Makna Bahagia

Suatu sore di TIS Square. Terdengar nada pesan masuk ke nomor pribadiku. Kuhentikan sejenak obrolan dengan salah seorang klien di sore yang ditingkahi hujan itu. Bukan obrolan yang terlalu serius, hingga aku memberanikan diri untuk membuka ponselku. Agak mengerinyit dahiku saat membaca pesan itu. Seseorang di seberang sana menanyakan apa arti bahagia menurutku. Kututup ponselku, kupikir aku bisa menjawabnya nanti, saat obrolan dengan klienku ini selesai. Tak sampai setengah jam kemudian, kami berdua beranjak meninggalkan kafe itu, saat derasnya hujan berganti menjadi rinai-rinai kecil saja.

Sepanjang perjalanan  kembali menuju ke kantor, kepalaku sibuk mereka-reka jawaban yang akan kusampaikan. Bahagia. Hmmm, terkadang begitu mudah menjawab pertanyaan-pertanyaan dari klien mengenai persoalan mereka. Tapi kali ini, aku mengalami kesulitan mendefinisikan kata “bahagia”. Bahagia itu dekat. Bahagia itu nyata aku rasakan. Tapi aku juga paham, mengapa aku begitu sulit mendefinisikannya. Sebab bahagia itu abstrak, ada tapi tak terlihat, hanya dapat dirasakan.

“Serius, pertanyaan ini harus dijawab?”, kukirimkan pesan itu padanya. Aku ingin tahu seberapa jauh dia ingin mengetahui jawabanku. Aku suka sekali bermain dengan tulisan. Pertanyaannya yang hanya satu kalimat, bisa menghasilkan jawaban satu paragraf dariku. Mungkin, kalau pertanyaan darinya satu paragraf, jawabanku akan melebar menjadi lima lembar kertas folio. Untungnya, pertanyaannya tidak pernah sampai satu paragraf :).

“Serius”, singkat saja balasannya.

Dan kemudian mengalirlah… Kusampaikan bahwa aku kesulitan mendefinisikan arti kata “bahagia”. Bahagia itu kan sebuah perasaan ya, seperti cinta. Sesuatu yang abstrak, kita rasakan, tapi terlalu luas untuk diterjemahkan. Perasaan yang kala kita mengalaminya, dunia seperti berubah menjadi indah, mengalirkan energi positif dalam kehidupan kita, membuat kita berpikir sulit menjadi mudah, berat menjadi ringan, dan rumit menjadi sederhana. Bahagia itu seperti jatuh cinta yang berbalas. Bibir mudah sekali menyunggingkan senyuman, ucap mudah sekali menyapa orang-orang di sekitar, hati menjadi begitu bersabar mendengarkan keluh kesah, kaki ringan sekali melangkah, dan pikiran mudah sekali menelurkan ide-ide. Indah sekali, bukan? Bahagia itu tidak berdiri sendiri. Bahagia itu lahir dari kata syukur dan tindakan mensyukuri. Bersyukur artinya ikhlas dalam penerimaan. Menerima apa yang Allah beri untuk kita. Menerima jika yang kita minta, tidak diberikan oleh Allah. Menerima dan memahami bahwa Allah jauh lebih banyak memberi yang tidak kita minta, dibandingkan dengan tidak memberi apa yang kita minta. Dengan menerima kita mensyukuri, dengan mensyukuri kita akan bahagia, dengan bahagia mudah bagi kita meraih impian. Sent. Terkirimlah jawaban ini padanya.

“Salah”, pesan balasan yang membuatku terkejut. Bukan karena aku tidak suka dinilai salah. Tapi konteksnya kan bukan untuk mencari siapa yang salah atau siapa yang benar.

“Apanya?“, kubalas singkat juga dengan hati seperti jungkit-jungkit.

“Kurang tepat definisinya”, jawaban ini sejujurnya membuatku menahan-nahan geram. Oalah, yang mengirim pesan rupanya lupa tadi bertanya apa. Jari telunjukku menggeser layar Z10 hitam ini ke atas, mencari kalimat pertanyaannya di awal tadi. Copy-paste-send. Membiarkannya membaca kembali pertanyaan itu, kalau-kalau dia betul-betul lupa.

“Oiya ya, ada kata menurutnya xixixi”, pesan masuk darinya sedikit menjadi angin segar bagiku. Jadi, jawabanku tidak bisa dinyatakan salah. Mengapa? Jelas saja, bahagia itu bukan kata benda. Ini kata sifat. Sama seperti cantik, tampan, baik, buruk, susah, senang, dan sebagainya. Bagaimana mungkin aku bisa mendefinisikan secara baku arti sebuah kata yang sifatnya relatif. Bahagia menurutku, belum tentu menurut kamu, dia, atau mereka. Maka, tak perlulah berdebat panjang mengenai definisi ini. Tetapi, aku juga ingin tahu arti bahagia untuknya, dan terkirimlah pesan itu.

