Learn to Know You, Mommies

Salah satu pertanyaan tersulit yang hingga saat ini belum saya temukan jawabannya adalah alasan kenapa saya merasa asing berada di antara ibu-ibu di sekolah. Rasanya seperti berada di keramaian tapi merasa sepi. Rasanya memang masih berada di bumi tapi kaki kok ya terasa nggak napak. Tanya kenapa?

 

***

 

“Gaul dong sama ibu-ibu di sekolah. Jangan mojok sendiri. Nanti dikira mbaknya anak-anak, lho.”

 

Respon jujur salah seorang teman baik manakala saya mengeluhkan tentang begitu nggak nyamannya kumpul bareng ibu-ibu di sekolah. Hal pertama yang ingin saya lakukan saat itu adalah nimpuk orang itu pakai bakiak. Semprul kan dia?

 

***

 

Bertemu orang baru selalu menjadi hal menyenangkan. Salah satu alasan yang membuat saya bertahan bekerja di perusahaan ini, di antara barisan hal nggak menyenangkan yang lain. Rekan-rekan bisnis, masih ditambah juga dengan teman-teman baru dari berbagai kelas pelatihan maupun seminar yang pernah saya ikuti. Rasanya seperti menemukan dunia baru.

 

Tapi situasinya berubah saat saya menapakkan kaki di sekolah. Ada sesuatu yang salah. Saya nggak tahu, tapi saya harus mencari tahu. Dan, yeay! Cuti.

 

Sebenarnya nggak ada rencana mengambil cuti dua hari. Semula saya cuma mau menghadiri POG, lalu arisan bareng ibu-ibu kelas mangga. Tapi oh tapi, ternyata otak saya sedikit mengalami gangguan. Hari Selasa dikira Rabu. Sempat mengurungkan niat tapi sesuatu terjadi. Backpain yang sejak dua minggu terakhir mengganggu aktivitas, datang lagi. Dibuatlah janji dengan dokter ortopedi untuk sore hari. Jadilah, memperpanjang cuti.

 

Arisan pun berjalan sesuai rencana. Apa saya bilang? Merasa asing lagi. Nothing wrong with them, but there must be something wrong with me. Awal bertemu dengan ibu-ibu itu, otak saya nggak menyimak obrolan mereka. Antara menahan nyeri di backpain, memikirkan pekerjaan di kantor, sekaligus mengingat satu persatu wajah-wajah di sekitar. Yang di sebelah kanan, kiri, kerudung warna ini, warna itu, ibunya siapa, ya?

 

Kita memang nggak perlu memaksakan diri untuk bisa klop dengan suatu lingkungan. Tapi membaur itu suatu keharusan. Setidaknya jika masih merasa sebagai manusia sosial. Salah satu film favorit saya, The Last Samurai, memuat satu kalimat penting. Jika ingin menguasai musuh, kenali musuhmu. Nah, musuh saja harus kita kenali. Apalagi teman.

 

Ada sesi menarik yang membuat saya merasa perlu menuliskannya di sini. Sebut saja, “Telling Others Your Love Story.” Aduh, kenapa juga sih, harus kisah cinta. Otak saya muter lagi, mau cerita apa, ya? Hahaha …

 

Saya belum (untuk hal-hal positif ‘belum’ lebih membawa harapan dibandingkan ‘tidak’) punya kisah cinta yang menarik untuk diceritakan. Nggak sekeren kisah cintanya Aldebaran Risjad dan Tanya Baskoro dalam Critical Eleven-nya Ika Natassa. Mau bolak-balik naik pesawat, belum ada tuh sosok Al yang duduk di samping saya. Mungkin harus pergi ke Sydney dulu untuk nonton konsernya Coldplay seperti yang dilakukan Anya kala itu.

 

Belum punya juga kisah cinta romantis menguras emosinya pasangan arsitek Ryan Fikri dan Inda Maharani dalam Diorama Sepasang Albanna-nya Ari Nur. Awalnya bermusuhan, lalu nekat menikah tanpa cinta. Kisah yang saya baca hingga 10x sampai sampulnya lecek.

 

Menyimak kisah cinta ibu-ibu itu, saya senyum-senyum sendiri. Karenanya ceritanya iya, karena ekspresinya apalagi. Ada wajah-wajah yang malu-malu, pipi merah merona, eh ada pula yang sepanjang cerita sibuk menundukkan kepala. Ah, cinta …

 

Dalam hati sih saya protes. Kenapa mesti cerita cinta, sih? Minta saya cerita soal bacaan, deh. Saya bisa kok ceritakan isi novelnya Ika Natassa, Asma Nadia, Arumi E, Indah Hanaco, Daniel Mahendra, dkk. Atau menulis? Bolehlah saya cerita soal cinta terlarangnya Harris dan Adinda, perjalanan misteriusnya Pandu dan Karenina atau true storynya penduduk Yahukimo, sebuah kecamatan di balik pegunungan Jayawijaya. Semuanya, masih duduk manis di netbook. Soal saham? Ayo, deh. Saham seperti apa yang berpotensi meroket, bagaimana cara jual dan belinya,  bagaimana mencicil nabung saham bermodalkan recehan dua puluh ribuan. Atau soal pendakian? Yuk, kita mendaki bareng aja.

 

Tapi saya hepi. Akhirnya ada masa saat keterasingan saya itu perlahan menguap. Satu kesimpulan sederhana, rasa itu muncul sebab saya nggak kenal. Kami memang sangat jarang bertemu. Ibaratnya hubungan asmara, kami tengah menjalin Long Distance Relationship – without intimate communication. Bahasan di grup pun nggak selalu saya baca semuanya. Apalagi kalau yang diposting adalah foto-foto dan di situ nggak ada wajah saya. Pindah deh mata saya ke grup sebelah, hahaha …

 

Yup, lagi-lagi hidup adalah tentang belajar, ya. Belajar mengenali, diri sendiri, orang lain, maupun lingkungan. Saya sudah kenal diri saya. A mom, writer, food and book lover, trader, mid-term investor, and mountain climber. Saatnya kini mengenal kalian ya, buibu. Sebentar, ada beberapa wajah yang saya masih lupa itu emaknya siapa. Lagi-lagi, saya butuh waktu.

 

The Happier Me,

-Melina-

 

 

 

 

 

About

Mom of two kids, living within good books and extraordinary people

No Comments

Leave a Comment

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.