Bisikan di Antara Dua Telinga

Dalam hidup, seringkali kita dihadapkan pada dua atau lebih pilihan.

Ada pilihan-pilihan yang bisa diputuskan dalam waktu yang memungkinkan kita untuk berpikir, menimbang-nimbang, meminta petunjuk dari Allah melalui shalat istikharah, seperti memutuskan untuk kuliah atau bekerja dulu atau bekerja sambil kuliah, memutuskan untuk karyawan atau wirausahawan, memutuskan membeli rumah dulu atau mobil dulu, hingga menentukan pasangan hidup kita.

Ada pula pilihan-pilihan yang menuntut kita untuk memutuskannya segera, dalam hitungan menit, atau bahkan detik, seperti akan memesan makan siang apa padahal office boy yang mau dimintai tolong sudah berdiri di depan mata dan tentunya semakin lama kita berpikir jangan-jangan keburu habis menu yang kita mau, atau saat kita sedang antri mengisi ulang kartu Commuter Line harus sudah pasti berapa rupiah yang mau kita isi ulangkan, semakin lama berpikir, saya percaya anda akan sarapan pagi sumpah serapah dari pengantri lainnya .

Saya pribadi, hal-hal yang harus saya putuskan segera adalah mau pulang ke rumah naik apa. Dari kantor, saya biasa naik kereta api atau bis. Kalau saya naik kereta api, saya harus naik metromini dulu ke stasiun terdekat. Itupun seringkali harus jalan kaki lumayan jauh dulu untuk mencapai stasiun karena supir metromini dengan teganya menurunkan seluruh penumpang jauh sebelum sampai tujuan. Belum lagi, belum ada jaminan bahwa saya akan berjodoh dengan kereta yang bagus, nyaman, ACnya berfungsi dan agak lega. Terkadang, dijodohkannya dengan kereta yang penuh sesak dengan AC nya mati pet pet, kipas anginnya pun sama, jendela harus dibuka, tapi karena penuh sesaknya akhirnya pengap-pengap juga. Kalau sedang diuji kesabarannya, jodohnya ditambah lagi dengan gangguan sinyal yang membuat perjalanan kereta tersendat-sendat. Positifnya, perjalanan kereta sekarang sudah banyak, setiap 15 menit ada saja yang lewat.

Kalau saya naik bis, saya harus naik kopaja dulu menuju halte terdekat menuju Jalan Tol Lingkar Luar Jakarta. Perjalanannya terkadang lancar, terkadang tersendat, terkadang macet luar biasa, apalagi rute dari kantor menuju halte itu mudah sekali banjir saat hujan mengguyur Jakarta. Bis akan melintas di halte setiap 30 menit, cukup lama juga menunggunya jika sudah tertinggal satu perjalanan. Tapi bisnya bagus, bersih, AC berfungsi dengan baik, dan memberi kesempatan saya untuk sejenak terlelap .

Saat sedang bingung mau naik apa, seringkali ada dua bisikan di antara dua telinga. Ini meminjam istilah dari Bp. Samsul Arifin – seorang Syariah Business Coach. Bis, kereta, bis, kereta, teruuus saja berulang. Semula saya mengikuti apa yang saya pikirkan saja secara instan bahwa saat saya sedang mengantuk, saya memilih naik bis, atau kalau saya sedang semangat dan mau baca-baca sepanjang perjalanan, saya pilih naik kereta karena lampu di bis tentunya dipadamkan. Tapi membuat pilihan hanya berdasarkan apa yang secara kasar kita pikirkan, dengan mengabaikan suara hati dari alam bawah sadar – yang biasanya bertolak belakang saja, tidak cukup. Biasanya, adaaa saja hal-hal tidak mengenakkan di jalan. Entah kereta tertunda karena gangguan sinyal, mogok, gardu listrik tersambar petir, dan sebagainya. Atau, entah perjalanan menuju halte bis terhenti karena banjir, macet luar biasa (dari kantor saya menuju halte bis yang dimaksud, kalau macet minimal 1 jam, bisa 2 jam malah), atau yang lainnya.

Saat datang bisikan di antara dua telinga, saya kini memilih untuk mendengarkan suara yang paliing jauh karena sumbernya dari alam bawah sadar. Sepertinya itu adalah sinyal rahasia yang seolah-olah menunjukkan, ini lho jalan yang sebaiknya diambil. Tidak lupa meminta pada Allah tentunya, agar pilihan tersebut adalah pilihan yang tepat.

Bagaimana dengan kamu?

The Happier Me,
-Melina-

About

Mom of two kids, living within good books and extraordinary people

No Comments

Leave a Comment

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.