Pelita; Tetaplah Mempunyai Rasa

Pelita; Tetaplah Mempunyai Rasa

Bocah itu tidak pernah bermimpi menjadi seorang guru. Tidak ada alasan khusus. Semasa kecil, guru bukan profesi istimewa. Setidaknya itu yang ada di kepalanya. Seorang guru masih kalah istimewa dari seorang Polwan, yang di matanya saat itu, begitu baik hati bagai ibu peri. Bagaimana tidak, sepanjang hari ia melihatnya di jalan di depan sekolah. Membantu anak-anak seusianya atau sedikit lebih besar, menyeberang jalan. Senyum manis selalu terulas di bibirnya. Seorang guru, saat itu, tak lebih dari orang yang ia temui di sekolah untuk mengajari membaca, menulis, dan berhitung. Bukan hal istimewa, sebab ibunya telah terlebih dulu membuatnya menguasai itu semua. Jauh sebelum usianya menginjak 4 tahun. Pandangan itu berubah, seiring berjalannya waktu.

Saat pertama duduk di bangku SMP, ada seorang guru yang perkataannya membuat bocah itu terhenyak, “jadi anak jangan bodoh-bodoh amatlah.”

Sulit menjelaskan apa yang bocah itu rasakan saat itu. Ia, seorang anak yang suka dan rajin belajar dengan prestasi baik. Ada kurun waktu tertentu saat namanya masuk ke dalam daftar penerima beasiswa di SD. Ayolah Pak, saya hanya seorang anak yang baru pertama kali berjumpa dengan pelajaran Bahasa Inggris. Saya tahu bahwa “have” artinya mempunyai. Saya belum mengeri Simple Present Tense. Saya belum mengerti “do” dan “does”. Bersabarlah mengajari saya. Ingin rasanya si bocah bertubi-tubi menyampaikan itu kepada sang guru.

Namun setelahnya, bocah itu berterima kasih kepada sang guru, orang pertama dalam hidup yang membuatnya menjadi seorang “pendendam.” Sang guru menciptakan satu kalimat baru di kepalanya, “saya tidak suka diremehkan,” sehingga di kemudian hari ia tumbuh menjadi orang yang tidak mudah patah saat dikritik atau gagal. Bertahun setelahnya, saat takdir memberikannya kesempatan menjadi seorang pengajar, ia mengerti untuk tidak mengeluarkan kalimat yang membuat anak didik tersakiti.

Semasa SMA, bocah itu kesulitan mengikuti mata pelajaran Akuntasi. Mau seberapa fokus belajar di dalam kelas, Akuntansi gagal membuatnya jatuh cinta. Menyerah? Tidak. Guru Akuntansi saat itu terlalu baik hati untuk diabaikan pelajarannya. Ia berusaha keras, sampai belajar pada seorang sahabat lama yang bersekolah di SMK. Setiap Sabtu datang ke rumahnya. Hasilnya? Nol. Bocah itu gagal membuat guru tersebut bahagia. Bukankah memiliki siswa dengan nilai baik merupakan kebahagiaan tersendiri bagi seorang guru? Sebab artinya, ia berhasil menjalankan tugas dengan baik.

Di kelas berikutnya, bocah itu masih mencoba lagi. Tapi siapa sangka, hanya karena ia melewatkan satu saja halaman PR tanpa disengaja, beliau berdiri di depan kelas, memukulkan penggaris kayu di white board, berkata dengan lantang agar semua murid mengerjakan PR, tidak menjadi anak yang malas seperti (menyebutkan nama bocah itu). Guru nan cantik tersebut berhasil membuat hatinya koyak. Perjuangannya mempelajari Akuntansi, berakhir di sini.

Bisakah Ibu sekedar menasehati saya agar lebih teliti? Bisakah Ibu menegur tanpa harus menyudutkan? Jika pun Ibu marah, bisakah saya dipanggil saja ke ruang guru? Tidak mempermalukan saya di hadapan teman-teman? Sayangnya, ini semua hanya suara hati. Saat itu ia terlanjur menganggap sang guru sebagai sosok mengerikan.

Bocah itu bisa bangkit saat dikatakan bodoh, tapi begitu terhina saat dikatakan malas. Hingga detik ini, kepalanya masih mendengungkan hal yang sama. Untuk beberapa hal, ia menyadari masih bodoh. Bahkan semakin banyak belajar, ia merasa semakin bodoh. Banyak hal yang selama ini tidak ia ketahui. Tapi ia tidak malas. Tidak sama sekali.

Mereka berdua hanya contoh kecil. Koyaknya hati saat itu tentu tidak seberapa dibandingkan dengan ilmu dan kasih sayang yang dicurahkan oleh pengajar-pengajar lainnya. Kecil saja, tidak menyisakan parut di permukaan, tapi pedihnya menancap terlalu dalam. Satu tanya saja di kepalanya, akankah anak-anak lain bersikap seperti dia jika mengalami hal serupa? Atau, malah kemudian jatuh, terpuruk, dan benar-benar merasa kerdil karena dua kata itu? Hukuman fisik di SMP seperti berlari mengelilingi lapangan sepak bola tentara, push up, squad jump, tempelengan, hanya akan berhenti di permukaan kulit. Tapi kata-kata, ia mengalir di antara deru napas dan aliran darah.

Guru adalah pelita ilmu, yang nyalanya tak pernah boleh padam, meskipun sesekali harus berkedip resah saat angin kencang menerpa. Namun pelita itu tetap harus punya rasa. Agar menjadikannya jauh dari kesan dingin dan tawar. Sebab pelita seharusnya memberi hangat dan manisnya kenangan akan masa bersekolah.

Bocah itu adalah saya sendiri.

The Happier Me,

Melina Sekarsari

About

Mom of two kids, living within good books and extraordinary people

No Comments

Leave a Comment

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.