Mengayuh Kata “Eh, Ini Beneran Gue Mau Naik Gunung?”

Saya termasuk salah satu orang yang tidak terlalu suka mencoba hal baru. Kalau sudah suka pada sesuatu hal, ya sudah, itu-itu lagi yang akan dipilih. Tapi adakalanya situasi tersebut berubah. Pastinya terjadi manakala pikiran dalam kondisi tertekan. Seringnya sih karena urusan pekerjaan. Lebih parah lagi kalau fenomena “undetectable feeling” melanda. Kalau sudah begitu, saya yang sebenarnya sama sekali tidak berjiwa petualang ini, seringkali mengambil keputusan yang kemudian membuat saya berpikir, “Eh, ini beneran gue mau …?”

Termasuk ketika seorang teman bercerita kalau dia mau hiking bareng teman-teman sekolahnya dulu lalu iseng ajak saya ikut. Iseng? Buat saya ya, dia cuma iseng ajak saya. Tapi sayangnya, malah saya sambut dengan gembira. Masa bodoh dia menyesal atau tidak sudah mengajak saya. Satu yang pasti, saya butuh suasana berbeda. Berbulan lamanya otak dan tubuh seperti tersedot ke pipa sempit tak beroksigen bernama “pekerjaan”. Mungkin di dalam kepala, otak saya sudah seperti kain lap yang sudah kusut masai, dicabik-cabik cakar serigala, diaduk-aduk di adonan lumpur, dan hasilnya silakan dibayangkan sendiri.

Sok yakin sekali sanggup mendaki gunung, tapi bukan saya namanya kalau masih pakai jalur mainstream. Wuih!

Kemudian di hari-hari berikutnya, pikiran “Eh, ini beneran gue mau naik gunung?” terus-terusan bergema di kepala. Bertanya pada diri sendiri dan dijawab oleh diri sendiri juga. Sungguh, agak jiper juga membayangkan mereka yang akan mendaki bersama adalah para penguasa pegunungan. Saya bakal memalukan tidak, ya? Intinya sih jangan sampai memalukan yang mengajak.

Ada banyak hal pula yang harus dipikirkan. Mulai dari perlengkapan yang harus dibawa dan apesnya saya nggak punya semua. Satu-satunya barang yang saya pernah punya yaitu celana kargo, sudah lenyap diberikan ke orang gara-gara waktu itu berat badan turun drastis dan berimbas celana kedodoran.

Ada rasa takut juga. Bayangkan kue lapis deh. Nah, rasa takut saya bertumpuk-tumpuk seperti itu. Warna-warni juga. Ini dia:

  1. Takut capek. Di bayangan saya mendaki gunung itu melelahkan. Kan lagunya juga begitu. Naik-naik ke puncak gunung, tinggi-tinggi sekali, hehehe …
  2. Takut kelaparan. Hahaha, maklum saya doyan makan. Di bayangan saya di gunung itu kan tidak ada warung. Kalau tengah malam, terdengar gemuruh dari perut saya, bagaimana? Untuk diketahui, saya biasa terbangun di pukul 1 (satu) pagi karena lapar lalu makan. Kalau masih ngantuk ya lanjut tidur lagi. Kalau tidak, ya kutak-katik tulisan sambil menunggu saatnya mandi pagi lalu berangkat kerja.
  3. Takut bertemu laba-laba. Di bayangan saya, kami semua bakal masuk hutan. Nah, di film-film, di hutan itu kan banyak tarantula. Semua jenis laba-laba saya takut pakai banget. Sarangnya yang mirip debu itu pun saya takut.
  4. Takut disuruh masak. Aduh, saya lebih baik disuruh mencuci piring bertumpuk-tumpuk deh. Bukan apa-apa, rasa masakan saya itu aneh. Saya saja tidak doyan. Kan memalukan, hihii ….
  5. Takut memalukan teman yang iseng (nih, isengnya saya sebut lagi) mengajak saya. Berhubung tidak pernah mendaki sebelumnya, ngeri juga kalau bertindak tidak lazim dan memalukan hihihi …

Demi mengatasi semua gangguan di atas, berbagai persiapan saya lakukan. Kalau dipikir-pikir, saya mau mendaki gunung berapa gunung, sih? Repot betul kelihatannya.