“BAHAGIA ITU KETIKA BANYAK MASALAH…!”, itu jawabnya. Waduh, aku mengibaratkan kalimat itu seperti angin topan yang mendadak datang meluluhlantakkan rumah-rumah kayu rapuh di tepi pantai.  Begini analisanya, kalimat itu ditulis dengan huruf besar semua dan diakhiri dengan tanda seru. Kalimatnya seperti orang yang sedang mengamuk, dan karena lawan bicaranya adalah aku, aku jadi seperti pesakitan yang yang menjadi sasarannya. Oh, apa salah dan dosaku? Hiks.. Tanpa mengenalnya, orang yang membaca akan langsung berpikir seperti itu.

“Menurutku kurang tepat”, sengaja kugunakan kata “menurutku”, karena aku tidak ingin menghakimi seseorang tidak tepat. Artinya, ini dari sudut pandangku.

“Jangan langsung menilai kurang tepat”, nah kan, balasannya seperti orang sedang emosi. Dalam hati berpikir, aduh kalau mau marah-marah jangan sama saya dong.

“Itu kan menurutku”, kubalas dengan kalimat membela diri.

“Kan aku belum selesai ngejelasin”, olalala… ternyata belum selesai kalimatnya. Begini nih, kalau baru mengetik sebaris pesan lalu enter, sebaris pesan lalu enter lagi. Akibatnya, yang dikirimi pesan mendapat informasinya setengah-setengah juga. Iya kalau jarak datangnya pesan satu ke pesan berikutnya dalam hitungan detik saja. Kalau lama, siapa yang tahu pesan itu masih bersambung. Sekali lagi, ini menurutku. Satu pesan penting, sampaikan sesuatu secara jelas dan lengkap, jangan biarkan orang lain menjadi salah karenanya.

Tulisan ini terinspirasi dari seseorang yang di suatu sore – ditingkahi derasnya hujan, mengirimkan pesan pertanyaan tentang arti “bahagia”. Hingga saat ini, bagiku, jawabanku tidak akan berubah. Terlalu sulit untuk kudefinisikan, meski ia teramat dekat. Jika ada pertanyaan, pada kondisi seperti apa sih aku merasa bahagia? Inilah jawabannya:

  1. Terbangun di pagi hari, dengan tubuh sehat, sungguh syukurku tak terkira. Berapa juta orang yang belahan dunia lain yang bahkan tak bisa tidur karena hari-hari mereka diiringi dentuman meriam? Berapa juta orang yang tak bisa tidur karena menahan lapar dan dinginnya udara? Berapa juta orang yang tak bisa tidur karena karena penyakit yang diderita?
  2. Terbangun dan menyadari bahwa aku masih memiliki keluarga, sahabat, orang-orang terkasih yang senantiasa mendukung meski tak sempurna. Berapa juta orang yang kehilangan sosok tercinta karena peperangan, konflik, hingga bencana alam?
  3. Terbangun di sepertiga malam tanpa alarm, memberi ruang khusus di jiwa untuk mendekat pada Sang Maha Pencipta. Menemui Allah di setiap waktu sholat, berdialog, menceritakan setiap baris rasa syukurku di setiap detik kehidupan dan berharap Allah tak buat semua itu pudar, berkeluh kesah tentang rasa sakit, terluka, kecewa, dan mengharap Allah mengirimkan penawarnya. Senantiasa mengingat Allah dalam setiap desah nafas, setiap detak jantung, dan setiap aliran darah. Mengingat Allah di kala suka dan duka, menyandarkan segala sesuatu hanya padaNya. Dekat dan mengingat Allah itu membahagiakan, inilah bahagia yang hakiki, bahagia yang sesungguhnya.

Poin terakhir adalah arti bahagia menurutnya. Bagaimanapun juga, kami adalah dua jiwa yang berbeda. Baginya, itu adalah arti, definisi. Bagiku, itu adalah bentuk kebahagiaan. Pendapatku tetap sama, bahagia adalah sebuah perasaan, dan sampai kapanpun perasaan takkan bisa terdefinisikan. Tapi rasanya tak perlu menjadikan ini sebagai perdebatan panjang. Kujadikan perbedaan ini tetap indah, sebagai inspirasi menulisku pagi ini, di sini.

Apapun yang telah terjadi di dalam kehidupanku, aku memilih untuk bahagia.

The happier me,

-Melina-

About

Mom of two kids, living within good books and extraordinary people

No Comments

Leave a Comment

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.