Ibu Galak atau Disiplin? Ada Alasan di Baliknya

Sulit Mendisiplinkan Anak? Yuk Intip Tips dari Rumah Saya

Di rumah, saya punya anak lelaki yang teramat manis. Usianya akan genap sembilan tahun, kurang dari tiga bulan ke depan. Sejak usia tujuh tahun lebih, saya sudah bersikap sedikit galak untuk beberapa hal kepadanya. Saya hanya ingin menjadi ibu disiplin untuk membawa anak-anak hidup disiplin juga. Bukan soal dia laki-laki, anak sulung, atau karena sayanya yang dasarnya galak. Saya hanya ingin dia belajar menjadi laki-laki sejati. Itu semua tidak akan terjadi secara instant ketika dia dewasa nanti.

Ibu Galak atau Disiplin? Semua Ada Alasannya

Banyak teman-teman yang bertanya cara saya membuat anak untuk patuh pada aturan. Kalau saya pribadi, selalu berpatokan pada:

  1. Cara Mendidik Anak Ala Rasulullah sesuai usia (Raja, Prajurit, dan Sahabat)
  2. Mendidik Sesuai Mesin Kecerdasan
  3. Cerita dari Masa Lalu

MENDIDIK ANAK ALA RASULULLAH SAW

  • Di Usia 0-6 Tahun, Memperlakukan Anak Seperti Raja

Rasulullah mengajarkan kita untuk memperlakukan anak di usia ini dengan lemah lembut dan penuh kasih sayang. Semasa putra saya seusia ini, saya memenuhi segala keinginannya. Di sisi lain, saat itu saya masih bekerja dengan penghasilan yang bisa membelikannya bermacam mainan dan pergi jalan-jalan.

Ibu Galak atau Disiplin? Selalu Ada Alasan Di Baliknya
Source: www.Pixabay.com
  • Di Usia 7-12 Tahun, Memperlakukan Anak Seperti Tawanan Perang (Prajurit)

Di sinilah saya mulai sedikit keras kepadanya. Melaksanakan sholat lima waktu, meskipun dengan gerakan dan bacaan sholat yang saya tahu belum sempurna. Terkadang terlalu cepat selesai. Saat dia masih kelas satu dan dua dulu, saya masih membiarkan. Tapi sekarang, mata saya lebih awas memerhatikan gerakan sholatnya. Sebelum memulai sholat, dia saya ingatkan, “Bacaan sholatnya jangan cepat-cepat. Mau kemana, sih? Sholatnya buru-buru amat.” Dia akan menganggukkan kepala sambil mengukirkan senyum jahil dan bola mata berputar yang membuat gemas.

Dia juga sudah punya kewajiban merapikan tempat tidur, bantal, guling dan selimut. Memang tidak serapi yang saya harapkan. Memang tidak selalu begitu setiap hari. Tapi begitu pertanyaan saya sudah menggelegar, “Tempat tidur udah dirapiin?” Dia akan segera melompat dari duduk, berjalan cepat menuju kamar.

Atas keinginan sendiri, setiap hari Sabtu dia mencuci sepatu dan sandalnya yang biasa dikenakan ke sekolah. Kegiatan positif yang seringkali berakhir dengan kekacauan. Lantai basah semua sampai ke ruang tamu, lengkap dengan busa sabun yang sering membuat saya nyaris terpeleset lalu mau tidak mau mengomel. Dia akan sigap bergerap mengambil kain lap dan membersihkannya. Butuh waktu tidak sebentar untuk membuat lantai benar-benar kering dan kesat seperti semula. Sesekali dia akan menengokkan kepala ke arah saya yang biasanya berdiri di dekatnya sambil berkacak pinggang layaknya mandor.

Prajurit di rumah kami ini memang belum punya kewajiban lain yang diberikan kepadanya. Dia bisa mencuci piring dan sesekali mencuci sendiri piring bekas makannya. Hal yang sama seperti yang biasa dilakukan di sekolah sejak kelas 1 SD. Tapi sangat mudah meminta bantuan padanya, misalnya memasukkan pakaian yang sudah disetrika ke dalam lemari, mengambilkan sesuatu, mengelap kaca jendela, atau sekedar memintanya memijat saat saya sakit kepala.

