Rindunya untuk Ibu

Harus bagaimana aku bersikap pada anak itu yang di suatu pagi yang cerah, datang ke rumahku, duduk beberapa saat dengan ceritanya, dan kemudian berkata.

“Aunty, aku kangen ummi”. Deg. Ada desiran di hatiku yang sulit aku ungkapkan. Mataku berkaca-kaca. Aku mencoba menahan air mataku agar tak merembes, apalagi jatuh membasahi hidung dan kedua pipiku. Tapi tidak dengan dia. Air matanya jatuh, menderas. Ia melanjutkan.

“Sudah sejak seminggu yang lalu aku mau cerita sama aunty. Aku kangen ummi”. Aku semakin tersiksa mendengarnya. Aku siap memberinya semangat untuk terus bersekolah, hingga perguruan tinggi jika ia mau. Memberinya nasehat agar menjadi anak yang tak banyak tingkah, syarat jika ia mau menjadi orang yang berhasil. Pun kini saat ia lulus sekolah, menamatkan SMAnya, dan memutuskan untuk bekerja dulu, dengan alasan malu terus-terusan menerima bantuan dariku. Aku tetap memotivasinya, memberinya arahan bagaimana cara melamar pekerjaan, mulai dari persiapan dokumen administratif, hingga pakaian yang harus ia kenakan jika nanti ada panggilan kerja. Tak masalah jika aku perlu membelikan pakaian yang pantas untuknya agar tampak meyakinkan saat wawancara nanti.

Tapi tidak untuk kalimat rindu itu. Aku tak siap mendengarnya. Aku tak tahu apa tepatnya yang harus kukatakan untuk merespon kerinduannya pada sosok wanita yang melahirkannya 17 tahun silam. Wanita yang hanya ia kenal hingga 18 bulan masa hidupnya. Setelah itu pergi selama-selamanya. Aku tak tahu apakah aku juga bisa mengatakan ia mengenal ibunya. Apakah ada bocah berusia satu setengah tahun yang masih bisa mengingat kenangannya bersama sang ibu, hingga ia tumbuh sebesar sekarang?

Aku mengenalnya 5 tahun yang lalu, dan baru 3 tahun terakhir aku menempatkan diri sebagai ibu asuhnya. Tapi aku salah. Aku tak benar-benar siap. Aku hanya terjaga karena unsur materi. Sesuatu yang begitu mudah aku berikan karena aku punya penghasilan. Aku tak menyiapkan diriku untuk satu kalimat besar itu. Andai aku telah jauh-jauh hari menyiapkannya, tentu aku bisa menyampaikan satu dua kalimat yang bisa menenangkannya. Meski aku tahu, aku tak akan benar-benar bisa mengerti perasaannya. Sebab aku belum merasakan arti ditinggalkan oleh seseorang yang benar-benar kucintai dan mencintaiku.

The happier me (who is happy to be a second mother for you)

-Melina-

About

Mom of two kids, living within good books and extraordinary people

No Comments

Leave a Comment

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.