Menikmati Salju Bersama Buah Hati Suatu Hari Nanti

Saya tidak ingat lagi, sudah berapa kali teman-teman mengajak traveling bersama mereka. Bersama-sama mengejar tiket murah menuju negara-negara tetangga, melesat sesaat pada hari Jumat untuk kembali lagi bekerja pada Senin pagi. Kalau dirasa melelahkan, mengambil cuti satu hari tidak mengapa. Toh, di saat lebaran saya juga jarang menggunakannya untuk pulang kampung, kata mereka.

Waktu itu saya hanya senyum-senyum saja. Mengunjungi negara tetangga seperti Singapura, Malaysia, dan Thailand memang sama sekali tidak menarik minat saya. Dari pada berkunjung kesana, mendaki gunung atau menjelajah nusantara jauh lebih terdengar eksotis. Menyusuri pantai-pantai negeri kita nan indah, danau-danau yang menawan, dan puncak pegunungan yang menakjubkan.

Alangkah indahnya juga kalau saya bisa mengumpulkan foto-foto cantik yang menjadi bukti autentik kalau pernah pergi kesana. Ah, tapi waktu itu andai perjalanan menjelajah nusantara itu terjadi, saya juga bingung mau memotret menggunakan apa. Hanya punya telepon genggam jaman baheula yang keyboard-nya saja harus ditekan beberapa detik sebelum akhirnya hurufnya muncul di layar. Kualitas kameranya jangan ditanya. Orang cantik pun bisa jadi jelek. Payah memang perekonomian saya saat itu. Eh, lho?

Babak Baru dengan Paspor Baru

Tahun berganti, kali itu perjalanan teman-teman sudah sedikit menjauh menuju Jepang dan Korea. Saya sedikit goyah. Siapa yang bisa menolak keindahan negeri sakura dan negeri ginseng tersebut? Ah, tapi ada perjalanan yang jauh lebih saya inginkan. Menuju tempat yang lebih jauh tapi memerlukan biaya lebih besar. Mengumpulkan uang yang tidak juga terkumpul. Membiarkan paspor lamaku berganti paspor baru dengan tanpa satu cap pun di dalamnya. Mungkin saat itu petugas imigrasi yang mewawancarai berpikir saya hanya iseng. Membuat paspor sebatas untuk gaya-gayaan. Padahal tidak punya uang untuk bepergian. Hahaha, ya itu juga, sih. Nyatanya memang uang saya belum cukup juga untuk berangkat, kan?

Paspor Baru

Tapi kali ini tekad sudah bulat. Saya harus bisa berangkat. Harus. Jangan sampai perpanjangan paspor berikutnya paspor kedua saya ini masih suci tak bernoda. Mau diletakkan di mana harga diri ini di hadapan petugas imigrasi? Hazzah, mulai sensitif.

Tahu dong ya, ketika kita lelah, rapuh, duh … sebegininya, selalu harus ada alasan khusus yang membuat kita tetap termotivasi. Saya juga begitu. Keinginan pergi ke negara tersebut kan terinspirasi dari sesuatu itu.

Muhammad Al Fatih 1453

Saya menemukannya saat berselancar di dunia maya. Memasuki e-commerce dengan motif sekedar jalan-jalan tapi akhirnya membeli sebuah buku berjudul Al-Fatih 1453 karya Felix Siauw. Betapa beruntungnya saya, motif komersil teralihkan. Baca buku ya, biar pintar yang pas-pasan ini bertambah kadarnya.

Buku ini menceritakan tentang perjuangan Muhammad Al Fatih dalam merebut konstantinopel dari tangan penguasa Bizantium. Diceritakan betapa kokohnya benteng konstantinopel sehingga begitu sulit untuk menembusnya. Muncul rasa penasaran, sekokoh apa benteng itu. Apalagi saat mengetahui bahwa saat ini, sisa reruntuhan Konstantinopel yang hanya berupa dinding masih tegak berdiri di kota Istanbul.

