Seperti Apa Kita? Kenali dan Terima

Sejak remaja saat ingin punya postur tubuh yang tinggi, kecil tapi berisi. Saya tidak pernah suka dengan dengan postur tubuh padat berisi. Entah kenapa. Satu hal lagi, saya alergi punya perut buncit meskipun sedikit. Jadi ketika terlalu banyak makan dan tiba-tiba ada yang berubah di bagian perut, buru-buru saya mengambil langkah seribu untuk segera melakukan sit up.

Apakah saya berhasil mendapatkan postur tubuh tinggi, kecil tapi berisi itu? Tidak, karena saya tidak pernah mengusahakannya.

Tahun berjalan hingga saya mengalami yang namanya hamil kemudian melahirkan. Berat badan rata-rata sebelum hamil berkisar antara 47-48 kg. Di kehamilan pertama, saya diminta oleh Obgyn untuk diet sejak usia kandungan tujuh bulan. Gendutkah saya? Tidak. Bayinya yang berpotensial gendut di dalam perut. Di kehamilan kedua, saya lagi-lagi diminta oleh Obgyn untuk melakukan hal yang sama dengan alasan yang sama. Tunduk patuh pada perintah Obgyn karena saya cemas kalau sampai tidak sanggup melahirkan secara normal gara-gara bayinya terlalu besar. Praktis di dua masa kehamilan, sejak usia kandungan tujuh bulan saya tidak makan nasi. Sayuran dan buah-buahan. Itu saja terus.

Detik-detik menjelang persalinan pertama, saya menyempatkan diri menimbang berat badan. Padahal sambil mulas-mulas. Tapi rasa penasaran tentang before and after mengalahkan rasa penasaran untuk beberapa detik. Berat badan di detik-detik kritis ini 58 kg. Usai melahirkan bayi seberat 3,4 kg saya menimbang badan lagi. Drrrt … tinggal 50 kg.

Detik-detik menjelang persalinan kedua, saya melakukan hal yang sama. Lagi-lagi soal before and after. Berat badan di detik-detik kritis 60 kg. Usai melahirkan bayi seberat 3,8 kg saya menimbang badan lagi. Drrrt … tinggal 50 kg lagi.

Cuti melahirkan selesai dan saya kembali ke kantor. Apa reaksi teman-teman kala itu?

“Nah, itu badan segitu bagus. Jangan terlalu kurus. Segitu aja.”

Sebagai perempuan, senang bukan kepalang kan kalau menerima pujian. Baiklah, saya mau mempertahankan timbangan di 50 kg. Tapi baru sebulan kembali bekerja, berat badan susut kembali ke 47-48 kg. Sebal? Iya. Padahal sejak masih imut-imut saya doyan banget makan. Tapi kenapa kurus terus? Apakah saya cacingan? Eh tapi bukannya kalau cacingan perutnya buncit, ya? Sedangkan saya alergi banget punya perut buncit dan syukurnya tidak mengalami punya perut buncit.

Sampai suatu ketika, saya sakit mengalami sakit di bagian pernapasan. Dokter menyarankan untuk berenang atau senam aerobik saja. Sumpah, ini dokter baik banget. Pengen peluk kecup rasanya kalau beliau bukan laki-laki … hahaha … Memang, hubungan saya dengan obat-obatan tidak pernah harmonis karena saya sering menolak duluan.

Belum bisa berenang, saya memutuskan pergi ke sebuah pusat kebugaran. Begitu masuk, disapa salah seorang Staf Marketing dan saya bingung tapi cuma bicara dalam hati, “Tadi gue mau ngapain ya masuk kesini?”

Disodori formulir, goal apa saja yang ingin dicapai. Ya cuma mau sehat, sih, awalnya. Tapi begitu disodori goal tadi kok jadi ingin menaikkan berat badan sekalian, ya? Ngobrol sana-sini akhirnya saya resmi menjadi member di sana. Bonus tiga kali latihan bersama Personal Trainer (PT) dan otak reptil saya merespon begitu cepat keinginan untuk menaikkan berat badan harus tercapai dalam sekian bulan. Akhirnya, otak reptil saya juga yang mendorong digeseknya kartu debet tanpa berpikir bahwa itu mahal sekali.

