Noly dan Roti Keju

Sepasang mata menatap Noly dari balik keranjang kue. Mulanya Noly tidak peduli. Tetapi lama-kelamaan Noly merasa risih. Sepasang mata itu terus menatapnya. Noly mencoba menyingkir. Ia berjalan ke sebelah kiri. Anehnya, sepasang mata itu ikut melirik ke arah Noly berdiri kini. Noly lalu mencoba bergeser ke kanan. Lagi-lagi sepasang mata itu mengikuti arah kakinya bergerak. Noly takut. Dia bingung, bagaimana mungkin ada sebuah roti keju yang mempunyai mata?

Hari berikutnya, sepasang mata itu kembali mengawasi gerak-gerik Noly. Kali ini, ada sesuatu yang baru disadari Noly. Benda bulat itu mempunyai bibir yang tampak cemberut. Sepasang mata yang mengawasinya itu juga tampak berbeda dari sebelumnya. Ada kesedihan muncul di sana. Noly mulai merasakan keanehan. Tapi dia tidak peduli. Noly terus saja melanjutkan bermain boneka sambil sesekali mengambil potongan pisang goreng di atas piring. Sudah satu jam Noly bermain boneka dan dia merasa sangat bosan. Ditinggalkannya kamar itu. Dua potong pisang goreng yang tersisa tampak berantakan karena tercabik-cabik di sana-sini.

Malam berikutnya, Noly tidak bisa tidur. Ia mendengar suara-suara yang mengganggu. Noly menarik selimut dan membiarkan tubuhnya tertutupi hingga kepala. Dia begitu ketakutan. Suara isakan yang semula terdengar lirih, mulai terdengar sangat jelas. Noly sampai tidak berani membuka kembali selimutnya. Isakan itu terdengar jelas di telinga kirinya. Bagaimana jika ia membuka selimut lalu makhluk yang menangis itu mencekiknya? Hiyy … Noly tidak bisa membayangkan itu. Tetapi, tunggu! Noly merasakan ada tangan yang begitu kurus dan kecil menarik-narik selimutnya. Sekuat tenaga Noly berusaha melawan. Tetapi tangan kurus itu begitu kuat. Noly memegang erat selimutnya sampai hampir menangis. Tiba-tiba, selimut itu terlepas dan Noly bisa melihat dengan jelas sesuatu di depan matanya. Sebuah roti keju yang berukuran besar, sebesar kepala Noly. Sepasang matanya mengeluarkan air mata, bibirnya mengerucut sedih. Taburan keju parut di atas kepalanya memanjang dan berubah menjadi tangan. Rupanya ia yang tadi menarik-narik selimut Noly. Gadis kecil itu ketakutan. Ia berteriak memanggil-manggil kedua orangtuanya. Ayah! Ibu!

Kedua orangtua Noly tiba di kamar tak lama kemudian. Noly segera memeluk mereka erat.

“Ada apa?” tanya Ibu sambil mengusap punggung Noly.

“A-Aku takut Ibu. Ada hantu roti keju yang menggangguku,” kata Noly sambil terisak.

“Hantu roti keju?” Ibu merenggangkan pelukan. Dahinya berkerut bingung.

“Iya … Roti keju. Matanya mengeluarkan air mata. Dia bahkan punya tangan.” Noly bercerita.

Ayah tertawa mendengarnya. “Noly pasti sedang bermimpi. Tadi sudah berdoa waktu mau tidur?”

Noly cemberut. Ia kesal karena ayahnya tidak percaya. Dia berusaha keras meyakinkan kedua orangtuanya bahwa ia tidak bermimpi. Semuanya nyata. Sungguh-sungguh terjadi. Noly masih bisa merasakan tangan kurus keju parut tadi di kulit tangannya.

“Sudah, tidak ada apa-apa di sini. Noly tidur lagi, ya.” Ayah membaringkan Noly lagi sambil membantu membetulkan letak bantalnya. Sementara ibu menyelimutinya. Noly memegang erat tangan ibu.

Ayah yang tengah bergerak mundur tiba-tiba hampir terjatuh. Rupanya kaki ayah menginjak sebuah piring yang di atasnya terdapat beberapa makanan yang hanya dimakan setengahnya. Ada pisang goreng, cookies, dan roti keju. Wajah mereka sudah tidak karuan bentuknya. Diangkatnya piring itu ke atas dan menunjukkannya pada Noly.

“Lihat, apa yang kamu lakukan pada makanan-makanan ini?” Ayah bertanya dengan nada tegas.

Noly tidak menjawab. Ia menempelkan tubuhnya pada ibu.

“Sudah berapa kali Ayah bilang? Ambillah makanan secukupnya dan habiskan. Kalau Noly mengambil banyak-banyak, malah begini jadinya.” Ayah memarahi Noly.

Ibu memandang Noly dengan perasaan sedih. “Noly, pantas saja kamu bermimpi didatangi hantu roti keju. Itu peringatan bahwa makanan-makanan itu sedih karena disia-siakan oleh Noly. Lain kali, habiskan makananmu. Ambil sedikit kalau takut tidak habis.”

“Noly tahu, Ayah bekerja keras untuk menafkahi keluarga, termasuk membeli makanan bergizi untuk Noly. Ibu pun juga bekerja kerjas membuatkan masakan yang enak untuk Noly. Di luar sana, banyak saudara-saudara Noly yang kekurangan. Mau makan, tidak punya makanan. Beli, tidak punya uang. Noly harus belajar menghargai makanan.”

Noly terdiam mendengarkan nasihat ayah. Ia sadar, selama ini begitu sering membuang-buang makanan. Entah sudah berapa kali ibu mengingatkan Noly untuk mengambil secukupnya. Berulang kali juga ibu marah melihat kamar Noly yang berantakan, penuh sisa-sisa makanan.

“Maafkan Noly, Ayah. Maafkan Noly, Ibu. Noly janji, Noly tidak akan lagi membuat roti keju dan teman-temannya bersedih. Terima kasih sudah menyayangi Noly.” Dia menghambur ke pelukan ayah dan ibu.

Sejak saat itu, tidak ada lagi sepasang mata yang mengawasi gerak-gerik Noly.

 

The Happier Me,

Melina

About

Mom of two kids, living within good books and extraordinary people

2 Comments

  • Eva August 7, 2018 at 6:19 pm Reply

    Maa Syaa Allah….mengajarkan anak2 untuk mengambil makanan secukupnya, tdk menghamburkan nya bahkan smp terbuang percuma….kereen

    Tapi jujur pas baca pertamanya sereem ky baca cerita horor hihihi…

    Tapi kereeen….barokallah ya de’Mel 😍

    • melinase August 7, 2018 at 7:54 pm Reply

      Nah … Asyik kalau sudah berhasil menipu pembaca. Nuhun, Teteeeh … Jangan bosan-bosan mampir di sini, yaaa. Baca yang mana aja, boleeeh …

Leave a Comment

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.