Melati Tak Pernah Pergi

Wanita itu masih tak mau memandangku. Ia lebih memilih menatap rerimbunan bunga melati yang berbaris rapi di taman ini. Perlahan kusisiri rambut sebahunya. Kusut. Terasa kasar di antara jari jemariku. Beberapa helai rambut jatuh di baju putihnya. Keheningan melanda di antara kami. Tak mengapa. Ini jauh lebih baik. Minggu lalu, ia masih menolakku. Mengusirku dengan sumpah serapahnya. Bahkan aku sempat mendengar ia berkata, “Mencium aroma tubuhmu dari kejauhan saja sudah membuatku ingin muntah.” Lirih saja ucapannya. Tapi menyayat perih di hatiku.

 

***

 

Aku membuka jendela kamar ini lebar-lebar. Membiarkan aroma bunga melati menyeruak masuk ke dalamnya. Mengundang kembali kenangan tentang ayah di rumah ini. Baru seminggu yang lalu Allah memanggil ayah pulang ke pangkuanNya. Ayah tak sanggup melawan lever yang telah bertahun-tahun diderita. Sedih, terpukul, meruak jadi satu dalam hati. Aku tak pernah hidup berpisah dari ayah. Dua puluh tahun lamanya kunikmati hidup bersama ayah. Ya, hanya ayah saja. Aku tak pernah bertanya tentang ibu, meskipun ingin. Melihat ayah begitu gesit mengurus perkebunan, membersihkan rumah, bahkan ayah lihai dalam memasak dan mencuci pakaian, aku tak merasa perlu hadirnya sosok ibu.

 

Mencoba mengusir sepi, kudendangkan lagu ‘Sepasang Mata Bola’ kesukaan ayah. Sebuah kemoceng terkempit di ketiakku. Kuayunkan ikatan bulu ayam itu ke setiap perabotan rumah, meja, kursi, lemari, dan… ayunan tanganku terhenti saat sebuah amplop melayang jatuh dari balik taplak meja di samping tempat tidur ayah. Sebuah surat. Di depannya, tertulis namaku. Surat apa ini? Kurobek perlahan tepi amplop itu.

 

Alina putriku,

 

Apa kabarmu, perempuan berhati mulia? Ayah harap hari-harimu senantiasa indah seperti saat ayah masih mendampingimu. Siramilah terus rerimbunan melati di depan kamar ayah. Biarkan daunnya terus menghijau, melahirkan kuntum-kuntum melati yang mewangi, menyeruak hadir di setiap sudut kamar ayah. Dengannya kau akan terus merasakan kehadiran ayah dan dia.

 

Aku tercekat. Kuhempaskan tubuh ke tempat tidur. Apa maksud ayah? Ayah dan … dia? Kepalaku pusing. Kubaca kembali alinea berikutnya.

 

Sesungguhnya ayah tak terlalu menyukai aroma wangi melati. Namun, mungkin kau pernah mendengar kalimat ini, ‘Cinta sanggup membuatmu melakukan apa saja untuk orang yang kaucintai’. Begitupun ayah. Ayah berjumpa dengannya untuk pertama kali di resepsi pernikahan seorang teman. Ayah teman mempelai wanita dan dia teman mempelai pria. Blus terusan merah jamu selutut dipadu dengan sepatu berhak tak terlalu tinggi membuatnya tampak anggun. Rambut hitam bergelombangnya dijepit di sisi kiri kanan. Kecil saja, tapi tampak di mata Ayah ada sekuntum melati menghiasi sudut jepit rambut itu. Oya, dia juga menyematkan bros berbentuk melati di dada kirinya.

 

Ayah menyapanya dengan penuh percaya diri. Kami saling menyebutkan nama, bertukar nomor telepon, dan menyunggingkan senyum kala hendak berpisah. Hari-hari berikutnya kami sering bertemu. Ayah sengaja mengunjunginya di rumah. Ayah tak ingin membawa pergi anak gadis orang sebelum hari pernikahan yang kami nantikan tiba.

 

Sampai di sini, aku masih tak mengerti. Siapa ‘dia’ yang ayah maksud?

