Love Me Not My Body (Chapter 2)

RADIT. Spidol di tanganku menggores nama itu dalam huruf-huruf besar. Tak cukup sampai di situ. Lima urutan huruf yang belakangan ini menjadi begitu keramat untukku masih kutebali lagi. Seolah tak cukup besar untuk diamati oleh kedua mata yang minus saja tidak. Kupandangi kertas gambar A5 itu sambil tersenyum-senyum sendiri. Padahal, sejatinya kertas itu mestinya kugunakan untuk menggambar peta. Ah, andai bisa kugambar peta untuk menyusuri hatimu, Radit. Aw, aw! Raveena mulai gila.

***

Kepalaku sibuk membantu leher, eh atau leher membantu kepala, ya- celingukan ke arah luar. Sementara tanganku sibuk mengolesi sehelai roti tawar dengan selai kacang. Tiba-tiba, eh lho, kok kepalaku seperti ditarik begini? Mata jadi tidak bisa berkelana ke arah teras lagi, padahal sosok yang ditunggu-tunggu belum lagi muncul di sana. Tidak hanya itu, telingaku terasa nyeri. Wait, wait … oh, Mama! Mata yang sudah dihiasi eye shadow keunguan itu tampak memelototiku, ditambah dengan bibirnya yang sudah maju, siap untuk mengomel. Ibu jari dan telunjuknya menjepit telingaku kuat.

“Raveena! Kamu apa-apaan, sih?” Jeritan yang tak kutunggu itu terdengar juga.

“Aduuuh … Ada juga Veena yang tanya. Mama apa-apaan sih pakai jewer-jewer segala? Memangnya Veena masih bocah?”

“Kalau bukan bocah apa namanya? Selai kacang kok dioleskannya ke tangan? Mata kamu dari tadi jelalatan lihat apa, sih?”

Bibirku membulat menyadari selai kacang itu salah mendarat. Beruntung, pisaunya tidak melukai kulitku. Aku nyengir salah tingkah.

“Iya, tapi udahan dong, Ma, jewernya.” Aku merajuk manja seperti biasa. Bersiap mengeluarkan jurus-jurus rayuan gombal yang oleh mama akan ditanggapi dengan gombal betulan alias kain lap kotor.

“Kamu lihat apa sih, di luar sana?” tanya mama dengan nada ingin tahu. Tangannya sibuk mengelap tanganku dengan tisu basah. Ujung-ujungnya mama juga yang membersihkan. Bagaimana aku tidak cinta, coba?

“Itu lho, calon menantu Mama.” Aku kembali tersenyum-senyum.

“Radit lagi?” Mama seperti sudah tahu isi kepalaku.

Kuanggukkan kepala kuat-kuat. Mataku bergerak-gerak mencari dukungan.

“Belajar dulu yang pinter.”

“Ih, tiap hari juga belajar, kok.”

“Mana mau Radit sama perempuan kayak kamu.” Mama berkata dengan cueknya. Mulutnya kemudian sibuk mengunyah sarapan pagi kami.

“Kok Mama bilang gitu, sih?” Kugoyang-goyangkan lengan mama yang terbuka.

“Ya bener, dong. Radit itu pasti maunya sama perempuan yang ayu dan pintar. Pintar memasak, pintar menjaga sikap, pintar menjaga bentuk tubuh. Memangnya kamu ….,” Mama meleletkan lidahnya yang kusambut dengan leletan lidah lagi.

Heran deh, punya mama kok tidak mendukung putri tunggalnya begini. Hmm … tapi dipikir-pikir benar juga. Aku tidak pandai memasak, meski pandai menghabiskan makanan. Aku tidak pintar menjaga sikap, yang ada malah sibuk cekikikan dan cari perhatian di depan Radit. Bentuk tubuh? Hmm … usiaku baru 17 tahun lewat sedikit, tapi sudah ada lemak nakal di perut, lengan, dan pahaku.

Kalau yang dikatakan mama benar, aku harus mencari cara.

“Mamaaa …,” Aku bangkit dari kursi, memeluk mama dari belakang. Sebuah kecupan kudaratkan di pipi halusnya. Kapan-kapan perlu tahu juga resep awet mudanya beliau.

“Hmmm ….,” Mama menyahut malas.

“Sponsor dong sponsor. Fitness Ma, fitness.” Kukerjapkan mata jenaka. Mama menatapku sebal. Sebentar kemudian, telapak tangannya bergerak menepuk dahi. Mungkin beliau menyesal membuka jalan untukku menerima kucuran dana segar.

***

Rossa dan Nania sedang sibuk berbisik dan tertawa cekikikan saat aku memasuki ruangan kelas. Bisik dan tawa mereka seketika terhenti melihatku yang mungkin tampak penasaran.

“Ada apa, sih?”

Rossa melirik Nania, begitu pula sebaliknya.

“Eh kok malah lirik-lirikan?” Semakin penasaran, kuhempaskan pantat mendekati mereka.

“Kasih tahu nggak, yaaa?” Nania melirik Rossa dengan gaya yang super amit-amit.

“Kita udah dapat info soal si tampan.” Rossa berkata mantap.

“Si tampan? Siapa, sih?” Tanganku bergerak menggaruk kepala. Kebiasaan buruk yang sulit sekali dihilangkan. Bisa-bisa orang mengira aku ketombean. Lebih parah lagi kalau didakwa kutuan. Hiyyy …

“Ya ampuuun … itu lho, anak kostnya Mamamu,” Nania semangat sekali. Bibirnya sampai maju beberapa senti.

Entah otakku yang terlalu lambat merespon atau memang sejak mula mau berbagi rejeki dengan mereka, aku seolah baru paham bahwa kedua sahabatku ini juga tengah mengincar Radit.

“Kalian naksir Radit?” tanyaku dengan nada bodoh. Semoga tidak diikuti dengan wajah bodoh juga.

“Ihhh … Raveena! Kalau nggak naksir, ngapain juga waktu itu kita bertiga sampai ngintip si tampan itu dari jendela?” Rossa bicara setengah menjerit.

“Jangan-jangan kamu juga lupa kalau tirai jendelanya sampai lepas lalu kita kena hukuman?” Nania menambahkan. Kedua tangannya terlipat di dada. Huh, bossy sekali gayanya.

Olala! Dua kompetitor ada di depan mata. Masihkah cinta di kelas 3 SMA disebut cinta monyet? Jika ya, cukuplah Rossa dan Nania saja yang jadi monyetnya. Dua monyet yang jatuh cinta pada manusia bernama Radit.

(Bersambung)

About

Mom of two kids, living within good books and extraordinary people

No Comments

Leave a Comment

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.