Review Novel Di Simpang Jalan Dody & Rhea

Review Novel; Di Simpang Jalan Dody & Rhe by Titi Sanaria

Mendengarkan kata perjodohan memang terdengar tidak menyenangkan. Seperti memerlukan upaya khusus supaya bisa dipertemukan dengan jodoh kita. Jadi kata kuncinya di sini adalah jodoh. Lebih terdengar tidak menyenangkan lagi kalau awalan dan akhiran dari kata jodoh itu sendiri diubah, menjadi dijodohkan. Wah, rasanya sudah seperti barang yang sudah dilabeli ‘sale’ tapi tidak kunjung ada yang melirik. Kok miris sekali, ya. Seolah-olah manusia-manusia yang dijodohkan itu sama sekali tidak menarik secara fisik, orang yang kepribadiannya tidak menyenangkan, atau mungkin dianggap tidak kompeten dalam menemukan jodohnya sendiri, makanya harus dijodohin.

Barangkali akan menjadi berbeda kalau ‘dijodohin’ ini diganti ke ‘dikenalin’. Ya, kan? Terdengar lebih fleksibel, tidak memaksa, dan bukannya tidak laku tapi hanya belum bertemu.

Menjalin hubungan dengan laki-laki yang dicintainya selama bertahun-tahun nyatanya Rhe gagal membawa hubungan mereka ke jenjang pernikahan. Ray, kekasihnya, memutuskan kisah cinta mereka dengan alasan dijodohkan oleh perempuan pilihan keluarganya. Sebuah cerita yang membuat Rhe sakit hati dan menyesal mencintai Ray, lelaki yang tidak bisa memperjuangkan cinta mereka di hadapan keluarga.

Review Novel Di Simpang Jalan Dody dan Rhe
Source: Shutterstock

Berstatus sebagai putri tunggal, orangtua Rhe tidak mau tinggal diam. Ibu, ingin sekali menjodohkan Rhe dengan putra sahabatnya, Dody. Rhe mati-matian menolak. Ibu membujuk bahwa itu bukan perjodohan, hanya perkenalan. Tapi Rhe tahu bahwa ibunya berharap banyak. Sejak awal, Rhe menunjukkan sikap tidak suka kepada Dody. Padahal, Dody berpenampilan cukup menarik dan berperilaku sopan.

Ketika akhirnya, mereka harus menikah, Rhe tidak tahu caranya berbahagia seperti kedua orangtuanya, mertuanya, dan tamu-tamu undangan. Pacar memutuskan hubungan karena dijodohkan, dan sekarang dia menikah karena dijodohkan juga.

Rhe seharusnya beruntung bersuamikan Dody, seorang pebisnis di bidang IT yang sudah menyiapkan rumah besar untuk mereka, berpembawaan tenang, suka memasak, dan siap mengantar jemput Rhe untuk berangkat dan pulang bekerja.

Kehidupan pernikahan mereka mulai terusik ketika perempuan dari masa lalu Dody hadir lagi. Perempuan yang diakui Dody sebagai sahabat tetapi Rhe yakin perasaan Dody lebih dari itu. Rhe mengetahuinya saat di awal pernikahan melihat foto-foto Nana, sahabat Dody, berjejer rapi di kamar tidur di rumah orangtua Dody. Titi Sanaria sebagai penulis novel ini, mencoba mengangkat bahwa intuisi seorang istri seringkali tepat.

Review Novel Di Simpang Jalan Dody dan Rhe
Source: www.Pixabay.com

Prahara dalam kehidupan rumah tangga Rhe dan Dody semakin bergejolak ketika Nana semakin berani menghubungi Dody untuk hal-hal tidak penting hingga kemudian menemui Rhe dan memintanya menyerahkan Dody kembali. Sikap Dody yang membela Nana dan berbohong pada Rhe membuat Rhe pergi dari rumah.

Rhe yang awalnya tidak mempunyai perasaan apa-apa pada Dody menyalahkan dirinya sendiri yang begitu mudahnya menitipkan perasaan pada Dody. Perempuan seringkali mudah jatuh cinta, meskipun hanya diawali dengan rasa nyaman. Seperti Dody yang rajin menyiapkan masakan dan minuman coklat favorit untuk Rhe.

Review Novel Di Simpang Jalan Dody dan Rhe
Source: Shutterstock

Membaca novel ini, sedikit banyak mengingatkan pada novel roman sejenis yang mengangkat isu perjodohan. Meskipun jaman sudah bergeser, nyatanya masih saja pemikiran bahwa perempuan sebisa mungkin sudah menikah sebelum berusia 30 tahun. Di dalam novel ini, Titi Sanaria lihai menampilkan sosok Dody yang begitu tenang. Tipe laki-laki yang rasa-rasanya akan begitu mudah dijatuhcintai oleh perempuan manapun. Faktanya, perempuan memang suka dengan perhatian dan rasa nyaman.

Titi Sanaria juga sempurna menceritakan pembawaan tenang Dody. Tidak banyak bicara, sehingga dia pun tidak merasa perlu menceritakan tentang Nana ataupun mengungkapkan perasaannya sendiri. Bagi perempuan, ini adalah bentuk ketidakpedulian. Gemas rasanya membayangkan pembawaan Dody ini.

Sayangnya, Titi Sanaria tidak memberikan kesempatan kepada pembaca untuk membayangkan wajah dan fisik tokoh-tokoh di dalamnya, selain Dody yang bertubuh tinggi dan Rhe yang bertungkai indah. Tetapi, “Di Simpang Jalan Dody & Rhe” ini bisa menjadi alternatif bacaan santai di sela-sela padatnya aktivitas.

Novel ini cocok untuk ditujukan untuk pembaca dewasa, usia yang sudah siap untuk menikah tentunya. Ada pesan menarik tentang hubungan suami istri di dalamnya, bahwa konflik seringkali terjadi bukan dari pihak luar atau orang ketiga, melainkan dari perasaan yang tak diungkapkan. Bahkan dari sebuah novel fiksi pun, ada pelajaran penting yang bisa kita ambil.

The Happier Me,

Melina Sekarsari

 

Facebook Comments

Posted by melinase

Mom of two kids, living within good books and extraordinary people

One thought on “Review Novel; Di Simpang Jalan Dody & Rhe by Titi Sanaria”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.