Pelajaran dari Kendaraan Umum

Saya suka sekali melakukan perjalanan dengan menggunakan kendaraan umum, kenapa? Ada keasyikan tersendiri yang saya rasakan. Semenjak duduk di bangku SMP, saya memang suka sekali bepergian, naik turun angkot dan bis, sendirian saja. Terkadang tujuannya pun tidak jelas. Jalan yang saya tempuh saat berangkat saya sengaja pilih jalur yang berbeda, hitung-hitung belajar mengenali jalanan, hehehe… Takut? Mmm.. terkadang iya. Tapi saya punya jurus khusus yang sebenarnya tidak serta merta membuat saya menjadi berani, tetapi saya pikir dari luar saya jadi kelihatan sedikit lebih tangguh, hihihih.. Apa itu? Saya mengenakan celana jeans (dulu lho yaa.. owh), kaos, sandal gunung, tas ransel, dan …. mengunyah permen karet. Jurus terakhir ini membuat saya percaya diri dan berani lho. Omong-omong, sudah berapa lama ya saya tidak makan permen karet? Sepertinya terakhir saat SMP itu deh. Eh, jadi bahas permen karet. Yuk, kita lanjutkan…

Hingga saat ini, saya masiiih suka kemana-mana naik kendaraan umum (selain karena BELUM punya mobil yaaa.. hehehehe). Sukaaa sekali. Kemarin-kemarin, ya.. setahun lalu ke belakang deh ya… alasannya karena saat naik kendaraan umum, saya bisa ketemu tukang jajanan yang suka mengasong di atas bis, hehehee… Tapi alasan saat ini, mmm.. setahun kemarin dan InsyaAllah selanjutnya, karena saya bisa bertemu dengan banyak ragam manusia dari berbagai profesi. Bisa ngobrol dengan pedagang minuman asongan, pedagang koran, pedagang barang-barang murah (eh ada lho, harga barang-barangnya muraaah, seperti jual alat tulis, senter, dll), atau dengan sesama penumpang yang kebetulan bersebelahan dengan saya. Saya pernah duduk bareng Eyang-eyang (sudah sepuh soalnya, hehehe) yang dulu pernah bekerja di salah satu perusahaan minyak ternama. Saat tahu saya bekerja di kantor konsultan pengurusan perijinan untuk orang asing, beliau bilang kalau saya harus belajar bahasa Cina dan India karena di masa mendatang sektor perminyakan akan banyak didominasi oleh mereka. Saya pernah duduk sebangku dengan mbak-mbak yang sama sekali tidak tahu Jakarta, alhasil sepanjang jalan dia tanya rute kesana kemari kepada saya. Alhamdulillah, dapat kesempatan membantu orang, semoga Allah berikan pahala. Aamiin. Pernah juga saya sebangku dengan bapak-bapak yang kedua kakinya disangga dengan kruk. Sebenarnya saya sering sekali ketemu beliau di bis jurusan tersebut, tapi baru kali itu sebangku. Saya kagum lho sama beliau, dengan kondisi kaki yang tidak sempurna, beliau tetap pergi bekerja mencari nafkah untuk keluarganya. Daann, betapa bodohnya saya, ternyata kami tinggal di komplek yang sama. Setiap hari saya jalan kaki dari rumah ke gerbang komplek, lumayan olahraga pagi. Bapak itu juga sama. Tapi kan, beliau berjalan dengan menggunakan kruk. Rabbi, tak terbayang pegalnya kaki beliau berjalan sejauh itu. Tapi, Allah betul-betul karuniakan beliau kesabaran dan kegigihan. Salut deh.

Satu lagi, kejadian ini yang dulu sempat membuat saya bertanya-tanya sampai berhari-hari lamanya. Saat itu saya naik kopaja 20 jurusan lebak bulus-senen. Semula saya berdiri, saat ada seorang Ibu yang turun, seorang bapak-bapak bersahaja di sampingnya, meminta saya duduk. Saya tidak pernah kenal beliau. Tapi saya lihat wajahnya sangat teduh, rambutnya sudah sepenuhnya beruban. Beliau tiba-tiba bilang, “Kalau sedang ada masalah jangan bengong, jangan melamun, dzikir sebanyak-banyak, baca surat-surat pendek, supaya hati tenang. Melamun itu mudah diganggu manusia dan setan”. Tertegun saya mendengarnya. Tidak menyangka diberikan peringatan ‘keras’ oleh Allah melalui beliau. Sepanjang perjalanan menuju kantor, beliau banyak sekali memberikan petuah. Termasuk dalam hal mendidik anak. Saya ingat betul beliau menyampaikan seperti ini:

“Sayangi anak-anak kita. Tapi juga didik mereka. Berikan mereka kelembutan, tapi juga ajari kemandirian. Kalau anak sudah mulai kelas 1 SD, ajari mereka mencuci 1 stel pakaian. Jangan dimarahi jika tidak bersih, bagaimanapun mereka dalam tahap belajar. Pendidikan semacam itu perlu, bukan karena orangtua kejam, tetapi sebagai bekal karena hidup tak selamanya nyaman, sehingga mereka akan siap terhadap perubahan apapun.”

Subhanallah, semoga Allah berkahi kehidupan Bapak dan keluarga selalu. Terima kasih Pak, untuk nasihat berharganya.

Warmest Regards,

Me – The Web Owner

About

Mom of two kids, living within good books and extraordinary people

No Comments

Leave a Comment

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.