DREAM IF; Kalau Kamu Masih Suka Bermimpi Menjadi Orang Lain

Apa yang banyak dipikirkan orang tentang Jakarta? Hidup enak, nyaman, dan banyak uang. Mungkin seperti itu. Jakarta menjadi kota impian mereka yang dipisahkan jarak dengannya. Berita yang beredar di surat kabar, terutama televisi membius siapapun untuk segera menuju Jakarta. Tentang kisah sukses mereka yang berani mengadu nasib di ibukota. Banyak pula yang bermodal nekat. Tidak mempunyai keahlian khusus, ijasah pendidikan seadanya, dan bekal uang hasil meminjam saudara di kampung halaman. Hanya satu yang pasti, punya impian setinggi langit. Tanpa ada yang menyadari, Jakarta diam-diam juga menyimpan kekejaman.

Siapa yang tidak ingin sukses dan terkenal? Dulu saya pun begitu. Ingin menjadi arsitek, tapi maunya hasil karya saya rutin mejeng di majalah interior ternama. Ingin menjadi pelukis, tapi maunya setiap kali menggelar pameran, ada wartawan yang meliput lalu masuk surat kabar. Ingin menjadi pembaca berita tapi maunya yang terkenal seperti Desi Anwar. Ingin jadi ilmuwan bukan karena punya bakat menemukan tapi karena ilmuwan itu dikenal oleh orang sedunia. Lebih parah lagi cita-cita yang pertama. Ingin menjadi polwan, tapi maunya ketika tengah membantu anak-anak menyeberang jalan, ada reporter yang entah bagaimana lewat lalu meliput. Duh, kecil-kecil sudah riya’ ternyata, ya :D.

Begitu pula dengan Mimi Tarmiyah. Siapa dia? Kembaran saya? Bukanlah. Kalau itu sih namanya mungkin Melani. Mungkin, ya. Soalnya saya tidak punya saudara kembar juga, sih. Membaca “Dream if …”, Mimi Tarmiyah ini kok agak-agak mirip saya. Ingin jadi terkenal. Bedanya, Mimi terobsesi menjadi penyanyi seperti idolanya, Titin Tuminah Hona. Tak lain dan tak bukan karena sama seperti Mimi, Titin pun berasal dari desa dan nyatanya berhasil menjadi artis dangdut ternama di ibukota. Kalau saya, cukup sadar dirilah bahwa tidak punya modal suara emas. Sayangnya, Mimi tidak cepat sadar seperti saya.

Pertama kalinya membaca novel karya Redy Kuswanto. Saya tidak berharap akan menemukan sesuatu yang tidak akan bisa saya lupa seperti membaca karya-karya Habiburrahman El Shirazi atau Ika Natassa. Tapi membaca halaman demi halaman, saya malah lupa berhenti.

Sebagai pecinta Indonesia sejati, saya suka sekali dengan cara seorang Redy Kuswanto memberi nama tokoh-tokohnya. Mimi Tarmiyah, Engkos, Bandot, dan Titin Tuminah Hona. Nama yang lokal sekali. Saya tidak mau juga bilang itu nama-nama desa, ya. Khawatir ada yang menyimpulkan saya ini orang kota yang alergi pada orang desa. Padahal kenyataannya saya tinggal di kota yang nuansanya desa. Sekeliling rumah masih banyak persawahan, dikelilingi pula oleh pemandangan Gunung Salak dan Gunung Gede Pangrango.

Lima belas tahun lebih tinggal di Bogor dan saya tidak bisa berbahasa sunda. Tapi membaca dialog dalam bahasa sunda antara Mimi dengan amahnya, lidah berasa fasih berbahasa sunda. Berasa lho, ya. Bukan betulan. Nanti ada yang protes. Saat membaca, pada bagian tertentu, salah satu kesukaan saya adalah membaca sambil bersuara. Termasuk dialog antara Mimi dengan amahnya itu. Terima kasih Redy Kuswanto, akhirnya saya bersuara dengan bahasa sunda meskipun tidak ada yang mendengar selain saya sendiri.

“Dream if …” menjadi gambaran betapa dunia selebritas masih tetap digandrungi oleh banyak orang, terutama perempuan. Di antara sekian banyak perempuan yang ingin menjadi artis, biasanya jika tidak mempunyai modal suara emas, setidaknya mempunyai modal wajah yang cantik, kulit mulus, maupun tubuh yang aduhai. Modal fisik yang kerap kali menjadi sasaran empuk orang-orang yang hanya mencari keuntungan untuk diri sendiri. Tapi Redy Kuswanto berani menciptakan tokoh Mimi yang ‘nggak banget’ deh. Saya saja sampai heran, si Mimi ini kok pede sekali, ya?

Sebagai pembaca dan penganalisa cerita amatiran, kadang-kadang saya sedikit jahat pada penulis. Tahu apa? Di antara keasyikan cerita, suka iseng mencari-cari letak kekurangan cerita itu. Sempat menemukan pada cerita ketika Mimi diajak oleh Brian ke Jakarta. Kok Brian baik banget, sih? Masa iya, dia tidak mencoba mencari kesempatan untuk memanfaatkan, maaf … tubuhnya Mimi. Padahal mereka berhari-hari bersama. Beberapa kali juga Brian berada satu kamar dengan Mimi meskipun tidak menginap. Yaaa, meskipun Mimi memang tidak ditampilkan cantik. Tapi yang namanya perempuan desa, masih perawan, rawan dong buat dijelajah sama lelaki yang dari awal cerita sudah terendus bukan orang baik-baik. Membaca terus ceritanya, baru paham. Bagaimana mau mengapa-apakan Mimi kalau Briannya sendiri tidak normal alias gay? Baiklaaah … saya salah tebak dan malu.

Cerita yang ringan, santai, nama-nama tokohnya mudah diingat, ceritanya umum terjadi, tapi “dream if …” tetap istimewa. Redy Kuswanto tidak lupa menyampaikan pesan di balik cerita tersebut. Tentang menjadi diri sendiri. Seperti yang sudah saya duga di awal, pada akhirnya Mimi hanya menjadi korban penipuan. Dimanfaatkan untuk ditawarkan kepada lelaki kaya, dengan alasan untuk memuluskan jalannya menjadi artis. Setinggi apapun mimpi, tentu tetap harus melihat dan mengenal diri sendiri. Mensyukuri semua yang sudah dimiliki Mimi. Diingatkan oleh orang-orang yang mencintai dan menyayanginya. Ah, rumput tetangga akan selalu terlihat lebih hijau. Bukankah begitu?

The Happier Me,

Melina – Hot Mama with Two Kids, Trader, Investor, Willing to Write Productively, Making Money from Anywhere at Anytime

 

 

About

Mom of two kids, living within good books and extraordinary people

No Comments

Leave a Comment

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.