Wanita Kedua

Sekuat hati aku menolakmu. Engkau yang hadir dalam kehidupanku kini tanpa aku pernah mengundangmu. Bagiku, kau penyusup, bergerilya secara licik mencuri hatinya, lalu kemudian hatiku.

Kamu tak secantik wanita terindah sepanjang hidupku. Aku juga yakin kau tak sebaik wanita terindah itu. Namun, engkau selalu berusaha tampak baik di hadapanku, berusaha menyayangiku. Tapi aku tahu itu palsu.

Bertahun lamanya aku memusuhimu. Bukan, bukan memusuhimu. Mungkin lebih tepatnya memperlakukanmu seperti yang seharusnya. Orang jahat harus diperlakukan jahat juga. Hingga tiba saatnya aku jatuh sakit dan tak berdaya. Aku ingin wanita terindah hadir menemaniku. Tapi yang kuharapkan tak hadir juga, dan tak akan pernah hadir. Aku benci karena engkau yang hadir lagi. Menyuapkan sesuap demi sesuap nasi ke dalam mulutku, menyelimuti tubuhku yang menggigil ngilu, duduk hingga terkantuk-kantuk, hingga membersihkan tubuhku.

Aku bingung dengan sikap yang engkau tunjukkan padaku. Tak lelahkah engkau dengan segala penentanganku? Aku ingin kau pergi tapi kau tak jua pergi. Saat sakitku, dia tak ada. Jika engkau memutuskan pergi aku juga tak tahu siapa yang akan peduli seperti kau peduli padaku. Apa memang sesungguhnya kau bukan tampak baik, melainkan benar-benar baik? Apa memang sebenarnya kau tak tengah berusaha menyayangiku, melainkan benar-benar menyayangiku?

Maafkan aku jika hadirmu belum kuterima sepenuh rasa. Aku mencintai dan sangat kehilangan wanita terindah itu. Aku tak ingin dia – Papa, melupakan wanita terindahku, wanita terindah kami. Waktu yang akan menjawab, apakah aku bisa menerimamu sebagai Ibu.

The Happier Me,
-Melina-

About

Mom of two kids, living within good books and extraordinary people

No Comments

Leave a Comment

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.