Meningkatkan Kualitas Hidup Penuh Aksi Sehat Ceria Sekarang Juga

Saya membuka mata dan terkejut mendapati tengah berada di mana saya saat itu. Terbaring di sebuah tempat tidur beralaskan kain putih, dinding-dinding ruangan yang bercat putih, dan aroma yang tidak saya suka. Seorang perempuan yang duduk di balik meja tak jauh dari tempat tidur saya tersenyum, “Sudah bangun?”

***

Serial anak-anak Dora Emon tengah diputar di salah satu saluran televisi swasta kala telepon di rumah berdering pagi itu. Dahi saya sedikit berkerut mendengar suara di seberang sana. Teman sekelas sih, tapi saya kurang akrab. Jadi agak heran kenapa dia tiba-tiba menelepon. Suaranya terdengar sedikit panik dan sedih. Ternyata tantenya baru saja melahirkan subuh tadi, mengalami pendarahan hebat, dan memerlukan transfusi darah secepatnya. Deg! Seketika tubuh saya menegang.

Bayi Baru Lahir

Source: Pixabay

Teman saya meminta bantuan kalau-kalau saya bisa mendonorkan darah untuk tantenya. Tanpa ba-bi-bu lagi, permintaan itu segera saya iyakan. Ini adalah respon terbaik yang bisa saya lakukan sebagai seorang teman. Meskipun agak-agak horor juga mengingat tubuh saya terbilang kurus. Memangnya nanti tidak akan kenapa-kenapa? Urusan nantilah, pikir saya.

Pagi itu saya bergerak cepat. Sebelum berangkat mencoba menghubungi teman-teman yang lain untuk janjian di suatu tempat. Inilah salah satu kehebatan masa lalu. Bisa janjian dengan siapa saja, tepat waktu, tepat lokasi, tanpa telepon seluler. Jarak dari rumah saya ke rumah sakit yang dia maksud cukup jauh, harus naik transportasi umum yang memakan waktu paling cepat 30 menit. Ini belum termasuk jalan kaki dari rumah saya ke depan komplek kira-kira 15 menitan. Kalau itu terjadi di jaman sekarang sih tinggal order ojek online via aplikasi, ya. Jaman dulu boro-boro. Ojek pangkalan saja jarang.

Kurang dari satu jam, akhirnya saya tiba juga di markas PMI di pusat kota. Lho, ngapain kesini? Tes golongan darah, dong. Kan saya belum tahu punya golongan darah apa. Tet-tot! Jauh di lubuk hati, sangat berharap golongan darah saya adalah A karena berarti benar saya adalah anak bapak saya. Eh bukan, maksudnya supaya sama dengan golongan darah tantenya teman saya itu.

Golongan Darah

Source: Pixabay

Kantor PMI tampak sepi. Mungkin karena sedang tidak ada kegiatan khusus. Seorang petugas laki-laki menyambut dengan ramah. Saya sampaikan tujuan datang ke sana. Dia mempersilakan duduk dan saya diminta mengulurkan tangan kanan. Dia hanya memerlukan jari telunjuk saya.

“Sudah siap?” tanyanya.

“Diambil darahnya banyak, nggak?” Saya malah balik bertanya.

Petugas itu bilang setetes saja cukup kalau hanya untuk tes golongan darah. Saya duduk sambil bersenandung dan berkata, “Kecil itu, tusuk aja.”

Saya tidak ingat bagaimana proses pengambilan darah itu selesai dan apa yang terjadi setelahnya. Hanya ingat kemudian ada petugas perempuan menghampiri saya dengan segelas teh di tangannya, disusul petugas laki-laki yang pertama saya temui tadi. Mereka tersenyum menggoda, “Katanya kecil, kok pingsan?”

Hah! Jadi tadi saya pingsan? Jadi ini tempat tidurnya pasien PMI? Alamak! Malunyaaa … Rasanya ingin menarik kain sprei dan menutupinya ke wajah.

Waktu Telah Habis

Source: Pixabay

Setelah menyelesaikan rasa pusing yang memalukan itu – sepertinya akibat shocked melihat darah, saya meninggalkan kantor PMI. Panik karena saya tidur cukup lama di tempat tidur PMI tadi. Mencari telepon umum terdekat untuk menghubungi teman-teman yang lain. Tubuh yang masih lemas semakin bertambah lemas mengetahui tante teman saya sudah tiada. Kesal, merutuki diri sendiri. Mau menolong kok ya malah pingsan. Saya menangis sesenggukan sambil memeluk gagang telepon umum di dada.

Diambil Darah untuk Diperiksa? Jangan Takut!

