Merasa Berada di Lingkungan Kerja yang Tidak Sesuai? Cek Dulu Yuk Mesin Kecerdasanmu

“Pak, saya bosan kerja di sini. Saya nggak suka dengan pekerjaan ini. Saya pengen berhenti saja, deh. Atau ada pekerjaan lain yang bisa saya jalankan di sini, gitu?”

Source: www.Pixabay.com

Pernah merasa bahwa kita berada di posisi yang bukan kita banget? Introspeksi diri adalah cara bijaksana menyikapinya. Ya dong, kan harus tahu latar belakang bosannya kenapa, tidak sukanya kenapa, supaya tidak salah menentukan langkah.

Tidak Nyaman atau Tidak Kenal?

Tahun 2012 menjadi tahun yang sulit buat saya. Sama sekali tidak ada hubungannya dengan urusan perekonomian tapi ini urusan hati, soal kenyamanan. Tahun ke-6 saya bekerja di perusahaan yang sama tanpa pernah merasakan bekerja di perusahaan lain. Jenuh karena terlalu lama berada di sana? Bukan. Saya sih tahan-tahan saja bekerja selamanya di tempat yang sama kalau kondisinya benar-benar saya suka. Setia banget deh gue. Memang, saya tipe orang setia. Alah, ini bukan promosi ya, tapi memang pada dasarnya saya kurang berminat mencoba hal-hal baru, malah cenderung keder.

Source: www.Pixabay.com

Lalu urusan hati apa sih yang membuat saya bilang posisinya sulit?

Tahun 2012, karena situasi yang terjadi di perusahaan, saya harus kembali ke kantor. Lho, selama ini kemana? Jadi, perusahaan tempat saya bekerja saat itu untuk beberapa kondisi, menempatkan karyawannya di kantor klien. Biasanya karena proyek bernilai besar makanya butuh implant untuk ditempatkan langsung di kantor klien tersebut. Saya mulai ngantor di kantor klien di tahun kedua bekerja. Rasanya awalnya agak takut karena bagaimana pun itu bukan rumah sendiri. Ibarat anak, saya dititipkan di rumah orang dan harus bersikap baik atau konsekuensinya, orangtua saya kena marah orang yang dititipi. Begitu, kan?

Source: www.Pixabay.com

Saat harus pulang ke ‘rumah sendiri’, seharusnya saya senang ya bertemu orangtua dan saudara-saudara lagi, ada rasa hangat dan nyaman, ecieee jadi seperti keluarga beneran. Tapi saya tidak begitu. Canggung. Saya yakin ini karena sudah bertahun-tahun tinggal di rumah orang dan jarang pulang. Kondisi yang buat saya, akan luntur seiring berjalannya waktu.

Tapi saya masih merasa tidak nyaman. Rumah sendiri ini terasa begitu sempit. Berjalan maju, mundur, ke samping kanan, ke samping kiri, bahkan menyerong pun, rasanya bertemu tembok lagi, tembok lagi.

Sampai kemudian saya bicara kepada pemilik perusahaan, “Pak, saya bosan kerja di sini. Saya nggak suka dengan pekerjaan ini. Saya pengen berhenti saja, deh. Atau ada pekerjaan lain yang bisa saya jalankan di sini, gitu?”

Beliau tidak banyak bicara, hanya bilang kalau saya tidak suka dengan bidang usaha yang tengah dijalani, saya boleh membuka bisnis baru di sana. Kebetulan, bidang usaha yang diijinkan sesuai Akta Pendirian perusahaan, ada banyak. Apa yang mau dikerjakan? Otak saya rasanya mentok, tidak dipaksa menciptakan ide segar baru untuk perusahaan. Mencoba mengingat, berpikir, saya seperti menemukan satu celah. Ketidaknyamanan itu datang karena saya bertemu dengan orang yang itu-itu lagi.

Sewaktu berada di ‘rumah orang’, saya bertemu dengan banyak sekali orang dari beragam bidang dan jabatan. Karyawannya ribuan, ada karyawan lokal dan asing. Ada banyak divisi dan saya selalu punya kesempatan mendekat dan bertanya, “Orang-orang legal, kontrak, HR, BD, cementing, completion, maintenance, dan lain-lain itu kerjanya ngapain?”

