Melina Sekarsari

Menuliskan Masa Lalu, Hari Ini, dan Masa Depan

Ketika Sekolah Menjadi Sahabat Orangtua dan Anak

Di bulan Ramadhan lalu, saya dan teman-teman sesama orangtua murid di Level 2 Sekolah Islam Ibnu Hajar, mengadakan acara buka puasa bersama. Tanpa dinyana tanpa diduga, ditawari untuk mewakili orangtua murid dalam memberikan kesan dan pesan. Hal pertama yang terbayang di benak saya, waktunya berapa lama?

Sebagai orang yang sebenarnya suka bercerita, memberikan kesan dan pesan mengenai guru dan sekolah, akan memerlukan waktu panjang. Guru bagi saya adalah profesi istimewa. Istimewanya di mana?

Saya belajar banyak hal yang dulu nggak tersentuh, dari guru-guru yang luar biasa. Dulu saya pernah menjadi guru, nggak lama, mungkin sekitar empat tahun. Akhirnya ditinggalkan karena bagi saya saat itu jadi guru itu ‘nggak ada uangnya’. Dunia banget, ya?

Meskipun setelah itu, pekerjaan saya membawa saya untuk tetap mentransfer ilmu – kurang lebih sama dengan yang dilakukan guru. Mentransfer ilmu ke tim di dalam perusahaan maupun memberikan presentasi untuk klien. Makanya, saya khawatir nggak punya cukup waktu untuk menyampaikan kesan dan pesan itu. Bakal panjang soalnya, wkwkwk

Tapi, jika itu terjadi, bukankah saya tetap punya ruang dengan menuangkannya ke dalam tulisan? Jangan membuat blog ini eksis tanpa guna. Tsaaah

Dulu waktu anak sulung saya masih di Level 1, ada orangtua lain yang bertanya. Kelihatannya pengen memasukkan anaknya juga ke sekolah yang sama. Tapi nggak tahu juga ding, kalau cuma iseng.

“Guru-guru di sana lulusan apa?”

“Lulusan dari mana?”

“Pengalaman mengajarnya berapa lama?”

Tiga pertanyaan yang nggak bisa saya jawab.

Pertama kali memasuki lingkungan sekolah, mata saya yang memang biasa patroli ini, mengamati guru-guru yang kelihatannya masih muda-muda. Guru kelas sulung di Level 1 yang satu masih muda, satunya lagi muda banget. Lalu gurunya di Level 2 juga begitu. Satunya masih muda, satunya lagi muda banget. Semoga memang benar usia mereka jauh di bawah saya karena kalau sampai terbalik, saya bingung mereka pakai apa kok bisa awet muda begitu? *Ngirih

Ada yang salah nggak sih dengan guru-guru yang masih muda? Dulu, saya pernah punya laoshi yang usianya hanya terpaut satu tahun di atas saya. Tapi dari sisi akademik kami sama-sama di semester tiga. Apa saya percaya belajar sama dia? Sangat. Bahkan waktu itu saya selalu datang lebih awal dan pulang lebih akhir demi menemukan ‘rahasia’ dia begitu pintar.

Seiring berjalannya waktu, saya dipertemukan dengan seorang mentor yang usianya sepuluh tahun di bawah saya. Percayakah saya belajar sama dia? Ya. Beberapa kali saya diskusi dan semuanya berjalan mengasyikkan.

Belum lama ini, saya lagi-lagi dipertemukan dengan mentor lain yang usianya lebih muda juga. Dia bisa menjawab pertanyaan-pertanyaan saya dengan sangat baik meskipun di dalam hati dia bisa saja berpikir, “Duh ini emak-emak cerewetnya minta ampun.”

Guru-guru yang lain sebagian besar memang usianya terpaut jauh di atas saya. Tapi saya mau dapat ilmunya, bukan sekedar berkompetisi siapa yang pengalamannya lebih panjang.

