Dua Tahun Berujung Mantan

“Din, elo mau nggak nikah sama gue?” Pertanyaan Harris, pacarku itu, tentu akan serta-merta kusambut dengan anggukan seandainya saja tak ada yang salah dalam hubungan kami. Tapi, dengan mengatasnamakan empati atas kaum perempuan, aku hanya menganggap lamaran tak resmi itu sebagai angin lalu. Separuh hati berkata, tak perlu bicara empati jika nyatanya kamu masih bersama lelaki itu.

*****

Kami berlari-lari kecil mengejar taksi yang berhenti terlalu jauh dari halte. Biasanya, kami lebih suka naik kendaraan umum, mengejar metromini bersama, rasanya lebih seru dan romantis. Meski seringkali kendaraan umum seperti metromini ini tak pernah benar-benar berhenti kala menaikturunkan penumpang. Beruntung, aku dan Harris sudah jago dalam hal berlari mengejar metromini, melompat naik, juga melompat turun. Genggaman tangan Harris lepas saat kami berdua sudah sama-sama duduk di jok belakang taksi ini. Tidak lucu jika terus saja bergandengan tangan. Aku jadi membayangkan pasangan kakek-nenek yang saling berpandangan sambil bergenggaman tangan, di depan meja bulat di malam perayaan hari ulang tahun pernikahan yang ke-50.

Hari Minggu yang selalu saja menyenangkan sejak kami bersama. Harris tak pernah absen mengajakku jalan. Tak ada acara mewah. Cukup dengan nonton film terbaru di bioskop – aku dan dia sama-sama suka genre action dan romance comedy, makan di rumah makan pinggir jalan, atau berburu buku bekas di Kwitang. Sama-sama suka nonton film dengan genre yang sama, membaca buku-buku National Geographic dan komik Disney jaman dulu, membuat kami kompak. Tapi ada yang beda. Dia suka basket, sedangkan aku cukup senam aerobik saja, hahaha …

“Din, gue mau ngomong sesuatu,” kata Harris dengan nada serius. Perasaanku rasanya tak enak.

“Hmm … Apa, Ris?” tanyaku. Setengah mati kuperintahkan jantung agar tak berdebar terlalu kencang.

“Hari pernikahan gue dan Tania … tinggal sebulan lagi ….”

Jedarrr!! Benar kan, firasatku? Aku menunduk dalam. Mataku menyusuri serat-serat kayu meja dengan dua cangkir kopi kami di atasnya. Detik demi detik berlalu. Aku sengaja diam, menantikan cerita Harris selanjutnya.

“Gue minta maaf, Din,” ucap Harris lirih. Wajah tampannya tampak muram.

Aku tak mengatakan apapun. Hanya air mata yang mendesak-desak turun. Harris berdiri dari kursinya, menghampiri, lalu memelukku erat.

“Kita … kita …?” tanyaku terpatah.

Lelaki yang sudah hamper satu tahun ini mengisi hari-hariku, berlutut. Tangan kirinya menggenggam dua tanganku. Tangan kanannya lembut menyentuh daguku.

“Dinar, gue sayang sama lo. Meskipun gue menikah sama Tania, gue nggak akan ninggalin lo.”

Diraihnya tanganku ke depan bibirnya. Hangat kecupannya di ujung-ujung jariku mengalir hingga ke kepala.

*****

Aku bertemu Harris pertama kali saat tak sengaja pelayan kafe tempat kami nongkrong saat itu, salah menyajikan kopi. Kopi yang kuminta sangat manis diantar ke meja Harris, sebaliknya, kopi pahit yang dipesan Harris diantar ke mejaku. Tak ada di antara kami yang menyalahkan pelayan itu. Dua cangkir kopi yang akhirnya kami pesan lagi pun tetap kami bayar. Akhirnya, kami malah memilih duduk di meja yang sama. Harris yang pindah ke mejaku karena pemandangannya memang lebih bagus.

Obrolan kami awali tentang kopi. Kami saling beradu argumen, mana kopi yang lebih pas di lidah. Aku tentu mati-matian membela rasa kopi yang super manis. Harris tak mau kalah mengatakan bahwa kopi pahitlah yang paling istimewa.

Kami mengobrol banyak saat itu. Harris yang kukenal sudah mempunyai pacar bernama Tania, seorang mahasiswi yang tengah kuliah di Surabaya. Mereka berencana akan menikah tahun depan. Aku pun sudah memiliki Rama, yang saat itu tengah menempuh pendidikan di Australia. Sebuah ide konyol muncul, kami sepakat berpacaran, saling selingkuh. Ide gila yang berujung membuatku hampir gila juga. Tahu kenapa? Aku betul-betul jatuh cinta pada Harris. Rama? Sudah tak perlu diceritakan lagi sejak ia menghilang tanpa kabar dan tiba-tiba mengirimkan email minta putus.

“Gue putus dari Rama,” ceritaku pada Harris di suatu sore. Saat itu kami tengah duduk-duduk di tepi pantai.