Subuh di Mesjid Muhammad Al Fatih

Turki. Itu adalah negara yang sangat ingin saya datangi. Menduduki urutan kedua setelah Mekkah dan Madinah di Arab Saudi, tanah impian seluruh umat Islam di penjuru dunia. Sayangnya, biaya perjalanan menuju Turki tidak semurah ke negara-negara tetangga. Tapi saya mantapkan dalam hati, harus berangkat. Setelah melalui perjalanan membayar cicilan yang jumlahnya sampai belasan kali, eh atau malah puluhan ya – pokoknya cicilan panci kalah jauh, akhirnya saya bersiap untuk berangkat. Tidak tanggung-tanggung, perjalanan umroh ke tanah suci, dilanjutkan dengan jalan-jalan di Istanbul, Turki. Yeay! Akhirnya keluar negeri juga, hahaha …

Travel agen yang dulu membantu pasti mengingat saya sebagai klien dengan jumlah angsuran terbanyak. Habis, bayarnya sedikit-sedikit, sih …

Sore itu, 26 Desember 2015, menjadi perjalanan pertama saya melewati counter keimigrasian di bandara Soekarno Hatta. Bahagia, cemas, was-was, bercampur menjadi satu. Tapi seharusnya saya tenang karena bepergian dengan banyak orang. Ya kali di pesawat sendirian, ya kan?

Di tanah suci, semuanya berjalan lancar. Hanya ada sedikit masalah dengan hidung saya yang begitu sensitif ketika memasuki ruang makan hotel. Aroma masakan India yang membuat perut bergolak. Juga rasa-rasa masuk angin karena Madinah mencapai suhu 9-11 derajat yang membuat saya kedinginan, badan greges-greges, dan akhirnya memantapkan diri menjadi orang Indonesia asli. Apakah itu? Menciptakan tato duri ikan pakai koin, dong. Ini obat masuk angin paling mujarab, you know.

Sehari sebelum perjalanan ibadah selesai dan kami akan segera bertolak menuju Jeddah sebelum memulai lagi perjalanan yang galau, ada kabar bahwa Istanbul dihantam badai salju. Dua hari terakhir, seluruh penerbangan dibatalkan. Wah, saya deg-degan. Di Madinah saja langsung kerokan, bagaimana di Istanbul coba, ya? Selain itu, berpikir juga. Tiketnya bagaimana? Kan sudah bayar mahal. Ya begitulah kalau uangnya pas-pasan. Cemas terus urusan dompet, hahaha …

Padahal ya, kalau sudah sampai di sana, hasilnya begini.

Kawasan Sultan Ahmet selalu cantik dari sudut mana saja.

Hari yang dinantikan tapi tidak dinantikan tiba. Eh galau, deh. Iya, siapa coba yang rela meninggalkan Mekkah dan Madinah? Siapa pun orangnya, setiap muslim pasti merasa berat. Tinggal di sana memang nyaman, sih. Hidup rasanya hanya untuk ibadah, ibadah, ibadah. Damai sekali rasanya hati. Tapi kehidupan harus terus berjalan dong, ya. Uang perjalanan yang sudah dibayar juga jangan dilupakan, hehehe …

Perjalanan galau itu pun dimulai. Jakarta-Doha, Doha-Jeddah, lalu sekarang Jeddah-Doha, Doha-Istanbul, nanti saat pulang Istanbul-Doha, Doha-Jakarta. Capek naik turun pesawat? Ah biasa saja. Saya malah capek baru sebentar sudah disuguhi makanan lagi, makanan lagi.

