Wajah di Dalam Cermin

Aku – Perempuan

Pukul 01.00 dini hari. Ini adalah malam yang entah ke berapa ratus, aku terjaga dengan bulir-bulir keringat di pelipis dan napas terengah. Ada rasa panas menyeruak di antara deru napas. Kuletakkan telapak tangan kanan di dada. Napas memburuku begitu berisik. Tangan kiriku bergerak perlahan, mencari-cari sesuatu di atas meja kecil di sisi kiri tempat tidur. Bunyi ‘klik’ perlahan terdengar, diikuti dengan nyala lampu. Aku masih berada di atas tempat tidur, dengan dengusan napas yang masih dijerat mimpi. Sepuluh menit berlalu, aku berdiri, berjalan menuju cermin. Di antara wajah yang masih memucat dan rambut yang teracak kusut, wajahku dan lelaki itu membias di sana.

 

***

Aku – Perempuan

Akhirnya kami bertemu di sini. Memeluk tubuh masing-masing dari dingin udara yang semakin sore, semakin memekatkan kabut dari mulut kami yang berbicara. Kudekatkan jemari pada secangkir teh panas sekedar untuk mencari kehangatan.

Tidak ada yang menduga pertemuan ini akan terjadi lagi. Setelah tahun-tahun berlalu dengan begitu sunyi. Hanya ada irama jari-jari yang berlompatan di atas keyboard. Menuliskan cerita demi cerita tentang cinta yang tak lain adalah milikku sendiri.

“Apa kabar?” Ia menatapku dalam. Tatapan matanya masih hangat seperti dulu. Ia menggenggam kedua jari, menumpukannya pada dagu. Sekilas, aku mencuri pandang. Mencari sesuatu yang memaksaku mengakhiri pertemuan tak disengaja ini. Tapi beberapa detik itu tidak sanggup membantu mencari sesuatu yang kuharap tidak ada padanya.

“Aku … baik.” Aku menarik napas dalam. “Ka-mu?” Ah, aku bahkan tidak berani menatapnya seperti ia menatapku.

“Aku sering membaca novel-novelmu. Ceritanya sungguh luar biasa. Ending-nya selalu di luar dugaan.” Ia tertawa kecil. Ada ketulusan di dalam suaranya.

Kalimat yang membuatku terhenyak. Ia tahu tentang diriku. Apakah ia mencari tahu tentang diriku sama seperti aku mencari tahu tentang dirinya? Ah, aku terlalu besar kepala. Jelas saja dia tahu. Aku selalu menggunakan nama yang sama dengan nama yang ia pernah bisikkan di daun telingaku. Di sampul belakang, aku juga selalu memasang foto diri yang tengah tersenyum. Menipu banyak orang tentang napas terengah yang selalu kurasakan pada pukul 01.00 dini hari.

“Terima kasih sudah membaca,” ujarku tulus.

Udara semakin membuatku merapatkan sweater merah mudaku, seiring hujan yang menderas di luar sana. Air dari langit seperti menghantam atap tanah liat yang menaungi kami saat ini. Ia melepaskan baju hangat biru tuanya, beranjak dari kursi, kemudian menyampirkan baju hangat biru tuanya ke bahuku.

“Kamu kedinginan. Pakailah.” Ia berkata perlahan, dalam jarak yang terlalu dekat, menurutku. Setidaknya setelah lima tahun aku tak membaui aromanya.

Aku merasakan kehangatan dari deru napasnya. Bukan dari baju hangat biru tua ini.

Ia banyak bercerita tentang dirinya. Kemana saja ia selama ini. Keberangkatannya ke Australia untuk menambah gelar pendidikan di belakang namanya, beberapa hari setelah ia meninggalkan kotaku. Bekerja di sana selama beberapa tahun, hingga kemudian memutuskan kembali ke Indonesia untuk melanjutkan bisnis orangtuanya. Masih ada lagi sesuatu yang ia ceritakan padaku sore itu. Hingga tiga poci teh panas berulang tersaji di atas meja. Ia tampak heran tapi udara yang dingin membuatnya tidak banyak bertanya. Ia masih bercerita, sesekali bertanya, bercerita lagi, hingga hujan mereda dan aku hanya bisa menatapnya punggungnya yang berlalu dengan pandangan memburam.

***

Aku – Lelaki

Dia ada di sini! Orang yang selama ini tidak pernah kurindui tapi ingin kutemui. Jawaban. Itu yang aku butuhkan darinya. Tapi jawaban untuk pertanyaan yang mana? Aku sendiri bahkan tidak tahu. Dia ada di sini, dalam jarak beberapa meter saja dari tempatku duduk, 10 menit yang lalu. Ia baru saja tiba di rumah makan ini. Rambutnya sedikit basah. Sepertinya ia kehujanan lalu memilih berteduh di sini. Ah, masa bodoh dengan pertanyaan. Menghampirinya, mengajaknya berbicara, nanti juga pertanyaan di kepalaku akan terjawab dengan sendirinya.