 

Akhirnya kami menikah. Bahagia rasanya. Pekerjaan ayah sebagai pelaut mengharuskan ayah meninggalkannya berbulan-bulan lamanya. Ayah tak pernah lupa meneleponnya sebab ayah tak bisa hidup tanpa mendengar suaranya, meski satu hari saja. Terlebih saat ayah tahu dia mengandung. Lima bulan usia kandungannya saat itu. Semakin rajin ayah menghubungi, begitu pula ia bercerita haru birunya menantikan buah hati pemeluk jiwa. Hingga keganjilan itu tiba. Saat ayah tiba-tiba tak bisa menghubunginya. Semua telepon ayah tak pernah dijawab. Kedua orangtuanya pun sama. Semuanya menghilang dari kehidupan ayah di tengah lautan. Sepi. Hampa. Dua bulan tanpa kabar berita. Untuk pulang pun ayah tak bisa. Saat kapal merapat ke Port of Rotterdam, ayah meminta ijin agar dapat pulang segera ke tanah air. Alhamdulillah, disetujui karena ayah mempunyai kinerja yang baik. Berpacu dengan waktu, ayah mencari taksi menuju Schipol International Airport, mencari tiket pesawat secepatnya ke Indonesia. Saat itu musim dingin menjelang Natal. Tiket di hampir semua maskapai penerbangan telah terjual. Segala cara ayah coba. Hingga ayah bertemu dengan seorang mahasiswa yang bersedia menjual tiketnya. Mahasiswa itu batal pulang ke tanah air karena keluarga besarnya akan menghabiskan tahun baru di Belanda.

 

Setelah melalui perjalanan panjang, ayah tiba di rumah dengan amat sangat bahagia. Terbayang ia akan terkejut melihat ayah pulang, memberikan senyuman terindah, melompat penuh rindu dalam dekapan, menciumi setiap senti wajah dan rambutnya. Betapa ayah ingin membelai perut yang melembung itu. Ingin mengalirkan cinta kasih pada janin di dalamnya. Betapa berbulan-bulan ia tak tersentuh belaian tangan dan bisikan mesra sang ayah. Namun pemandangan di depan mata menghapus semuanya. Kutemui ia dengan perut buncitnya dalam keadaan layu tak berbunga. Wanita yang ayah cintai menjerit histeris melihat suaminya kembali. Ia berteriak-teriak. Menutup diri. Kepada orangtuanyalah ayah bertanya. Semua meneteskan airmata. Semua merasakan perih yang sama. Terjawab sudah dua bulan yang membuat ayah menyimpan rindu tiada tara. Wanita itu. Dia diperkosa. Ingin rasanya ayah membawa sebilah kapak dan menghantamkannya ke tubuh lelaki bejat itu hingga hancur tercincang. Manusia apa? Lelaki apa yang tega merusak kehormatan seorang wanita yang tengah mengandung lima bulan?

 

Hari demi hari ayah lalui dengan perjuangan memenangkan kembali hatinya. Ia merasa jijik pada dirinya sendiri, kotor, nista, hingga tak pantas ada di dunia. Ia menolak makan, menolak minum, dan berulangkali mencoba bunuh diri. Sampai suatu hari, sepulang dari mesjid ayah menemukannya jatuh tergeletak di depan rerimbunan melati. Tubuhnya terkulai lemas. Detak jantungnya masih ada. Terbirit ayah melarikannya ke Rumah Sakit. Merapal segala doa untuk keselamatannya dan buah cinta kami. Berjam-jam menunggu. Waktu serasa begitu lambat berlalu. Ayah sembunyikan diri di musholla Rumah Sakit. Mengirimkan sinyal kepasrahan lewat sujud panjang. Wanita itu selamat. Namun, goncangan jiwa membuatnya harus menjalani perawatan panjang. Bayi mungil dalam kandungannya berhasil lahir dengan selamat meskipun prematur. Dia cantik, berkulit bersih, ayah namakan dia ‘Alina’, perempuan berhati mulia.

 

Alina Sayang,

 

Temuilah ibumu. Katakan kau mencintainya. Sama seperti kau mencintai ayah. Temuilah nenek. Darinya kau akan tahu di mana ibumu kini.

 

Cintaimu selalu,

Ayah

 

Air mataku mengalir deras membaca surat ini. Kertas berukuran folio itu teremas jemariku. Sedih, kecewa, sakit, bahagia, bercampurbaur. Aku bahagia nyatanya aku masih mempunyai ibu. Tak peduli ada lelaki lain yang pernah menghinakan tubuhnya. Tapi aku sedih dan kecewa karena belasan tahun lamanya ayah menyembunyikan kenyataan ini dariku. Dari balik jendela, dapat kulihat rerimbunan melati bergoyang tertiup angin. Seolah ingin mengatakan, ayah dan ibu ada di sisiku.

