Charlie dan Rumah Pensil Warna

Charlie berjalan kaki di tepi hutan. Mata biru keabuannya tampak gusar. Bibirnya mengerucut cemberut. Ia berjalan dengan menghentak-hentakkan kaki, membuat sepatu coklat bertalinya tampak kusam terhempas debu. Mulutnya beberapa kali mengeluarkan gerutuan, “Ah, Mama payah. Masa bermain saja tidak boleh? Apa enaknya belajar terus? Bikin ngantuk saja.”

Charlie terus saja berjalan. Semakin lama gerutuannya semakin sering terdengar. “Aku tidak mau belajar. Bosan. Pergi saja dari rumah. Biar saja mama mencari. Aku benci belajar! Aku benci Mama!” Tangan kanannya mengibas-ngibaskan dedaunan di tepi hutan dengan kasar. Langkah kakinya yang dihentak-hentak mengeluarkan bunyi berdebam di atas tanah. Tiba-tiba saja, tubuh Charlie seperti terperosok ke bawah.

“Aaaa! Tolooong! Tolooong!”

Charlie terus saja berteriak, namun sepertinya tidak ada yang mendengar. Tubuhnya masih terus meluncur ke bawah. Pasir-pasir hutan mulai melumuri pakaiannya. Charlie merasakan perih di daerah siku. Mungkin akibat terseret semak tadi. Tubuh Charlie mendarat di atas tanah berumput. Napasnya tersengal. Ia mencoba mengangkat tubuh yang kini dalam posisi tengkurap. Dikibas-kibaskannya telapak tangan di depan wajah, mencoba mengusir debu yang beterbangan masuk ke lubang hidung. Matanya memandang berkeliling. Tempat apa ini?

Charlie bangkit berdiri. Ia masih saja memutar pandangan mengelilingi tempat ia berada kini. Seperti hamparan padang rumput yang sangat luas. Hijau rerumputan cerah berseri. Serasi sekali berdampingan dengan bunga-bunga lili beraneka warna. Tapi hanya itu saja yang ada di sini. Tidak tampak satu rumah pun. Tidak terlihat satu orang pun. Hanya ada dirinya, hamparan rumput, dan bunga lili. Tiba-tiba, entah dari mana datangnya, seeekor kuda putih berlari ke arahnya. Warna putihnya begitu bersih. Pasti seseorang merawatnya dengan sangat baik.

Charlie ketakutan, tubuhnya bergerak mundur, matanya menatap waspada. Saat kuda putih itu mendekat, tampak sebuah tanduk keemasan di atas kepalanya. Indah sekali. Sepertinya itu bukan kuda biasa. Charlie terus saja bergerak mundur. Ia kehilangan keseimbangan dan terjatuh.

“Jangan ganggu aku!” Charlie berteriak ketakutan.

Kuda putih itu memperlambat larinya, ia berhenti tepat di depan Charlie. Ujung kakinya nyaris menyentuh ujung sepatu Charlie.

“T-Tidak! Jangan mendekat!” Charlie memekik sambil menghalau wajah dengan kedua sikunya.

“Hei! Tenanglah, aku tidak akan menyakitimu.” Kuda putih bertanduk emas itu menggerak-gerakkan kakinya ke atas.

Charlie menurunkan tangan. Matanya dan bibirnya membulat. Sedetik kemudian, wajahnya kembali pias.

“K-Kamu bisa bicara?” Charlie berusaha menjauh. Tubuhnya terlalu lemas untuk berdiri dan berlari. Akhirnya ia hanya menggeser tubuh di atas rerumputan.

“Ya, aku memang bisa bicara. Siapa namamu?” Kuda putih itu kembali mendekat. Membuat Charlie semakin ketakutan.

“J-Jangan! Jangan sakiti aku!” Charlie menutup wajah dengan dua telapak tangan. Ia nyaris menangis.

“Hei! Sudah kubilang, aku tidak akan menyakitimu. Ayolah, jangan menangis.”