Saya juga memintanya untuk menghargai apapun, termasuk makanan dan minuman. Menghabiskan bekal yang dibawakan ke sekolah, termasuk mengeluarkan kotak makanan dan botol minuman ke meja sesampainya di rumah. Mandor di rumah mau memeriksa, ceritanya. Kalau tidak habis, jangan harap saya akan membawakannya snack di hari berikutnya.

Ini juga berlaku dengan tugas dari sekolah. Buat saya, nilai 100 tidak wajib. Agenda wajibnya adalah dia tahu kalau punya tugas dari sekolah, mengerjakan, dan saya biasanya akan menemaninya mengerjakan soal. Sebab di sekolah lembar kegiatannya pun dinamai SWP (Study with Parents). Jadi jangan mengaku parent nih, kalau tidak ikut terlibat.

  • Di Usia (15-21 Tahun), Memperlakukan Anak Seperti Sahabat

Saya belum bisa bercerita karena belum mengalaminya. Mungkin nanti kalau mereka sudah seusia itu, saya akan menuliskan cerita yang baru. Saat itu, usia saya sudah berapa, ya? Dududu … Makin tua hahaha …

MESIN KECERDASAN

Saya membawa konsep STIFIn dalam mendukung kegiatan bekerja saat masih bergabung di sebuah perusahaan dulu. Sekolah putra-putr saya juga menggunakan konsep STIFIn dalam membantu siswa-siswi meraih potensi terbaiknya.

Sebagai anak yang bermesin kecerdasan Sensing dengan drive Introvert, putra saya memang sudah seharusnya menjadi pelaksana tertangguh. Dia juga harus melakukan usaha sebelum memperoleh apa yang dia inginkan (rewards). Begitu pula saat tidak disiplin, dia juga harus menerima hukuman (punishment).

Ibu Galak atau Disiplin? Ada Alasan di Baliknya

Ini adalah punishment karena dia menyemprotkan air garam ke kaca lemari pakaian, akibatnya bayangan kami di dalam cermin, buraaam. Punishment-nya sederhana, memintanya membersihkan kembali. Berani berbuat, berani bertanggungjawab.

Ibu Galak atau Disiplin? Ada Alasan di Baliknya

Jika konsisten dengan punishment, saya juga konsisten dengan reward. Kalau dia menginginkan sesuatu, dia harus melakukan usaha dulu. Disiplin melaksanakan tugasnya, berbuat baik, dan ada syarat lain yang terpenuhi (misalnya: menghapal surat tertentu), reward pasti akan saya berikan. Seperti minggu lalu saat dia ingin sekali dibelikan scarf ini. Dia harus menyetorkan hapalan surat pendeknya tanpa saya minta, tanpa kesalahan, khusus di Juz 30. Lagi-lagi, karena dia anak Sensing.

Pernah tidak, dia coba-coba bandel? Pernah, tapi jarang sekali. Saya bilang juga apa? Putra saya ini anak manis banget. Kadang-kadang saya bicara sama diri sendiri, “Bandel dikit, dong, biar seru!” Tapi sekalinya dia tidak disiplin, sayanya yang cemberut. Kalau sudah begitu, dia akan mendekati saya sambil bertanya tentang banyak hal.

“Mama, wawasan itu artinya apa?”

“Mama, buaya yang paling besar namanya apa?”

“Mama kan pernah cerita ada Pulau Seram. Itu kenapa dikasih nama Pulau Seram?”

“Mama, di Jurassic World 2 kok keponakannya Claire nggak muncul lagi? Mereka kemana?”

“Mama kok tahu harimau Sumatera udah mau punah? Punah itu apa? Langka itu apa? Tinggal berapa ekor disebut langka? Yang ngitungin siapa?”

Kalau sudah begitu, saya biasanya jadi lumer. Entahlah, punya anak yang suka bertanya membuat saya bahagia. Sebagai Sensing Introvert, sudah seharusnya dia menjadi Ensiklopedia berjalan.

Mengenai penerapan konsep STIFIn dalam kehidupan sehari-hari saya, sepertinya saya mau cerita-cerita juga ya nanti.

CERITA DARI MASA LALU

Sebenarnya ini bukan tips. Tapi peristiwa yang pernah alami dan membekas sekali. Jadi boleh ya, saya cerita.