 

***

 

“Ayahmu sangat mencintai Ibumu. Hingga terkadang Nenek iri karena dulu Kakekmu tak pernah memanjakan Nenek seperti Ayahmu memanjakan Ibumu.” Nenek mengusap kepalaku penuh sayang. Di sinilah aku sekarang. Duduk bersimpuh dengan penuh kepasrahan. Kerebahkan kepala ke pangkuan perempuan berjarik batik itu. Tanganku mengusap lembut foto dalam pigura berukir yang diberikan Nenek. Kupejamkan mata, memoriku berusaha memutar bayangan tentang masa silam ayah dan ibu yang kuciptakan sendiri.

 

“Nek….,” Kupandangi Nenek lekat-lekat “Apa Ibu masih hidup? Kenapa Ayah baru bercerita sekarang? Kenapa Ayah tidak biarkan Alina bertemu Ibu sejak dulu?” kejarku menuntut jawab.

 

Kulihat Nenek menganggukkan kepala kuat-kuat “Ya, Ibumu masih hidup, Nak. Kakek dan Nenek yang meminta ayahmu menyembunyikan rahasia ini darimu. Kakek dan Nenek tak siap melihatmu ditolak olehnya. Kami tahu betul, Ibumu membencimu. Dia tak ingin kau lahir. Baginya, darah lelaki bejat itu turut larut dalam darahmu. Maafkan kami, Alina.” Nenek tergugu. Bahunya berguncang hebat. Batinku masih bergejolak. Antara menerima dan tidak. Antara mimpi dan nyata. Sebegitu bencinyakah Ibu padaku?

 

“Nek! Alina masih tak mengerti! Kenapa baru sekarang? Apa bedanya dulu dengan sekarang, Neeeekkk?! Jawaaabbb!!!” Air mataku tak terbendung lagi. Tumpah. Membasahi jilbab coklat mudaku. Aku tak peduli aku sedang berbicara pada siapa. Bagiku semuanya pembohong! Penipu!

 

Wajah Nenek pias. Mungkin tak menyangka cucu semata wayangnya sanggup menghardik sedemikian rupa. “Alina… cucu Nenek. Sejak kau dalam kandungan, Ibumu berulangkali meminum obat penggugur kandungan. Ia tak ingin kau lahir. Tapi Allah masih ingin kau bertahan hidup. Ibumu tak menyerah. Berulangkali ia mencoba bunuh diri. Jika ia harus mati, tak mengapa. Hidup pun ia sudah menanggung malu. Saat kau lahir ia mencoba mencekik lehermu. Itu sebabnya kami memisahkanmu dengannya. Pikirkan Alina, bagaimana Alina kecil bisa bertemu dengan Ibunya yang labil seperti itu? Kini kau sudah dewasa, Nak. Dua puluh tahun usiamu. Kami yakin kau mampu bersikap bijaksana.” Kata-kata Nenek mengaliri kalbuku. Kudekap ia erat. “Maafkan Alina, Neekk… Maafkan, Alina.” Lirih kuberbisik di telinga keriputnya.

 

***

 

Semilir angin pagi ini mengiringi mantap langkah kakiku menjenguk Ibu. Sebuah bangsal perawatan di salah satu Rumah Sakit Jiwa swasta di kotaku. Tak kuhiraukan lagi segala cerita di masa lalu. Ayah memutuskan mengundurkan diri dari perusahaan pelayaran tempat beliau bekerja, khusus untuk merawat dan membesarkanku. Bagaimana lagi aku harus menuntutnya? Beliau membuka perkebunan buah-buahan dan sayur mayur. Rerimbunan melati di teras kami menjadi bukti cintanya pada wanita yang melahirkanku. Selalu ada harapan dari semua kegagalan dalam kehidupan. Bulan ke-2 aku mengunjungi Ibu. Dari jauh kulihat sosok wanita berkerudung ungu. Alhamdulillah Ya Rabb, beliau bersedia mengenakannya, bahagia kurasa dalam dada. Kulambaikan tangan padanya. Ia tersenyum. Lekaslah sembuh, Ibu. Lekaslah pulang dan lihatlah dunia bersamaku.

*****

Ditulis pada 3 September 2014

The Happier Me,

Melina

About

Mom of two kids, living within good books and extraordinary people

No Comments

Leave a Comment

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.