Sekolah Negeri atau Swasta, Orangtua Harus Bagaimana, Sih?

Beberapa waktu ke belakang – sebenarnya sudah lama dan terus berulang, sih, media sosial diramaikan dengan pro-kontra tentang melahirkan normal vs operasi caesar, ASI vs susu formula, working mom vs IRT, dan macam-macam topik lainnya yang mengundang perdebatan. Ada orang-orang yang merasa benar dan keukeuh mempertahankan pendapatnya. Ada orang-orang yang yakin pendapatnya benar tapi ogah berseteru dan lebih memilih kembali ke alam damai dengan kalimat ‘kembali ke masing-masing, sih’. Ada juga orang-orang yang sepertinya belum pintar membaca postingan tapi tiba-tiba mengerahkan segala kekuatan untuk melemparkan argumen. Sepertinya akan menjadi perbincangan ramai juga kalau saya membahas sekolah negeri vs sekolah swasta, nih. Adudududu … Belum kuat mental, deh, diserbu netizen.

Sumber: www.inovasee.com

Saya adalah seorang ibu yang mantap menyekolahkan anak di sekolah swasta – ini di level Sekolah Dasar, ya, kalau sampai Perguruan Tinggi swasta semua semoga Allah luaskan rezeki kami karena hohoho angkanya. Alasan konyolnya karena sekolah negeri banyak PR, saya sibuk, jadi bagaimana dong mau mendampingi anak mengerjakan PR itu? Ini dengan balon-balon udara di kepala saya yang saling berletusan bilang bahwa sekolah negeri itu gurunya tidak mengajar dengan total. Siswa disuruh mencatat, tugas disuruh mengerjakan sendiri, sisanya dibawa pulang untuk dikerjakan di rumah.

Sumber: www.edumor.com

Balon-balon itu tidak salah karena mendengar kata sekolah negeri seperti melemparkan saya ke masa-masa menjadi siswi sekolah dasar dulu. Sewaktu bersekolah di provinsi lain, saya bersekolah dengan aman, nyaman, tenteram, dan bahagia. Keadaan berubah ketika akhirnya pindah mengikuti orangtua di salah satu kota dan di sinilah saya terkejut-kejut. Mulai dari lingkungan sekolah yang banyak sampah, kamar mandi yang kotor dan bau, guru-guru yang mengajar ala kadarnya – menyuruh mencatat, menjelaskan seadanya, sisanya siswa disuruh mengerjakan soal sendiri, kalau tidak selesai dijadikan PR, dan jumlah murid yang membludak. Bayangkan, saya pernah duduk semeja berempat. Mau menulis pun sikut-sikutan. Sedih rasanyaaa …

Alasan itulah yang membuat saya mantap menyekolahkan buah hati ke sekolah swasta. Kalau dibilang biayanya mahal, mmm … saya lebih suka menyebutnya tidak murah, ya. Kerja keras betul deh demi memastikan buah hati memperoleh pendidikan terbaik. Lalu, puaskah saya dengan hasil yang diperoleh?

Suatu ketika, saya ditanya oleh seorang teman. “Kenapa sih sekolahin anak ke tempat mahal?”

Saya menjawab, “Bukan ke tempat mahal, tepatnya. Saya nggak mau aja sekolahin ke negeri.” Saat ditanya lagi alasannya apa, saya bilang, “Biar nggak ada PR.” Saya jelaskan juga jam berapa saya berangkat dan tiba di rumah yang intinya susah deh, mengatur jadwal untuk membantu anak mengerjakan PR.

Ketika itu kami sempat berdebat cukup alot. Bagi dia, alasan saya salah karena seharusnya yang saya lakukan adalah mengatur ulang waktu pulang ke rumah dari kantor, supaya tetap bisa melaksanakan tugas saya mendampingi anak mengerjakan PR, bukan mencari sekolah yang tidak ada PRnya. Ngapain jadi orangtua kalau tidak mau mengurus anak? Begitu kira-kira.