Saya tidak akan melupakan momen itu. Januari 2012. Berdiri dengan tangan bergantung di dalam metromini yang seluruh kursinya sudah diisi penumpang. Rezeki menghampiri, sebuah tangan terulur dengan kulit keriput menepuk perlahan tangan saya. Seorang lelaki tua berwajah bersih, rambutnya sudah memutih, mengarahkan tangannya pada bangku kosong di sisinya. Seseorang yang semula duduk di sana sudah berdiri di tengah pintu, bersiap turun.

“Jangan melamun.” Itu kalimat pertama yang tercetus dari bibirnya begitu saya duduk. Tadinya saya mengira dia berbicara sendiri. Dia mengulang kalimat tersebut. Saat saya menolehkan kepala, matanya mengarah ke tempat lain. Bagaimana saya bisa tahu dia tengah berbicara pada siapa? Saya memilih untuk kembali mengalihkan pandangan ke tempat lain.

Source: shutterstock

“Kalau sedang bingung, jangan melamun. Baca doa-doa.” Kali ini saya menolehkan kepala dengan cepat. Tidak seperti tadi, kali ini pandangannya diarahkan pada saya. Berarti dia berbicara pada saya, kan? Tapi kenapa? Kami tidak kenal. Apa urusannya dia menyuruh-nyuruh saya berdoa? Tidak ingin membuang waktu dengan lelaki tua yang aneh, saya memilih membuang pandangan lagi.

“Sudah, lepaskan aja. Dia bukan buat kamu.” Mendengar ini, kepala saya seketika tegak berdiri. Rasanya ingin menoleh ke sumber suara tapi ada sesuatu yang menahan. “Kalau dipaksakan, hasilnya nggak akan bagus. Lepasin aja.” Saya sama sekali tidak ingin menoleh setelah itu. Bukan karena kalimat lelaki tua itu yang terdengar ngawur, tapi saya menahan diri untuk tidak menangis di hadapan orang yang tidak saya kenal. Dengan jari-jari yang saling meremas, tubuh-tubuh penumpang metromini yang berdiri di depan saya, terlihat memburam.

Lelaki tua itu terus berbicara, dia bertanya, “Punya anak?” yang saya jawab dengan anggukan. Dia bertanya lagi, “Berapa?” saya jawab dua. Dia bertanya lagi, “Laki-laki atau perempuan?” Saya menjawab dua-duanya. Lalu dia tersenyum. Saat itu saya sudah mau berbicara sambil menatap wajahnya. Dia berkata bahwa kedua anak tersebut yang akan menguatkan saya, maka saya pasti bisa kuat. Saya juga masih ingat apa yang lelaki tua itu katakan berikutnya.

Ibu Galak atau Disiplin? Ada Alasan di Baliknya
Source; www.pixabay.com

“Didik anak-anakmu jadi anak yang kuat. Tapi jangan lupa ajak mereka senang-senang juga. Kalau sudah kelas satu, ajari anakmu mencuci pakaiannya sendiri. Satu setel aja. Atasan dan bawahan. Kalau nggak bersih, biarin, jangan dimarahin. Mereka lagi belajar. Biar mereka merasakan, hidup itu kadang susah kadang bahagia.”

Setelah itu saya, hanya berselang beberapa menit saja, metromini sudah tiba di tempat tujuan saya. Saya berpamitan pada lelaki tua itu dan mengucapkan terima kasih. Saat berjalan menuju kantor, pandangan saya terasa bercahaya.

***

Saya bertemu dengan lelaki itu beberapa hari sejak ayah dari anak-anak saya menghubungi dan meminta berpisah. Keterkejutan yang luar biasa, tentunya. Tapi kehadiran lelaki tua itu seperti sengaja dikirimkan kepada saya. Kalimat-kalimat lelaki tua itu, pas sekali dengan apa yang Rasulullah ajarkan. Jadi saya selalu mengingatnya.

Dua hari sebelum sulung genap berusia sembilan tahun nanti, bungsu lebih dulu genap berusia tujuh tahun. Iya, usia mereka hanya terpaut dua tahun kurang dua hari. Orang-orang bilang enak, ngirit, beli kuenya cukup satu. Saya tertawa karena seumur-umur tidak pernah membelikan kue ulang tahun. Sebentar hal yang sama juga akan saya lakukan pada putri kecil. Meskipun di bayangan saya tidak akan semudah kakaknya. Bungsu ini cenderung banyak ngeles, adaaa saja jawabannya.

