Love Me Not My Body (Chapter 4)

Setuju atau tidak kalau jatuh cinta itu melelahkan? Well, mungkin bukan jatuh cintanya, melainkan kelanjutannya. Penyelidikan ala detektif untuk mencari tahu apa sih yang cem-ceman kita itu suka atau tidak. Ya, memang sih, urusan satu ini aku terima jadi karena sudah Rossa dan Nania sudah lebih dulu melakukan investigasi. Setelahnya, masih harus berepot-repot ria menjadikan diri kita sama-setidaknya mendekati-apa yang cem-ceman kita itu suka. Seperti kali ini, aku yang tengah terduduk di tengah-tengah area H&H sambil meluruskan kaki akibat mabuk olahraga. Eh, ada tidak sih orang mabuk olahraga? Kalau belum, ini saatnya terminologi itu diperkenalkan pada masyarakat luas.

Tidak berlebihan kalau kubilang ini adalah mabuk olahraga. Saat mabuk, orang sudah tidak bisa berpikir jernih, bicara dan bergerak semaunya. Ya, kan? Nah, itulah yang terjadi padaku saat ini, tidak bisa berpikir jernih. Tidak tahu mana yang harus kutangani lebih dulu. Mengatur napas yang ngos-ngosan seperti orang mau melahirkan, memijat-mijat kaki yang pegalnya seperti habis diganduli container, mengelap peluh yang membanjiri sekujur tubuh, atau berjuang keras untuk berdiri mengambil segelas air putih karena tenggorokan rasanya kering dan tandus.

Semoga di saat-saat seperti ini tidak ada wajah ganteng yang melintas, melirik, melihat, memerhatikan, atau menertawakan, karena jika ya ia sudah sukses menurunkan harkat, derajat, dan martabatku. Berharap tanpa berdoa sepertinya sia-sia. Sebab tiba-tiba seseorang datang, menyapa, dan berjongkok dengan satu lutut menumpu pada lantai.

“Raveena?”

Tuhan … doaku tadi tidak lengkap, ya? Mestinya nama makhluk satu ini kusebut juga. Jadi dia tidak akan muncul tiba-tiba seperti ini. Kusambar handuk kecil di sisi kiri, mengusap cepat keringat di wajah.

“Hai …,” sapaku ramah meski terdengar kikuk.

“Kamu ngapain di sini?” Radit menatapku.

“A-aku? Ngg … A-Aku sedang o-lahraga. Ya, ya, olahraga.” Duh, pakai acara gugup segala, sih.

“Oh … Baru tahu kamu suka olahraga. Soalnya …,”

“Soalnya apa?”

Ia tertawa sambil menggaruk kepala belakang. “Nggak kok.”

Dalam hati aku menggumam, jangan-jangan dia mau bilang suka olahraga kok masih bulat aja?

“Ya udah, aku duluan, ya,” Radit berpamitan. Ia bangkit berdiri menuju Chess Press. Aku hanya memandanginya berlalu tanpa kata.

***

“Aku malu banget tahu nggak, sih?” Langkah kakiku bergerak mondar-mandir menyusuri ruangan ini. Di atas tempat tidur, Rossa dan Nania tidur-tiduran sambil cekikikan.

Kami tengah berkumpul bersama di rumah Nania. Kamar Nania asyik sekali. Kamar berukuran 6×6 cm ini bernuansa putih biru. Di salah satu dinding, dipasang wallpaper bergambar bunga matahari. Kamar ini menghadap ke arah kolam renang. Ada pintu kaca yang langsung mengarah ke sana. Kamar ini menjadi tempat favorit kami saat belajar kelompok. Jangan curiga dulu, kami betul-betul belajar, kok. Meski persentase antara belajar dan main-main air di kolam renangnya sama besarnya.

Rossa merubah posisi tidur dari telentang menjadi tengkurap. Punggungnya ia tegakkan pertanda serius ingin tahu.

“Setelah itu, kalian ketemu lagi nggak, di rumah?” Nania yang semula asyik membaca majalah, buru-buru meletakknya di meja samping tempat tidur. Ia ikut-ikutan tengkurap di sebelah Rossa.

“Sempat sih. Tapi cuma papasan aja. Kan kalian tahu sendiri, Radit itu cool banget. Dia cuma lihat kita sekilas, kadang ya disempetin senyum sedikit, kabur deh.” Aku bercerita dengan berapi-api.

“Kita? Kamu aja kali, Veen.” Nania meleletkan lidahnya.

