KIta berbagi, Khadija Initiative

Sharing Stories dan Menumbuhkan Peran Produktif Single Moms di KI(Khadija Initiative)ta berbagi

Bagian menyebalkan dari menyandang status sebagai single mom adalah ketika membaca tulisan disertai gambar yang di dalamnya berisi candaan status single mom tersebut. Lebih menyebalkan lagi kalau status tersebut tidak sebatas lewat di timeline media sosial kita, tapi juga muncul di group WA kita, yang notabene lingkupnya lebih sempit. Makin menyebalkan lagi kalau yang membuat bahan bercandaan tersebut terposting adalah teman-teman kita sendiri (ya iyalah, satu group WA tentu teman-teman sendiri kan, ya?). Daaan, saya pun speechless kalau kemudian dengan santainya, para anggota makin riuh becanda, melupakan teman-teman berstatus single mom di dalamnya, bahkan tidak mengindahkan sentilan ringan yang dilayangkan.

Single Mom
Source: www.Pixabay.com

Speechless saja jadinya karena mungkin di antara teman-teman itu ada yang tidak tahu bahwa di dalam group ada teman-temannya yang single mom. Meskipun ada atau tidak, sebenarnya menjaga sikap itu juga penting. Being a single mom, bukan status yang layak untuk dijadikan bahan bercandaan. Apalagi harus diingat, siapapun bisa menjadi single mom, single dad, karena apa? Yup, Tuhan bisa memanggil salah satunya lebih dulu kapan saja. Ada yang bisa menolak? Tidak.

Di luar sana, justru ada orang-orang yang begitu peduli dengan keberadaan teman-teman single mom. Dissi Kaydee, seorang perempuan, ibu, istri, yang peduli pada teman-teman single mom. Dibalik status single mom tersebut, ada anak-anak yang harus dinafkahi, tapi tetap harus diperhatikan kebutuhannya akan kasih sayang orangtua. Melalui komunitas Khadija Initiative, Mbak Dissi bersama-sama dengan teman-teman yang sevisi menyelenggarakan program pemberdayaan perempuan, khususnya single mom, agar tetap kuat dan berdaya. Banyak program pendampingan yang diberikan di dalam group tertutup dan event yang digelar terbuka khusus perempuan.

Baca juga Merajut Kresek; Salah Satu Upaya Khadija Initiative Menguatkan dan Memberdayakan Ibu Tunggal

Technosnet, Bogor
Technosnet, Bogor

Hari Minggu lalu, 23 September 2018, Khadija Initiative kembali menggelar acara khusus perempuan bertajuk KI(Khadija Intitiative)ta berbagi. Acara diselenggarakan di Gedung Technosnet, Komplek Botani Square, Bogor. Semua perempuan yang ingin mandiri dan produktif, dipersilakan untuk hadir, tidak harus single mom.

Apa saja sih isi dari acara ini? KI(Khadija Initiative)ta berbagi menghadirkan empat pembicara luar biasa. Ada Ni Made Desi Handayani, S.Pd. I, Vidrie Riscky Meidiani, Ncie Merajut Indonesia, dan Isah Kambali. Ada banyak doorprize dan hadiah menarik, baik untuk penanya maupun yang bertanya. Makanya, semua peserta semangat.

Pembicara pertama adalah Vidrie Riscky Meidiani, seorang perempuan yang menjadi single mom sejak suaminya berpulang dua tahun lalu. Pernah merasakan jatuh, kehilangan, tidak punya uang padahal ada anak-anak yang harus dibiayai, sampai kesedihan luar biasa karena dapur rumahnya yang tidak berdinding dan atapnya begitu mudah tertiup angin kala hujan deras. Waktu berjalan dan dia merasa harus bangkit. Melakukan apapun yang bisa dilakukan. Bertanya kepada teman-teman, peluang usaha yang bisa diperoleh, termasuk kepada seorang Dissi Kaydee. Ceritanya beliau cocok sekali deh dengan tema yang dibahas, yaitu Kiat Mengubah Keadaan Menjadi Peluang.

KIta berbagi, Khadija Initative
Vidrie Riscky Meidiani

Teh Vidrie ini merupakan salah satu perempuan yang aktif mengolah minyak jelantah menjadi sabun cuci. Wah, sampah jadi uang ini judulnya, ya. Berbagai peluang datang. Saat ini Teh Vidrie sudah mempekerjakan dua orang karyawan untuk membantu bisnis tas handmade miliknya. Sungguh ya, hasil tidak akan pernah mengkhianati proses. Betapa tangan Sang Maha Kuasa selalu terulur kepada hambaNya. Dan, siapa sangka, datang seorang dermawan yang berkenan membantu merenovasi dapur rumahnya. Kita tidak pernah tahu, lewat siapa rezeki diberikan kepada kita, ya.

