Bermula Dari Yang Kecil

Jangan pernah main-main meski pada hal terkecil dari hidup kita, termasuk impian-impian kecil. Bukankah hal besar berawal dari yang kecil?

***

April 2015

Duduk termangu di dalam angkutan kota. Saya nggak habis pikir betapa mudahnya saya membeli sesuatu di balik kantong belanja ini. Sebuah gamis putih yang anggun lengkap beserta khimarnya. Pakaian termahal yang pernah saya beli. Membeli tanpa berpikir. Pertama kali melihatnya, saya hanya merasa bahwa kami berjodoh. Gamis putih itu dan saya, mengelilingi Ka’bah. Hal terkecil sekaligus terbodoh yang saya lakukan, membeli pakaian untuk thawaf bahkan saat saya belum mempersiapkan dana untuk umroh.

Mei 2015

Mengulang kembali apa yang saya lakukan di tahun 2014 lalu. Mulai menukar pecahan dua puluh ribuan dengan logam mulia. Mulai dari 5 gram sampai dengan 25 gram. Sederhana saja, agar tabungan yang ada tetap liquid. Nilainya tetap bertahan setidaknya hingga keberangkatan nanti. Bayangkan jika dana tersebut tersedia dalam bentuk tunai, habis dalam sekejap saya pakai jajan.

Juni 2015

Jadwal perjalanan dan tanda bukti pembayaran di awal sudah di tangan. Saya punya tugas yang nggak ringan. Melunasi sisa pembayaran USD 3,100 tidak lebih dari empat bulan ke depan! Semula saya bersikap santai. Toh, saya punya penghasilan cukup. Toh, saya tipe perempuan yang pintar menabung. Toh, saya bukan tipe perempuan shoppaholic. Semula begitu. Tapi seiring berjalannya waktu, keadaan membuat saya panik.

Juli 2015

Buku bersampul coklat muda itu saya bawa kemana-mana. Membacanya saja, rasanya saya seperti berada di dalamnya. Buku yang mendesak-desak saya untuk mau mengeluarkan biaya USD 3,200. Bukan hanya USD 2,200 seperti perjalanan ibunda di tahun lalu. Saya nggak mau Singapura, Malaysia, Vietnam, Korea Selatan, atau negara-negara yang cerita teman-teman, tiketnya murah sekali. Saya mau ke tanah suci, lalu kesini. Buku itu yang ada di antara bantal dan guling, sebelum mata meminta haknya untuk terpejam.

Agustus 2015

Pertama kalinya saya memperpanjang paspor. Paspor pertama sudah habis masa berlakunya. Agak geli juga sebab paspor sebelumnya bersih, tanpa cap apapun di dalamnya. Artinya, sejak diterbitkan 5 tahun sebelumnya, saya nggak pernah menggunakannya. Dulu, hanya satu alasan saya mengurus paspor itu. Mau pergi umroh. Dulu juga, saya sering berkata pada diri sendiri bahwa perjalanan pertama saya ke luar negeri, dengan biaya sendiri, haruslah ke tanah suci. Kalau dibiayai orang lain sih, kemana saja saya mau.

Batas waktu pelunasan saya masih 2 bulan lagi. Tahu bagaimana rasanya? Antara senang, bahagia, khawatir, takut. Kenapa takut coba? Sebab saat itu saya begitu nekat punya target mengumpulkan USD 3,200 dalam kurun waktu 4 bulan saja untuk perjalanan ini. Saya takut nggak punya cukup waktu untuk melunasi dan akhirnya harus menunda keberangkatan. Jika ada golongan para risk taker, maka saya termasuk di dalamnya. Empat bulan bukan waktu yang panjang untuk mengumpulkan sejumlah itu. Kepala saya hanya berpikir, jika tahun sebelumnya saya bisa mengumpulkan sejumlah USD 2,200 dalam waktu yang sama, mestinya saya bisa mengumpulkan lebih di tahun berikutnya. Meski entah bagaimana caranya.

September 2015

Nilai tukar rupiah terhadap dolar terus bergerak naik. Panas dingin rasanya. Beberapa kali saya bertemu dengan kawan yang membantu saya untuk perjalanan ini, bisakah saya tetap berangkat? Dia hanya berkata, “Yakinlah Allah akan bantu.”

USD 2,000 terbayar. Saya masih punya utang.

Buku bersampul coklat muda itu terus terbayang di pelupuk mata. Kadang menjadi penyemangat, kadang malah seolah-olah dia melambaikan tangan seolah saya harus rela dia tinggal kenangan.