Melalui latihan berat, saya bahkan mengomeli sang PT yang saya nilai kejam, asupan makanan dan minuman beserta komposisi gizinya, taraaa … dalam waktu tiga bulan saya berhasil mencapai berat badan 52 kg. Senang, bahagia, bukan kepalang. Badan terasa lebih ringan padahal berat badan naik.

Bersamaan dengan itu, pekerjaan di kantor sedang gila-gilanya. Ujungnya saya jatuh sakit, hanya beberapa hari sejak kena gejala typus dan saat kembali ke pusat kebugaran itu, berat badan saya kembali ke angka 48 kg. Sakit hatiii rasanya. Ingin misuh-misuh tapi sama siapa? Tiga bulan yang melelahkan, uang belasan juta, belum lagi jutaan untuk makanan dan minuman yang disarankan, semuanya lenyaappp. Arrghhhh!!!! Teriak-teriak saja di dalam kalbu, ya.

Bumi masih berevolusi mengelilingi matahari dan bumi pun masih berputar pada porosnya. Begitu juga dengan kehidupan saya yang masih berputar, bertemu dengan kejutan-kejutan yang baru. Sampai tiba masanya otak saya lebih memilik mengurus si kejutan-kejutan itu dibandingkan berat badan. Eh, kalau kurus apa masih disebut berat badan, ya? Ah, embuhlah.

Berkonsentrasi pada perkembangan diri – bukan sekedar perkembangan berat badan, waktu luang yang kadang diluang-luangkan saya pakai untuk membaca. Salah satu buku yang saya baca adalah I Know You karya Miss Hiday yang diterbitkan oleh STIFIn Institute. Soal STIFIn saya sudah kenal sejak tahun 2013 lalu. Tapi memang baru dijalankan setengah, eh atau seperempat, eh atau seperlimanya, ya? Yaaa … Masih sebagian keciiil. Pokoknya tahunya saya berMK Sensing dengan drive extrovert. Tapi ini saya terapkan selama bekerja kemarin. Memaksimalkan apa yang saya punya dan menyerahkan bagian lain kepada yang lebih kompeten. Bukan membatasi diri tapi mengukur kapasitas diri supaya lebih berguna.

Begitu membaca halaman 95 mengenai “Fisiknya Sensing Extrovert (Se)”, bahwa orang Se energi aerobiknya disimpan di otot merah halus, penampilan cenderung kecil. Blaarrr!!! Jadi terbayang-bayang masa-masa workout yang melelahkan, belasan juta yang sudah keluar, dan lainnya tralala itu. Saya seperti tengah memaksakan apa yang saya mau padahal itu bukan untuk saya. Seperti mengejar jodoh yang dianya saja malah ditakdirkan Tuhan untuk berjodoh dengan yang lain.

Kesaaal … Jadi menyesal juga kenapa dulu begitu mudahnya mengeluarkan uang sebegitu banyak tanpa pikir-pikir? Pokoknya cuma mau menaikkan berat badan supaya kalau pakai baju apa aja bagus, dilihatnya enak, ujungnya maunya yang enak-enak, deh. Urusan sehat, jujuuur saat itu sudah workout-nya bukan lagi urusan sehat. Pokoknya goal 53 kg!

Seberapa banyak ya, perbandingan antara perempuan yang ingin menaikkan dan menurunkan berat badan? Penderitaannya mungkin sama. Workout itu menderita, lho. Dibebani berat yang ampun-ampunan. Tapi, benarkah kita membutuhkan itu semua? Untuk siapa? Diri sendiri atau orang lain? Atau malah hanya sekedar memuaskan pendapat orang lain?

Beberapa waktu lalu saya membaca Imperfect karya Meira Anastasia. Ini buku keren banget sampai saya tulis resensinya dan tarraaa … dimuat di Koran Jakarta. Boleh lho kalau mau baca-baca di http://www.koran-jakarta.com/bahagia–tanpa-memusingkan-komentar-orang/. Mengenai penerimaan diri kita.

Jangankan Meira yang notabene adalah istri dari seorang public figure. Saya yang baru terkenal di Facebook saja sudah lonjak-lonjak kegirangan dapat hadiah kalimat, “Berat badan segitu keren, lho. Udah, jangan dikurusin lagi.”