Perjalanan Menikmati Istanbul Dimulai

Rombongan kami tiba di Attaturk Airport saat adzan Subuh waktu Istanbul. Dari balik jendela, melihat bandara yang di sana-sini dipenuhi salju. Takjub rasanya. Pagi itu, seusai bersih-bersih dan sholat Subuh kami dijemput menggunakan bus untuk menuju salah satu restoran demi mengisi perut alias sarapan pagi. Begitu keluar dari bandara, brrrr … Udara dingin menyerbu sampai ke dalam tulang. Dingin sekali. Ini sepertinya dinginnya puncak gunung di waktu malam.

Restoran tempat kami sarapan tergolong bagus, sepertinya merangkap bangunan penginapan juga. sarapannya disajikan ala prasmanan. Aneka buah zaitun tersaji di atas meja. Saya coba mengambil beberapa butir, menikmati sarapan roti dengan aneka sosis dan keju, dan secangkir teh buah.

Sayang sungguh sayang, saya melewatkan momen sarapan lengkap dengan menu enak karena alasan sepele. Ponsel yang saya bawa, memorinya kecil saja, hanya 32GB. Setelah ini kami akan langsung jalan-jalan. Bagaimana coba kalau saat jalan-jalan memori betulan habis? Habis juga dong harapan berfoto ria. Terlalu deh, coba yaaa ada ponsel yang kapasitas memorinya besaaar banget. Jadi buat berfoto ria dari pagi-pagi begini sampai malam nanti, memorinya keep large.

Demi mengabadikan diri dengan salju di pagi hari, menyempatkan diri deh berfoto di dekat restoran ini. Maafkan gambar yang agak-agak ngeblur, ya.

Istanbul Turkey
Pagi pertama di Istanbul. Duingiiin …

Tempat Apa Sih Yang Wajib Dikunjungi di Istanbul?

Setiap kali traveling, pasti ada dong ya the must visit place. Kalau di Istanbul, kawasan Sultan Ahmet tidak boleh dilewatkan. Di sini terdapat banyak bangunan bersejarah. Mata kita akan disuguhi pemandangan bangunan dari masa lalu yang cantik, sekaligus informasi peradaban Islam di masa lalu. Selesai sarapan, kami melanjutkan perjalanan menuju tempat tersebut. Udara di dalam bus sedikit hangat dibandingkan di luar.

Mesjid Sultan Ahmed dikenal juga dengan nama Blue Mosque. Nama ini terkenal karena dulunya mesjid ini memiliki ornamen berwarna biru.

Mesjid Sultan Ahmed (Blue Mosque)
Source: Wikipedia

Di kawasan ini juga terdapat Istana Topkapi dan Haghia Sophia. Istana Topkapi merupakan tempat kediaman Sultan Utsmaniyah di masa lalu, sekitar tahun 1853. Wow, sudah ratusan tahun ya usianya.

Istana Topkapi, Kawasan Sultan Ahmet
Source: Wikipedia

Istana Topkapi mulai ditinggalkan para penghuninya karena lebih memilih tinggal di istana lain di Bosphorus. Tapi bangunan ini masih berdiri dengan anggunnya.

Di kawasan Sultan Ahmed, juga terdapat bangunan bernama Haghia Sophia atau dikenal juga dengan Aya Sophia, dulunya merupakan gereja terbesar di dunia.

Pada saat konstantinopel ditaklukkan oleh Kesultanan Utsmani, Sultan Mehmed II sebagai pemimpin memerintahkan agar bangunan ini diubah fungsinya menjadi mesjid. Seluruh ornamen yang bernuansa Kristen, tidak dihilangkan, hanya ditutup saja. Kemudian atribut Islam seperti mihrab dan mimbar ditambahkan. Saat kami kesana, bangunan ini tengah direnovasi. Jadi agak kesulitan mengambil gambar yang bagus, sekaligus tidak adanya juga dukungan kamera ponsel yang bagus. Lengkap sudah.

Di tahun 1931 bangunan ini sempat ditutup oleh pemerintah Turki. Dibuka kembali menjadi empat tahun kemudian dengan status sebagai museum. (Sumber: Wikipedia)

Saat ini kita akan melihat musem Haghia Sophia yang di dalamnya terdapat kalimat-kalimat Allah, tulisan Allah dan Muhammad, sekaligus gambar Bunda Maria di dindingnya.