Harris menoleh cepat, “Kok bisa? Kenapa?”

“Nggak ada kata putus, sih. Tapi dia menghilang begitu aja. Dia nggak pernah angkat telepon gue, nggak balas email gue, semua nggak direspon. Kemarin dia kirim email, bilang minta putus.”

“Lo nggak berusaha cari tahu?”

“Buat apa, Ris?”

“Ya, lo harus dapat penjelasan dong.”

Ah, andai Harris tahu. Aku sama sekali tak menginginkan penjelasan apapun dari Rama. Bahkan tak ada luka saat membaca email terakhir dari lelaki yang sudah 3 tahun menjadi pacarku itu. Satu hal yang pasti, aku menyukai Harris sejak lelaki itu memutuskan pindah ke meja yang sama denganku, menikmati kopi kami.

*****

Harris dan Tania akhirnya menikah. Mereka tinggal di rumah orang tua Tania di Surabaya. Harris masih tetap bekerja di Jakarta. Ia pulang ke Surabaya setiap dua minggu sekali. Kami masih bertemu, setiap hari Minggu, tentu saat Harris tak sedang menemui istrinya. Tak ada yang berubah, kecuali hatiku yang semakin lama semakin merasa hubungan kami ini semu. Aku bahagia bersama Harris, mendengarkannya berbicara, tertawa, bahkan dehamannya saja pun bisa membuatku lega.

Tapi aku tetaplah seorang perempuan. Kelegaanku hanya sementara. Ada saat-saat ketika aku begitu bangga masih memenangkan hati Harris. Tapi lebih jauh lagi, ada luka yang menganga yang dirasakan Tania. Itu pasti, cepat atau lambat.

“Kenapa juga sih, gue harus nikah sama lo?” Itu jawaban yang kulontarkan pada Harris saat ia mengajakku menikah.

“Karena gue sayang sama lo dan lo sayang sama gue.” Mantap lelaki itu menjawab.

“Terus … istri lo?” tanyaku.

“Ya, dia akan tetap jadi istri gue.” Heran. Tak ada nada bersalah dalam suara Harris. Kutatap lekat-lekat mata kelabu itu.

“Status gue apa, dong?”

Bukannya langsung menjawab, ia malah tertawa. Aku tak sabar mendengarkan jawabannya.

“Lo jadi istri ke-2 gue. Jadi hubungan kita sah, kan? Gue bisa beli rumah di sini buat kita.” Harris masih berkata dengan nada yang ringan, menurutku.

Ada berjuta tanya meloncat dari kepalaku. Harris! Lo kok mikirnya segampang itu, sih? Lo pikir gue akan serta menjawab ‘ya’? Lo pikir Tania setuju lo menikah lagi? Lo pikir gue segitu nggak punya perasaannya merebut semua yang Tania punya? Dan masih banyak pertanyaan lain – yang sayangnya – hanya menggema di telinga.

Seminggu setelah pertanyaan konyol Harris itu, kami berpisah. Aku mencoba berpikir selayaknya perempuan normal. Tak ada satupun perempuan yang mau suaminya selingkuh atau menjadi selingkuhan. Tapi aku? Dua tahun lamanya hidup membayangi kehidupan cinta Harris dan Tania. Mungkin sedikit kukoreksi. Satu tahun menjadi selingkuhan pacar dan satu tahun lagi menjadi selingkuhan suami perempuan itu.

Mencoba melupakan Harris ternyata jauh lebih melelahkan dibanding menitip rasa padanya. Aku mungkin berhasil menolak menemui saat ia menjemput ke kantor dan sukses tidak membalas semua pesan dan teleponnya. Aku juga berhasil membuatnya kembali pulang, meski – dari balik tirai kamar – harus melihatnya berdiri muram di depan pagar. Tapi di sisi lain, aku malah menenggelamkan diri dalam kenangan. Mendatangi kafe tempat kami bertemu pertama kali, duduk di kursi yang ia tempati dulu, lalu memesan secangkir kopi pahit. Seolah ingin merasakan ia ada.

Aku benar-benar melepaskan Harris. Pindah kantor, tinggal di tempat kost yang baru, mengganti nomor telepon, semuanya. Ajaib, tahun terus berganti. Tak ada lagi nama Harris dalam hidupku, semoga juga tak ada namaku di hidupnya. Kami masih tinggal dan bekerja di kota yang sama, sepertinya. Aku sempat melihatnya di sebuah acara pameran kerajinan tangan, sepertinya dia juga sama. Tak ada sapa, tak ada yang berusaha mendekat, kami telah saling melupakan. Seperti itulah seharusnya seorang mantan.

The Happier Me,

-Melina-

 

Posted at Komunitas Bisa Menulis #EventSangMantan

Jakarta, 2 Januari 2015

About

Mom of two kids, living within good books and extraordinary people

No Comments

Leave a Comment

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.