Sisi Lain Perjalanan Pendakian

Saat liburan tiba, lokasi mana yang langsung terlintas di benak teman-teman? Kalau saya sih langsung ingin mendaki gunung. Belum ketemu jadwal libur pun kepala sudah tang-ting-tung mencari jadwal yang pas untuk pendakian. Teman-teman yang memang tidak suka atau belum pernah mendaki, sudah pasti akan bertanya, “Apa yang sih yang dicari di gunung? Apa enaknya mendaki gunung? Kenapa tidak ke pantai saja?”

Menjelaskan sesuatu kepada orang yang belum pernah merasakan dan tidak ingin merasakan, pasti beda ya tantangannya. Kalau orang tersebut sudah suka, baru dijelaskan sedikit saja pasti sudah langsung tertarik. Tapi kalau memang dasarnya tidak tertarik, mau dijelaskan panjang lebar pun akan tetap punya pendapat berseberangan bahwa mendaki gunung itu tidak ada istimewanya.

Capek, keringetan, napas ngos-ngosan, bawaan berat, kedinginan, mau buang air tidak ada tempat nyaman, jarang ketemu air alias tidak mandi, menjadi sederet tidak enaknya perjalanan pendakian. Kondisi itu memang benar adanya. Apalagi saya yang lumayan rempong dengan urusan perut dan kulit. Masalah dengan perut adalah mudah lapar jadi stok makanan mesti banyak. Carrier, otomatis bertambah bebannya. Masalah dengan kulit adalah mudah sekali terbakar dan jerawatan kalau terkena debu dan sinar matahari yang menyengat. Dua-duanya bakal ditemui sepanjang pendakian. Makanya, bawaan saya untuk kulit lumayan banyak dan tentunya menambah beban carrier meskipun tidak sampai sekilo juga.

Jalur Terjal Cikuray

Tapi percayalah, semuanya akan terbayar begitu kita merasakan udara sejuk di antara pepohonan tinggi, gemericik air dari sungai (tidak semua gunung ada aliran sungainya, ya), apalagi kalau sudah sampai di puncak dan berdiri di atas awan. Ini istilah saja sebenarnya karena memang sejauh mata memandang, gumpalan awan putih yang berarak tampak sejajar dengan kaki kita. Indaaah sekali. Rasanya tidak mau turun. Ketakjuban memandangi awan itu hendaknya tetap membuat kita sadar, jangan sampai pikiran kosong. Saya pernah merasakan ada bisikan yang jauuuh sekali menyuruh untuk melakukan tindakan bodoh, “Awannya cantik banget. Ayo turun, ayo terjun.” Huaaa … Kalau ingat itu rasanya ngeri-ngeri sedap. Ada hawa mistis menyapa di puncak sana.

Puncak Cikuray 2821 mdpl

Nah, ada juga nih pertanyaan seputar kejadian mistis di gunung. Pernah mengalami atau tidak? Kalau di lokasi pendakian, saya cuma pernah merasakannya di puncak Gunung Cikuray. Ya itu, suara dari jauh yang mengajak saya turun ke awan. Tapi saya cepat sadar dan suara itu hilang, tidak terdengar lagi sama sekali.

Kejadian mistis justru saya rasakan sepulangnya dari pendakian. Pada 25-26 Maret 2016, saya dan tiga orang teman mendaki ke Gunung Papandayan. Selama di sana, perjalanan lancar. Saya merasa cepat lelah tapi sepertinya karena aktivitas sehari sebelumnya dan tidur di dalam bus yang tentunya tidak nyaman. Meskipun lelah, tetap saja ya, tidak sanggup menahan diri dari berpose di pemandangan kawah belerangnya Papandayan.

Kawah Belerang Gunung Papandayan

Saat berangkat kami diguyur hujan deras, jalan sambil terseok-seok di jalanan yang – sumpah licin sekali, beberapa kali terjerembab, basah kuyup karena terlambat membuka jas hujan, mendirikan tenda sambil basah-basahan dan rasanya betul-betul tidak enak. Tapi semuanya teratasi. Seusai makan malam, saya tidur lebih awal karena mengantuk. Maklum, pulang kerja langsung ke Terminal Kampung Rambutan, menunggu bus ke Garut dan bus tersebut baru berangkat pukul 23.00.

Bangun keesokan harinya, kami memasak, sarapan, minum kopi bareng, membersihkan tubuh (di Papandayan tersedia banyak MCK dengan air yang bersih di daerah Pondok Salada). Kami juga masih sempat berayun-ayun di atas hammock sambil berfoto ria.

