Naik Transportasi Umum? Jangan Lewatkan Kesempatan Punya Teman Baru

Baru kemarin ada yang mengisi kolom komentar di blog saya mengenai kesamaan lebih suka menggunakan ransel dibandingkan tas perempuan. Toss, yuk! Kalau saya pribadi, pilihan menggunakan ransel ini karena fungsinya yang lebih optimal untuk diisi banyak barang. Saya terbiasa membawa botol berisi air minum, makanan, ponsel, charger, powerbank, agenda, pulpen, dan buku. Belum termasuk bawaan lipstik dan abrakadabranya perempuan. Mungkin akan tetap muat dimasukkan ke dalam tote bag, tetapi bawaan berat akan lebih baik kalau dikenakan di punggung. Apalagi buku yang saya bawa seringkali lebih dari satu atau satu tetapi cukup tebal.

Buku dan kenalan baru, ini adalah dua hal berharga di dalam perjalanan. Saya selalu membawa setidaknya dua buku untuk dibaca. Teman perjalanan sejati sekaligus senjata ampuh membunuh mati gaya. Apalagi kalau batere ponsel mendekati masa krisis. Lebih dari itu, saya punya masalah dengan layar. Jadi karena sehari-hari sudah menatap layar baik laptop maupun ponsel, saya seringkali merasa limbung. Ini terutama terjadi kalau terlalu lama berinteraksi dengan layar ponsel. Mau tahu rasanya? Pernah naik kendaraan yang meluncur di jalanan menurun lalu jantung terasa turun ke perut? Nah, itulah yang saya rasakan kalau mata mulai lelah dengan layar ponsel. Makanya kalau tidak dalam kondisi penting, lebih baik saya gunakan waktu dengan yang lain saja, deh.

Tanpa buku, punya kenalan baru juga seru. Salah satu hal menyenangkan dari perjalanan menggunakan transportasi umum adalah punya kenalan baru. Mungkin tidak di setiap perjalanan bisa saya temui.

www.Pixabay.com

Di angkutan kota, teman perjalanan mudah sekali didapat. Ajak ngobrol saja orang di kiri, kanan, atau depan kita. Tapi yang namanya angkutan kota, obrolan mungkin tidak berlangsung lama. Selain rutenya yang tidak panjang, setiap penumpang bisa berhenti sewaktu-waktu sesuai kebutuhan mereka. Alih-alih ngobrol di angkutan kota, saya malah lebih sering menegur penumpang yang membuang sampah di kolong kursi. Duh … Ini jadi percakapan searah sebenarnya karena yang diajak bicara biasanya tidak berkomentar apa-apa malah pasang wajah jutek.

Di pesawat, saya harus angkat tangan karena belum pernah dapat teman ngobrol di dalam kabin. Makanya kalau baca Critical Eleven, agak-agak iri sama Anya yang bisa kenalan sama Ale yang ganteng dan baik hati. Mungkin besok-besok saya perlu reservasi di kelas bisnis supaya bisa mengalami hal yang sama. Yang sering terjadi di dalam pesawat adalah penumpang di kanan kiri yang sudah tertidur sesaat setelah pramugari melakukan demo keselamatan. Mungkin banyak yang mengira itu dongeng pengantar tidur. Atau mereka yang mulai memejamkan mata ketika pesawat mulai take off, mengalihkan rasa takut, lalu kemudian lanjut tidur betulan. Rasa-rasanya untuk saat ini saya harus puas dengan ngobrol di ruang tunggu saja.

Source: www.Pixabay.com

Kereta api, apalagi jarak jauh, menjadi tempat yang enak sekali buat mendapatkan teman baru. Sedekat-dekatnya tujuan, paling tidak mereka baru akan turun setelah tiga jam perjalanan. Ini dengan catatan teman barunya pun nyaman ngobrol dengan saya. Jadi berpikir, yang kemarin-kemarin saya ajak ngobrol nyaman nggak, ya? Hahaha …

Source: www.Pixabay.com

Dulu semasa masih tinggal di Tangerang dan kalau ke Jakarta harus menggunakan bus kota, ini jadi tempat saya punya banyak teman baru. Sekedar teman, tanpa pernah bertukar nomor ponsel karena ya iyalah dulu saya tidak punya benda canggih itu. Bahas-bahas soal bus kota, ada satu teman yang saya belum lupa dan mungkin tidak akan pernah lupa.

Saya masih ingat betul, suatu siang yang panas di Bus Mayasari Bakti No.74 jurusan Terminal Cimone (Tangerang) – Kp. Rambutan. Saat itu saya mau mendaftar ke salah satu perguruan tinggi swasta di Bogor. Nantinya akan turun di UKI, lalu lanjut dengan bus lain menuju ke Bogor. Kalau mau tahu alasannya memilih kampus swasta karena jawabannya 100% benar bahwa saya gagal diterima di kampus negeri. Ceritanya kapan-kapan saja karena ada cerita lain yang mau duluan saya ceritakan.

