Workshop Mesin Kecerdasan

Mengenali Diri Sendiri dan Buah Hati Lewat Workshop “Mengenal Mesin Kecerdasan”

“Anakku bandelnya minta ampun. Lari sana lari sini, loncat sana loncat sini. Pusiiing aku lihatnya.”

“Anakku malah lebay banget. Diomongin tegas dikit aja, mewek. Huff, gimana nanti kalau udah gede?”

“Pasanganku itu orangnya cuek banget. Dia masih cinta nggak sih sama aku?”

“Si A itu orangnya sombong banget. Udah aku tegur, datar-datar aja tuh, wajahnya. Besok-besok aku nggak mau negur lagi. Berasa punya dunia sendiri. Autis, ih.”

Memahami Anak
Source: www.Pixabay.com

Kalau mendengar kalimat-kalimat di atas, jadi ingin tersenyum dan berujar, “Maha benar kita dengan segala komentar yang ada.”

Sebal Vs Tidak Paham

Ketika kumpul bareng sahabat dan sudah tentu di dalamnya ada sesi curhat – apalagi buat kaum perempuan, ya – yang namanya curhat mengenai pasangan, anak, orangtua, sampai mertua, nyaris tidak pernah basi untuk dibahas. Bagi yang nyinyir, mungkin mudah saja melemparkan tuduhan bahwa acara kumpul-kumpul seperti itu cuma diisi orang-orang yang suka bergosip dan menyebarkan keburukan orang terdekatnya. Padahal kita tidak pernah tahu ketidaknyamanan yang dirasakan makanya sampai harus curhat ke para sahabat.

Tapi tunggu dulu, ketidaknyamanan itu timbul karena orang-orang sekitar yang memang menyebalkan atau kita yang tidak benar-benar mengenal mereka? Makanya orang-orang sekitar dirasa selalu membuat masalah dan tidak pengertian. Mereka yang tidak pengertian kepada kita atau kita yang tidak pengertian pada mereka? Sejauh apa mereka mengerti kita dan sebaliknya? Kalau mengerti, artinya memahami dengan baik kan, ya? Bukan hanya apa yang tampak secara fisik oleh mata.

Salah satu tokoh agama terkemuka, KH. Abdullah Gymnastiar atau yang lebih dikenal dengan Aa Gym, pernah menyampaikan bahwa perubahan baik dimulai dengan 3M:

1. Memulai dari diri sendiri

2. Memulai dari yang terkecil

3. Memulai dari sekarang

Sebelum kita mau dipahami orang lain, sepertinya perlu bertanya pada diri sendiri dulu, sudahkah kita memahami orang lain? Lebih adil lagi kalau peluru pertanyaan tersebut kita dilemparkan ke diri sendiri, “Sudah memahami diri sendiri, belum?”

Ini pertanyaan yang seringkali membuat skakmat. Sssttt, saya juga korban skak mat itu. Tapi itu dulu, sebelum mengenal STIFIn. Hidup berasa tidak produktif. Makanya, ketika kemudian menemukan sekolah untuk putra-putri di rumah yang menggunakan konsep STIFIn ini, boleh dong saya loncat-loncat di atas kasur karena senang.

Baca juga Ketika Sekolah Menjadi Sahabat Orangtua dan Anak

Siap menjadi Orangtua = Siap Belajar Sampai Kapanpun

Peran orangtua di dalam keluarga bukan hanya sebatas ibu sebagai perempuan yang melahirkan serta membesarkan anak-anak dan ayah sebagai pencari nafkah bagi keluarga. Ada peran dari sisi pendidikan di dalamnya. Ibu sebagai sekolah pertama putra-putrinya dan ayah sebagai kepala sekolahnya. Semua ini tidak pernah dipelajari semasa sekolah. Coba yuk diingat-ingat lagi atau kalau kurang yakin, dibuka lagi yuk buku rapornya.

Kalau saya – si Sensing yang bisa mengingat masa lalu dengan sangat baik ini – yakin betul bahwa pelajaran menjadi orangtua tidak pernah diterima semasa sekolah maupun kuliah. Jadi, saya beruntung ketika Sekolah Islam Ibnu Hajar – tempat putra-putri saya menimba ilmu, secara berkala mengadakan parenting class yang berbasis konsep STIFIn. Luar biasanya sekolah mengajak kami para orangtua untuk terus belajar juga sehingga kelas ini diberi label “Program Wajib Kelas Orangtua”.