Waktu berjalan dan sampailah saya pada kenyataan bahwa PR tidak mungkin dihindari. Meskipun tidak diberikan setiap hari, saya tetap harus mendampingi anak belajar. Tahu kenapa? Jadi di sekolah buah hati saya, PR dibuat dalam bentuk lembar kerja soal yang diberi nama Study with Parents. Dari judulnya saja, kalau sudah ada amanah dari sekolah bahwa ini lho, tugasnya adalah belajar bersama orangtua. Kalau sampai anak mengerjakan tugas sendirian tanpa didampingi, rasanya saya seperti harus rela melepaskan gelar sebagai orangtua. Bahkan meskipun anak bisa mengerjakan sendiri tanpa bantuan, ada tanggungjawab moral yang harus dipikul.

Saya baru total mendampingi buah hati mengerjakan PR tersebut mulai semester keduanya di Level Dua. Mau tahu rasanya? Bodoh sekali. Iya, semakin sering mendampingi, saya merasa masih menjadi orangtua yang bodoh. Terlihat bodoh di depan anak? Wohohoho, pasti malu. Jangan sampai, ya. Mendampingi anak belajar bukan sekedar membantu mengisi soal. Tapi bagi saya, anak juga harus menerima informasi lain yang akan memperluas wawasannya. Misalnya, apabila diminta bercerita berdasarkan gambar gunung meletus, seharusnya saya bisa menceritakan lebih dari apa yang terjadi saat gunung meletus. Tapi bisa menceritakan gunung-gunung mana saja di Indonesia yang pernah meletus, bagaimana tanda-tandanya, dampaknya seperti apa saat itu, gunung-gunung di Indonesia yang masih aktif dan bisa terjadi erupsi kapan saja, sampai ke ajakan untuk belajar bertindak cepat saat terjadi bencana. Eh, ujung-ujungnya bisa mengajarkan buah hati belajar berempati dan menjadi relawan, kan?

Sumber: www.tribunnews.com

Kalau sudah begitu, jadi ingat perdebatan alot dengan teman yang dulu itu. Jadi setuju sama dia bahwa semestinya orangtua tetap punya waktu khusus mendampingi buah hati belajar. Memberikan apreasiasi ketika dia bisa mengerjakan dengan baik. Mengoreksi jika ada jawaban yang kurang tepat. Mengajari ketika buah hati kesulitan untuk memahami. Bagian terakhir ini adalah yang penting untuk digarisbawahi. Mengajari. Disadari atau tidak, mengajari akan memaksa orantua untuk belajar. Ya dong, mengajari artinya harus memahami dulu. Kalau belum paham, orangtua harus belajar dulu. Sudah paham, baru bisa mengajari buah hati dengan nyaman.

Salah seorang guru saya pernah berkata, “Mengajar adalah cara paling baik untuk belajar.”

Semakin sering mengajar, semakin besar kebutuhan untuk belajar, semakin baik kualitas murid yang diajar. Kalau muridnya anak sendiri, yang paling bahagia kan orangtuanya juga.

Ah, mau menyekolahkan buah hati ke sekolah negeri atau swasta, bukan lagi soal gengsi semata. Setiap orang punya hak menentukan sendiri dengan berbagai latar belakang yang tentunya sudah dipertimbangkan dengan matang. Di manapun sekolahnya, intinya orangtua sama-sama tetap punya tanggungjawab untuk membimbing dan mengajari buah hati. Peran orangtua tidak pernah berubah hanya karena status sekolah putra-putrinya. Alangkah indahnya kalau kita bisa memberikan pengalaman luar biasa kepada mereka, bukan hanya dari cerita-cerita bapak dan ibu guru di sekolah.

Tinggal beberapa hari lagi menuju jadwal masuk sekolah, nih. Yuk, siap-siap menemani buah hati kita belajar lagi.

 

The Happier Me,

Melina Sekarsari

 

About

Mom of two kids, living within good books and extraordinary people

2 Comments

  • Akarui Cha September 22, 2018 at 6:51 pm Reply

    Aihhh terima kasih banyak sharing-nya mba. Walaupun anakku masih agak jauh untuk sampai di usia sekolah, tapi aku dapat semangat untuk terus belajar, dari tulisan mba.

    • melinase September 22, 2018 at 7:50 pm Reply

      Persiapan memang harus jauh-jauh hari, Mbak. Saya punya teman keren banget. Sudah ikut kelas parenting dan baca buku-bukunya padahal belum pernah menikah. Sama-sama belajar sayanya juga. Terima kasih sudah mampir 🙂

Leave a Comment

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.