Dia, Sepotong Sosis, dan Sesuatu Yang Tak Pernah Terpikirkan

Kami sama sekali bukan saudara kembar. Untuk beberapa hal, mungkin kami punya kesamaan. Kami terlahir sebagai anak ke tiga dari empat bersaudara yang ke semuanya perempuan. Saat pertama kali berkunjung ke rumahnya – berarti sudah 20 tahun yang lalu – ternyata kami memperoleh kabar yang mengejutkan. Tak ingat persis bagaimana misteri (deng deng!!!) bisa terkuak. Ternyata ibunya dan adik sepupu bapakku adalah teman sekelas sewaktu di SMP dulu. Waa … kebetulan atau memang Allah takdirkan kami bertemu, ya?

Di luar itu, perbedaan antara kami tak kalah hebohnya. Aku notabene lebih lembut (uhuk) dan penyabar (ibuku sendiri yang bilang kalau aku ini anak beliau yang paling sabar), sedangkan dia cenderung keras dan tidak sabaran (adakah yang bisa membantu lawan kata sabar? :D). Tapi sebagai sahabat, kesamaan dan perbedaan itu menjadikan kami solid.

Darinya aku tahu bahwa di dunia ini ada makanan yang bernama sosis. Norak? Biar saja. Aku memang baru mengenal sosis saat duduk di kelas 1 SMP. Kapan ya tepatnya? Ya 20 tahun lalu itu. Ceritanya aku dan beberapa teman berkunjung ke rumahnya. Sang Ibu (sekarang sudah almarhumah) membuatkan mie dicampur telur, bakso, dan sosis. Enak! Sampai rumah, kuceritakan pada ibu tentang makanan enak bernama sosis. Tentu, sambil merayu beliau agar memasukkan sosis juga ke dalam daftar belanja bulanan. Ternyata oh ternyata, harganya mahal. Tak apa, toh aku masih mempunyai kesempatan makan sosis di lain waktu. Di rumah sahabatku itu, tentunya, hihihi ….

Kepindahan rumah menyebabkan kami sempat putus komunikasi sampai kemudian bertemu lagi saat sama-sama berstatus mahasiswi. Aku tidak punya ponsel sehingga saat berpindah tempat kost, kami putus komunikasi lagi. Pertemuan terjadi lagi sekitar 2 tahun lalu. Tempat tinggalnya ternyata tidak terlalu jauh dari kantorku. Kami mulai sering ngobrol lagi. Kini tentang lebih banyak hal dibandingkan saat SMP, pastinya. Kami mulai gatal mencoba-coba aneka bisnis, mulai dari fashion, boneka, yang ke semuanya gagal di 3 bulan pertama. Hahaha, mau kesal, marah, menangis, tidak ada gunanya. Intinya, kami memulai bisnis dengan arah yang salah. Terlalu bernafsu tanpa didasari ilmu.

Suatu ketika – ini cerita pentingnya. Maaf jika malah berputar-putar tentang nostalgia kami, hehehe …. Suatu ketika kami duduk bersama di sebuah rumah makan. Waktu makan siang tiba dan menu makan siang sudah siap di atas meja. Semangkuk mie … Lupa nama menunya. Yang pasti, tampilannya cantiiik deh. Kukeluarkan ponsel, meletakkannya di atas meja. Tanpa dinyana, ia malah bertanya.

“Lo nggak akan motoin makanan ini, kan?”

Aku melongo. Memotret makanan? Idih, kurang kerjaan, batinku.

“Nggak tuh. Memangnya kenapa?”

“Kali aja lo mau motoin tuh makanan, terus diposting di Facebook.”

Jiaaah! Ingin tertawa ngakak deh. Orang lain mungkin iya. Aku? Lagi-lagi kurang kerjaan deh.

“Nggak. Gue nggak suka motoin makanan lalu posting ke media sosial. Kalaupun iya, pasti foto modelnya anak-anak gue.”

Dia terdiam sejenak, lalu melanjutkan.

“Gue paling sebal deh sama orang yang suka begitu. Termasuk riya, kan?”

Aku sempat berpikir sesaat. Telunjuk kanan mengetuk-ngetuk pelipis. Berpikir lagi.

“Mungkin maksudnya bukan riya kali, ya. Tapi berbagi kebahagiaan.”

“Berbagi kebahagiaan? Intinya kan orang itu berarti ingin menunjukkan sesuatu. Pamer kalau dia sedang makan ini-itu, jalan-jalan ke sini ke situ. Riya, dong.”

Terus terang aku tidak setuju pada pendapatnya. Bukan karena aku sebagai pelaku (kan tadi aku sudah bilang, yaa …) atau membela pelakunya, tapi rasanya kegiatan semacam itu tidak bisa dikategorikan riya. Terserah orang deh mau happy-happy.

Dia melanjutkan opininya tanpa menungguku mengucapkan kata-kata. Mungkin raut wajahku yang bingung membuatnya tahu bahwa aku belum nyambung dengan opininya itu.

“Saat kita lagi di restoran. Makan makanan enak, kita foto, kita unggah ke medsos, terpikir nggak kalau itu akan menimbulkan kecemburuan? Iya, kecemburuan. Bagi orang yang nggak mampu beli makanan itu. Hati-hati lho, karena maksud kita berbagi kebahagiaan itu malah jadi kesedihan buat orang lain. Tanpa kita sadari, rasa sombong nempel tuh di dalam hati. Sombong. Bangga bisa duduk di restoran mewah. Bangga bisa ketemu makanan enak.”

Deg! Kalimat-kalimat itu sama sekali tidak pernah terlintas di pikiranku. Hmm, bisa jadi. Kalau sampai ada saudara kita yang melihat dan ternyata sudah lama ingin mencicipi, bukan berbagi kebahagiaan lagi namanya. Banyak kasus kejahatan terjadi yang bermula dari urusan perut. Jadi, tidak usahlah ya, menginformasikan pada dunia saat ini kita sedang jalan-jalan di mana atau makan apa. Mungkin bisa jadi pengecualian kalau dijadikan sarana penyebaran ilmu atau ibadah. Supaya orang lain termotivasi untuk melakukan hal yang sama. Itu menurutku, bagaimana menurutmu?

Percakapan di atas terjadi hampir setahun yang lalu. Kisah bersama sahabatku yang ajaib tapi ngangenin. Doa untuknya semoga senantiasa sehat dan diridhoi Allah dalam setiap langkah hidupnya.

 

The Happier Me,

-Melina-

About

Mom of two kids, living within good books and extraordinary people

No Comments

Leave a Comment

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.