Jangan Mengejarku, Nanti Kamu Lelah

Pernah merasakan ditampar? Tamparan yang saya alami belum cukup lama untuk dikatakan basi. Panasnya masih terasa. Tidak tanggung-tanggung, baranya sampai ke hati. Sudah diperlakukan begitu saja, butuh waktu berminggu-minggu bagi saya untuk memikirkan, merenung, meyakinkan diri, sadar, baru kemudian bertindak.

Pintarnya orang ini, mengirimkan tamparan tidak melalui tangan sendiri. Dia menyusup lewat tangan orang lain yang berwujud tulisan. Baru membaca kalimat pertama saja sudah, jleb! Persis sama dengan yang saya alami nyaris satu setengah tahun ini. Sebuah mimpi yang saya ciptakan sendiri. Jika diibaratkan tanaman, mimpi itu sudah mengalami fase-fase ini di tangan saya. Dipupuk dengan jenis terbaik supaya dia tumbuh sehat. Setiap harinya dielu-elukan karena tumbuh cantik berseri. Kemudian karena alasan pertumbuhannya stagnan dan penampilan berubah menjadi upik abu, akhirnya saya biarkan teronggok di dalam kaleng karatan. Harapan bahwa tanaman itu akan tumbuh sempurna, sirna. Tanaman itu tak pernah ditumbuhkan lagi, meskipun sebetulnya bisa.

Thank you so much untuk dia yang telah mengirimkan tamparan itu. Si pengirim ini berulangkali bercerita kepada saya tentang seorang Arif Rh. Yang saya tahu, beliau adalah seorang trainer Pemberdayaan Diri Berbasis Fisika Quantum (Vibrasi). Kalimatnya agak berat, ya.

Singkat cerita, pada tulisan beliau di media sosial Facebook saat itu, beliau bercerita bagaimana dulu buku pertamanya akhirnya selesai. Dalam waktu 2 tahun! Buku itu akhirnya diselesaikan dengan kalimat “Isoku Yo Iki”, setelah bertemu dengan seorang NLP trainer dari Australia. Buku-buku berikutnya selalu diselesaikan sesuai dengan yang disanggupi. Ini seperti saya melihat bayangan saya di dalam cermin. Mirip saya. Tapi tentu saya tidak akan menunggu selama 2 tahun. Oh, tidak!

Mau tidak mau saya harus mengakui bahwa belum sempurnanya si naskah menjadi alasan buku tersebut tak kunjung jadi. Ah, ceritanya kurang menggigit. Ah, tokohnya kurang hidup. Ah, latar tempatnya kurang bagus. Dan berbagai macam alasan lainnya.

Berita buruknya, hal ini tidak hanya terjadi mengenai urusan naskah. Tapi juga urusan buah hati. Masih ingat betul bagaimana saya kesal, gemas, geram kepada si sulung karena dia menolak ikut kegiatan mewarnai. Saat itu kami berada di sebuah ruang terbuka hijau dan tiba-tiba dihampiri salah seorang anggota Komunitas Berkawan Indonesia. Si bungsu girang dan bersemangat ikut kegiatan itu. Meskipun kemampuannya mencampur warna masih sangat minim, tapi dia begitu bersemangat sambil tak henti berceloteh. Coba tebak apa yang si sulung lakukan saat itu? Asyik tidur-tiduran di pangkuan saya!

Kesal, gemas, dan geramnya saya meleleh ketika kami tidak kebagian tempat duduk di taman itu padahal mereka ingin segera membuka sosis bakar yang tadi dibeli.

“Kan nggak boleh makan sambil berdiri.”