Pondok Salada

Selanjutnya kami melanjutkan perjalanan menuju ke puncak. Jalanan sangat licin. Hujan yang mengguyur terus-menerus membuat rerumputan tumbuh lebih cepat. Alhasil, kami kehilangan jalan dan harus mengira-ngira sendiri jalan menuju ke puncak. Di sini saya sempat terjerembab. Ini sengaja menjatuhkan diri ke tanah yang kemiringannya nyaris 90 derajat. Lumayan tidak enak sih, berpelukan dengan tanah. Tapi mau bagaimana lagi, daripada saat terpeleset saya terjun ke bawah kan lebih ngeri. Pemandangan dari tempat yang saya terpeleset ke bawah, indah sekali. Ada hutan mati di sana. Keren dan instagrammable deh pokoknya.

Hutan Mati

Begitu mencapai puncak yang dinamakan Tegal Alun, segala lelah selama perjalanan termasuk celana yang sudah berubah warna karena terpeleset, terbayar sudah. Di Papandayan tidak ada negeri di atas awan. Tapi pemandangan yang ini tidak kalah menakjubkan.

Padang Edelweis di Tegal Alun

Padang Edelweis di Tegal Alun

Perjalanan turun juga lancar. Urusan capek, kaki pegal, itu sudah lumrah, ya. Termasuk kami yang nyaris mengalami kecelakaan di jalan tol saat tengah malam, tapi lagi-lagi itu semua akhirnya terlalui dengan baik. Beberapa orang dilarikan ke rumah sakit karena mengalami shock, banyak penumpang bus perempuan yang menangis tersedu-sedu, tapi saya dan satu teman perempuan baik-baik saja, Alhamdulillah.

Pendakian Gunung Papandayan 25-26 Maret 2016

Peristiwa mistis saya alami saat sudah tiba di rumah, kantor, dan perjalanan antara rumah dan kantor begitu, deh. Sehari sejak kembali ke rumah lalu kembali masuk kerja, seperti ada sosok yang menempeli bahu kanan saya. Saya tidak bisa melihatnya tapi saya merasa sosok tak terlihat itu tinggi. Puncak kepala saya cuma setinggi bahunya. Entah tahu dari mana tapi saya yakin dia itu laki-laki. Saya bisa mendengar dia bersuara meskipun dia tidak bersuara.

Dia tidak mengganggu sama sekali. Malah banyak mengingatkan dan membantu. Misalnya saat saya tengah berada di tepi jalan mau menyeberang, dia akan bilang, “Mel, awas ada mobil dari arah sana.”

Di waktu lain saat saya habis berbelanja di sebuah pusat perbelanjaan dia mengingatkan, “Mel, tas kamu terbuka.”

Sewaktu saya di duduk di ruangan kantor, dia bilang, “Mel, kamu belum makan.”

Lebih ajaib lagi sewaktu saya tengah punya sedikit waktu luang dan membuka portofolio saham, dia bilang, “Beli BSDE (saham PT Bumi Serpong Damai). Beli KLBF (saham PT Kalbe Farma).”

Bayangkan! Sosok tak terlihat itu bahkan membisiki saya mesti membeli saham apa. Ajaibnya, semuanya profit tinggi hanya dalam waktu beberapa hari saja.

Suatu ketika, saya pergi menemui klien dengan diantar kendaraan perusahaan. Saya bisa merasakan dia duduk di sisi kanan saya. Tidak terlihat tapi terasa sekali kalau dia tertidur dan kepalanya seperti bersandar di bahu kanan saya. Tidak lama kemudian, suara dengkuran halusnya terdengar. Hiyyy … Itu pertama kalinya saya merasa ngeri dengan kehadiran sosoknya.

Kengerian yang akhirnya membuat saya buka suara. Bercerita pada teman-teman yang waktu itu pergi mendaki bersama. Anehnya, cuma saya yang ‘ketempelan’. Saya ditanya-tanya sama mereka.

“Waktu di sana sempat salah ngomong, nggak?” 

Duh, salah ngomong gimana? Perasaan saya paling kalem malah di antara teman yang lain. Kegiatannya cuma ngunyah hahaha …

“Kamu pipis sembarangan, nggak?”

Yang namanya menumpang buang air di hutan memang banyak-banyak permisi sana-sini. Tapi seingat saya, tidak ada tingkah laku yang sekiranya mengganggu ‘penduduk’ gunung.

“Kamu ngerusak tanaman, nggak? Daun? Batu? Kembaliin kesana lagi kalau ada yang kebawa.”

