Mencari Penginapan Asyik di Sekitar Malioboro, di Sini Tempatnya!

Yogyakarta selalu membuat setiap pengunjungnya ingin kembali lagi dan lagi. Tidak terkecuali saya. Pekan lalu, karena urusan pekerjaan, Alhamdulillah ada kesempatan lagi berkunjung ke kota ini meskipun sebentar sekali.

Yogyakarta-nya Kla Project masih mengalun melalui earphone ketika Argo Dwipangga yang saya tumpangi tiba di stasiun Tugu. Suasana ramai seperti biasanya. Apalagi saat itu dalam masa long weekend. Mempertimbangkan bahwa profit dari event kali ini ditujukan untuk donasi, saya memilih untuk tinggal di penginapan yang biasa-biasa saja. Sesuai permintaan, panitia pengundang menyiapkan voucher menginap di Whiz Hotel Malioboro.

Berjarak 500 meter dari stasiun Tugu, saya bersorak karena cukup berjalan kaki saja menuju lokasinya. Sebagai pecinta jalan kaki, senang rasanya kalau bisa menjelajahi tempat baru dengan berjalan kaki saja. Mata dan pikiran kita bisa lebih santai menikmati suasana. Perjalanan dimulai dengan berbelok pada gang kecil sebelum Neo Hotel Malioboro, melalui jalanan sempit di dalam pemukiman di daerah Sosrowijayan. Sebagian besar pemukiman di sana dijadikan guest house. Cocok untuk backpacker sejati. Lain kali jika datang kembali ke kota ini tanpa embel-embel pekerjaan, rasanya boleh dicoba menginap di salah satu guest house tersebut. Setelah melalui beberapa belokan, kami tiba di kawasan Dagen, tempat Whiz Hotel Malioboro berada. Berjalan lurus keluar dari gapura bertuliskan Kawasan Wisata Dagen ini, kita akan langsung bertemu dengan kawasan Malioboro. Jarak dari hotel ke gapura ini kurang lebih 50 meter saja.

Hotel ini berhadapan langsung dengan pusat kuliner. Persis di depan hotel, ada jejeran penjual makanan mulai mie godog, aneka ayam bakar, garang asem, oseng cabe, bakpia, dan gerobakan 24 jam. Wah, asyik sekali tempatnya.

 

 

Sebagai hotel berbintang dua, kamar tidur di Whiz Hotel Malioboro ini berukuran kecil saja, 14 meter persegi. Dengan ukuran tempat tidur yang relatif besar dibandingkan ukuran kamar, hanya ada sedikit ruang tersisa untuk berjalan-jalan di dalamnya, termasuk ruang untuk sholat. Aman bagi saya yang menginap seorang diri karena kalau kamar terlalu besar agak-agak ngeri, ya. Bagi yang membawa anak-anak, disarankan memilih kamar yang lebih luas agar anak-anak tetap dapat bergerak meskipun di dalam kamar.

Kamar mandi di hotel ini mengingatkan saya pada rumah-rumah di daerah Jawa Tengah yang memisahkan ruangan untuk mandi dan buang hajat. Apabila menginap  bersama teman, bisa memfasilitasi satu orang yang ingin mandi dan satu orang lagi yang ingin ke toilet.

Saya mendapatkan kamar di lantai lima yang pintu kamarnya langsung berhadapan dengan dinding kaca disertai pintu yang mengarah ke teras balkon. Duduk-duduk di sini pada pagi atau sore hari sambil membuka laptop atau membaca buku, bisa jadi pilihan. Kita bisa mencari udara segar di sini. Anggap saja kamar tidur sebatas tempat untuk merebahkan dan membersihkan tubuh.

Melalui Ramadhan di kota yang bukan tempat tinggal sendiri, sedikit membuat canggung. Tentu saja karena alasan perbedaan waktu sholat. Di rumah, saya biasa mengakhirkan sahur dengan mulai makan pukul 04.00 pagi. Tetapi karena di Yogyakarta, adzan Subuh sudah berkumandang pukul 04.15, maka saya memutuskan untuk turun ke ruang bawah pukul 03.30. Suasana ruang makan ramai sekali. Tampaknya sebagian besar pengunjung memang menunaikan ibadah puasa. Menu sahurnya ada pilihan roti beserta aneka selai dan nasi beserta lauk pauk. Sebagai warga negara Indonesia yang belum bisa lepas dari nasi, tentu saja saya memilih nasi dan lauk pauknya. Terdapat aneka lauk pauk berupa balado ikan belanak, cah pak coy, soun goreng, sambal, gudeg Yu Djum lengkap, dan kerupuk. Tak lupa saya mengawali sahur dengan menyantap potongan buah segar terlebih dahulu. Semua makanannya enak, bumbunya pas sekali. Saya juga masih sempat meneguh dua jus mangga yang segar sekali. Dari menu masakan, menurut saya semuanya enak. Nilai plus sekali untuk sebuah hotel berbintang dua.

Berhubung event baru akan dimulai pada keesokan pagi dan saya sudah tiba di Yogyakarta pada sore sebelumnya, berjalan-jalan malam di sekitar Malioboro sangat sayang untuk dilewatkan. Seperti biasa, Malioboro dipenuhi anak-anak muda yang juga saling berebut spot untuk mengambil gambar. Berharap mendapatkan tempat berfoto keren tanpa latar belakang pengunjung, sepertinya mustahil.

Akhirnya, berhasil juga memperoleh spot foto tanpa orang-orang di sekitar. Mungkin karena saya dan teman-teman meninggalkan hotel pagi-pagi sekali. Cukup jalan kaki sebentar menuju tempat ini dan taraaa … berhasil juga saya berfoto ria di sini. Sebenarnya masih ingin melanjutkan acara mengambil gambar, tetapi driver online sudah keburu datang. Saat melirik jam di pergelangan tangan, ternyata memang sudah waktunya berangkat. Ah, Malioboro memang membuat kita enggan pulang.

  

Kalau suatu hari nanti anda berkunjung ke Yogyakarta, boleh banget menjatuhkan pilihan menginap di Whiz Hotel Malioboro. Rate kamarnya relatif murah, cukup Rp 250 ribu saja per malam. Fasilitasnya oke – meskipun tanpa kolam renang, koneksi internet sangat lancar, AC dingin, makanan enak, hidangan pembuka puasa disediakan, dan lokasi sangat strategis. Tapi pastikan menyesuaikan jenis kamar dengan anggota keluarga yang datang, ya. Kapan-kapan ke Yogyakarta lagi dan menginap di sini, kenapa tidak?

 

The Happier Me,

Melina

About

Mom of two kids, living within good books and extraordinary people

No Comments

Leave a Comment

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.