Bukan hanya itu, si sulung kemudian lancar membacakan hadits yang dimaksud, mulai dari bahasa Arab, terjemahan bahasa Indonesia, sampai dari riwayat apa hadits tersebut berasal. Dia hapal, saya tidak. Seketika itu saya sadar si sulung dan si bungsu adalah dua sisi yang berbeda. Si sulung jago menghapal. Surat-surat pendek, doa-doa, dan hadits sudah ia ingat dengan baik sejak kecil. Ia cenderung serius. Lebih suka tekun bermain lego atau pasir dibandingkan jejingkrakan. Lain halnya dengan si bungsu yang jauh lebih ekspresif. Dia sangat suka tampil, menyanyi, menari, melompat. Apakah dulu saya seperti si bungsu? Tidak. Bicara di depan orang banyak pun baru saya lakukan tiga tahun terakhir. Lantas, mengapa saya harus memaksa mereka lengkap kemampuannya?

Saya termasuk orang yang terlambat sadar. Terlalu lama pingsan sehingga tidak sadar bahwa menulis adalah hidup saya. Menulis diawali dengan ide di kepala. Dari sekian milyar manusia yang Tuhan ciptakan di bumi, apa iya, ide itu hanya bisa hinggap di kepala saya? Benar kata para motivator seminar yang sering saya hadiri dulu. Ide yang sudah berubah bentuk menjadi karya orang lain, tidak bisa lagi dikatakan sebagai ide kita. Itu sudah menjadi milik orang. Malu kalau masih mengaku-ngaku. Jadi sempurna atau tidak, wujudkan dulu saja ide itu. Biarkan orang membaca, melempar kritikan, dan buku berikutnya akan jauh lebih baik dari sebelumnya. Bukankah lebih indah begitu?

Jadi ingat betapa kemarin-kemarin saya begitu bernafsu untuk menaikkan berat badan. Mencapai ideal. Mencapai sempurna. Tiga bulan latihan, membayar mahal untuk seorang personal trainer, sukses sih naik 5 kg. Tapi kemudian saya kecewa karena bulan berikutnya harus diopname akibat DBD dan berat badan berkurang 2 kg. Belum lama ini saya mengalami gangguan di ulu hati, tidak bisa mencerna makanan dengan baik, dan lagi-lagi berat badan berkurang 2 kg.

Berlari itu perlu untuk mengejar mimpi. Ingat, mengejar mimpi. Bukan mengejar mimpi yang sempurna. Seandainya dia bisa bicara, mungkin dia akan berkata seperti ini, “jangan mengejarku, nanti kamu lelah.” Tapi betul, lho, melelahkan sekali terus ngubek-ubek naskah supaya jadi sempurna. Lama-kelamaan bosan, lalu dibiarkan terkapar. Melelahkan sekali berlatih keras untuk menaikkan berat badan. Padahal sampai usia saat ini, jelas-jelas berat badan saya berputar saja di kisaran angka yang itu-itu saja. Jadi kenapa saya tidak berhenti dan puas dengan hidup sehat? Melelahkan juga kesal, geram, dan gemas dengan perbedaan anak-anak? Mau dilatih sekeras apapun, mereka memang berbeda. Jadi kenapa saya tidak memaksimalkan kelebihan mereka dan menjadikannya potensi utama anak-anak? Satu hal penting, bukankah the most important thing is, I want them to be happy?

Semua orang juga tahu bahwa kesempurnaan itu hanya milik Tuhan. Saya bukan pakar agama maka saya akan melihat dari sudut yang berbeda. Terus saja berproses, menikmati yang sudah ada, mengembangkan yang disuka. Berlarilah untuk menjadikannya maksimal. Berhentilah jika kemudian kita lelah. Sebab mengejar kesempurnaan memang melelahkan. Lelah yang hambar, sebab tak akan pernah menjadi milik kita.

The happier me,

-Melina-

About

Mom of two kids, living within good books and extraordinary people

1 Comment

  • utami utar February 16, 2016 at 7:35 pm Reply

    Buat saya, ini tamparan yang kesekian. Tak terhitung. Saya sendiri mengutip “Every oak has been an acorn” dalam kata pengantar laporan tugas akhir bertahun lalu karena sadar betul semua dimulai dari hal kecil dan sederhana tapi sampai sekarang buku dengan nama sendiri masih saja berupa mimpi. Terima kasih untuk tamparan sore ini. 🙂

Leave a Comment

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.