5 Mesin Kecerdasan
5 Mesin Kecerdasan

Bagi saya pribadi, label “wajib” di sini hanya berlaku bagi para orangtua yang siap belajar dan mau terus belajar menjadi orangtua sebagai langkah awal kolaborasi antara orangtua dan sekolah untuk menciptakan generasi yang sukses mulia. Urusan anak, jangan sepenuhnya diserahkan ke sekolah ya, Moms. Kolaborasi, tentu lebih optimal.

Baca juga Sekolah Negeri atau Swasta, Orangtua Harus Bagaimana, Sih?

Jadi, bagaimana sih parenting class berbasis STIFIn ala Sekolah Islam Ibnu Hajar ini?

 

Workshop “Mengenal Mesin Kecerdasan” bersama STIFIn Institute dan Sekolah Islam Ibnu Hajar

Workshop serupa merupakan program berkala yang dijadikan kelas wajib bagi orangtua murid siswa-siswi Sekolah Islam Ibnu Hajar dengan menggunakan konsep STIFIn. Kegiatan ini diisi oleh Hidayati Nurrokhmah, seorang konsultan STIFIn sekaligus menjabat sebagai Direktur di STIFIn Institute. Belum pernah mendengar nama itu? Mungkin Moms sama seperti saya, yang lebih mengenal Miss Hiday – singspirer, dibandingkan nama asli beliau. Cantik, bersuara merdu, dengan petikan gitar yang mengalun.

Workshop Mengenal Mesin Kecerdasan
Workshop Mengenal Mesin Kecerdasan

Workshop “Mengenal Mesin Kecerdasan” ini baru saja diselenggarakan kemarin, Minggu, 16 September 2018 bertempat di Sekolah Islam Ibnu Hajar. Menjadi workshop pertama di tahun akademik 2018/2019. InsyaAllah, program ini akan berlanjut ke level berikutnya.

Workshop ini dihadiri oleh kurang lebih 200 peserta dari orangtua murid level 1. Tidak diwajibkan di semua level karena orangtua murid dari level yang lebih tinggi sudah pernah memperoleh workshop serupa saat putra-putri mereka baru menjadi siswa di Sekolah Islam Ibnu Hajar. Pengecualian bagi siswa pindahan, tetap diwajibkan mengikuti.

Miss Hiday sangat mengapresiasi orangtua yang hadir lengkap (ayah dan ibu) karena beliau sering sekali mengisi parenting class yang hanya dihadiri oleh ibu saja. Mana nih para ayah yang sering bersembunyi dengan alasan sibuk mencari uang? Bakal disentil banget lho sama Miss Hiday.

Apakah STIFIn itu?

STIFIn
STIFIn Institute

STIFIn merupakan suatu konsep ilmu yang memetakan manusia berdasarkan sistem operasi otaknya (Mesin Kecerdasan). STIFIn menganut kecerdasan tunggal. Setiap orang memiliki seluruh otak di setiap belahannya tetapi STIFIn berfokus pada satu otak yang memimpin sehingga manusia bisa memilih untuk FOKUS pada KEKUATAN, BUKAN pada KELEMAHAN.

Di dalam workshop ini disampaikan bahwa kondisi kita saat ini merupakan hasil dari potensi genetik alami diri kita dengan disertai pengaruh dari lingkungan yang persentasenya besar sekali. Jadi pikir-pikir nih, diri kita saat ini sebenarnya bukan diri asli kita, tapi lebih banyak karena faktor lingkungan. Bisa dari lingkungan pendidikan di keluarga, sekolah, atau lingkungan.

Fenotip
Source: STIFIn Institute

Pernah merasakan bahwa kondisi saat ini tidak membuat nyaman? Coba yuk dicek mesin kecerdasannya. Jangan-jangan kita belum menemukan potensi genetik tersebut.