Source: www.Pixabay.com

Laki-laki yang kemudian duduk di sebelah saya itu, naik dari Perumnas. Ini kira-kira beberapa blok setelah Terminal Cimone, tempat saya pertama kali naik sambil duduk sabar menanti bus berangkat. Itu adalah masa-masa ketika saya duduk lama, di sebelah teman baru, tapi bukan saya yang duluan mengajak ngobrol. Pertama kalinya juga saya berada di dalam kondisi itu tapi pembicaraan yang terjadi bukan dua arah. Hanya satu arah karena saya cuma bisa mengangguk, menggeleng, atau berkata ‘o’ tetapi dalam hati. Alasannya jelas, penumpang di samping saya itu sibuk mengoceh tanpa memberikan saya kesempatan untuk bercerita juga. Manusia gagal, dalam hati saya. Iya, dia sibuk menceritakan kegagalan dia dalam kuliah dan menceritakan keberhasilan teman-temannya.

Dia cuma menanyakan dua hal, “Boleh nggak gue duduk di sini?” sewaktu pertama kali naik dan “Lo mau kemana?” sesaat setelah dia duduk di samping saya.

Bus kemudian berhenti di antrian lampu yang menyala merah.

“Lo turun di mana?” tanyanya saat itu.

“UKI,” jawab saya pendek.

“Gue turun di depan, tuh, di Pancoran.”

Saya sebenarnya tidak terlalu peduli dia mau turun di mana karena toh duduk sebelahan juga cuma dia yang sibuk mengoceh. Tapi saya jadi agak-agak melow sewaktu dia mengatakan sesuatu.

“Duh, gue ketemu adik kecil tapi nggak punya oleh-oleh apa-apa.” Dia berkata begitu sambil merogoh-rogoh saku jaket dan celananya. Saya bilang tidak masalah sambil berpikir kok ya anak lulus SMA dia sebut anak kecil. Jadi membayangkan kalau tiba-tiba dia malah mengeluarkan permen dari saku jaketnya.

“Begini aja, deh. Gue lagi nggak bawa apa-apa. Tapi lo gue kasih pesan aja deh, ya. Nanti saat lo udah mulai kuliah, serius belajar. Jangan karena di semester awal jadi santai-santai. Nggak begitu. Justru semakin banyak semesternya, mata kuliahnya makin kompleks. Kalau lo nggak serius kuliah sejak awal, lo bakal susah ngejarnya. Kayak gue ini. Teman-teman gue udah pada kerja, guenya malah seminar aja belum. Gue udah cerita kan ya tadi?”

Saya cuma bisa mengangguk-angguk saat itu. Seperti mimpi. Dapat wasiat nasihat dari orang tak dikenal di tengah hari bolong. Dia turun, saya melanjutkan perjalanan, dan semua selesai.

Tapi ternyata saya salah. Dia mengikuti saya sampai tibanya masa-masa perkuliahan. Kuliah di program studi Sastra Inggris sama sekali bukan impian. Saya suka bahasa asing tapi saya tidak suka sastra dan sejarah. Di sini, saya menemuinya dan sering. Malas rasanya mengikuti perkuliahan. Setiap kali saya malas, orang yang saya temui di bus itu datang. Dia tidak datang dengan tiba-tiba muncul di depan mata, tentunya. Wah, kalau itu terjadi bisa-bisa saya langsung menyodorkan tiga permintaan. Ops, dia bukan jin. Jadi belok fokus kan, nih?

Source: www.Pixabay.com

Dia datang lewat wasiat nasihat yang terus terngiang telinga. Bukan sekali dua kali, tetapi setiap saat saya merasa malas. Pertama kali mendengar suara itu, saya sedikit takut, khawatir ada hantu. Tapi lama-lama saya terbiasa juga. Hasilnya apa? Saya jadi rajin belajar dan nilai-nilai saya bagus. Kalau saat itu teman-teman kuliah banyak yang bilang saya pintar, itu karena mereka tidak tahu ada suara-suara yang terdengar berisik ketika saya malas belajar. Mereka juga tidak tahu kan betapa takutnya saya mendengar suara-suara yang tidak lazim. Kalau saat itu saya ceritakan, belum tentu ada yang percaya.

Ketika kemudian berhasil menyelesaikan kuliah S1 dengan IPK di atas 3.5, rasanya saya harus berterima kasih pada si pemberi wasiat nasihat itu.

www.Pixabay.com

Cerita ini dulu sering saya ceritakan lagi ke teman-teman. Suatu ketika ada teman yang berkomentar bahwa mungkin saja apa yang diceritakan orang itu adalah bagian dari mengobati kesedihannya yang merasa gagal. Dia tengah mengobati diri sendiri tapi tanpa disadari dia juga telah menyediakan obat pencegah kegagalan orang lain agar tidak seperti dia. Orang itu adalah saya. Kebaikan yang dia sebarkan tanpa disengaja.