Tapi air mata Charlie sudah terlanjur menetes. Charlie terus menggelengkan kepala.

“Aku ingin pulang! Aku ingin pulang! Tempat apa ini?”

“Maaf, aku tidak bisa mengantarmu pulang. Tapi mungkin aku bisa membawamu ke suatu tempat yang bisa menunjukkan jalan pulang padamu.

Tangisan Charlie terhenti seketika. Ia memandang kuda putih itu dengan penuh harapan.

“Benarkah?”

“Ya. Naiklah ke punggungku.” Kuda putih merundukkan tubuhnya. Charlie awalnya ragu, tapi ia akhirnya berdiri, berusaha naik ke punggung kuda.

“Aku takut ….”

“Tidak perlu. Berpegangan saja yang kuat.” Dan wuuusss …. kuda itu berlari dengan cepatnya.

“Aaa …!” Charlie terus berteriak, memegang tali kekang, sambil menutup matanya.

Tak lama kemudian mereka tiba di sebuah rumah. Tidak ada rumah lain di sekitarnya. Rumah itu berwarna-warni. Terdapat salah satu menara yang bentuknya mirip pensil raksasa.

“Ini tempatnya. Semoga ia bisa membantumu menemukan jalan pulang.”

“Rumah siapa ini? Hei!” Kuda putih itu sudah melesat pergi sebelum menjawab pertanyaan. Charlie menghela napas. Ia memutuskan mendekati rumah itu. Tangannya menekan bel di sisi kanan atas pintu. Terdengar langkah kaki berjalan mendekati pintu. Saat pintu terbuka, seraut wajah gadis kecil muncul di sana. Rambut gadis itu pirang dan bergelombang. Matanya berwarna biru cerah. Senyumnya terkembang melihat Charlie.

“Hai, Charlie! Selamat datang di rumah pensil warna. Masuklah.” Gadis itu membuka pintu lebih lebar.

Charlie tertegun. Bagaimana mungkin gadis itu tahu namanya?

“Jangan bingung, Serena sudah memberitahuku kalau kamu mau datang. Oya, namaku Luna.” Gadis itu menjulurkan tangan.

“Serena?” Dahi Charlie berkerut.

“Ya, Serena. Kuda putih bertanduk emas yang mengantarmu kemari. Ayo, masuklah.”

Charlie masih diliputi keheranan tapi akhirnya ia masuk juga. Suasana di dalam rumah Luna sangat menyenangkan. Temboknya berwarna-warni. Di sudut ruangan, terdapat benda serupa pot yang isinya pensil-pensil warna berukuran besar. Hampir setinggi tubuh Charlie.

“Jadi, apa yang bisa kubantu?” Luna yang tadi meninggalkan Charlie di ruang tamu, kembali dengan nampan berisi segelas susu coklat hangat dan sepiring kecil biskuit.

“A-Aku tidak tahu apakah kau orang yang tepat. Tapi kuda putih bertanduk emas tadi, m-maksudku Serena, dia berkata a-akan mengantarku pada seseorang yang bisa menunjukkan jalan pulang. Kaukah orangnya?”

Luna tersenyum sambil memeluk nampan. Ia menanyakan alamat Charlie, alasan Charlie berada di negerinya, dan alasan Charlie ingin pulang.

Charlie bercerita bahwa ia berjalan-jalan di tepi hutan di pagi hari. Entah bagaimana tiba-tiba ia terperosok, lalu jatuh di sebuah padang rumput, bertemu Serena, dan ia merindukan mamanya. Luna mendengarkan dengan tenang. Setelah Charlie selesai bercerita, ia masuk ke dalam dan kembali dengan membawa beberapa lembar kertas putih dan sekotak pensil warna.

“Gambarlah sesuatu yang mengingatkanmu akan rumah dan mamamu.”

