNya, dikarenakan usaha saya tidaklah semaksimal energi dan kemampuan yang sudah Allah anugerahkan. Jikalau usaha saya sudah maksimal ternyata tidak saya iringi dengan ketaatan tinggi dalam ibadah, terlewat puasa sunnah, Dhuha dan Tahajjud. Jikalau ibadah sudah digerakkan, ternyata ikhtiar saya dalam bersedekah masih dihemat-hemat. Jikalau sedekah sudah ikhlas dan tak lagi dihemat-hemat ternyata saya masih enggan memperpanjang silaturahmi, baik kerabat maupun teman. Jikalau silaturahmi sudah terikat erat ternyata saya masih suka menentang keras orangtua. Dan begitulah seterusnya. MasyaAllah…

Tidak ada manusia yang sempurna tetapi bukan berarti tidak berjuang untuk menjadi sempurna. Sempurna di mata Allah saja, tak perlu sempurna di hadapan manusia. Allah adalah Sang Maha Hebat, tetapi manusia juga harus senantiasa berjuang menjadi muslim dan muslimah yang hebat, meski tak dapat sehebat Rasulullah. Belajar mendengar, belajar berempati, belajar untuk terus naik tingkat. Anak SD pun tahu bahwa untuk bisa naik kelas haruslah bejar. Maka, di sinilah saya sekarang. Di sebuah anak tangga – bukan yang terbawah, tapi masih jauh juga mencapa puncaknya – dengan tiang pancang berbendera barisan kalimat janji pada diri sendiri, disaksikan Allah. I’m a Great Muslimah!

The New Me Rich Lina

 

 

About

Mom of two kids, living within good books and extraordinary people

No Comments

Leave a Comment

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.