Nah, tingkah laku macam begini tuh bukan saya banget. Tahu, paham, mengerti, untuk tidak mengambil apapun dari dalam hutan kecuali gambar.

Kesimpulannya, semuanya pertanyaan tersebut jawabannya ‘tidak’. Walaupun mungkin, ini mungkin ya, ada yang merasa terganggu saat saya mau berfoto memeluk pohon edelweis dan jejeritan mengetahui ada banyak sekali laba-laba di dalamnya. Banyak, banyak sekali, dan saya takut laba-laba.

Jpeg

Akhirnya, saya menceritakan ‘si lelaki tak terlihat’ ini kepada teman yang lain. Lengkap. Sarannya begitu singkat, padat, dan jelas tapi membuat saya melongo. Masa iya saya harus bicara pada makhluk yang tidak kelihatan wujudnya? Kan jadi seperti agak-agak sinting gitu, ya. Alasan dia cukup masuk akal, sih. Dia khawatir kalau makhluk tersebut ke depannya akan meminta sesuatu dari saya sebagai imbalan dan tidak bisa saya penuhi. Ya karena beda dunia.

Nah, yang terbayang paling awal adalah bagaimana kalau dia sampai meminta saya jadi istrinya, coba? Jreng, jreng, jreng!

Akhirnya, dengan menarik napas panjang, sambil deg-degan, di suatu siang (saya pilih siang karena kalau malam saya takut), saya mencoba berbicara pada sosok tak terlihat itu.

“Terima kasih ya, sudah temenin aku. Sudah bantuin aku, jagain aku. Tapi aku mau kamu pulang ke rumahmu, ya. Nemenin akunya sampai di sini aja. Udah cukup. Aku baik-baik aja, kok.”

Waktu mengucapkan itu saya berusaha untuk tetap membuka mata. Kalau sambil merem lalu pas melek dia memunculkan wujudnya kan saya bisa jejeritan lalu pingsan, hahaha …

Ajaib, setelah itu saya kembali merasa sendirian. Tidak ada lagi yang mengikuti, membisiki, atau mengingatkan pada sesuatu. Seminggu. Ya, pas seminggu dia menemani hari-hari saya. Kadang sisi kepala saya yang mengatur kesintingan bertanya-tanya, “Dia pulang ke Papandayan naik apa, ya?”

Sulit dipercaya? Iya, namanya juga peristiwa mistis. Saya pun tidak percaya kalau tidak pernah merasakannya.

Kamu yang belum pernah mendaki gunung? Berani mencoba?

 

The Happier Me,

Melina Sekarsari

 

About

Mom of two kids, living within good books and extraordinary people

6 Comments

  • hani August 16, 2018 at 8:38 am Reply

    Waaaaa????…Beneran ada yg ‘nemenin’ di sana? Belum pernah sih naik gunung smp 2800an mdpl. Tambah enggak mau kayaknya. Hiiii…
    Lebih suka ke pantai juga siiih…
    Tapi seru sharing cerita naik gunungnya…

    • melinase August 16, 2018 at 10:18 am Reply

      Pulangnya, Mbak … Hahaha ngeri-ngeri sedaaap. Tapi nggak kapok, sih. Jadi punya bahan buat ngeblog, kaaan? Hihihihi …

  • Retno August 16, 2018 at 9:04 am Reply

    Keren banget experiencenya, fotonya juga bagus banget. Saya juga punya pengalaman mistis begitu waktu turun menuju lokasi air terjun di dekat gunung Lawu yang masih virgin. Ketika melewati hutan walkman yg isinya lagu nasyid berubah suara menjadi serem banget, trus saya lepas earphone yang saya pakai. Saya pikir rusak, tp ketika di bus perjalanan pulang saya hidupkan lagi dan ajaib suaranya udah normal lagi, hehehe..

    • melinase August 16, 2018 at 10:20 am Reply

      Aih … Itu rasanya apa nggak kocar-kacir Mbak, rasa hati dan logika? Langsung cabut earphone dan matiin kali, ya? Hahaha ..

  • Dwi Arumantikawati August 16, 2018 at 8:23 pm Reply

    Whuaa mendaki gunung? Sekarang sih sudah ada anak jadi beda preferensinya. Habis kasian juga klo naik gunung sama anak

    • melinase August 17, 2018 at 9:07 am Reply

      Prefer wisata sama anak ya, Mbak? Itu juga jadi pertimbangan banget. Apalagi semasa masih kerja kemarin. Saya menunggu anak-anak usianya pas aja buat diajak mendaki. Mereka juga tertarik, sih. Cari yang medannya ramah anak, hahaha …

Leave a Comment

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.