***

Perjalanan putra saya di sekolah tuh nggak mulus. Banyak kerikil yang membuat tersandung-sandung. Saya ingat betul, hari ketika orangtua murid lain memperoleh undangan berdiskusi dengan guru kelas, saya dapat bonus. Diskusi dengan guru kelas, leader, sampai kepala sekolah. Saat itu perasaan sudah gelisah. Something unhappy, nih. Tapi keluar dari ruangan kepala sekolah, saya lega. Putra saya nggak ada masalah? Oh, ada. Serius malah masalahnya.

Kok saya malah senang? Iyalah, artinya guru kelas sudah bekerja dengan baik. Berhasil menemukan titik kelemahan putra saya, mengomunikasikannya dengan leader, leader mengomunikasinnya dengan kepala sekolah, hingga akhirnya tiba pada saya sebagai orangtua. Bagi saya, sekolah telah menempuh langkah tepat dengan melibatkan orangtua. Iyalah, anaknya saja anak saya, masa nggak dilibatkan, ya?

Waktu berjalan dan sejumlah cara ditempuh. Saya berdiskusi dengan konsultan STIFIn yang juga seorang psikolog yang sekali dalam seminggu bertugas di sekolah. Tidak lupa menjaga komunikasi sebaik mungkin dengan sekolah melalui guru kelas. Butuh ekstra waktu karena selama ini sebagian besar waktu saya habis di kantor dan perjalanan. Hasilnya, putra saya terlihat lebih gembira dan bersemangat. Sekolah ini telah melahirkan guru-guru yang bersahabat dengan orangtua dan peserta didiknya.

Tahu nggak, gimana cerianya sulung kalau saya bilang, “Tadi Mama ngobrol sama ibu guru, lho.” atau “Tadi Pak Guru cerita sama mama kalau mas di sekolah begini, begini ….”.

Sederhana tapi dia seperti merasa bangga kalau guru-gurunya di sekolah menganggap dia ada dan dekat dengan orangtuanya.

***

Ketika tawaran mengisi sesi kesan dan pesan itu datang, tiba-tiba saya ingat lagi pada pertanyaan yang lalu itu. Pertanyaan yang saya nggak merasa wajib tahu apalagi protes kok baru lulus sekian tahun yang lalu sudah mengajar di situ. Selama hampir 12 tahun bekerja dan mempunyai tim, saya tahu pasti bahwa latar belakang akademik seseorang nggak menjamin kesuksesannya berkarir di dunia kerja.

Ada softskill yang jauh lebih menjadi prioritas untuk dimiliki, seperti kejujuran, komunikatif, dan bertanggungjawab. Beberapa bulan lalu saya bertemu dengan dosen yang dulu pernah mengajar dan sekarang beliau sudah menjadi dekan, softskill tersebut ternyata menjadi materi yang beliau sampaikan saat momen upacara wisuda.

Suatu ketika, saya pernah membaca quote menarik dari salah satu platform kepenulisan. Bunyinya begini, “Pengalaman yang panjang adalah guru yang baik; tetapi guru yang baik belum tentu punya pengalaman panjang.”

InsyaAllah, guru-guru hebat putra saya, putra kami, telah menjadi contoh nyata dari quote tersebut. Jadi, pernahkah ada pengalaman nggak menyenangkan di sekolah ini? Ada, dong. Hei, sekolah pasti punya ketidaksempurnaan yang seringkali saya tanggapi dengan ketidaksabaran. Tapi, ketika ada prestasi luar biasa di depan mata, pantas nggak sih kita mengungkit debu yang sudah lewat di belakang?

Alih-alih pengalaman yang panjang, kok saya jadi lebih suka menyebut mereka sebagai guru-guru muda dengan pengalaman mendalam, ya?

Final words, terima kasih banyak telah menjadi sahabat putra saya. Sahabat yang suka bercerita dan ceritanya dia ulang di rumah dengan nada bangga.

The Happier Me,

Melina Sekarsari

Leave comment

Your email address will not be published. Required fields are marked with *.

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.