Mengenal Di Masa Lalu di Panoramic Mozae

Di sini kita bisa menikmati gambar-gambar yang menggambarkan peperangan di masa lalu. Gambar-gambar yang terlihat begitu hidup, apalagi di bagian atasnya terdapat lukisan langit dan awan. Seperti tengah menyaksikan perang di depan mata.

Panoramic Mozae
Panoramic Mozae

Belum lagi ada iringan musik perang yang kemudian menginspirasi pasukan Perancis untuk melakukan hal yang sama. Jadi merasakan betapa bersyukur lahir dan tumbuh di negeri yang sudah merdeka.

Menikmati Perpisahan Benua Eropa dan Asia di Selat Bosphorus dan Laut Marmara

Turki merupakan negara Eurasia, yaitu negara yang letaknya berada di benua Asia dan Eropa. Sebagian besar wilayah Turki masuk ke Eropa. Menarik sekali, setiap hari ada orang-orang Turki yang berpindah ke Eropa untuk bekerja. Sore harinya, mereka kembali ke rumahnya di Istanbul. Saya dan teman-teman tidak ingin melewatkan menikmati Bosphorus cuisine, menyusuri Selat Bosphorus dan Laut Marmara. Lautannya bersih, tidak terlihat sampah satu pun. Semula saya ingin berdiri di atas kapal, tapi dinginnya udara meruntuhkan tekad, hiks.

Menikmati Laut Marmara dan Selat Bosphorus di atas kapal pesiar
Menikmati Laut Marmara dan Selat Bosphorus di atas kapal pesiar

Selain perasaan takjub memandangi lautan luas dan bangunan-bangunan di kanan kirinya yang mengingatkan saya pada serial Turki, ada perasaan lain yang diam-diam merasuki hati. Sepi. Iya, saya kesepian karena melakukan perjalanan ini sendirian. Dari rombongan kami, semuanya pergi bersama keluarga dan pasangan. Situasi ini benar-benar membuat Indonesia terasa sangat jauh.

Saya bersyukur sekali bisa diberikan kesempatan mengunjungi Istanbul. Tapi kurang lengkap karena belum berhasil mengambil gambar tembok konstantinopel, belum berfoto di dalam cable car, belum mengambil gambar dengan kerudung berkibar di tepi dermaga. Masih banyak lagi yang ingin dirasakan kembali.

Melow-nya emak-emak mulai terbit, nih. Membayangkan seandainya saya punya cukup uang untuk membawa serta anak-anak. Pasti mereka senang sekali bisa menikmati pemandangan ini. Berlari kesana, kemari. Ah, semoga Allah kembali mencurahkan keluasan rezeki agar saya bisa kembali kesini bersama anak-anak. Semoga juga saat itu, saya sudah punya ponsel idaman 2018 yang sudah dilirik-lirik beberapa waktu lalu. Apalagi kalau bukan Huawei Nova 3i?

Kenapa Huawei Nova 3i

Premium Design

Kalau pernah tahu tentang mesin kecerdasan Sensing ala STIFIn, orang-orang ini – termasuk saya, adalah penyuka keindahan dan kenyamanan. Keindahan yang bisa disaksikan oleh mata atau barang-barang yang bisa disentuh. Untuk urusan gadget, keindahan ini saya temukan pada desain Huawei Nova 3i.

Disain-stylish-Huawei-Nova-3i
Source: http://nurulnoe.com

Huawei Nova 3ihttps://consumer.huawei.com/id/phones/nova3i/ memiliki premium design dengan gradasi warna biru dan ungu yang memukau dan tampak elegan. Sssttt, ini membantah wacana entah dari mana kalau ungu itu warna janda. Lihat deh, justru perpaduan warna biru dan ungu ini malah membuat tampilan Huawei Nova 3i terlihat berkelas. Iyalah, kan saya memang elegant alias high quality single mom. Cocok banget, kan?

