Ibunda dan Cucu-cucunya

Baru beberapa hari yang lalu saya bercerita kepada salah seorang teman mengenai momen saat saya bersikeras kepada ibunda di rumah agar bersedia menggunakan jasa asisten rumah tangga. Bukan karena saya enggan mengerjakan pekerjaan rumah tangga. Sama sekali tidak. Tapi dengan pertimbangan bahwa saya bekerja, berangkat di waktu pagi dan pulang malam, bahkan di saat-saat tertentu baru tiba di rumah menjelang tengah malam. Saya meninggalkan kedua jundi di rumah yang masih balita dan batita tanpa pengasuh, hanya semata dititipkan kepada eyang putri dan eyang kakung mereka. Adakalanya terbersit rasa berdosa yang teramat dalam karena masih saja menyusahkan mereka di hari tua. Tetapi, bagaimana lagi? Ibunda saya betul-betul tidak bersedia ada orang lain (baca: asisten rumah tangga) di rumah. Alasannya beraneka rupa, mulai dari Ibunda masih sanggup mengurus rumah tangga dan kedua cucu, asisten rumah tangga pekerjaannya tidak beres, tanggung karena asisten rumah tangga cuma bekerja sampai jam 11 atau 12, dll. Kalau Ayahanda, sejauh ini menyerahkan saja urusan itu kepada saya.

Adakalanya Ibunda – yang memang sudah memiliki gangguan ostheoarthritis, mengeluh karena lututnya terasa nyeri, atau kepalanya pusing karena kurang tidur. Anak-anak saya memang memiliki kebiasaan tidur saat sudah larut. Jika saya belum pulang, otomatis, beliau masih harus terjaga. Jikalau beliau sakit, saya harus mengambil cuti mendadak karena tentunya beliau tidak bisa mengasuh anak-anak saya sedang kurang sehat.

Sampailah saya pada fase hampir kehilangan kesabaran – saking gemasnya karena beliau tidak juga mengijinkan adanya asisten rumah tangga di rumah. Hasilnya, tetap sama. No way! Kalau kamu memang ada uang lebih, kasih saja ke Ibu, buat beli baju, sepatu, atau tas baru. Hadeuhhh, ….

Di dalam perjalanan pulang, saya membaca sebuah buku yang sudah lama saya beli tetapi belum saya tuntaskan isinya. Isinya seperti menampar-nampar hati saya. Berikut cuplikannya:

Wa shahibhuma, dan persahabatilah mereka dengan persahabatan yang paling ma’ruf. Tidak dengan menyakiti, atau ketidakmengertian yang kadang menyakiti. Melarang mereka bekerja dengan alasan sayang padahal sebenarnya prasangka bahwa pekerjaannya pasti berantakan. Memaksa mereka untuk tetap beristirahat sementara ada keinginam untuk tetap sehat dengan beraktifitas. Memaraho mereka habis-habisan karena memanjakan cucu. Semuanya bisa menjadi rasa sakit yang mengiris jiwa-jiwa sepuh mereka (Agar Bidadari Cemburu Padamu karua Salim A. Fillah)

Plak!!! Ibunda pasti punya alasan istimewa mengapa bersikeras mengasuh cucu-cucunya sendiri saja. Mungkin beliau tidak ingin membagi momen berharga itu pada orang lain. Mungkin dengan berdekatan dengan mereka, beliau tidak merasa kesepian di masa tuanya. Mungkin mendengar celoteh dan tawa riang cucu-cucunya terdengar begitu indah di telinga beliau, bagai alunan musik alam yang menentramkan. Mungkin, masih banyak mungkin lainnya yang tidak dapat saya ketahui atau reka sendiri. Kenapa saya mesti “terganggu” dengan kondisi ini? Bukankah mestinya saya sangat berterima kasih kepada beliau, saat saya dapat dengan tenang bekerja tanpa merasa khawatir akan keadaan anak-anak di rumah? Berapa banyak kasus anak yang diperlakukan secara tidak lazim oleh pengasuhnya. Duh Rabbi, sekali lagi Kau ingatkan hamba tentang hamparan nikmatMu yang kali ini dalam bentuk luasnya kasih Ibunda.

 

Warmest Regards,

The New Me Rich Lina

 

About

Mom of two kids, living within good books and extraordinary people

No Comments

Leave a Comment

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.