Ada pesan menarik dari Teh Vidrie ketika seorang perempuan (terutama single mom) mengalami kesulitan. Menerima kondisi saat ini, berani menerima hal baru, mau mengorbankan waktu dan tenaga demi keluarga, dan menjadikan urusan akhirat sebagai yang pertama. Melaksanakan sholat di awal waktu dan senantiasa menjadi Al Qur’an sebagai pedoman hidup. Urusan dunia, biarkan Allah yang mengatur setelahnya. MasyaAllah, ya.

Pembicara kedua menghadir Ncie Merajut Indonesia. Ini menjadi pertemuan kedua saya dengannya, setelah pertemuan sebelumnya di Merajut Kresek di Depok beberapa waktu lalu. Masih sama seperti yang sudah-sudah, perempuan berusia hampir 50 tahun yang akrab dipanggil Teh Ncie ini, selalu semangat menularkan motivasi kepada teman-teman single mom. Meninggalkan yang tidak nyaman, menjadi single mom yang bahagia.

KIta berbagi, Khadija Initiative
Ncie Merajut Indonesia

Teh Ncie, mantan PNS, yang kemudian aktif menularkan ilmu merajut kepada para perempuan. Tidak tanggung-tanggung, mengajarinya bukan hanya di sekitar rumah, tapi sampai ke penjuru nusantara. Ini salah satu yang membuat cemburu, ya, mengerjakan hobi, menularkan ilmu (pahala mengalir sepanjang masa dong, ya), daaan sekalian jalan-jalan. Daerah yang dikunjungi Teh Ncie bukan di pusat kota, tapi lebih ke daerah perbatasan, bahkan sampai ke pegunungan. Bagi Teh Ncie, tidur di mana saja, makan apa saja, tidak masalah, sepanjang dirinya bisa terus membagikan ketrampilan merajut dan kepuasan bisa jalan-jalan, uhuk!

Kegiatan ini didasari dari keinginan Teh Ncie untuk memberdayakan para perempuan di Indonesia agar dapat mandiri, produktif, bisa memperoleh penghasilan dari tangannya sendiri. Merajut ala Teh Ncie ini berbeda. Merajutnya bukan menggunakan benang, tapi menggunakan kantong kresek. Coba ya, yang di rumahnya kresek bertumpuk dan menghalangi pemandangan, belajar merajut deh sama Teh Ncie ini. Saya pernah mencobanya dan hiks, gagal. Butuh ketelatenan luar biasa, memang. Hebatnya, Teh Ncie ini belajar merajutnya pun otodidak, lho.

Menjadi kebahagiaan luar biasa bagi Teh Ncie manakala perempuan-perempuan yang diajarinya merajut kresek, berhasil menyelesaikan karyanya, memasarkan produknya, dan memperoleh penghasilan dari sana. Sungguh, membahagiakan orang-orang di sekitar menjadi kebahagiaan hakiki bagi diri sendiri. Tema yang dibawakan Menciptakan Solusi dengan Kresek, membuat teman-teman mepet-mepet duduk dekat beliau supaya bisa dengar lebih banyak cerita.

 

Ibu-ibu di Atapupu, Nusa Tenggara Barat, dan hasil karya merajut kreseknya (Source: Merajut Indonesia)

Satu lagi yang membuat saya salut dan ingin peluk-peluk Teh Ncie ini, beliau sering sekali mengajari merajut secara gratis. Iya, gratis. Sudah jauh, ke pelosok, cuma-cuma pula. Merasa rugi kah? Teh Ncie selalu mengingatkan kita untuk percaya pada The Power of Ikhlas. Di satu tempat beliau tidak dibayar, di lain tempat dan waktu beliau dibayar begitu mahal. The Power of Ikhlas, sungguh, ini bukan sesuatu yang bisa dilatih sebulan dua bulan saja. Jadi ingat serial Ramadhan di televisi dulu tentang tokoh utamanya yang habis-habisan mencari definisi ikhlas.

