Melina Sekarsari

Menuliskan Masa Lalu, Hari Ini, dan Masa Depan

Wedang Asem vs Rawon Daging

Sudah lama saya tidak mengajak anak-anak pergi ke luar rumah di akhir pekan. Mumpung kakak sulung juga sedang bertandang beserta putra-putrinya, hari Minggu kemarin kami jalan-jalan ke sebuah mall. Sebenarnya sih mau ada barang elektronik yang mau dibeli. Sepulangnya dari mall, anak-anak sepertinya kelelahan. Begitu juga saya yang sebenarnya tak suka berada terlalu lama di mall. Setelah menemani anak-anak tidur, saya sempatkan waktu mengerjakan tugas menulis. Kebetulan semakin lama tugas menulis semakin banyak. Kadang-kadang jadi merasa menjadi mahasiswi lagi 🙂

Saya baru tidur jam 1 pagi. Rasanya mata ini belum puas terpejam tetapi harus bangun karena adik saya sudah membangunkan untuk sahur. Rencananya mau puasa Senin-Kamis. Masih dengan mata yang setengah terpejam separuh terbuka, ditambah dengan nyawa yang sepertinya sebagian masih menempel di tempat tidur, saya mengambil piring. Secentong nasi sudah tersedia di atas piring. Sekarang saatnya menuangkan lauk berupa rawon daging yang kemarin dimasak oleh Eyang Putrinya anak-anak.

Masih dengan kondisi serba setengah, sesuap nasi masuk ke dalam mulut. Dan, woalala, nyawa saya rasanya langsung terkumpul semua. Mata juga saat itu total sudah terbuka. Rasa rawon daging itu sungguh asam. Saya ingat-ingat, sepertinya semalam sudah dihangatkan. Apa mungkin basi? Saya tidak berpikir macam-macam. Waktu menjelang Subuh tinggal sebentar lagi. Saat mencoba suwiran dagingnya, aha! Mengertilah saya. Ternyata pagi tadi saya makan nasi wedang asem, bukan nasi rawon daging.

Semalam kakak ke-2 saya agak meriang. Suaranya hampir hilang. Makanya ibu berinisiatif membuat wedang asem dengan gula merah. Betul-betul di luar dugaan. Saya hanya melihat bahwa warnanya sama, beningnya sama, dan suwirannya sama, hahaha…

Selalu ada hikmah yang bisa dipetik dari sebuah peristiwa. Termasuk kali ini. Ini dia:

1. Tidak terburu-buru saat melakukan sesuatu. Termasuk saat bangun dari tempat tidur. Semestinya saya duduk dulu sesaat, menghirup napas, dan mengeluarkannya perlahan. Hal ini penting untuk menyeimbangkan kesadaran.

2. Melakukan sesuatu dengan persiapan yang pas. Contohnya: Mestinya saya menyalakan lampu dapur saat akan menyendok rawon dari panci. Tadi pagi, saya malas menyalakan lampu, akhirnya semua dianggap sama.

3. Pasang radar. Aroma wedang asem dan rawon daging tentunya jauh beda. Saya mengabaikan anugerah indera penciuman yang sudah diberikan oleh Allah.

Alhasil, perut saya rasanya seperti diaduk-aduk. Mulas pisaan 😀

 

Happy Monday!

The Happier Me,

-Melina-