Love Me Not My Body (Chapter 3)

Aku tidak tahu semua apakah yang kami bertiga-aku, Rossa, dan Nania-lakukan ini terlalu berlebihan alias menembus batas kewajaran atau malah sangat manusiawi. Setelah berjam-jam lamanya merayu keduanya untuk memberi bocoran mengenai Radit, akhirnya kemarin kami bertiga melakukan rapat bersama dan sampai pada satu kesimpulan bahwa, kami bertiga harus BERUBAH. Bukan berubah menjadi Power Rangers, Charlie’s Angels, atau Siluman Ular Putih, melainkan berubah menjadi seperti yang Radit inginkan sebagai kandidat pacar. Dan, di sinilah kami sekarang. Di sebuah pusat kebugaran, berdiri di depan pintu masuk sambil saling sikut, saling dorong, berebut untuk tidak mau masuk ke sana lebih dulu. Malu.

***

“What?! Kamu yakin?” Bola mataku membesar. Membuat mataku semakin membesar karena memang Tuhan sudah menciptakanku dengan bola mata yang besar dan indah. Sayangnya, ditambah bonus berbadan besar juga.

Di depanku, Rossa menganggukkan kepalanya kuat-kuat. Tangannya tak henti mengaduk-aduk es teh manis dengan sendok kecil. Sesekali ia menghirup dalam segarnya teh manis itu dengan sedotan yang ujungnya hampir kikis karena ia gigiti.

“Tahu dari mana?” cecarku lagi. Kali ini kusambangi wajah Nania yang sedari tadi sibuk mengecat kuku.

“Ya dari sumber terpercayalah.” Nania menyahut tanpa melepaskan mata dari kuku-kuku yang sebagian sudah berwarna pink itu.

“Ya tapi sumber terpercayanya itu siapa?” Gemas aku bertanya.

“Itu rahasia Raveena, sayang.” Rossa menimpali. Gelas di hadapannya kini hanya menyisakan butiran kecil es batu. Aku memalingkan wajah darinya. Paling risih melihat si kurus itu memasukkan es batu ke dalam mulut, lalu mengunyahnya seperti sedang menikmati keripik pisang. Seperti kurang makanan saja.

“Intinya, kita di sini punya tujuan yang sama. Menaklukkan si tampan Radit. Betul, kan?” Nania mengonfirmasi. Sesekali bibirnya bergerak maju, meniup-niup kuku-kuku berwarna-warni itu.

Aku dan Rossa menyimak penuh perhatian. Kurasa ekspresi kami ini mengalahkan perhatian kami kala menyimak pelajaran sejarah yang dibawakan oleh Pak Simamora di kelas. Siapapun kurasa setuju, suara beliau menceritakan sejarah perang di masa lalu bagaikan irama yang mengundang rasa kantuk datang menyergap.

“Apa iya kita harus sebegitunya?” Eh, tumben sekali aku dan Rossa kompak. Kami saling berpandangan lalu nyengir bersama.

“Raveena dan Rossa sayaaang … Radit itu suka perempuan yang bersih, berpenampilan menarik, plus berbodi menarik juga. Ya iyalah, dia aja bodinya atletis begitu. Mana mau doi punya pacar sebulat Raveena, setipis Rossa, dan secentil Nania?” Kontan aku dan Rossa melayangkan cubitan beruntun ke tubuh Nania. Kulitnya yang putih langsung memerah seperti digigit serangga.

***

Berbekal rayuan maut pada mama-yang sayangnya malah ditransfer pada papa-akhirnya kuperoleh juga beberapa lembar ratusan ribu untuk menjalani program pelangsingan tubuh. Tentu sebelumnya aku harus menjalani wawancara singkat tapi bertele-tele (lho?) dengan papa mengenai alasanku tiba-tiba ingin melangsingkan tubuh. Padahal, setiap minggu pagi aku selalu menolak diajak beliau berolahraga pagi keliling kompleks.

