Mengembalikan Integritas

 

Hanya satu kata saja, 10 huruf saja, tapi tidak bisa dipermainkan. Integritas akan “memaksa” kita untuk menjauhi sifat “ngomong doang bisanya”, “nyuruh aja bisanya”, dan kalimat-kalimat berkebalikan lain.

Integritas akan “memaksa” seorang Ibu bangun di sepertiga malam juga saat malam harinya ia menasehati putra-putrinya untuk melakukannya. Integritas akan “memaksa” seorang kakak mencuci piring setelah selesai makan saat ia sibuk mengomeli adik-adiknya yang asyik saja meletakkan piring di meja selesai makan, lalu kabur entah kemana. Integritas akan “memaksa” seorang pimpinan perusahaan untuk datang ke kantor tepat waktu, saat ia sibuk membuat peraturan bahwa tidak ada karyawan yang boleh datang terlambat.

Ya, awalnya integritas akan “memaksa” diri berbuat sesuai yang kita ucapkan, tetapi lama kelamaan integritas akan merubah “memaksa” menjadi membiasakan.

Kata ini beberapa waktu terakhir seolah mengabur dari ingatan saya. Sampai kemudian saya membaca sebuah artikel di salah satu situs favorit saja, www.JamilAzzaini.com. Seperti ditampar wajah ini, dan serasa dihajar tubuh ini membacanya. Betapa integritas sudah nyaris mengelupas dari diri ini. Betapa aku sering mengucapkan, menasihati, memberikan instruksi, tetapi aku sendiri tidak melakukan apa yang aku sampaikan itu. Aku seperti sedang bermain-main dengan lidahku sendiri, tanpa mempertanggungjawabkannya dengan hatiku. Lebih parahnya lagi, aku pun lalai pada integritas yang pertanggungjawabannya hingga ke akhirat nanti. Aku sadar, aku pun masih begitu miskin ilmu dan kemauan dalam mengelola perasaan. Tersadar, dan aku harus segera melekatkannya kembali.

The Happier Me
-Melina-

About

Mom of two kids, living within good books and extraordinary people

No Comments

Leave a Comment

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.