Selingkuh di Tempat Kerja

Judul tulisan saya pagi ini cukup ‘vulgar’ ya untuk dibaca di Senin pagi. Hari yang bagi karyawan seperti saya, dinobatkan sebagai hari tersibuk sepanjang minggu. Hari yang seringkali dianaktirikan dengan kalimat ‘I Hate Monday’. Sangat disayangkan ya, karena pada justru bagi saya hari Senin merupakan hari yang paling pas untuk menjemput rezeki. Bagaimana bisa Allah turunkan rezeki berlimpah jika diawali dengan sungutan ‘I Hate Monday’?

Kembali ke topik selingkuh. Saya mendefinisikan selingkuh sebagai suatu kegiatan yang menunjukkan bahwa diri kita tidak memegang teguh komitmen. Oleh karena itu, tidak memiliki integritas dan kesetiaan. Selingkuh bukan hanya akibat dari ketertarikan sosok pria atau wanita kepada orang yang bukan pasangannya saja. Seiring dengan perkembangan teknologi informasi, pelaku selingkuh ini semakin bertambah saja. Lho, kok bisa? Jelas saja bisa. Siapakah mereka? Karyawan yang mengaku punya pekerjaan sampingan dengan berjualan online. Hmm, masih bingung?

Apa sih sebenarnya tugas seorang karyawan itu, tentunya melaksanakan tugas yang diberikan perusahaan dengan diberikan kompensasi berupa gaji, uang transportasi, uang makan, tunjangan hari raya, dan bonus. Selain itu karyawan juga ditunjang dengan peralatan kerja seperti perangkat komputer dan sejenisnya. Untuk apa? Tentu saja untuk menyelesaikan pekerjaan-pekerjaannya.

Nah, yang kemudian saya berikan julukan si ‘peselingkuh’ ini adalah mereka yang berstatus sebagai karyawan, tapi sempat-sempatnya, atau malah memang menyempatkan diri untuk berjualan online di jam-jam kantor, dengan peralatan dari kantor pula. Selingkuh kan namanya?

Tulisan ini saya buat bukan karena saya iri kepada mereka yang bisa menggembungkan isi rekening dari hasil jualan online. Tetapi lebih karena rasa prihatin karena mereka kehilangan komitmen terhadap tempat yang selama ini memberikan mereka pekerjaan dan penghasilan. Saya mendukung sekali jiwa wirausaha yang saat ini sudah mulai menggeliat di diri masyarakat kita. Saya pernah membaca sebuah artikel yang menyebutkan bahwa untuk maju, Indonesia membutuhkan sedikitnya 20% wirausahawan/wati dan saat ini kita belum mencapai angka tersebut.

Alangkah baiknya jika berjualan online tersebut dilakukan di luar jam kantor atau jika ternyata tidak memungkinkan, di sinilah ketegasan seseorang diperlukan, yakni memilih satu di antaranya saja. Saya juga sedang belajar berwirausaha, tetapi dapat berbangga hati bahwa saya tidak menjadi satu dari sekian banyak karyawan yang berselingkuh tersebut.

Berani berkomitmen dan menjaga integritas, itu kuncinya. Happy Monday!!!

The New Me Rich Lina

About

Mom of two kids, living within good books and extraordinary people

No Comments

Leave a Comment

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.