Tanpa pernah direncanakan, bertahun kemudian saya malah beberapa kali mengalami kondisi harus diambil darah karena demam dan keluhan nyeri pada daerah perut. Demam merupakan keadaan saat suhu tubuh melebihi 37 derajat celcius dengan pemeriksaan menggunakan thermometer. Demam tidak bisa disepelekan karena seringkali merupakan gejala awal dari Demam Berdarah Dengue (DBD) dan Thypus.

Dokter akan memerlukan informasi lebih lengkap melalui pemeriksaan penunjang di laboratorium. Jadi tidak perlu takut kalau ada kondisi yang memerlukan kerjasama dari kita untuk proses pengambilan sampel darah. Kan supaya jadi tahu ada penyakit yang serius atau tidak tuh di dalam tubuh kita.

Yuk, Memulai Pola Hidup Sehat

Keluhan pada tubuh seperti itu sebenarnya bisa dihindari kalau saya konsisten menerapkan gaya hidup sehat, dengan melakukan hal-hal berikut ini:

Mengonsumsi buah dan sayuran

Buah dan sayuran mengandung zat gizi tinggi seperti vitamin dan mineral serta kaya serat yang pastinya baik untuk pencernaan. Sebagai pusat keseimbangan tubuh, apabila saluran pencernaan tersumbat, pasti efeknya akan meluas ke seluruh tubuh.

Pastikan juga mengonsumsi sayuran dalam keadaan segar. Saya sangat menghindari memasak sayuran dalam kondisi terlalu matang. Secukupnya saja. Malah lebih enak karena lebih terasa crunchy. Selain itu, rasa manis dan aslinya sayuran pun tidak hilang. Lebih penting lagi untuk diketahui, memasak sayuran terlalu matang malah bisa menghilangkan kandungan gizinya, lho. Sayang, kan?

Mengonsumi Air Putih Delapan Gelas Per Hari

Tubuh yang lemas dan mudah mengantuk bisa menjadi gejala awal dehidrasi. Makanya, yang namanya konsumsi air putih itu penting sekali. Apalagi mengingat 60% dari tubuh orang dewasa memang terdiri dari air.

Bepergian, Jangan Lupa Bekal Air Minumnya

Salah satu fungsi air di dalam tubuh adalah membawa asupan oksigen melalui peredaran darah ke otak. Bisa dibayangkan dong ya, kalau sampai media yang membawa oksigen ke otak tidak tercukupi, maka kerja otak akan mengalami perlambatan. Ini nih yang suka membuat kita menjadi lemot alias lambat berpikir.

Menyadari pentingnya konsumsi air putih, saya mewajibkan diri sendiri dan anak-anak untuk meminum air putih di waktu pagi saat bangun tidur. Melakukan perjalanan kemana saja, saya selalu membawa botol minum berisi air putih. Kapan pun haus, tinggal keluarkan, lalu minum deh.

Rutin Berolahraga

Dulu saya malas sekali berolahraga. Sampai suatu ketika saya mengalami batuk berkepanjangan dan menurut dokter saya mengidap bronkhitis. Dokter hanya memberi sedikit obat dan lebih menyarankan saya untuk berolahraga.

Itu adalah awal mula saya akhirnya mulai suka berolahraga. Untuk kardio, saya memilih berlari pagi setiap minggu. Selain itu, saya juga membiasakan diri berjalan kaki ke lokasi tujuan, seperti mengantarkan anak-anak ke sekolah, berbelanja ke toko, dan lokasi-lokasi yang sebenarnya masih terjangkau dengan berjalan kaki tapi sudah terlanjur biasa ditempuh dengan alat transportasi.

Tubuh saya terbilang kurus, makanya saya juga melakukan workout untuk melatih ketahanan, kekuatan, keseimbangan tubuh, dan meningkatkan massa otot dengan modal dumbell dan matras. Peningkatan massa otot ini yang akan menaikkan berat tubuh saya. Gerakan plank, squat, dan sit up menjadi pilihan karena sesuai dengan kebutuhan.

Cukup Waktu Tidur

Sebagai perempuan yang aktivitasnya banyak digunakan untuk menulis, saya cukup kesulitan jika melakukan kegiatan ini di saat situasi ramai. Sehari-hari, selama jam kerja pagi sampai sore, saya menggunakannya untuk kegiatan bekerja. Menjelang sore saat anak-anak pulang dari sekolah, jangan harap deh saya bisa menulis. Keriuhan di dalam rumah benar-benar tidak bisa membuat saya berkonsentrasi.

Makanya, saya memilih dini hari sebagai saat terbaik untuk menulis. Suasana yang hening mendukung sekali untuk mengalirkan segala ide yang ada di kepala ke dalam tulisan. Banyak yang bertanya, “Apa nggak ngantuk bangun sepagi itu?”

Sleeping Time

Source: Pexels

Jadi saya sengaja tidur lebih awal. Pukul delapan biasanya sudah pulas, hehehe … Baru kemudian saya bangun tercepat pukul 01.00 WIB. Siang hari pun saya menyempatkan diri untuk tidur siang selama 30 menit sampai 1 jam.