Kalau dua pembicara pertama berbagi untuk produktif dalam hal ketrampilan dan kreativitas tangan, beda jauh dengan pembicara ketiga. Isah Kambali, saya sih mengenalnya sebagai praktisi/pengajar digital. Sudah tentu, temanya tidak jauh-jauh dari dunia itu, yaitu Pemasaran Zaman Now dengan Digital. Seorang Sarjana Pertanian yang sejak dulu hobinya main game online, tapi tidak disangka malah bisa menghasilkan banyak uang dari bisnis online. Hobinya mengoprek segala sesuatu yang berbau online beserta logaritmanya, menjadikan dunia digital menjadi sesuatu yang jauh lebih mudah dibandingkan memasak. Wow! Saya banget. Tapi saya masih payah di urusan digital, hihihi.

KIta berbagi, Khadija Initiative
Isah Kambali

Bagi Mbak Isah, perempuan – termasuk ibu-ibu, wajib mengerti dan memahami dunia digital. Kenapa? Perempuan harus bisa mandiri, kan? Nah, salah satunya dengan berbisnis online. Sudah bukan masanya lagi perempuan melabeli dirinya gaptek, tidak bisa berbisnis online, padahal jago update status di FB sampai unggah foto dan video. Memesan transportasi online via aplikasi bisa, itu yang disebut gaptek? Satu lagi nih yang sangat-sangat menyentil telinga, kalau bisa belanja online, mestinya jago jualan online juga, dong. Betul sekali sih, ya?

Mbak Isah memberikan kisi-kisi seputar berbisnis online melalui aplikasi Instagram. Hayo, siapa di sini yang Instagramnya belum menghasilkan uang? Duh, rasanya ingin sembunyi di pojokan. Ada kunci-kunci penting yang disampaikan sebelum kita mulai berbisnis online, mulai dari mengenali produknya, mengenali kebutuhan pasar, mengenali kompetitor, dan follower.

Mbak Isah juga berbagi rahasia strategi jitu berbisnis online via Instagram dengan memberikan urusan tahapan yang harus dilakukan. Lengkap juga dengan aplikasi apa saja yang perlu diakses supaya hasilnya maksimal. Bagi yang belum hadir, jangan khawatir, tanggal 29 September 2018 mendatang, beliau mau membuka kelas Ibu Digital. Lokasinya di Tajur Halang, tempat tinggal beliau di Bogor. Konsep belajarnya santai ndelosor, bawa laptop, bawa meja lipat, atau kalau tidak punya, ya ndelosor sajalah. Anak-anak boleh dibawa dengan catatan dibawakan pakaian ganti. Mereka bebas main cemplang-cemplung di halaman rumah.

KIta berbagi, Khadija Initiative
Source: www.Pixabay.com

Sesinya Mbak Isah Kambali kemarin, jadi sesi yang paling ramai. Jelas, ibu-ibu paling bergemuruh saat ditanya urusan teknologi digital. Padahal segala sesuatunya bisa dipelajari, ya. Satu pesan penting dari Mbak Isah mengenai alasan ibu-ibu wajib mengenal teknologi digital adalah bahwa mereka tidak boleh kalah pintar dari anak-anak. Mereka tumbuh di era digital, tidak bisa dihindarkan, dan di dunia digital ada banyak pengaruh buruk yang orangtua bisa cegah sedari awal jika orangtua juga mengenalnya. Setuju, ya? Saya setuju banget!

Menjelang sore, pembicara keempat pun dihadirkan, ada Ni Made Desi Handayani S.Pd. I, founder/owner Homeschooling Alam Depok. Jika ketiga pembicara sebelumnya membahas peran perempuan dalam mandiri dan produktif, Mbak Desi membawa tema Menemukan Bakat Produktif. Ini lebih menekankan pada mengenali potensi diri sendiri sebelum memproduktifkan diri. Selain itu tentunya juga mengenali potensi anak untuk mendidik dan membina sesuai minat dan bakatnya. Penting juga dong, ya, mengenali diri sendiri sebelum mulai menekuni bidang bisnis yang diinginkan.

KIta berbagi, Khadija Initiative
Ni Made Desi Handayani, S.Pd. I

Mbak Desi menyarankan untuk memerhatikan tujuh (7) bakat kuat yang alamiah dimiliki oleh diri kita, seperti.

  1. Sifat alami
  2. Spontanitas berpikir, merasa, bertindak
  3. Kebutuhan sehari-hari
  4. Kenali lalu asah dalam aktivitas dan peran yang sesuai
  5. Gunakan untuk menghasilkan manfaat yang terbaik

Menurutnya, salah satu cara menemukan Potensi Diri ialah melalui Tes Strength Typology (ST-30), yaitu:

  • Merupakan gambaran potensi dan minat terhadap peran
  • Memiliki sekitar 30 tipologi manusia yang terkait dengan kekuatan produktif
  • Sebagai personal brand atau self-awareness bagi seseorang

Seru-seru ya, materi yang disampaikan. Semuanya bagus dan bermanfaat. KI(Khadijah Initiative)ta berbagi ini ramai diguyuri hadiah dari teman-teman sponsor. Mulai dari produk kecantikan, kerajinan tangan, sampai perawatan tubuh. Panitia juga membuka stand-stand yang bisa disewa dengan biaya sangat terjangkau. Dapat ilmu sekalian jemput rezeki dong, nih.