Program Pembinaan Diri Berdasarkan Strata Genetik

Di dalam konsep STIFIn, pembinaan dan penempaan diri menggunakan urutan strata genetik manusia mulai dari urutan teratas, sebagai berikut:

1. Gender (laki-laki dan perempuan)

Allah SWT hanya menciptakan manusia dengan dua (2) jenis kelamin saja, yaitu laki-laki dan perempuan. Sekolah Islam Ibnu Hajar sangat menekankan ini kepada peserta didiknya, menggembleng mereka untuk tumbuh sesuai dengan fitrahnya. Di workshop “Mengenal Mesin Kecerdasan” pun, Miss Hiday kembali mengingatkan kami para orangtua yang punya peranan penting dalam membentuk putra-putri kami sesuai fitrahnya dengan pola asuh yang tepat. Menjadi perempuan seutuhnya memerlukan peran serta ibu dan menjadi laki-laki seutuhnya memerlukan peran serta ayah.

2. Mesin Kecerdasan

Merupakan sistem operasi kecerdasan berdasarkan belahan otak sesuai dengan belahan otak yang paling sering digunakan. Berikut adalah pembagian belahan otak manusia berdasarkan konsep STIFIn. Untuk mengetahui mesin kecerdasan apa yang kita miliki, hanya perlu melakukan tes sederhana dengan menggunakan sidik jari. Hasil tes tersebut nantinya akan dikirim ke server STIFIn pusat untuk diolah sebelum dapat dilaporkan hasilnya.

a. Sensing; terletak di limbik kiri.

b. Thinking; terletak di neokorteks kiri.

c. Intuiting; terletak di neokorteks kanan.

d. Feeling; terletak di limbik kanan.

e. Insting; terletak di batang otak.

Yang paling menarik dari konsep STIFIn ini adalah bahwa setiap manusia itu istimewa, mempunyai unsur kekuatan dan kelemahan, tidak ada yang lebih istimewa satu sama lain. Ini berbeda sekali dengan pola otak kiri dan otak kanan yang dulu pernah saya baca. Melalui konsep STIFIn, kita digembleng dengan prinsip FOKUS-SATU-HEBAT. FOKUS pada KEKUATAN, BUKAN pada kelemahan. Di bawah ini adalah informasi KEKUATAN pada masing-masing mesin kecerdasan.

Kekuatan Mesin Kecerdasan STIFIn
Source: STIFIn Institute

Ini mengingatkan kita para orangtua mengenai respon terhadap perkembangan akademik putra-putri kita di rumah. Ketika ananda pulang ke rumah dan menunjukkan nilai 5 untuk matematika dan 9 untuk olahraga, cung yang suka marah?

Setelah itu orangtua memaksa putra-putrinya untuk les matematika karena kelemahannya ada di sana. Mereka dipaksa untuk terus belajar sampai bisa. Ada banyak hal yang dikorbankan, mulai dari waktu, uang, dan emosi.

Pertanyaan ini sempat dilemparkan Miss Hiday kepada kami para orangtua dan jawabannya semua sama. Jadi, sepertinya ada yang salah dengan pola pendidikan di masa lalu. Membimbing putra-putra kita sesuai dengan mesin kecerdasannya akan membuat hidup lebih efektif karena kita telah mencoret waktu, uang, dan emosi yang mungkin saja terbuang sia-sia.

Nah, STIFIn mengerti sekali menemukan potensi genetik putra-putri kita. Saya yang ingin sekali punya anak jago di bidang sains, saat ini harus menerima bahwa putra Sensing saya lebih jago menghapal. Tetapi, karena dia punya kata kunci ‘rajin’, maka bisa saja jago di sains apabila sisi ‘rajin’ ini terus diasah.

3. Drive (introvert atau extrovert)

Ini berbeda dengan introvert yang tertutup dan extrovert yang terbuka, ya. Drive di sini berfungsi sebagai pengendali kecerdasan. Introvert artinya kecerdasan dikendalikan dari dalam keluar dan extrovert kecerdasan dikendalikan dari luar ke dalam. Bagi pemilik drive introvert, dia adalah orang yang bisa memegang teguh prinsipnya, sedangkan bagi pemilik drive extrovert, lingkungan punya pengaruh besar buatnya. Nah, ini saya banget. Jadi kalau saya pilih-pilih teman, memang membatasi diri dari pengaruh tidak baik, ya.