“Ih, nggak percaya banget, sih.” Kujejakkan kaki ke lantai karena kesal.

“Aku berani taruhan bisa dapat nomor ponsel Radit langsung dari orangnya.” Nania tersenyum penuh arti.

“Silakan dicoba. Kalau gagal?” Kubungkukkan tubuh sambil memainkan telunjuk ke arah wajah Nania. Rossa hanya ikut-ikutan mengangguk. Dia bukannya tidak mau ikut bicara, tapi mulutnya penuh dengan keripik kentang. Heran, anak itu hobi sekali makan tapi susah sekali menaikkan berat badan. Tidak seperti aku.

“Aku traktir kalian makan dan nonton sepuasnya.” Nania menjawab tegas.

Aku dan Rossa saling berpandangan setuju. Di antara kami bertiga, postur tubuh Nania memang paling oke. Aku dan Rossa sampai bingung sendiri alasan Nania ikut-ikutan fitness seperti kami. Wajahnya juga cantik. Radit tentu tidak akan menolak di awal. Ditambah lagi gaya Nania yang centil-centil menggoda. Ugh, bisa-bisa Radit jatuh cinta pada Nania di pandangan pertama. Meskipun kalau tertawa, suaranya seperti tikus yang ekornya terjepit.

***

Dan, hari yang ditunggu-tunggu pun tiba. Sore itu, kami-aku, Rossa, dan Nania-sudah bersiap di ruang tamu rumahku. Ceritanya, kami bertiga mau ke luar rumah untuk pergi bersama ke tempat bimbingan belajar. Soalnya nih ya, dari hasil gali lubang tutup lubang, eh maksudnya gali informasi, Radit itu suka sama perempuan yang pintar. Nah, tempat bimbingan belajar itu bukannya tempatnya orang-orang pintar, ya? Meski pendapat ini kemarin sempat dibantah oleh Rossa.

“Tempat bimbingan belajar itu justru tempatnya orang-orang yang belum pintar. Makanya perlu belajar tambahan di luar jam sekolah.”

Saat itu aku dan Nania langsung berpandangan, menepuk dahi kami, lalu ngeloyor pergi meninggalkan Rossa yang terbengong. Mungkin tengah berpikir apa salah dan dosanya sampai kami tinggalkan tanpa kata.

Terdengar suara sepeda motor berhenti di depan rumah. Dari balik tirai jendela yang kubuka selebar satu mataku saja, terlihat Radit turun dari sepeda motornya, mendorong pagar, lalu membawa kendaraan andalannya itu memasuki halaman rumah. Telunjuk dan ibu jariku bergerak membuat huruf ‘o’ sebagai kode untuk Nania. Ia mulai beraksi dengan gaya centilnya. Aduh, aku dan Rossa antara rela tidak rela nih.

Dari balik tirai jendela yang lagi-lagi hanya dibuka selebar mata-kini mataku dan mata Rossa, tampak Nania yang berjalan ke arah pagar dan Radit yang berjalan ke arah kamar kost-kostannya. Tiba-tiba saja Nania terpeleset. Radit yang saat itu persis berada di dekatnya, langsung menangkap tubuh Nania. Aku dan Rossa refleks membuka mulut, menutupnya cepat dengan telapak tangan, sebelum kami memekik, memaki Nania karena membuat skenario ala dangdut seperti itu.

Dan … oh, tidak! Radit sekarang malah membimbing Nania menuju sofa rotan di teras rumah. Nania berjalan dengan terpincang. Hmm … mungkin itu skenarionya supaya Radit tergelitik hatinya untuk menolong. Di sampingku, Rossa menggerutu kecil.

“Membimbing? Memangnya mau naik haji pakai dibimbing segala? Itu sih namanya direngkuh, Veen.” Aku melongo. Tumben gadis kurus ini bisa anti-polos dan bisa ngomel? Biasanya cuma ikut mengangguk-angguk.

Di depan kami, pada jarak tak lebih dari 30cm dari kami berdiri, dari balik tirai dan jendala, Radit masih duduk di sisi Nania dengan posisi menyamping sehingga kami bisa melihatnya dengan jelas. Kepalanya menunduk ke bawah, tangannya memijit-mijiti kaki Nania. Kami tak bisa melihat reaksi Nania karena gadis itu duduk persis membelakangi kami. Sepertinya aku dan Rossa telah melakukan kesalahan besar dengan membiarkan Nania mendekati Radit seorang diri.

(Bersambung)

About

Mom of two kids, living within good books and extraordinary people

No Comments

Leave a Comment

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.