Putraku dan Cita-Citanya

Semasa kanak-kanak, aku sudah berulangkali berganti cita-cita. Mulai dari polwan, pelukis, ilmuwan, pembaca berita, hingga…. arsitek. Yang terakhir ini merupakan cita-citaku sejak kelas 4 SD dan  baru pupus dari pikiran sekitar 4 tahun yang lalu. Bayangkan, bertahun lamanya aku mengimpikan cita-cita yang kini dengan ikhlas sudah kulepaskan. Barangkali, Allah tidak mencatatkan itu untukku, tapi untuk buah hatiku. Teteeepp.. ngarep judulnya. Tapi, kali ini aku akan bercerita tentang cita-cita putraku tercinta – Tuan Muda Rayhan Aidil.

Semenjak berusia 2 tahun, Aidil sangat menyukai kendaraan alat berat dan lego. Semua ini berawal saat eyang kakungnya alias bapakku, sering mengajak Aidil pergi jalan-jalan dan menyaksikan proyek-proyek pembangunan gedung/pusat perbelanjaan/hotel. Di sana, akan dengan mudah ditemukan berbagai kendaraan alat berat. Semula aku hanya mengenal truk molen, tetapi seiring berjalannya waktu – karena Aidil makin cinta pada kendaraan-kendaraan besar itu, mau tidak mau aku jadi ikut belajar mempelajari jenis dan nama-namanya. Sungguh memalukan jika Aidil bertanya dan aku tidak bisa menjawabnya. Bukankah menjadi seorang Ibu haruslah cerdas? Tak tanggung-tanggung, aku sampai bergurumulai dari youtube sampai pada supir di perusahaan tempatku bekerja, apa nama alat yang seperti menara, tinggi, dan seperti timbangan di atas. Tower crane! Nah, itulah namanya. Alhasil, lidahku pun menjadi fasih mengenali berbagai kendaraan alat berat itu. Mau bukti? Ada mixer truck, crawler crane, tower crane, dump truck, mixer truck with conveyor, crawler crane with conveyor, forklift, crane shell, backhoe, hingga lift yang ada di sisi dinding gedung yang belum jadi pun aku tahu.

Tak terhitung berapa kali aku seperti orang culun saat Aidil menolak lalu ngambek tidak mau masuk ke dalam pusat perbelanjaan karena lebih memilih menonton pembangunan gedung di sebrang pusat perbelanjaan itu. Bayangkan, di tengah terik matahari, berdiri di pinggir jalan selama berjam-jam dengan tontonan mixer truck yang sedang mengaduk semen atau tower crane yang sedang mengangkut balok. Aku pernah – berdua saja dengan Aidil, menaiki bis umum jurusan Bogor – Kp. Rambutan, mulai dari terminal bis Baranangsiang hingga Kp. Rambutan. Sedang jalan-jalankah? Mengunjungi teman atau saudarakah? No way, bukan! Tapi untuk mengikuti mixer truck yang berjalan di depan bis mini yang kami tumpangi. Oh lala.Sekitar sebulan yang lalu, putraku berambut ikal itu menangis meraung-raung selama hampir 1,5 jam gara-gara aku tidak bisa menggambar mixer truck with conveyor. Menurutnya, conveyor yang kugambar kurang panjang, kurang bengkok, dan oh saat aku bilang aku tidak bisa menggambar conveyor, dia meneriakiku.

“Ah, mama bohong! Mama bisa gambal (lidah cadel)! Mama tidak mau gambal (lidah cadel)!”, Oh Ya Rabbi, tidakkah anakku lihat aku sudah menggambarkan mixer truck, dump truck, truck crane, gedung beserta liftnya, tower crane, bahkan gundukan pasir dan semennya pun sudah kugambar. Conveyor oh conveyor. Dan, malam itu dia tertidur karena kelelahan menangis. Nafasnya masih terdengar sesenggukan. Sementara dia tidur, kuakses youtube untuk nyontek, conveyor macam apa sih yang dia mau? Kugoreskan pensil di atas buku gambarnya dan keesokan paginya dia tersenyum mendapati gambar itu.

“Ini conveyol (lidah cadel) Adil”, kuurut dada sambil mengucap syukur Alhamdulillah.