Papa dan mama sama-sama suka berolahraga. Papa suka jogging dan rutin bermain tenis seminggu sekali. Mama-seperti kebanyakan ibu-ibu di komplek-rutin melakukan senam aerobik. Tubuh mereka sehat dan berat badannya sangat terjaga. Maka, jika aku berjalan bersama mereka, jangan salahkan mata yang melihat dan menduga bahwa aku bukan anak mereka saking bulatnya.

“Jadi begini, Pa. Papa kan tahu kalau anak kesayangan papa ini-“

“Ya iyalah anak kesayangan. Kan anak Mama dan Papa cuma kamu, Veen.” Papa menyahut cepat. Tak dihiraukannya tanganku yang sedang tadi bergelayut di lengan kirinya.

“Iya, Papa, sayaaang … Nah, Veena sudah kegemukan nih. Nggak bagus banget kan, Pa. Makanya sekarang Veena mau ikutan fitness supaya sehat.” Kuusap-usap lagi lengan Papa.

“Memangnya kamu penyakitan?” Papa bertanya. Kali ini sambil membuka-buka lembaran koran pagi yang sepertinya baru sempat beliau baca. Sesekali bibirnya berdecak kala membaca berita ekonomi dan politik.

“Iih … Papa doanya kok begitu, sih?” Kudaratkan cubitan di lengannya. Yang dicubit hanya meringis sesaat. Di sofa sebelah, mama senyum-senyum sambil melanjutkan menonton televisi. Dalam hati aku geregetan karena bantuan mama tak kunjung datang.

“Itu bukan doa, Veena. Tapi pertanyaan. Masa kamu nggak bisa bedakan.” Papa menoleh padaku, sekilas, lalu matanya kembali tertumbuk pada berita di koran.

“Iya, Papa, sayaaaang … Maksudnya begitu deh. Eh, Pa … kalau badan terlalu gemuk kan gampang didatangi penyakit, ya?”

“Wah! Bagaimana ini, Ma, Veena, dolar kok bergerak naik terus, ya?” Papa malah sibuk membahas dolar. Aduh, aku jadi kesal.

“Papa nih ya, kok malah membahas dolar sih?” Kucemberutkan wajah.

“Lho iya dong. Ini kan berhubungan dengan perekonomian keluarga kita. Artinya, harga barang-barang naik. Mamamu juga mesti semakin pintar mengatur uang belanja.”

“Apa hubungannya sama Veena?”

Mama melirikku lagi. Kali ini bukan hanya tersenyum-senyum, tapi sudah dalam posisi menahan tawa. Telapak tangannya bergerak menutup mulut. Bahunya mulai berguncang perlahan.

“Kalau uang belanja mamamu semakin menipis, bagaimana bisa bayar uang untuk … apa tadi namanya?”

“Fitness, Papaaa ….”

“Nah! Itu …”

“Anak kita itu sedang jatuh cinta, Pa. Makanya malu sama cem-cemannya kalau badannya gemuk.” Duh, tidak bisakah mamaku tersayang itu mengarang sedikit cerita pada papa?

“Ooo …” Papa tersenyum.

“Ya sudahlah, sana fitness. Minta uang saja sama mama, ya?”

Aku melongo. Tidak menyangka semudah itu meminta ijin dari papa.

“Kok bengong?”

Aku masih melongo.

“Bingung kenapa papa setuju?”

Kuanggukkan kepala kuat-kuat.

“Ya setuju sajalah. Dari pada anak Papa nggak laku.”

Kali ini kuhujani Papa dengan cubitan-cubitanku. Beliau berteriak-teriak sambil tertawa.

***

Setelah sibuk mencari tahu kesana kemari, akhirnya “H&H” menjadi pilihan kami bertiga. Alasannya, pusat kebugaran ini berada di dalam pusat perbelanjaan yang lokasinya cukup terjangkau dari sekolah. Jadi pada hari-hari tertentu, kami akan membawa tas khusus berisi pakaian dan sepatu olahraga. Sedikit merepotkan, tapi tak mengapa. Kami seolah-olah tengah mempersiapkan perlombaan yang hadiahnya sebuah piala tetap bernama Radit.

(Bersambung)

About

Mom of two kids, living within good books and extraordinary people

No Comments

Leave a Comment

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.