See, teman saya banyak dan wawasan saya terbuka lebar. Saya bekerja, bergaul, sekaligus belajar. Bandingkan dengan ‘rumah sendiri’ yang karyawannya hanya sekitar 50 orang saja di posisi yang itu-itu lagi. Oke, saya butuh teman baru dan wawasan baru. Saya meminta persetujuan perusahaan, dan approved. Ikutlah saya di salah satu training public speaking yang dimotori langsung oleh Pak Jamil Azzaini dan teman-teman dari Kubik dan Sukses Mulia.

Pertama kali berkenalan dengan STIFIn

Ini training yang luar biasa buat saya. Judulnya sih Wanna be Trainer, arahnya ke public speaking, tapi di dalamnya kita malah diminta membuat impian terbesar dalam kehidupan. Ini bukan impian yang material seperti punya jabatan tinggi, mobil mewah, rumah megah dan sejenisnya, ya. Tapi lebih ke manfaat yang ingin kita berikan untuk orang lain.

Source: Akademi Trainer

Di sinilah saya pertama kalinya mengenal STIFIn. Penasaran, kok mentor dan teman-teman fasilitator sepertinya nyaman banget pakai konsep STIFIn ini? Apa sih itu?

Baca dulu di sini, ya Mengenali Diri Sendiri dan Buah Hati Lewat Workshop Mengenal Mesin Kecerdasan;

Sensing extrovert

Cara Berpikir: Memaksimalkan Panca Indera

Dari hasil tes sidik jari, diketahui bahwa saya berMK Sensing dengan drive extrovert. Pertama kali tahu hasilnya, saya marah, gara-gara dibilang bahwa Sensing itu matre. Ternyata matre yang dimaksud bukan matre biasa, tapi memang chemistri-nya adalah “dikejar Harta”. Sesuatu yang bisa membuat si Sensing senang, bahagia, ya memang harta. Tapi, saya harus benar-benar memanfaatkan momentum yang datang untuk memperoleh rezeki. Jadi, benar-benar harus lincah kesana kemari.

Source: STIFIn Institute

Akhir tahun 2013, rasa mulas itu, eh rasa tidak nyaman itu datang lagi. Kali ini dengan porsi lebih besar. Saya berpikir lagi. Terpikir mencoba membuka usaha baru A, B, C, D, endebra-endebres dan saya lagi-lagi mentok. Sebelumnya saya mengikuti workshop STIFIn Profesi – dengan biaya sendiri, karena merasa berada di tempat yang tidak seharusnya. Tapi di full day workshop itu saya masih bingung memetakan profesi apa yang ingin saya punya di masa depan. Ini gara-gara cita-cita semasa kecil gagal tercapai semua. Kasihan, deh.

Alih-alih membuka usaha baru, saya memilih untuk mendekatkan diri pada lingkungan terdekat. Siapa lagi kalau bukan tim kerja? Akhirnya saya mendapatkan wangsit atas kecanggungan yang dulu dirasakan. Saya canggung karena tidak kenal, koreksi, kenal nama tapi tidak kenal karakter. Bagaimana mau bekerja dengan nyaman kalau saya tidak kenal mereka dengan baik? Saat itu, mulai sering ngobrol dengan tim, mulai urusan pekerjaan sampai urusan keluarga. Saya yang dasarnya suka banget bercerita ini, suka bercerita apa saja dengan mereka. Saya sampai hapal satu persatu kebiasaan hampir 40 orang yang berada di sana – sebagian lainnya ada di kantor cabang di luar kota bahkan pulau. Nama-nama keluarga mereka pun saya ingat dengan baik.

Menjalin kedekatan dengan tim ternyata bisa menumbuhkan rasa nyaman untuk saya. Kalau berpapasan, membahas pekerjaan, dan sekaligus menanyakan kabar keluarga. Saya menemukan satu kunci, bahwa saya butuh bersosialisasi, bicara dengan orang, mendengarkan dan didengarkan. Orang-orang yang ada di sekitar saya, bisa saya lihat.