Quad AI Camera

AI (Artificial Intelligence) merupakan kemampuan sebuah smartphone dalam mendeteksi ketajaman gambar hingga obyek yang diperoleh menjadi lebih cantik.

Aktivitas sehari-hari saat bekerja memang mewajibkan saya untuk mempunyai ponsel dengan kamera canggih. Gambar-gambar dengan kualitas istimewa akan menentukan kualitas pekerjaan. Contohnya ketika mengambil gambar pada event kelas pelatihan saham, ketika hasilnya gelap, ngeblur, pasti saya malu sekali kalau mau mengunggahnya di website. Apa kata alumni, coba?

Selain itu, pasti sudah tahu juga kalau aktivitas di dunia blogging membutuhkan kualitas gambar yang menakjubkan. Bisa dibayangkan dong, reaksi pengunjung blog kalau melihat gambar yang kita unggah warnanya pucat tanpa gairah. Bisa-bisa baru membaca sebaris, mereka sudah beranjak pergi. Kalau begitu, bagaimana dong bisa dapat job, ya kaaan?

Melakukan perjalanan sendirian, tanpa tripod, foto-foto yang saya ambil sangat terbatas. Salah satunya apa, dong? Selfie ya, kan? Alangkah menyenangkannya kalau nanti saya dan anak-anak bisa berfoto bertiga tanpa harus merepotkan orang lain untuk mengambilkan gambar. Kamera depannya Huawei Nova 3i ini juara!

Kamera Depan (Selfie) Huawei Nova 3i
Kamera Depan (Selfie) Huawei Nova 3i

Dengan memiliki Huawei Nova 3i, saya tidak perlu khawatir akan harapan menghasilkan gambar yang menakjubkan. Dengan fitur Quad AI Camera, Huawei Nova 3i menyediakan – tidak tanggung-tanggung, 4 kamera AI.

Detil yang jelas dan kedalaman keakuratan info pada gambar, membuat dua kamera depan 24MP + 2 MP dapat mempercantik wajah saya (horeee!) dengan algoritma canggih agar menjadi alami dan menarik. Teknologi Al Scenery Recognition-nya juga mampu mengenali kesejatian penggunanya. Apa sih maksudnya? Iya, dia bisa membedakan lelaki dan perempuan. Canggih, kan? Jadi tidak ada tuh ceritanya foto selfie seorang laki-laki yang wajahnya tampak halus mulus dan berbibir merah.

Kamera Belakang Huawei Nova 3i
Kamera Belakang Huawei Nova 3i

Huawei Nova 3i juga memiliki fitur kamera belakang ganda 16MP + 2 MP dengan aperture f/2.2 untuk menciptakan efek bokeh profesional dan alami. Ada kan, efek bokeh yang obyeknya malah ikutan ngeblur juga. Masih diperkuat juga dengan teknologi Al yang didorong pengetahuan lebih dari 100 juta gambar. AI Huawei 3i mampu mengingat 22 kategori dari 500+ momen dan menyediakan hasil memotret yang dioptimalkan. Dengan teknologi ini, orang yang tidak jago memotret pun tetap bisa menghasilkan gambar yang cantik. Huaaa, itu saya kali, ya?

Fitur kamera Huawei Nova 3i tidak perlu diragukan lagi. Ponsel ini memang diciptakan khusus bagi pengguna yang menganggap smartphone sebagai alat penting untuk mengekspresikan dirinya. Anak-anak, yuk bebaskan ekspresi kita dengan Huawei Nova 3i ini. Ups, lupa kalau belum punya.

Dari sisi video, Huawei Nova 3i mampu menangkap menangkap momen dengan gerakan super lambat. Aw, aw, aw, jadi membayangkan rok dan kerudung yang berkibar tertiup angin di dermaganya Bosphorus. Pasti ciamik sekali.