Aku menanyakan kabarnya, menyatukan jari-jari kanan dan kiri, meloloskan sesuatu dari sana, dan memasukkannya ke dalam saku celana, saat wajahnya berpaling menatapi hujan.

Ini gila! Udara dingin ini seperti melemparku ke masa-masa 5 tahun yang lalu. Perempuan di hadapanku ini sudah jauh berubah. Wajah ayunya tampak mendewasa. Aku sering melihat wajah tersenyum itu di sampul belakang novel-novel karyanya di toko buku. Bukan jenis bacaan kegemaranku, sebenarnya.

“Aku sering membaca novel-novelmu. Ceritanya sungguh luar biasa. Ending-nya selalu di luar dugaan.”

Ia sedikit tertegun, kemudian tersenyum. Senyum yang dulu berhasil membuatku ingin melumat habis dirinya. Sayangnya, ia seperti tidak mengerti bahwa sedikit saja aku ingin dia bercerita tentang novelnya. Apakah ada aku di dalamnya? Ah, dia masih saja tak banyak bicara. Lebih suka menjadi pendengar yang baik. Seperti dulu.

Hantaman hujan yang terdengar di atas kepala, perlahan mereda.

“Aku tidak menyangka kamu menyukai novel,” ujarnya cepat. Terlalu cepat hingga aku tak punya cukup waktu untuk menyembunyikan nama itu darinya.

“Karina yang suka membaca novel.”

“Karina?” Ia menelengkan kepala, bertanya.

“Calon istriku.”

“Oh, selamat kalau begitu.” Ia mengulurkan tangan, dengan seulas senyum yang membuat lelaki enggan berpaling dari wajahnya.

“Terima kasih,” ucapku pelan.

Aku tidak punya bahan perbincangan lagi dengannya. Lagipula, hujan sudah mereda. Tak apa, sedikit merelakan rintik hujan menemani hingga ke halaman rumah makan ini.

***

Aku – Perempuan

Lima tahun sudah memberikan jawaban. Bahwa aku harus melanjutkan hidup tanpa lelaki itu. Memang bukan untuk bersama, aku tahu. Itu yang dulu ia katakan pada malam saat tak ada jarak antara aku dengannya. Tentang kebersamaan dalam semalam. Tapi ternyata Tuhan punya rencana lain.

Aku berteman kepasrahan. Tidak tahu kemana mencarinya. Membiarkan bulan demi bulan berlalu sendirian. Bahkan hingga ia dan aku menjadi dia.

“Setelah ini, aku akan sendirian. Tanpa kamu. Dan kamu juga akan sendirian, tanpa aku. Hanya semalam.”

Sendirian. Tidak boleh ada dia, tapi dia terlanjur ada dan aku takut untuk membunuhnya. Lebih dari itu, aku terlalu takut akan penolakan pada suatu hari nanti.

Tapi sepertinya mulai malam ini aku harus berhenti berharap, bahwa suatu hari nanti aku akan terbebas dari mimpi buruk yang membuatku napasku terengah pada hampir pukul 01.00 dini hari. Dia tidak bersamaku, tapi aku akan selalu melihat wajahku dan wajahnya di dalam cermin itu.

***

Aku – Lelaki

Dulu, aku tidak pernah bisa dengan satu perempuan. Tanpa cinta. Hanya memuaskan apa yang ingin terpuaskan dari diriku. Hampir satu tahun setelah mengecup kening perempuan itu, aku seringkali terbangun pada tengah malam. Bukan terbangun karena kerongkonganku kering dan butuh dialiri air seperti masa-masa kecil dulu. Aku terbangun dan lelah yang berhasil membuat napasku terengah-engah usai mendaki bukit, berlari belasan kilo, mengejar sesuatu yang hampa. Atau, aku dikejar sesuatu yang hampa?

Aku tidak mempunyai jawaban. Kisah itu terjadi setiap hari dan tidak pernah kuceritakan pada siapapun, termasuk Karina. Perempuan yang akhirnya membuatku jatuh cinta dan takut kehilangan.

Aku tidak tahu apakah setelah kami menikah nanti, ia akan siap dengan aku yang terbangun setiap tengah malam dengan napas memburu, wajah pucat, dan mata yang kelelahan. Tapi aku sangat berharap, ia tidak akan menemukan wajahku dan perempuan itu pada wajah gadis kecil di dalam cermin.

 

*** SELESAI ***

 

 

About

Mom of two kids, living within good books and extraordinary people

6 Comments

  • Pwnp October 16, 2017 at 7:52 pm Reply

    Finally… 😀

    • melinase October 16, 2017 at 8:07 pm Reply

      Baru nulis tadi sore ini, sih. Nunggu adzan. Belum tulisan rajin ???.

  • RichardFar June 13, 2018 at 9:07 pm Reply
    • melinase June 20, 2018 at 1:21 pm Reply

      Thanks for reading …

  • rani sofyan June 25, 2018 at 3:30 pm Reply

    menarik sekali artikelnya, keep on writing 🙂

    • melinase July 3, 2018 at 5:55 am Reply

      Terima kasih sudah berkenan membaca, Mbak Rani Sofyan 🙂

Leave a Comment

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.