Charlie tidak mengerti mengapa ia harus menuruti kata-kata Luna. Tapi toh ia meraih kertas itu dan mulai menggoreskan sesuatu di sana. Pertama-tama, ia membuat gambar rumah, lalu kamar tidurnya, dan buku-buku yang berserakan di atas meja. Luna mengamati dengan tenang. Kedua, ia membuat wajah seorang perempuan berambut coklat panjang dengan mata berwarna keabuan. Ketiga, ia membuat jalan setapak yang menghubungkan rumah dengan hutan. Setelah selesai, disodorkannya kertas itu pada Luna.

Luna menerima kertas itu sambil mengangguk-angguk.

“Jadi, sebelum pergi ke hutan, kamu bertengkar dengan mama. Betul?”

Charlie terpana karena Luna bisa membaca pikirannya. Ia mengangguk pelan.

“Mama memarahimu karena kamu tidak mau belajar. Kamu ngambek, lalu pergi meninggalkan rumah. Betul?”

Charlie mengangguk tanpa mengangkat kepalanya.

“Sampai di hutan, kamu masih marah pada mama dan berkata bahwa kamu tidak ingin menemuinya lagi. Betul?”

Kali ini Charlie mengangkat kepalanya. Matanya basah. “Aku rindu Mama.”

“Baiklah, sebelum aku menunjukkan jalan pulang padamu, kamu harus meminta maaf pada mamamu, berjanji akan rajin belajar, tidak akan nakal seperti ini lagi.”

Charlie menurut. Ia memejamkan mata, berdoa.

“Mama, aku minta maaf. Aku tidak akan lagi membantah saat Mama memintaku belajar. Aku juga tidak akan pergi lagi dari rumah. Tuhan, kembalikan aku pada Mama.”

Luna tersenyum. Ia menggoreskan warna pada gambar rumah tadi dengan pensil warna berbentuk emas. Di atasnya, terdapat bulu ayam yang berwarna emas juga. Rumah itu tiba-tiba saja menjadi hidup. Di atas kertas, Charlie bisa melihat halaman rumah yang ditumbuhi aneka tanaman. Dari jendela yang terbuka, tampak mama yang tengah berjalan mondar-mandiri. Wajahnya tampak gelisah.

“Lihatlah! Mama sedang menkhawatirkanmu.” Luna berkata.

“Mama! Tolong, katakan padaku, Luna. Bagaimana aku bisa masuk ke rumah itu?”

“Pejamkan matamu. Pikirkan bahwa tubuhmu kecil, sangat kecil, sehingga bisa masuk melalui pintu rumah di gambar ini.”

Charlie menurut, ia memejamkan mata. Tubuhnya berkeringat dingin. Perlahan ia merasa tubuhnya menyusut, lalu melayang terbang. Sayup-sayup ia mendengar suara Luna mengucapkan selamat tinggal. Dan … bruk! Charlie mengaduh kesakitan. Tubuhnya jatuh di halaman rumah. Ia melihat ke arah langit. Tampak wajah Luna di sana. Gadis itu tersenyum dan melambaikan tangan. Perlahan, wajah Luna semakin mengecil lalu menghilang.

Charlie senang sekali. Ia berlari masuk ke dalam rumah.

“Mama! Aku pulang!”

“Charlie!” Mama berlari menyambutnya. Diraihnya Charlie ke dalam pelukan.

“Kamu kemana saja, Nak. Sudah satu minggu kamu pergi meninggalkan Mama.”

Satu minggu? Benarkah ia pergi selama itu? Charlie melepaskan pelukan mama.

“Mama, Charlie minta maaf. Charlie tidak akan malas belajar lagi. Charlie janji akan rajin belajar supaya pintar. Charlie juga tidak akan kabur lagi.”

Mama terharu hingga menitikkan air mata. Didekapnya lagi tubuh putra kesayangannya itu. Ia lega, Charlie telah kembali.

*****

The happier me,

-Melina-

 

 

About

Mom of two kids, living within good books and extraordinary people

No Comments

Leave a Comment

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.