Storage 128GB

Mengingat perjalanan saya ke Turki dua tahun lalu itu, rasanya gemas sekali ya.  Apalagi memang memorinya kecil sekali. Hasilnya saya harus nebeng foto ke teman-teman lain. Malu? Banget. Itu karena kami bepergian dalam sebuah group. Bagaimana coba kalau tahun depan, saya hanya pergi bertiga bareng anak-anak?

Makanya, ada satu lagi kelebihan Huawei Nova 3i yang membuat saya ingin sekali punya smartphone yang satu ini. Memorinya besar, 128GB! Wow! Ini sih bisa puas banget ya, suka-suka deh merekam video keceriaan anak-anak selama kami jalan-jalan nanti.

Huawei Nova 3i berhasil menjadi smartphone termurah di kelasnya dengan storage 128GB. Smartphone lain yang harganya selevel Huawei Nova 3i, belum ada yang memiliki kapasitas memori seluas ini.

Powerful Performance

Desain sudah premium, kamera canggih, memori besar, bagaimana dengan performance smartphone satu ini?

Dipadukan dengan teknologi GPU Turbo, Huawei Nova 3i  tangguh digunakan untuk gaming. Smartphone yang sanggup gaming, bisa diadu ketangguhannya, tentu saja.

Sebagai orang yang sehari-hari sangat menggantungkan konektivitas internet dalam bekerja, terkadang saya kesal saat tengah melakukan percakapan kemudian tiba-tiba kehilangan sinyal. Tapi saya tidak perlu khawatir karena Huawei Nova 3i sudah punya solusinya.

Elevator Mode

Elevator adalah salah satu tempat ketika koneksi internet menjadi terputus, hilang sementara waktu. Kadang kesal ya, apalagi kalau sedang membahas masalah penting. Huawei Nova 3i memiliki mode elevator yang saat diaktifkan, akan segera memulihkan kembali konektivitas internet yang sempat hilang. Teknologi Al yang adaptif mendukung pergerakan penggunanya agar selalu dapat menyesuaikan dengan lingkungan. Luar biasa!

Powerful Performance Huawei Nova 3i
Powerful Performance Huawei Nova 3i. Source: Huawei

Huawei Geo 1.5

Apa yang terjadi ketika tengah berkendara dan melintasi terowongan? Konektivitas terputus? Yup, betul sekali. Huawei Nova 3i sudah mengantisipasinya dengan mode Huawei Geo 1.5 yang menyediakan layanan akurat bahkan mampu meningkatkan kinerjanya di dalam terowongan sekalipun.

AI Noise Removal

Jalan-jalan bersama keluarga, membawa anak-anak, besar kemungkinan terhindar dari suara berisik. Paling tidak berisiknya anak-anak, ya. Apalagi yang namanya kawasan wisata, malah menyeramkan kalau sunyi sepi. Ya, kan? Tapi bagaimana kalau saat itu ada panggilan penting yang harus segera direspon. Satu lagi kecanggihan Huawei Nova 3i yang sulit ditolak. Mode Al Noise Removal mampu menonaktifkan suara berisik di sekitar. Misalnya pengaturan volume di ponsel terlalu rendah sehingga panggilan tidak terdengar, mode Al Noise Removal ini akan meningkatkan volumenya sampai kita menjawab panggilan. Begitu juga saat percakapan terdengar terlalu berisik, mode ini akan membantu menjernihkan suara. Percakapan dengan kualitas jernih, bukan lagi mimpi.

Impian Menikmati Salju Bersama Buah Hati

Dulu, karena keterbatasan biaya, saya melakukan perjalanan ini sendirian. Satu orang saja nyicil puluhan kali, bagaimana kalau yang berangkat tiga orang, ya kan?