KIta berbagi, Khadija Initiative
Aneka Stand Bazaar

Saya bingung harus mengacungkan berapa jempol atas terlaksananya acara ini. Bayangkan saja, acara yang dihadiri begitu banyak orang ini, saya perkirakan lebih dari 50 orang, diadakan secara gratis. Setiap peserta diberikan konsumsi berupa snack dan air mineral serta goodie bag.

KIta berbagi, Khadija Initiative
Snack dan Goodie Bag

Sebelum acara berlangsung, Khadija Intiative sudah aktif mengadakan pelatihan online cara membuat sabun dari minyak jelantah. Biaya pelatihannya sangat terjangkau, cukup dengan membayar Rp 35.000 saja. Hebatnya, pelatihan ini diadakan dalam rangka menggalang dana demi terlaksananya kegiatan KI(Khadija Initiative)ta berbagi.

Ada banyak teman-teman donatur dan sponsor yang terlibat. Sebuah event yang diadakan dengan itikad baik, dikelilingi orang-orang baik, dan InsyaAllah membawa hasil yang baik pula.

Jadi, bagi teman-teman yang saat ini berstatus sebagai single mom, jangan terpuruk lama-lama, ya. Ada banyak teman senasib yang sama-sama belajar berdiri tegak dan berjuang. Terus berkumpul dengan wadah yang positif, kalau mau terus bertumbuh. Contohnya, di Khadija Intitiative ini. Gabung saja di Fanspagenya, Khadija Initiative.

KIta berbagi, Khadija Initiative
Berfoto bersama teman-teman pembicara dan founder Khadija Initiative

Perempuan, apapun statusnya, memang semestinya tetap bisa mandiri, terus memperluas wawasan, sebab anak-anak kita membutuhkan ibu yang pintar untuk membawa mereka hebat.

Salam santun dan apresiasi luar biasa untuk Khadija Initiative. Peluk sayang untuk seluruh perempuan tangguh Indonesia.

 

The Happier Me,

Melina Sekarsari

 

 

 

 

Facebook Comments

Posted by melinase

Mom of two kids, living within good books and extraordinary people

14 thoughts on “Sharing Stories dan Menumbuhkan Peran Produktif Single Moms di KI(Khadija Initiative)ta berbagi”

  1. Andai bisa berkenalan dengan Teh Vidrie , Teh Ncie, Mbak isah, dan Mbak Desi alangkah senangnya. Bertemu dan berteman dengan orang hebat pastnya akan menularkan juga ke diri sendiri.
    Betewe, apapun kondisi kita saat ini mau itu masih berdua atau sudah sendiri kita tetap harus memiliki semangat. Dan sebaiknya kita tidak ikutan menertawakan kondisi seseorang, apalagi dijadikan bahan candaan. Salut sama komunitas KI. Semoga sukses terus ya mbak.

    1. Tjakep, Mbak. Meskipun dari teman-teman KI, aku dengar cerita, banyak perempuan yang terpuruk setelah pernikahan. Makanya, mereka bina betul-betul agar sembuh secara psikis dan produktif.

  2. Bersyukur di zaman yang seperti ini masih banyak perempuan yg peduli dengan sesamanya. saya dibesarkan single mom, jadi tahu banget gimana rasanya jadi anak dengan orangtua tunggal. so, saya paling nggak suka dengan becandaan bertema single parent. Semoga kegiatan positif seperti ini semakin banyak pendukungnya.

    1. Iya, Mbak, dari pada dijadikan bahan becandaan, lebih baik melakukan sesuatu. Sejak awal aku salut banget sama Mbak Dissi ini. Apalagi mendengar cerita beliau kalau single moms banyak yang terpuruk dan harus dibina secara psikis dulu sebelum akhirnya bisa tegak dan produktif.

  3. Wah jaman now masih ada ya yang bener-bener tulus membantu sesama. Salut buat teh Vidrie, teh Ncie, mb Isah dan mb Desi. Semoga ilmu yang ditularkan nermanfaat. Aamiin

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.