Source: www.Pixabay.com

Waktu berjalan, kok saya masih menemukan ada sesuatu yang tidak ada. Mengingat lagi, berpikir lagi. Saya bekerja di perusahaan jasa yang tentunya harus bisa membantu memberikan saran dan solusi buat klien agar mereka nyaman melaksanakan kebutuhan pekerjaan mereka. Nyaman. Tapi sudahkah mereka nyaman dengan saya dan tim atau sudahkah saya nyaman dengan mereka? Jawabannya belum. Mengingat lagi, berpikir lagi, saya belum menciptakan rasa nyaman itu. Saya sudah nyaman dengan tim tapi kenapa saya belum nyaman dengan klien. Jawabannya satu, saya belum menciptakan rasa nyaman itu. Iya, saya sadari betul bahwa saya sulit memahami sesuatu yang tidak bisa saya lihat.

Kuncinya, bertemu. Akhirnya, saya semakin intens berkomunikasi dengan klien. Ada apa-apa sedikit saya coba untuk keep in touch by phone. Hubungan terjalin baik, rencana bertemu, saya melihat mereka, saya bisa membangun rasa nyaman dari situ. See, saya butuh melihat dan merasakan secara fisik orang-orang di sekitar saya. Beda lho, kualitas hubungan kerja antara yang sudah pernah bertemu dengan yang belum.

Source: www.Pixabay.com

Ini Sensing banget, yang memang mengoptimalkan panca indera dalam berpikir. Makanya, sejak dulu saya ketar-ketir kalau mau belajar di kelas online. Buat saya, mencerna materi tanpa melihat mentornya, melihat gerakan bahasa tubuhnya, mendengarkan suaranya sambil memerhatikan gerakan bibirnya, itu susah banget. Susah bukan berarti tidak bisa. Kalau belakangan saya memutuskan mau mencoba belajar di kelas online, sungguh itu perjuangan luar biasa. Bisa, tapi usaha saya untuk mencerna, berbeda dari mesin kecerdasan lain.

Oiya, saat mau membuka usaha baru itu, saya sampai meminta pendapat teman-teman dekat, usaha apa yang kira-kira menjanjikan. Mereka luar biasa memberikan ide. Tapi otak jarak dekat saya ini cuma bisa berpikir, “Setelah itu apa?” Iya, Sensing itu memang jarak pandangnya dekat. Jadi, jangan disuruh menciptakan ide, ya. Bisa sakit kepala nanti. Makanya, saya lebih memilih memaksimalkan apa yang ada di sekitar, yaitu tim kerja, membangun mereka dari dalam. Kalau secara internal sudah mapan, pelayanan ke klien tentu lebih lancar.

Kalau orang-orang yang pernah menjadi mentor saya dan membaca tulisan ini, tahu ya alasan saya agak lemot belajar di kelas atau group, hahaha …

Kata Kunci: Rajin

“Dek, apa yang paling Adek ingat soal Mama?” tanya saya suatu ketika.

“Rajin belajar.” Hahaha, anak kecil saja tahu.

Source: www.Pixabay.com

Dari dulu sampai sekarang, saya suka takjub melihat orang-orang yang pintar. Lebih keder lihat mereka dibandingkan orang-orang kaya. Makanya saat di sekeliling saya banyak teman-teman yang pintar, wah, rasa hati mau belajar terus. Malu kalau jomplang banget sama mereka.

Teman-teman lain sih tahu banget kalau pekerjaan saya belajar melulu. Tapi memang Sensing harus rajin belajar. Sensing yang malas, jangan harap punya prestasi bagus. Ini termasuk urusan pekerjaan. Sensing harus rajin memanfaatkan momentum. Di mana ada peluang menjemput rezeki, ambil. Dulu saya juga melakukan hal yang sama. Menyiapkan dokumen sendiri, fotokopi sendiri, rajin berkomunikasi dengan klien, rajin meminta laporan dari tim, harus rajin kalau mau berprestasi. Termasuk rajin membaca artikel dan regulasi dari pemerintah terkait bidang pekerjan saya saat itu.

Video Conference Call – Profita Institute

Sekarang ketika memutuskan berkarir dari rumah, saya ambil deh segala kesempatan yang ada. Tetap eksis bergabung bersama teman-teman di Profita Institute, bergabung bersama teman-teman membangun e-commerce Lakulagi, mengerjakan resensi, menulis buku (yang belum jadi-jadi, duh …), berjualan buku, berjualan kurma, dan dalam waktu dekat, mau berjualan jamu juga, nih.

