Melina Sekarsari

Menuliskan Masa Lalu, Hari Ini, dan Masa Depan
Perempuan dan Uang; Bukan Feminis

Perempuan dan Uang; Bukan Feminis

Perempuan itu harus bisa mengelola uang. Ini benar. Perempuan itu juga harus bisa menghasilkan uang. Itu harga mati. Ini realistis. Jadi, jangan sebut saya feminis.

 

***

Sebagai si Sensing Extrovert, hal paling menyenangkan untuk dibahas bersama bagi saya adalah uang. Jadi ingat, dulu salah pernah dibuat marah oleh seorang trainer STIFIn. Gara-gara apa, coba? Dia bilang kalau orang Sensing Extrovert itu ‘matre’. Saya yang notabene terbiasa bekerja dan mempunyai penghasilan sendiri, seolah merasa bahwa itu adalah tuduhan yang tak beralasan. Beliau tertawa melihat bibir saya yang manyun. Setelah dijelaskan oleh beliau yang dimaksud dengan ‘matre’ tadi, saya nyengir sendiri dan mengaminkan. ‘Matre’ means love money. Yes, I love money.

Semasa sekolah, saya pernah membeli sebuah buku kumpulan cerpen karya salah satu penulis ternama. Agak lupa siapa, mungkin Asma Nadia, Helvy Tiana Rosa, atau Muthmainah. Eh, atau malah bukan ketiganya, ya? Salah satu cerpen di dalamnya menceritakan tentang seorang anak yang kehilangan kasih sayang sang Ibu yang seorang wanita karir. Di bagian akhir cerpen tersebut, saya menorehkan tulisan seperti ini, “RA Kartini will be dissappointed knowing what career woman does.”

Siapa sangka, itulah saya saat ini. Buah dari sebuah ucapan yang saya lontarkan di bawah birunya langit tengah hari, di depan halaman sekolah. Saya ingin menjadi wanita karir.

Waktu berlalu. Tidak terasa, nyaris 11 tahun saya menjadikan kantor sebagai rumah ke dua. Di belakang kursi kerja saya, sebuah lemari panjang yang jika dibuka, isinya mirip dengan lemari di rumah. Ada pakaian, handuk kecil, kaos kaki, kerudung, jaket, cologne, pasta gigi, sikat gigi, sabun cair, shampoo, tisu, sampai saos dan kecap. Di atasnya, berderet buku-buku fiksi maupun non fiksi yang bergantian dipinjam oleh beberapa teman sekantor.

Jika dihitung, waktu saya di kantor ditambah perjalanan pergi dan pulang jauh lebih lama dibandingkan waktu saya di rumah. Itu baru di rumah. Bersama anak-anak? Lebih pendek lagi, sebab seringkali mereka sudah tidur saat saya tiba atau terkadang belum bangun saat saya berangkat bekerja.  Ada yang salah? Tidak. Ini menjadi kewajiban. Sebagai single fighter menghasilkan uang menjadi sarana perjuangan bagi buah hati.

Meski bagi saya, menghasilkan uang bukan hanya karena single fighter itu. Setiap perempuan harus pintar menghasilkan uang. Ini bukan tulisan yang menjunjung tinggi hak perempuan menjadi ibu bekerja. Mungkin akan ada sebagian perempuan yang berkata, “Ah, itu kan tugas suamiku untuk mencari nafkah.” Ini betul. Atau, mungkin ada kalimat yang lebih halus seperti, “Alhamdulillah, Allah memberikan rezeki yang cukup untuk suami saya.”

Apalagi, menghasilkan uang tidak selalu harus dengan cara menjadi perempuan bekerja. Saya malah menyimpan cemburu pada perempuan yang punya ketrampilan – yang, sungguh, itu tidak ada pada diri saya. Sensing are not the creator, they are the executor. I understand myself very well.

Si jago masak bisa buka usaha catering atau yaaa … minimal terima pesanan makanan. Si jago jahit bisa buka butik atau yaaa … minimal terima pesanan pakaian. Si jago berkreasi bisa buka toko souvernir atau yaaa … minimal terima pesanan souvenir kantoran. Dan sebagainya, dan sebagainya.

Latih diri kita supaya pintar menghasilkan uang. Tidak melulu soal punya banyak uang, belanja-belanja, makan-makan, dan hal-hal berbau konsumtif lainnya. Serius, ini bukan menjadi alasan mendasar mendorong perempuan menghasilkan uang. Ini soal kesiapan. Setuju tidak kalau saya bilang di dalam hidup ini kita harus selalu menyiapkan diri untuk kondisi terbaik dan terburuk sekalipun? Ikut lomba, harus siap menang atau kalah. Terjun dalam bisnis, harus siap untung atau rugi. Melakukan perjalanan, harus siap bersenang-senang atau nyasar. Menjalani hidup, harus siap untuk menerima atau kehilangan.

Yup, kalimat terakhirlah alasan terbesarnya. Kehilangan akan menjadi sesuatu yang pasti, termasuk kehilangan pasangan hidup, baik karena bercerai (semoga tidak terjadi) atau kembali kepada Sang Maha Pencipta. Suka tidak suka, mau tidak mau, rela tidak rela, pasti terjadi, kan? Entah siapa yang akan lebih dulu. Andaikata perempuanlah yang masih tinggal, guncangannya tak kan terlalu besar jika sudah pintar menghasilkan uang.

Ini berlaku juga bagi perempuan yang sudah berlimpah harta. Percayalah, harta tanpa dikelola dan dihasilkan kembali, akan habis tanpa terasa. Maka, siapkan dari sekarang.

Dear perempuan, yuk … pintar menghasilkan uang.

The Happier Me,

-Melina-

Leave comment

Your email address will not be published. Required fields are marked with *.

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.