Tapi soal penerimaan diri mestinya semua perempuan juga bisa melakukan hal serupa. Penerimaan diri saya tentang menjadi seorang Se, salah satunya. Memang ya, segala sesuatu itu harus ada ilmunya. Rajin membaca, gali informasi, supaya tidak terserang obsesi tingkat akut seperti saya dulu.

Menyadari bahwa Se ditakdirkan bertubuh kecil, saya sih tidak akan menyerah begitu saja. Workout tetap jalan terus. Matras, dumbell, dan cermin setinggi tubuh tetap jadi teman berkeringat. Saya juga masih menikmati menjadi walker dan runner. Hanya saja, sekarang tujuannya sudah berubah. Mau sehat, mau berkeringat, mau terus produktif.

Soal apa kata orang di luar sana, “Ah, dia nggak tahu kalau saya sudah bahagia.”

 

The Happier Me,

Melina Sekarsari

About

Mom of two kids, living within good books and extraordinary people

14 Comments

  • Dawiah August 9, 2018 at 8:36 pm Reply

    Jadi kita tidak perlu terpengaruh dengan komentar orang kan yah. Yang penting kita bahagia. Yes. Suka dengan postingannya

    • melinase August 10, 2018 at 7:39 am Reply

      Kadang kita sibuk mengubah diri demi memuaskan orang lain. Capek, yaakkk …

  • Jeanette Agatha August 10, 2018 at 8:55 am Reply

    Wahhh, artikel ini cocok banget untuk saya.
    Aku lagi memperbaiki pola hidup. Work out penting banget, ya mbak.
    Terima kasih untuk sharingnya, mbak

    • melinase August 10, 2018 at 11:41 am Reply

      Simple workout Mbak, sayanya. Modal matras dan dumbell aja masing-masing 3 kg. Tapi beneran beda di badan ya, kalau berhasil keringetan. Lupakan timbangan yang nggak kunjung naik hahaha …

  • Dian Cahyadi August 10, 2018 at 11:02 am Reply

    I’m happy being myself and I’m proud. Sepertinya begitu aja lebih simple. Hehehe… piss 😀

    • melinase August 10, 2018 at 11:42 am Reply

      Betuuul … Saya juga happy begini aja, deeh …

  • Eni Rahayu August 10, 2018 at 6:51 pm Reply

    Mbak meelll… Aku pengen kurus.mbak pengen langsing. Hehe… Nikmati aja deh mbak. Tapi saya tetap semangat makan sayur dan buah sih. Pengen ideal. Hiks

    • melinase August 11, 2018 at 2:47 am Reply

      Begitulaaah … melewati 50 kilo aja aku syusyah, Mbaeee … Pokoknya tetap rajin olahrga dan makan makanan bergizilah kita, tetap positive thinking. Hasilnya gimana, wis ben. Pokoke sehaaat hahaha …

  • Bety Kristianto August 10, 2018 at 7:22 pm Reply

    Setuju mba, yang penting hepi, sehat dan bahagia hehe

  • hani August 10, 2018 at 7:43 pm Reply

    Kalau kurus…bukan berat badan ya? Apa dong? Kurus badan…Haha…
    Saya dibanding gadis dan sekarang, udah beda 16 kg uy. Dulu 48 kg, sekarang 64 kg. Pengen turun ke 60 kg gitu…
    Bahkan Ramadan kemarin, enggak bergeming angka di timbangan…Hiks…

    • melinase August 11, 2018 at 2:46 am Reply

      Ringan badan kali ya, Mbak? Hahaha … Sebagian orang ingin menaikkan berat badan, sebagian lainnya ingin sebaliknya. Ah, manusia … banyak maunya memang, ya hahaha …

  • Rina Maruti August 12, 2018 at 3:20 pm Reply

    Wooowww keren niih udah mulai serius ngeblog, mantaapp

    • melinase August 13, 2018 at 8:26 am Reply

      Kadang serius, kadang nggak, kadang slundap-slundup, kadang males, kadang semangat, hahaha …

  • Merasa Berada di Lingkungan Kerja yang Tidak Sesuai? Cek Dulu Yuk Mesin Kecerdasanmu - Melina Sekarsari September 19, 2018 at 5:05 pm Reply

    […] Baca di sini, yuk Seperti Apa Kita? Kenali dan Terima […]

Leave a Comment

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.