Oktober 2015

Nilai dolar semakin melambung. Melewati Rp 14.000 per dolar. Ini situasi genting.  Dulu, untuk perjalanan ibu, tugas saya masih ringan. Dolar termahal yang saya beli hanya sekitar Rp 12.500 saja. Sedih, kembali saya menemui kawan tersebut. Hari terakhir pelunasan. Menemui dia di sore di penghujung Oktober, saya bertanya, “Bisa nggak saya ambil umroh reguler aja?”

Jawabannya, tidak. Hotel dan tiket pesawat, semua sudah confirmed. Tinggal mengurus visa saja. Lemas seluruh tubuh kala itu. Di mana saya bisa dapatkan USD 1,200 saat itu juga?

“Saya akan berangkat. Beri saya waktu, ya.” Kawan saya mengiyakan. Saya tahu, dia juga mendoakan.

Nopember 2015

Entah sudah berapa kali kecengengan saya terlampiaskan dengan sempurna di sini. Penghasilan saya bulan ini pas-pasan. Nggak ada dana lebih untuk perjalanan ini. Saya harus membayar hingga Rp 14.500 per dolar. Saat-saat seperti ini, saya baru sadar, ada hal terlewatkan selama beberapa bulan terakhir. Sesuatu yang semestinya bisa saya optimalkan dari awal untuk mewujudkan perjalanan ini.  Paper asset! Untuk apa saya habiskan hampir 5 juta untuk belajar tanpa pernah saya praktekkan.

Tapi, saya bingung mau memulai dari mana. Sebab ilmu yang saya dapat buyar seketika begitu saya keluar dari kelas itu, hahaha …

Ini episode nekat. Nekat memutar uang yang ada di tangan di paper asset. Di pertengahan Nopember yang mendung. Pagi-pagi saya ikuti rekomendasi saham dari salah satu sekuritas ternama. Saat itu pun ada salah satu staf marketing yang berbaik hati mengirimkan rekomendasi saham setiap hari. Saya nggak tahu apakah semua nasabah dikirimi pesan yang sama. Beli dan jual di kisaran harga sesuai yang direkomendasikan. Salah satu kebodohan terbesar lagi dalam hidup saya. Tunduk patuh menuruti kata orang tanpa saya tahu kenapa saya harus ikut. Hasilnya, kadang meleset, tapi lebih sering melesat.

Beli pagi jual sore, beli hari ini jual besok. Taktik yang sungguh melelahkan. Apalagi di tengah timbunan pekerjaan kantor. Saya sadari betul, jika saat itu saya berhasil, itu adalah faktor keberuntungan. Tentu dengan editing skenario dari Allah untuk saya. Dari nyaris gagal berangkat, menjadi InsyaAllah berangkat.

Desember 2016

Akhirnya saya bisa tersenyum lega. Dua minggu sebelum keberangkatan urusan keuangan baru terselesaikan. Ada begitu banyak negosiasi yang saya lakukan di sini.

Pada Allah, “Ya Allah, kapan lagi bisa berangkat? Tinggal sedikiiit lagi langkah saya. Kapan lagi? Kasihanilah saya …”

Pada diri sendiri, “Usaha, dong. Ayo … kamu sudah bermimpi lebih dari 5 tahun yang lalu untuk bisa kesini. Ditambah 2 tahun yang lewat untuk bisa menjelajahi jejak perjuangan Muhammad Al Fatih. Ayo … anak-anak pasrahkan sama Allah lewat eyang-eyang mereka. Kapan lagi bisa pergi? Mumpung dibantuin tanggal merah natal dan tahun baru, nih. Jadi nggak terlalu lama ninggalin kantor.”

Pada calon sekolah tuan muda, “Pak, saya bayar uang masuk SDnya mulai Januari, ya. Saya mau berangkat umroh. Dananya saya pakai dulu.”

Dan … akhirnya terwujud. Perjalanan panjang yang melelahkan sekaligus membahagiakan.

2017

Pada banyak mimpi di kepala kita. Pupuk dan suburkan sejak awal. Pelajaran penting yang nggak saya terapkan sejak dulu. Mimpi ke tanah sucinya sih, sejak 2010 lalu. Tapi saya nyaris nggak melakukan usaha apapun kala itu. Hanya mengurus paspor, beli gamisnya, itu saja. Sama saja menanam tapi cuma dipandangi saja. Mulai menabung baru di 2014, itu pun akhirnya menjadi perjalanan umroh ibunda tercinta karena ada teman-teman yang bilang, “setelah mengumrohkan orangtua, yakin deh, berikutnya InsyaAllah kita yang berangkat.” Terbukti. Silakan dipraktekkan J

Saya masih punya mimpi perjalanan berikutnya. Jejak perjuangan Muhammad Al Fatih 1453 belum diselesaikan. Ribuan dolar lagi harus dikejar.

The Happier Me,

-Melina-

 

About

Mom of two kids, living within good books and extraordinary people

No Comments

Leave a Comment

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.