Ibu Galak atau Disiplin, Ada Alasan di Baliknya

Dan kini, saya tengah menghitung bulan menyambut masa-masa mereka berdua menjadi prajurit di rumah. Sepertinya bakal enak, ya. Bala bantuan mengerjakan pekerjaan rumah tangga sudah bertambah, hahaha … Asyiiik … Sambil buat list siapa yang cuci piring, menyapu, membersihkan kaca jendela, beli-beli ke warung, dan lain-lain.

Saya selalu bilang kepada putra sulung, “Kalau mas udah terbiasa mengerjakan tugas ini, nanti saat mas sekolah di luar negeri, nggak akan kerepotan. Udah biasa mengerjakan semuanya sendiri.” Ini saya ulang-ulang terus. Entah nanti tercapai atau tidak dan bagaimana caranya. Semoga semesta mendukung.

Dari semua tips di atas, tentunya saya sebagai orangtua harus konsisten juga karena anak-anak suka sekali meniru orangtuanya. Ya, kan?

Bagaimana dengan bunda-bunda di rumah?

The Happier Me,

Melina Sekarsari
Facebook Comments

Posted by melinase

Mom of two kids, living within good books and extraordinary people

16 thoughts on “Sulit Mendisiplinkan Anak? Yuk Intip Tips dari Rumah Saya”

  1. Mbak, semoga kuat selalu yaaa bersama anakΒ².
    Semoga anakΒ² jadi anak sholeh dan sholehah serta menjaga Mamanya…
    Dulu saya gimana ya? Galak juga sih…Hehe…

  2. Wah salut buat mba…Bukan galak kali yaa…hihi kyk saya soale. Ini lebih menitikberatkan pd kedisplinan trutama untuk hal yg kecil sperti mengatur tempat tidur. Ada kok saatnya nnti anak-anak sdh bisa kita mintai tolong untuk beli sesuatu di toko sebelah, untuk lbh khusu sholat dan mengajinya. Oya semangat ya mba…thx atas tips2nya yg bermanfaat…salam

  3. So inspiring. Mama yg hebat insha allah anak2nya jg hebat, soleh n solehah. Aamiin. Mas n ade uda gede2 bgt. Dulu kenal msh kicik2. Hehehe 😍😍😍

    1. MasyaAllah … Setiap hidup pasti punya ceritanya masing-masing, yaaa. Udah gede, ekstra tenaga buat menjawab pertanyaan kalau sekarang sih. Aamiin Ya Robbal Aalamiin. Doa yang sama buat abang dan adek di rumah, yaaaa.

    1. Wkwkwkw … Mbak Enni bisa ajaaa. Ada juga dia bilang begini, “Waspada, banyak blogger kece di sekitarmu. Jangan dibiarin. Pepet. Minta ilmunya.”

      Aamiin Ya Robbal Aalamiin. InsyaAllah, Mbakkuuu …

    1. Wah, asyik itu ya. Semua hal dipercayakan aja sama ibunya, biar nggak memerlukan tempat curhat lain di luar sana. Pasti kalau jalan kayak kakak adik, nih …hihihi …

  4. Wah, sangat bermanfaat sekali sharingnya. Saya juga punya anak laki2. Katanya memang mendisiplinkan anak lelaki lebih sulit dari anak perempuan ya. Tapi karena sudah diberi amanah anak laki2, berarti Tuhan sudah percaya kalo saya sanggup 😁😁 Semoga nantinya sy juga bisa. Skrg sih baru kasih perintah sederhana spti membuang sampah di tempatnya.

    1. Katanya sih begitu, Mbak. Tapi doktrin terus-terusan sih bahwa dia pasti bisa. Sekarang malah adiknya nih yang kebanyakan beralasan. Semangat kita. Pasti bisa! Demi mereka di masa depan juga, kan?

  5. MashaAllah anak sy memang masih 2 tau tapi tulisan ini sungguh inspiratif. Sementara anak sy masih sy biasakan beresin mainannya sendiri. Kadang dia juga mau bantu nyapu atau pel. Dan makin kotor hehe.Aku tau dia gak bermaksud mengganggu. Tapi membiasakan hal baik, disiplin diri sungguh sangat perlu.

    1. Dua tahun sih masih jadi raja ya, Mbak. Nanti aja pas udah tujuh tahun. Aku juga bertahap kok, Mbak. Pas juga di sekolah setiap selesai makan siang, anak-anak mencuci piringnya sendiri. Ayo, kita tanamkan kebiasaan baik buat mereka.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.