Satu lagi episode yang membuatku betul-betul seperti kembali menjadi anak-anak. Aidil merayuku untuk menggambar mixer truck dan kawan-kawannya (mirip dengan yang kugoreskan di buku gambarnya), di dinding kamar. Meski rela tak rela, kugoreskan juga pensilku ke atasnya. Setelah itu, aku dan Aidil – dengan 2 tangan kosong kami, berimanjinasi seolah-olah betul-betul kami adalah alat berat itu. Aku sebagai mixer truck, Aidil sebagai conveyor. Kami melakukan pekerjaan mulai dari memasukkan semen, pasir, air, lalu mengaduknya hingga bercampur rata, mengalirkannya melalui conveyor ke gedung bertingkat yang sedang dalam tahap pembangunan. Kami juga berimajinasi seolah-olah kami adalah para kontraktor yang sedang mengecek pekerjaan dengan naik turun lift. Kami tertawa-tawa, sampai sulit untuk berhenti. Aku merasa seperti orang konyol, tapi aku menikmatinya, dan aku bahagia.

Dengan seluruh cerita di atas, terbayang-bayang dalam benakku, mungkinkah Aidil ingin menjadi kontraktor atau malah ingin menjadi arsitek – mewujudkan cita-cita sang mama? Apapun itu, aku yakin sekali memang anakku sangat menyukai dunia itu. Aku berjanji dalam hati untuk bekerja lebih keras, menyiapkan pendidikan terbaik baginya. Tak peduli seberapa lelah aku, sebagai single parent – koreksi single fighter, aku tak ingin menganggap orang yang masih ada seolah-olah tiada, aku tidak boleh main-main dalam urusan mencari penghasilan.

“Kenapa mama kerja?”, tanya Aidil suatu hari padaku.

“Supaya mama punya uang”, jawabku pendek.

“Untuk apa uang?”, nah kan.. aku harus bersiap-siap menjawab karena pertanyaan susulannya seringkali tak terduga.

“Untuk sekolah Aidil, beli sepatu, baju, roti, keju, coklat, es krim, bla bla bla, dan.. mobil”, ucapku seperti rangkaian panjang kereta api.

“Jangan! Mama jangan beli mobil. Beli molen aja”, nah kan – apa kubilang, kalimatnya seringkali tak kusangka-sangka. Oh wow, beli molen (mixer truck, red). Oke, kita beli molen, kita sewakan ya naaakk.. hiks dalam hatiku tapi.

Cinta sekali sih sama gerombolan si berat itu, iseng-iseng kutanya dia.

“Kalau sudah besar, Aidil mau jadi apa sih?”

“Mau jadi supil (lidah cadel) molen”, jawabnya malu-malu.

“What? Supir molen?”,  Aku sudah membayangkan yaaaang tinggi, yaaaaang hebat-hebat. Dan sekarang, ternyata dia ingin jadi supir? Gubrak. Anggap saja aku jatuh terduduk. Demi melihat rona wajahku yang berubah, dia mengoreksi jawabannya.

“Atau, supil clane (lidah cadel)”, ucapnya sambil tersenyum.

Sama aja itu sih. Dan, anggap saja mamanya pingsan betulan.

 

The happier me,

-Melina-

 

 Catatan penting dari seorang teman:

Jika anakku ingin menjadi supir kendaraan alat berat, bukan karena ia tak punya cita-cita tinggi. Tapi justru karena ia ingin, dialah yang menjadi pengendali kerja alat-alat berat itu. Mau belok kanan, kiri, maju, atau mundur, ya suka-suka supirnya, hehehe…

 

About

Mom of two kids, living within good books and extraordinary people

3 Comments

  • Yusuf Effendi May 21, 2014 at 10:55 am Reply

    Gublak….Aidil..aidil

  • Melina Sekarsari May 22, 2014 at 6:06 am Reply

    😀

  • Yuko Muhammad Adam June 13, 2014 at 1:29 am Reply

    Hahahah…anakku saking dia suka aku ajak mancing, dia bercita cita mau jd nelayan…omg nelayan, tapi aku pikir…ok deh nelayan tp setidaknya yg modern yah bukan tradisional….ckckck

Leave a Comment

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.