Lima (5) Fakta Unik Tentang Oleh-Oleh

Hai, teman-teman! Pernah melakukan perjalanan ke suatu tempat? Untuk tujuan bisnis atau jalan-jalan, mungkin? Pasti pernah, ya. Pernah dapat titipan oleh-oleh, tidak? Titipan yang memang betul-betul titip dalam arti biaya pembeliannya ditransfer lebih dulu, dibayar begitu mereka tiba kembali di kotamu, atau malah titipan yang dipaksakan alias gratis. Bagaimana rasanya? Sering, saya membaca tulisan tentang oleh-oleh ini. Termasuk anjuran untuk tidak meminta –apalagi dengan paksa- dibawakan oleh-oleh.

Membahas soal oleh-oleh, ada lho fakta-fakta unik di baliknya, setidaknya menurut saya. Apakah itu?

  1. Diam-Diam Diharapkan

Bagi kita yang ditinggal melakukan perjalanan oleh teman atau keluarga, salah satu kalimat yang biasa kita sampaikan mungkin seperti ini:

“Hati-hati, ya ….”

“Have fun!”

“Safe flight. Kabari ya, kalau sudah sampai.”

“Happy holiday!”

Oleh-oleh sendiri bukan sesuatu yang wajib dibawa oleh teman atau keluarga kita yang akan, tengah, atau usai melakukan perjalanan. Biarkan teman atau keluarga kita itu menikmati perjalanannya dengan menyenangkan. Persiapan untuk melakukan perjalanan saja pasti sudah cukup menyita waktu, tenaga, dan tentunya uang. Bayangkan jika mereka harus terpaksa berhenti di tengah jalan demi mencari oleh-oleh titipan kita itu. Apalagi kalau titipannya tidak disertai pembayaran di muka. Masih ditambah juga dengan beban barang bawaan saat kembali ke kota asal.

Buat kita yang seringkali merasa ‘tidak enak hati’, mungkin tidak terlalu merepotkan. Tapi sebenarnya diam-diam kita berharap juga. Kalau tidak bisa ikut jalan-jalan, kecipratan oleh-olehnya juga tidak apa-apa, deh. Ada yang begitu?

2. Maunya Cepat-Cepat Dihabiskan

 Oleh-oleh berupa makanan, sudah pasti akan segera dikonsumsi. Termasuk oleh tipe perempuan seperti saya yang gemar memanjakan lidah, gigi, dan perut. Walaupun faktanya nih, seringkali oleh-oleh berupa makanan itu makannya disayang-sayang alias dicicil. Apalagi kalau rasanya enak sekali. Duh … kalau bisa jangan habis dulu, deh. Eits, tidak bisa begitu juga, sih. Mesti teliti membaca dan mematuhi sesuai tanggal produksi dan kadaluarsa yang biasanya tertera pada kemasan.

Kalau oleh-oleh berupa makanan itu cepat habis, paling kita hanya protes dalam hati, “Bawainnya sedikit, sih.”

Berbeda kalau masih banyak tapi sudah tidak bisa dimakan karena kadaluarsa. Lidah, gigi, dan perut tidak menikmati, eh diliputi rasa berdosa juga sama yang memberi. Jadi, habiskan segera makananmu, ya!

3. Disimpan, Dipajang, Disayang-sayang

Oleh-oleh berupa barang bagaimana, tuh? Kalau saya berada di posisi orang yang memberi, pasti akan senang sekali kalau barang pemberian saya itu digunakan oleh orang yang diberi. Berarti bermanfaat, dong. Tapi pernah merasakan tidak, dibawakan oleh-oleh berupa barang dan kemudian menjadi galau? Mau dipakai atau malah sering-sering dipakai khawatir nanti cepat rusak. Mau disimpan atau dipajang di lemari kalau si pemberi tahu nanti dia bertanya-tanya. Kok tidak dipakai, ya? Jangan-jangan tidak suka. Jangan-jangan hilang. Jangan-jangan malah diberikan ke orang lain lagi. Daaan masih banyak lagi ‘jangan-jangan lainnya’. Kecuali kalau oleh-olehnya memang untuk pajangan, tentunya.

Fakta lainnya, oleh-oleh berupa barang membuat kita jadi panikan. Cuma kita sendiri yang boleh menyentuh oleh-oleh itu. Orang lain, dilarang keras.

“Jangan dimainin, nanti rusak.”

“Jangan dipegang, nanti kotor.”

“Jangan diangkat-angkat, nanti pecah.”

“Jangan dibuka-buka, nanti lusuh.”

“Itu oleh-oleh dari temanku, lho. Belinya jauh.”

Daaan … sejuta ‘jangan’ yang lain. Jadi panikan, tapi lebih baik. Terbayang tidak, kalau suatu ketika orang yang membawakan oleh-oleh tahu kalau barang-barang pemberiannya rusak, kotor, lusuh, atau malah hilang?

4. Membangkitkan Rasa Penasaran

“Wah … oleh-oleh magnetnya bagus banget. Jadi pengen ke Turki, deh, lihat bunga-bunga tulip mekar di musim semi.

“Pembatas bukunya lucu banget. Gambar cewek pakai hanbok, gitu. Kapan ya, aku bisa ke sana dan difoto pakai hanbok juga?”

“Duh … nih kain halus banget. Jadi membayangkan difoto di tepi pantai-pantai indah di Bali pakai kain ini. Hasilnya pasti eksotis banget!”

Whoaaa … segala macam hal tentang dari mana oleh-oleh itu berasal, langsung melintas di kepala. Akhirnya muncul kata-kata di kepala, “Coba aku bisa kesana, yaaa ….”

5. Dari ke empat hal di atas, plus kaitannya untuk tidak memaksakan titip oleh-oleh, sebenarnya sudah jelas sekali kalau kita tidak perlu berisik. Percaya deh, kalau teman atau keluarga kita itu dalam kondisi berlebih dan ingat pada kita, pasti dibawakan.

Punya fakta-fakta unik lainnya tentang oleh-oleh? Yuk ceritakan pendapatmu!

 

The Happier Me,

Melina

About

Mom of two kids, living within good books and extraordinary people

No Comments

Leave a Comment

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.