Assalamu’alaikum Beijing; Mengenang Masa Lalu

Usai menonton “Assalamu’alaikum Beijing” bersama 2 orang kawan. Dibilang puas, tidak juga karena ada cerita yang menurut saya bakal keren kalau ikut divisualkan. Emosinya pasti bisa membuat penonton marah, sedih, menangis, tidak mungkin tertawa pastinya. Dibilang tidak puas, tidak juga karena nyatanya saya masih sempat menghela napas beberapa kali. Sesekali memencet hidung yang mulai berair karena mata sudah mengembun juga. Efek dari sedih, haru, sekaligus bahagia.

 

Soal sinematografi, saya tidak berani bersuara karena memang belum ada ilmunya. Dulu tidak ambil mata kuliah Kajian Sinema, sih. Nanti saya colek sahabat-sahabat semasa masih culun dulu :D.

 

Settingnya sudah pasti keren dengan latar belakang China Great Wall yang mendunia itu. Sepanjang cerita berlangsung, terus terang kepala saya tidak 100% menuju ke layar. Place setting di China dan dialog menggunakan bahasa China malah membuat putaran film lain. Playernya otak saya sendiri, yang sibuk memutar ulang tayangan perjalanan beberapa tahun lalu bersama orang yang berbeda dan tempat yang berbeda juga. Ini dia:

 

1. Mengingatkan saya pada masa hebohnya drama Taiwan berjudul Meteor Garden. Dari seluruh penghuni kost tempat saya tinggal, cuma saya yang asyik belajar di kamar. Bukan sok pintar, tapi justru karena ‘bunuh diri’ di jurusan yang saya tidak impikan. Saya harus berjuang keras agar bisa melalui masa-masa sulit itu. Jangan berpikir nilai-nilai yang saya peroleh itu lahir dari kecerdasan otak. Tapi dari belajar semalaman, bangun pagi-pagi supaya kebagian kamar mandi paling awal. Kemudian mengucek cucian, menjemur, menyetrika, semuanya saya lakukan sambil komat-kamit menghapal sejarahnya bangsa Inggris, kehidupan masyarakat Inggris, hingga karya-karya sastranya di masa lampau. Sedih, apalagi kalau ingat nasehat seorang guru di masa SMP. Belajar itu dimengerti dan dipahami, bukan dihapalkan. Kalau dimengerti dan dipahami hasilnya akan bertahan lama. Kalau sebatas dihapalkan, hasilnya bersifat sementara. Dan, itu terjadi. Saat sidang skripsi usai, usai pula ingatan saya tentang semua hal yang pernah dikomat-kamitkan oleh mulut ini.

 

2. Mengingatkan saya pada Kota Depok dan seorang Laoshi. Mario namanya. Kami kuliah di semester yang sama. Mario ini tipe lelaki cool. Oleh murid-murid yang sebagian besar anak SMA dan centil semua, beliau ini suka digoda. Malah suka dipanggil dengan nama Mario Bros. Saya? Tetap jadi murid yang anteng. Penampilannya memang nggak banget, tapi tutup mata deh soal itu. Di luar kelas, diskusi dengan Laoshi satu ini asyik, lho. Saya gali ilmu dia cara menguasai kosakata bahasa Mandarin. Sulit. Bagaimana tidak, satu kata bisa bermakna 4, tergantung nada yang digunakan. Kalau sedang belajar, selama di kelas leher saya menjulur-julur kesana-kemari seperti angsa demi memperoleh nada yang pas. Sayangnya, baru dua level menjadi muridnya, Laoshi saya itu dikirim belajar ke China oleh kampus tempatnya belajar. Keren nggak, tuh? Laoshi satu ini memang oke. Tidak banyak bicara, tapi hasilnya membanggakan. Saya sempat cuti dulu karena maunya di level berikutnya tetap ikut kelasnya. Tapi ternyata studinya lama dan akhirnya pelajaran yang masih saya ingat hanya sebatas memperkenalkan diri. Parraah!

 

Sukakah saya pada bahasa Mandarin? Sebetulnya tidak. Alasannya karena bingung punya uang banyak. Lho, kok bisa? Iya, jadi selama SD, SMP, sampai SMA, saya biasa dapat uang saku yang paaas banget. Saking pasnya, untuk ongkos angkot pulang-pergi ditambah membeli selembar kertas ulangan, langsung tak bersisa. Begitu kuliah, dapat uang saku Rp 600.000/bulan saya bingung, mau diapakan uang itu? Kebetulan, Fakultas kami kedatangan mahasiswi baru yang sudah duluan ikut les bahasa Mandarin ini. Ikutlah saya ke ‘Beijing’ bersamanya.

 

3. Mengingatkan saya pada seorang bapak tua yang rambutnya sebagian besar sudah beruban, di atas bis. Kami duduk bersebelahan. Saat bercerita soal pekerjaan dan beliau tahu bahwa sebagian klien-klien kami adalah perusahaan yang bergerak di bidang minyak dan gas bumi, beliau berkata agar saya memperdalam bahasa Mandarin karena suatu saat nanti bidang tersebut akan dikuasai oleh negeri tirai bambu itu. Seketika hati saya mencelos. Hiks, Laoshinya kan waktu itu pergi.

 

Wah, banyak ya cerita yang terputar lagi setelah nonton “Assalamu’alaikum Beijing”. Bagaimana denganmu?

 

The happier me,

-Melina-

About

Mom of two kids, living within good books and extraordinary people

No Comments

Leave a Comment

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.