Sssttt … Bersama teman-teman dari Profita Institute pun, saya lebih nyaman berkomunikasi dengan melihat mereka. Berhubung kami terpisah propinsi, video call sajalah, ya. Meskipun di sana wajah saya kok ya bagaikan siluet semata? Hahaha …

Tipologi Fisik: Otot yang Kuat

Sensing extrovert dianugerahi otot kuat karena memiliki otot merah tempat menyimpan tenaga aerobik. Tubuhnya atletis tetapi kecil. Saya pernah melewatkan waktu dan menghabiskan banyak uang untuk usaha menaikkan berat badan yang hasil akhirnya gagal.

Baca di sini, yuk Seperti Apa Kita? Kenali dan Terima

Sensing mesti rajin bergerak. Boleh tanya, sewaktu berkantor dulu, saya saban waktu mondar-mandir kesana kemari. Belum cukup sampai di situ sebenarnya. Sensing itu mesti rajin bergerak sampai berkeringat. Semakin banyak berkeringat, semakin lancar peredaran darahnya, semakin cerdaslah nanti.

Peranan: Berada di Panggung

Sebagian orang suka bekerja di balik layar, sebagian lagi suka tampil di panggung. Nah, Sensing ini adalah tipe yang kedua. Saat itu, saya cuma punya pengalaman berbicara di depan kelas saat masih mengajar. Itu terjadi ketika kuliah dan beberapa bulan saja setelah lulus dari kuliah. Begitu diterima bekerja, karena tidak ada kebutuhan juga, saya tidak pernah lagi berbicara di depan orang banyak.

Source: www.Pixabay.com

Tapi dengan mengenal STIFIn dan mengenal mesin kecerdasan, mau tidak mau, saya harus membiasakan diri kembali berbicara di depan orang banyak. Lumayan susah. Awalnya megap-megap, ang-ing-ung, apalagi dengan pengaruh drive extrovert yang saya punya.

Sayangnya saya tidak dikaruniai suara merdu, kalau iya, mungkin saya sudah beralih profesi menjadi penyanyi, tuh … hahaha …

Drive extrovert: Kemudi dari Luar ke Dalam

Extrovert adalah kemudi dari mesin kecerdasan saya dikendalikan dari luar ke dalam. Maka, lingkungan benar-benar mempengaruhi bergeraknya saya. Lingkungan mendukung, saya maju. Lingkungan demo, saya bisa mengkeret. Tapi tetap harus dilawan makanya perjuangannya ada di sini.

Itu sebabnya, saya tidak terlalu suka memperoleh pekerjaan dari tender. Alasannya ya itu, proses tender tidak selalu melibatkan presentasi saya di hadapan panitia. Saya lebih suka memperoleh pekerjaan dari hasil presentasi. Sudah lama sekali nih saya nggak berbicara di depan. Pastinya butuh latihan lagi dan lagi supaya tidak grogi.

I am Sensing

STIFIn membuat saya meniti karir di kantor dengan rasa nyaman. Mengenal mesin kecerdasan diri, memfokuskan pada kekuatan. Asyik banget, saya tidak perlu membuang waktu dengan sisi lain yang menjadi kelemahan.

Kapan-kapan, saya cerita juga ya kehidupan sehari-hari ala Sensing dan mengasuh anak-anak pakai STIFIn ini. Sudah kenal diri kalian juga, Moms? Mau tes STIFIn, hubungi saja promotor-promotornya di kotamu, ya.

 

The Happier Me,

Melina Sekarsari

 

 

 

Facebook Comments

Posted by melinase

Mom of two kids, living within good books and extraordinary people

13 thoughts on “Merasa Berada di Lingkungan Kerja yang Tidak Sesuai? Cek Dulu Yuk Mesin Kecerdasanmu”

  1. Mana mbak, mana mbak nomor promotor di Bali? Pingin ikutan tes STIFIn.

    Jadi belum ada chemistry sama aku dong? Karena belum pernah ketemu. Tapi kalau mbak Mel mau daftar jadi Indonesian Idol, nanti aku bantu vote, mbak hahaha

  2. Saya banget ini mbak. Lebih senang bekerja di balik layar. Dan saya juga pernah merasa tidak nyaman pada pekerjaan saya yang akhirnya saya resign karena telah menemukan passion saya. Hehe

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.