Saya tidak tahu apakah ada hubungannya atau tidak. Tapi jadi berpikir, apakah saya pernah juga melakukan kebaikan seperti yang dia lakukan pada saya? Duh, tapi siapalah saya ini yang masih merayap-rayap dan terus berusaha belajar dari orang-orang di sekitar. Mimpi banget!

Ketika kemudian mau melakukan perjalanan dan kembali memilih transportasi umum, saya selalu berpikir bahwa akan ada orang-orang istimewa lagi yang akan saya temui. Teman-teman yang tidak pernah saya tahu identitasnya. Iya, seperti orang itu karena sampai sekarang saya tidak ingat wajahnya, tidak tahu namanya, hanya ingat kalau saat itu dia mengaku sebagai mahasiswa jurusan Ilmu Komunikasi Universitas Padjajaran. Kalau ada yang kenal, titip terima kasih, ya … 🙂

Jadi tahu kan, teman baru di transportasi umum betulan ada, bukan hanya teman jelmaan copet. Yuk, menikmati asyiknya ngobrol dengan teman baru di transportasi umum.

 

The Happier Me,

Melina Sekarsari

 

 

 

 

Facebook Comments

Posted by melinase

Mom of two kids, living within good books and extraordinary people

17 thoughts on “Naik Transportasi Umum? Jangan Lewatkan Kesempatan Punya Teman Baru”

  1. Kalau naik kereta jarak jauh saya suka cari kenalan.Apalagi sekarang setelah jadi emak-emak, karena bisa sekalian minta tolong saat butuh bantuan. tapi lain dulu lain sekarang. Kalau dulu terus terang saya malas. Sibuk dengan dunia saya sendiri. Hehe..

    1. Hahaha, ini beneran orang. Kelihatan, kok. Cuma entah bagaimana orang yang aku abaikan tapi wasiatnya itu malah terngiang terus. Kalau begitu kasih kode buat disapa. Menjatuhkan sesuatu misalnya hehehe …

  2. Asik juga yah mba, kalau selalu bisa nambah teman baru. Dulu waktu naik kereta Bandung – Jakarta pernah sebangku sama penulis buku Kebudayaan gitu, trus dia ngasih satu buku karya dia, tapi sayang dulu mah blm tertarik sama dunia kepenulisan jadi cuek aja, hiks

    1. Aku mah seringnya jadi teman perjalanan aja. Benar-benar menyenangkan. Bisa ngobrol seru. Daripada fokus sama gadget doang, ya? Wah! Itu sama kayak aku. Pernah ketemu blogger kece tapi saat itu nggak mudeng blogger apaan.

  3. Aku tiap naik transportasi umum yang jauh pasti dapet temen baru, alhamdulilah. LUmayan juga buat jadi teman ngbrol selama perjalanan dan ada yang sampai saat ini jadi berteman. Jadi kangen kapan ya terakhir naik angkutan umum, hiks * balada emak dengan bayi dan balita

  4. Aku pernah ngalamin waktu SMA pas perjalanan darat dari Padang-Jakarta. Punya teman baru di tansportasi umum. Dan cara perkalian dengan jari yang abang itu ajarkan sampai sekarang kepake banget.

  5. Setujuuuuu, saya tipe anak angkoters sejati wkwk, bukan apa2 karena udah eneg sama ibukota yg macetnya luar biasa dengan kendaraan pribadi. Jadi naik angkot buat saya, minimal ikut untuk tak menyumbang kemacetan hehe. Keren mba sharing, jadi inget2 masa perjuangan naik angkot wkwk

  6. Setuju, aku banyak nambah kenalan ketika menggunakan transportasi umum. Alhamdulillah ada yang sampai sekarang dekat, malah udah kaya saudara aja. Pengalaman seru yang ga semua orang dapat.

  7. Wah mbak, aku suka naik angkutan umum sebenernya. Tapi karena di Surabaya bemo makin sepi, maka ngetemnya lamaaaa. Pernah aku juga naik kereta api saat kerja di Bojonegoro, ada orang nasehatin macem2. Dan sampe keinget sampe rumah. Sy yakin Allah punya banyak cara kasih kita rejeki, melalui orang lain. Salah satunya rejeki diberi “wejangan” ato nasehat baik. Ah jadi kangen naik kereta dan bemo. Lalu ketemu orang2 baru dengan berbagai ceritanya.

    1. Di Bogor jumlah angkot banyak banget. Kalau ngetem kelamaan bakal pada turun penumpang. Iya Mbak, berpikir begitu juga. Nasehat itu kan rezeki, ya. Allah bisa saja berikan lewat siapapun orang di sekitar kita.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.