Lima (5) Hal Penting yang Patut Disyukuri Pernah Jadi Karyawan

Sekitar tahun 2012 -tepatnya semenjak sering mengikuti pelatihan bisnis- saya sempet terseret oleh pemikiran bahwa menjadi karyawan itu tidak keren. Pokoknya harus jadi pebisnis. Tidak bisa tidak. Suatu kondisi yang membawa saya memaksakan diri menjadi pebisnis hanya dengan modal uang dan nafsu belaka. Hasilnya, bisa ditebak. Gagal saat baru saja memulai. Hingga perlahan, saya kembali menyadari bahwa jalan hidup setiap orang pasti berbeda. Menjadi pebisnis memang keren. Tapi menjadi karyawan juga bukanlah status yang hina.

Setelah bekerja selama dua belas tahun kurang dua puluh tiga (23) hari di satu perusahaan yang sama, setidaknya ada lima (5) hal penting yang membuat saya bersyukur pernah menjadi karyawan. Apa saja itu?

  1. Berhati-Hati pada Kesan Pertama

Di masa-masa awal mulai bekerja, saya pernah disuguhi sajian tidak menyenangkan dari karyawan yang lebih senior dengan tatapan “Jadi kamu karyawan baru itu?” Bola matanya seperti menikam saya dari ujung kepala hingga ujung kaki. Mungkin karena penampilan saya saat itu yang ‘nggak banget’.

Satu lagi, suatu ketika saya ditanya dengan pertanyaan aneh “Katanya kamu S1?” dari salah satu karyawan senior juga. Mungkin saat itu tidak banyak karyawan yang mempunyai jenjang pendidikan S1 di sana. Jadi kehadiran saya seperti menjadi ancaman.

Tapi, saya memilih bekerja dengan sungguh-sungguh dan menunjukkan bahwa tatapan dan ucapan yang menunjukkan bahwa ‘saya bukan apa-apa dan bisa jadi ancaman’ itu salah besar. Pada akhirnya saya bisa membuktikan bahwa suatu pencapaian besar bisa diraih bersama tim yang kompak tanpa saling menjatuhkan, bukan mimpi di siang hari.

Setidaknya karena dua alasan di ataslah saya bisa belajar untuk berhati-hati untuk menyimpulkan kesan pertama pada orang lain. Jangan sembarangan merendahkan jika penampilannya terlihat tidak meyakinkan sebab kita tidak tahu isi kepalanya.

2. Menghargai Waktu dengan Menjauhi Gosip

Sejak awal bekerja, saya sudah terbiasa dengan volume pekerjaan yang tinggi. Bahkan jika ditanya teman-teman di luar perusahaan “Kok kamu sibuk terus, sih?”, saya dengan enteng menjawab, “Saya dibayar untuk sibuk. Nggak sibuk, nggak dibayar.”

Kalau istilah saya dulu, kesibukan pekerjaan sampai membuat saya tidak tidak sempat bernapas maupun merasa haus. Berlebihan? Sedikit. Memang seperti itu adanya.

Tapi, mau tidak mau jadi terbiasa juga untuk memprioritaskan hal-hal penting dalam hidup. Terbiasa sibuk dengan urusan penting membuat saya tidak tertarik untuk kumpul-kumpul dengan teman di suatu tempat dan membicarakan gosip semata. Waktu menjadi sangat berharga.

3. Sistematis Dalam Melakukan Kegiatan

Saking tingginya volume pekerjaan, mau tidak mau harus membuat ‘to do list’ untuk memprioritaskan pekerjaan mana yang harus diselesaikan lebih dulu.  Kalau tidak begitu, malah semua pekerjaan bisa terbengkalai. Hanya dipandangi satu-persatu.

Saat berada di rumah, hal ini masih terbawa. Urusan besar diselesaikan dulu, urusan yang lebih kecil antri dulu, ya. Meskipun berkarya dari rumah, kenyataannya saya tidak bisa sesantai yang dibayangkan.

4. Lebih Bijaksana Mengatur Keuangan

Dulu, saya bukan salah satu dari karyawan di Divisi Keuangan. Tapi karena tugas juga, harus bisa bekerjasama dengan teman-teman di sana untuk meminimalkan pengeluaran perusahaan yang sifatnya tidak terlalu penting agar kebutuhan utama perusahaan tetap tersedia dananya.

Demikian juga saat ini. Pos-pos yang tidak penting harus saya coret. Pos-pos yang masih bisa menunggu, diletakkan di bawah pos-pos berstatus penting dan sangat penting.

Satu hal yang harus dipahami bahwa lebih bijaksana mengatur keuangan tidak sama dengan pelit. Bukan berarti juga bahwa kondisi menjadi jatuh miskin. Cara ini juga menjadi bagian dari bekerjasama dengan anak-anak untuk menikmati segala sesuatu secukupnya. Menyiapkan mental mereka juga untuk siap di waktu berlebih dan kurang. Siapa sih yang tahu apa yang akan terjadi pada hidup kita beberapa waktu ke depan?

5. Mempunyai Ketahanan Mental yang Lebih Baik

Dua minggu sebelum masa kerja saya di perusahaan berakhir, ada obrolan santai dengan atasan. Saya ditanya oleh beliau, salah satu modal untuk berbinis sendiri. “Pernah menjadi karyawan,” itu jawaban saya.

Dari raut wajahnya, beliau tertarik dengan jawaban tersebut. Saya sampaikan bahwa pernah menjadi karyawan adalah salah satu modal luar biasa sebelum berbisnis. Menjadi karyawan artinya memahami harus sistem yang berlaku di dalamnya. Ada alur proses pekerjaan yang harus dilalui. Ada sumber daya manusia yang harus dipantau dan terus dibenahi. Ada proses pengelolaan keuangan yang harus dijalani. Termasuk juga pelayanan terhadap tim sendiri maupun klien agar komunikasi terus terjalin dengan baik dan menghasilkan pekerjaan yang berkualitas dan berusia panjang.

Tekanan di dalam pekerjaan, secara otomatis akan membentuk ketahanan mental yang lebih baik. Tidak mudah puas saat mencapai target, tidak mudah menyerah saat gagal. Sebab, berbisnis bukan sekedar ‘yang penting punya uang’.

Jadilah karyawan yang baik. Ada saja pasti yang tidak sependapat. Mungkin ada yang pernah berpendapat bahwa bekerja secukupnya saja, toh itu bukan perusahaan milik kita. Untuk apa bekerja susah payah, toh nanti dilupakan juga. Tapi saya sih percaya, bahwa setiap kebaikan yang kita lakukan pada akhirnya akan kembali kepada kita juga. Tentu tanpa kita tahu kapan dan darimana kebaikan itu akan kembali. Saya bersyukur, pernah menjadi karyawan.

 

The Happier Me,

Melina – A Mom, Trader, Investor, Willing to Write Productively, Making Money from Anywhere at Anytime

About

Mom of two kids, living within good books and extraordinary people

No Comments

Leave a Comment

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.