  1. Titip pesan ke Personal Trainer di tempat fitness kalau saya mau mendaki, lengkap dengan informasi bahwa ini pendakian pertama saya dan saya tidak mau ditinggal di belakang gara-gara kecapekan. Hasilnya, saya menyesal pakai laporan ke dia karena setelah itu dia seperti mau membunuh saya dengan latihan pakai alat yang bebannya tiap saat naik, mulai dari 15 kg sampai 35 kg. Kalau betul-betul capek, pakai adegan pura-pura mau menangis sambil menutup muka. Kalau sudah begitu, tinggal dia saja bilang, “Mau latihan atau nanti mau ditinggal di belakang sama teman-temannya?” Minta ditonjok ya Personal Trainer saya itu.
  2. Berhubung ada yang bilang bahwa lari di treadmill itu kurang oke karena latar tempatnya (ciee .. kok seperti mau syuting) yang terlalu enak (baca: pakai AC), beda dari gunung, akhirnya saya rutin juga lari pagi keliling lapangan Sempur. Lima sampai enam putaran cukuplah. Meski setelahnya saya jajan terus. Pengakuan dosa nih, acara lari pagi ini seperti acara jajan pagi yang terselubung, hehehe …
  3. Menjauhi makanan pedas saat menjelang hari keberangkatan. Takut maag kambuh dan akhirnya menyusahkan teman-teman. Pokoknya tidak boleh manja. Jangan memalukan.
  4. Mempersiapkan mental membayangkan lapar plus menghindari urusan masak-memasak. Sebab saya rencananya hanya akan makan oatmeal, sereal, roti gandum, makanan yang mudah dibawa, diolah, dan sehat deh intinya. Pada akhirnya bersyukur sekali masih bisa makan sewajarnya manusia (baca: ada nasi dan lauk pauk hehehe …)

Persiapan lainnya, belanja perlengkapan. Urusan ini, saya menyerah. Lebih baik belanja bareng teman yang sudah pengalaman. Eh, tidak tahunya yang saya tempeli buat belanja ‘anak’ baru juga, hahaha … Maklum, saya terbiasa berprasangka baik sama orang. Rejeki saya, dapat pinjaman tas dan matras dari orang yang saya tidak kenal. Pak supir kantor yang berbaik hati mencarikan pinjaman. Duh … mana sampai sekarang belum mengucapkan terima kasih sama orangnya. Bukannya tidak tahu diri, ya, saya tidak tahu orangnya yang mana, hehehe …

Selesai belanja perlengkapan, dari hasil diskusi bareng teman, kami perlu membawa bekal untuk konsumsi bersama. Jadi ingat, saya punya 4 (empat) voucher Carrefour dari klien yang belum pernah dipakai. Alhasil, saya belanjakanlah voucher itu. Dasar tidak pernah belanja model begini, ya (biasanya hanya belanja jajanan tuan muda dan nona kecil di rumah plus mamanya alias saya), kok voucher Rp 400.000 saja tak habis-habis? Saya mendorong keranjang belanja beroda sambil membuka kalkulator di HP.

Ternyata, masalah tidak berhenti sampai di situ. Sejak awal sih saya memang sudah bingung, bagaimana cara mengatur barang-barang di dalam tas model paralon itu? Hehehe … Iya dong, kan bentuknya lurus panjang begitu. Sedikit lega karena ada teman yang berbaik hati mengutus adiknya-yang mau ikut mendaki juga-untuk bantu saya packing. Bahkan hingga satu jam sebelum rencana keberangkatan, segala macam barang masih berserakan di meja ruangan saya. Wah! Itu adalah kondisi ruangan kerja terburuk sepanjang saya mendiami ruangan itu. Seperti pasar? Jauh lebih buruk. Masih bagus pasar yang barang dagangannya disusun rapi. Ini berserakan. Oh!

Janji punya janji, pengutus dan utusannya itu tak kunjung datang. Mereka diterkam macetnya jalanan plus ngetemnya angkot. Ya sudahlah, teman saya yang sudah lebih dulu datang akhirnya dipaksa membantu packing meskipun pertama kali datang wajahnya tampak shock melihat ruangan saya itu hahaha … Mungkin tidak menyangka ada badai di sana. Atau versi jujurnya, “Aduh, ada ya perempuan jorok begini?” *NgakakSajaDeh.

Pertama kali mencoba membawa tas paralon itu di punggung, huk! Ampun deh, rasanya hampir terjungkal. Ini sih tas bawa saya, bukan sebaliknya. Pada akhirnya, jadi juga saya mendaki. Bye, bye, Jakarta!

(Bersambung ke “Cikurai, antara Pelarian, Petualangan, dan Proposal dari Langit Malam”)

The happier me,

-Melina-

 

 

 

About

Mom of two kids, living within good books and extraordinary people

No Comments

Leave a Comment

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.