Di hari pertama saya memasuki hotel di Madinah, ada kabar kalau anak-anak jatuh sakit. Duh, jarak jauh, anak-anak sakit. Khawatir luar biasa.

Di Mekkah dan Madinah, saya tidak merasakan kesendirian karena tujuannya ibadah. Tetapi di Istanbul, ketika semua orang bergembira menikmati liburan bersama keluarga, saya merasakan keheningan yang begitu dalam. Saya ingat betul ekspresi bungsu yang terpana melihat saya berdiri di depan pagar dengan koper besar. Dia menatap saya beberapa detik sebelum akhirnya berlari ke gendongan.

Kerinduan teramat dalam juga saya rasakan selama perjalanan pulang. Sudah sedih, yang ditonton di pesawat malah The Everest. Semakin mengambang lah perairan di pelupuk mata. Tapi saya betul-betul menangis saat layar besar di depan menunjukkan posisi pesawat yang sudah memasuki peta wilayah Indonesia. Masa bodoh deh dilihat penumpang-penumpang lain.

Sudah mantap hati ini ingin memiliki Huawei Nova 3i. Mantap juga kembali menapakkan kaki di Turki bersama anak-anak, mengabadikan momen keceriaan dan kelucuan mereka dengan ponsel idaman ini. Mungkinkah terwujud? Bisa saja. Apa sih yang tidak bisa kalau Dia menakdirkannya?

 

The Happier Me,

Melina Sekarsari

~Tulisan ini diikutsertakan dalam giveaway di blog nurulnoe.com

 

Facebook Comments

Posted by melinase

Mom of two kids, living within good books and extraordinary people

20 thoughts on “Menikmati Salju Bersama Buah Hati Suatu Hari Nanti”

  1. Subhanallahhh perjuangan membuahkan hasil yah mbak hheee
    JAdi terinspirasi untuk bisa melakukan perjalanan macam Mbak Melina nih, hhee
    Semoga suatu hari bisa kembali lagi kesana membawa serta anak-anak tercinta yah mbak
    Semangat, Good Luck
    Salam dari bumi Jember ^_^

    1. MasyaAllah, terima kasih Mbak sudah mampir. Itu kesana bawa uang seadanya. Uangnya udah habis buat bayar cicilan tiket wkwkwk … Pokoknya berangkat dulu aja maunya mah.

  2. Ahh, baca blog nya traveller emang selalu memikat hati. Soalnya sy jarang jalan2. Pengennya sih, mau keliling nusantara mau ke luar negeri, sama2 enak, soalnya sy gak pernah. Huhuhu. Eh, itu pakai huawei ternyata enak ya? Sy belum tahu, fiturnya canggih juga 😁😁

    1. Masih pada disembunyiin nih pepotoannya. Nanti aku intip lho blog yang kemarin-kemarin :D. Huawei Nova 3i ini kameranya canggih, memorinya besar. Jagoan deh buat traveling. Semogaaa bisa punya, yaaa.

  3. Mbak kok sama sih aku juga lho ingin ke Mekah Madinah dan Turkey. Kalau ke Mekah Madinah inshaAlloh masih nunggu 14 tahun lagi. Tapi kalau perjalanan haji enggak bisa ya langsung ke Turki. Duh jadi baperan nih lihat foto-foto kecenya.

    1. MasyaAllah … Langsung seat haji InsyaAllah, yaaa. Perjalanan haji nggak bisa kayaknya. Belum pernah dengar, sih. Apa nggak jemaah udah lelah juga, ya. Turki juga cuma keliling Istanbul. Belum puaaasss. InsyaAllah ya ada rezeki kesana lagi. Eh tahunya kita ketemuan di sana. Kan indah banget hihihi …

  4. MasyaAllah bagus bgt view ny lin 😘, alhamdulillah ya ada kesempatan ke Turki semoga kesempatan itu datang juga buat keluarga kecil ku yg mmng blum pernah jl2 ke LN 😁😘

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.