Allah dulu, Allah lagi, Allah terus…

Merenungi puluhan tahun perjalanan hidupku yang nyatanya belum sampai pada tahap ‘berilmu tinggi dan berakhlak mulia’. Ada serpihan berjudul ‘pintar’ yang terserak dari diriku. Tapi itu hanya berupa serpihan. Serpihan, bukan kepingan, bukan bongkahan. Artinya, serpihan saja, bagian yang begitu kecil. Seperti sebungkus keripik jagung yang terlepas dari genggaman jari mungil seorang bocah, isinya tumpah ke lantai, jatuh terinjak dan menciptakan serpihan. Begitu kecil dan rapuh.

Beranjak pada sisi ego sebagai seorang manusia yang lemah tapi begitu sombong. Kita yang kerap kali mengambil keputusan besar dalam hidup melalui pikiran dan hati sendiri. Mulai dari hal-hal sederhana. Menyusuri pertokoan dan melihat jejeran manekin berbusana indah menarik mata untuk melihat, menarik tangan untuk menyentuh, menarik lidah untuk bertanya harga, menarik hati untuk membeli. Padahal, lihat, setumpuk pakaian yang di sudut kamar dan lemari yang tak kan habis dikenakan. Satu minggu hanya terdiri dari tujuh hari. Satu bulan hanya terdiri dari tiga puluh hari. Benarkah akan berlusin-lusin pakaian kukenakan? Titipkan keputusan pada Allah, dan Dia akan setia mengingatkan tentang makna ‘cukup’.

Bergeser pada perenungan sebagai seorang putri. Kebanggaan apa yang sudah kusematkan di hati Bapak dan Ibuku? Lebih banyak dari rasa malu dan cercakah? Atau malah sebaliknya? Astaghfirullahaladziim.. Menatap wajah-wajah ceria putra-putri tercinta, seberapa dalam cintaku untuk mereka? Cinta yang tak hanya lewat kata, atau tersimpan di hati, tapi juga bukti. Tentang waktu, tentang harta. Halalkah? Sumbernya, caranya, hasilnya? Nyatanya aku masih begitu cinta dunia. Tak hendak pergi meski nyata harus berhenti. Sungguh, label ‘pengecut sejati’ masih melekat di diri.

Menambatkan perenungan tentang ‘rasa’. Benar adanya masih saja kutautkan pada manusia tanpa seijinNya. Mengerti, paham, tapi masih saja di sini. Aku bisa, tapi enggan. Aku sampaikan, tapi tak kujalankan. Aku impikan, tapi tak kudoakan. Maka, tersampai kembali satu sisi yang harus segera dibenahi.

Seberapa sering kusertakan Allah dalam setiap langkah? Seberapa sering keputusan kuambil dengan ilmu Allah? Beginilah hasilnya jika setiap tapak langkah dan keputusan menggunakan pikiran sendiri.

1. Hasil instan dengan masa berlaku instan pula.

2. Jalanan terjal mendaki, kering, tak menemukan air, dan mencapai puncak dengan tanah yang tandus.

Berkaca lagi, merenungi kembali, pada usia yang sudah hampir separuh usia Nabi. Apa prestasi yang sudah kuraih? Sebagai seorang putri, seorang Ibu, dan seorang muslimah sejati? Tulisan ini sementara harus berhenti. Tersebab belum kutemukan nilai berarti dalam diri. Entah esok, saat dengan begitu patuh dan taat aku selalu mengingat Allah dulu, Allah lagi, Allah terus.

The happier me,

-Melina-

About

Mom of two kids, living within good books and extraordinary people