Mengenal STIFIn Lebih Jauh

Akhirnya workshop diakhiri pukul 12.00 siang. Terasa begitu cepat. Materinya bagus, sangat berisi, dan aplikatif. Apalagi Miss Hiday mengisi acara dengan begitu bersemangat dan membuat panggung yang tidak seberapa besar menjadi begitu hidup.

Bagi orangtua murid yang baru pertama kali mengikuti workshop “Mengenal Mesin Kecerdasan” ini, mengikuti acara selama tiga (3) jam pasti kurang. Akan ada banyak pertanyaan yang muncul di kepala termasuk rasa tidak menerima hasil tes yang ada. Dulu saya juga mengalaminya, sih. Tapi saat belajar mengenali diri sendiri, menumbuhkan dan mengembangkan potensi terbaik, hidup terasa lebih produktif.

Orangtua murid bisa membeli buku “I Know You” yang ditulis langsung oleh Miss Hiday. Buku ini salah satunya juga berisi pengalaman beliau dalam membimbing putri-putrinya sesuai dengan bakat alamiah yang dimiliki. Dengan membeli buku seharga Rp 200 ribu, orangtua murid sudah ikut berpartisipasi dalam infaq pembangunan mesjid di Sekolah Islam Ibnu Hajar. Asyik, ya. Belajar dapat, infaq dapat, pahala juga dong, ya.

Usai acara, panitia menyediakan makan siang (sayang banget karena satu dan lain hal saya tidak sempat mengambil gambarnya). Makan siangnya enak dan sehat karena kantin sekolah memang hanya menyediakan jajanan sehat tanpa MSG dan bahan pengawet untuk siswa-siswi dan kru sekolah. Ini keistimewaan lain dari Sekolah Islam Ibnu Hajar.

Daaan, ada satu lagi yang tentunya tidak akan saya lewatkan, yaitu photobooth dengan bertemakan STIFIn, tentunya.

Mengenal STIFIn sejak 2013, saya nyaman sekali mengasah kekuatan diri saya. Sayangnya, sejak pertama kali mengenal, saya baru mengimplementasikannya ke dalam karir saya sewaktu masih bekerja di kantor kemarin. Mungkin karena saat itu saya masih membawa pengaruh baik dari Workshop STIFIn Profesi yang saat itu saya ikuti bersama Pak Denny Dachlan dan Pak Indrawan Nugroho.

Mau ikutan workshop STIFIn berikutnya? Saya sih mau banget. Tengah mengincar Workshop STIFIn Investor, nih. Kalau kamu, mau yang mana? Informasi lengkap silakan kepoin IG-nya @stifininstitute saja, ya.

Jadwal Workshop STIFIn
Source: STIFIn Institute

Yuk, kita mulai belajar mengenali potensi diri kita, pasangan, buah hati, keluarga, bahkan sampai ke tim kerja. Bersama-sama kita fokus pada kekuatan dan menciptakan kehidupan yang sukses mulia.

 

The Happier Me,

Melina Sekarsari

Facebook Comments

Posted by melinase

Mom of two kids, living within good books and extraordinary people

15 thoughts on “Mengenali Diri Sendiri dan Buah Hati Lewat Workshop “Mengenal Mesin Kecerdasan””

  1. Oooh…baru jelas sekarang STIFin itu apa. Soalnya sering lewat di timeline FB. Kalau udah engga punya anak kecil, masih mungkin engga ya ikutan workshop?

    1. Bisa banget, Bun. Di flyer yang saya tempel di artikel ini ada jadwal STIFIn sampai Februari 2018. STIFIn ini efektif banget untuk self development, memperbaiki hubungan dengan pasangan, pengasuhan anak, pemantapan profesi, sampai bagaimana menjadi investor pun ada. Komplit, deh.

  2. Wah keren inii. Kalo saya sepertinya sensing introvert deh. Hehe. Anakku sendiri sudah sy tes analisis sidik jari. Hasilnya, justru gak ada yg berbakat Matematika, lebih ke pecinta Alam dan musik. Hehe. Gakpapa. Tiap anak kan berbeda.

    1. Iya, Pak. Jadi orangtua memang jadi belajar banyak dari anak. Saya juga belajar minum dan makan sambil duduk dari anak-anak hehehe … Sekaligus belajar memahami anak karena setiap anak dianugerahi potensi yang berbeda-beda dan luar biasa.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.