Berpikir Positif, Menyapa, dan Menebarkan Senyum

Saya percaya bahwa stress menjadi pemicu banyak penyakit. Saat tubuh terasa tidak enak dan merasa perlu berkonsultasi dengan dokter, selalu disisipi pesan, “Istirahat yang cukup, jangan stress.” 

Buat saya, stress itu memang membunuh secara perlahan. Penyakit psikis akibat stress rentan sekali mengakibatkan gangguan pada fisik. Banyak permasalahan dari diri sendiri maupun lingkungan yang kerap memicu stress. Nah, kuncinya tentu dari diri sendiri untuk mengelola stress tersebut agar tidak berkepanjangan.

Bagi saya, berpikir positif menjadi kunci utama pengelolaan stress. Melihat orang lain hidup berlebih, berpikir positif saja mungkin dia selama ini berusaha lebih keras dari saya. Bertemu dengan teman lama tapi malah cemberut dan tidak menyapa, berpikir positif saja, mungkin dia tengah terburu-buru dan tidak melihat saya. Jangan salah, contoh-contoh ini kelihatannya sederhana. Tapi kalau kita terbiasa berpikir negatif, selalu menaruh curiga, lama-lama kalau dibiarkan bisa menjadi penyakit, lho.

Jangan Lupa Senyum, Yaaa …

Terus berpikir positif dan jangan lupa tersenyum. Pasti senang ya kalau bertemu seseorang lalu diberikan senyum, rasanya nyes. Nah, kenapa bukan saya duluan yang menebarkan senyum dan sapa itu, kan? Pasti orang yang bertemu kita pun ikut bahagia. Sejatinya bahagia itu saat kita bisa menularkan kebahagiaan untuk orang lain kan, ya?

Nah, ada satu lagi nih gaya hidup sehat yang sayangnya belum pernah saya lakukan. Apakah itu? Yup, kegiatan donor darah.

Bukannya tidak mau, jahat, tidak suka menolong, tapi tahu sendiri kan dulu saya diambil darah untuk tes saja malah jatuh pingsan. Bagaimana coba kalau diambil darahnya sampai 450 ml? Lemas dan pusing juga atau tidak, ya?

Lemas dan Pusing Saat Melihat Darah? Ini Alasannya, Lawan!

Percaya tidak bahwa sakitnya tusukan jarum di ujung jari, lengan, atau bagian tubuh yang lain, belum apa-apa dibandingkan reaksi tubuh ketika melihat darah yang ditarik keluar? Hihihi, ini sih saya. Melihat darah yang berwarna merah cerah dan cair atau merah tua dan kental, seperti ada energi yang ikut tersedot bersamanya. Hiperbola deh, sukanya.

Blood Phobia

Source: Pexels

Makanya, kalau tengah diambil darah, saya biasanya pasang aksi marahan dengan perawat atau petugas laboratorium. Mereka ada di sisi kanan, wajah saya palingkan ke sisi kiri. Sibuk merapal doa, begitu selesai, biasanya mendengar komentar, “Wuih, telapak tangannya sampai dingin begini.”

Pasti di antara teman-teman ada juga yang merasakan pusing dan lemas saat melihat darah (ini cari teman, ceritanya). Dilansir dari salah satu portal kesehatan, kondisi ini dinamakan sinkop vasovagal, yaitu kondisi detak jantung yang tidak beraturan saat melihat darah. Kondisi tersebut akan membuat pembuluh darah di kaki melebar, menyebabkan darah berkumpul di kaki, dan menjauhi kepala. Akibatnya, tekanan darah akan menurun dan menyebabkan terjadinya lemas, pusing, atau bahkan pingsan.

Source: Pexels

Kondisi di atas juga disebut dengan phobia atau ketakutan yang berlebihan terhadap sesuatu, dalam hal ini darah. Tapi seperti phobia lainnya, phobia darah juga dapat dilawan dengan sesuatu yang ditakuti itu sendiri. Ini yang saya masih merasa ngeri.

Sejak sekitar tujuh tahun lalu, saya punya banyak teman yang rutin melakukan donor darah. Mereka bilang, rasanya tidak sakit, biasa saja, malah tubuh terasa bugar setelahnya. Saya betul-betul penasaran dan ingin mencoba. Apalagi setelah itu pendonor darah disuguhi aneka makanan dan minuman enak. Ups, salah fokus.

Apa Saja Sih Manfaat Donor Darah?

Donor darah merupakan proses pengambilan darah dari seseorang secara sukarela atau pengganti untuk disimpan di bank darah sebagai stok darah yang kemudian digunakan untuk transfusi darah. Bank darah berada di bawah naungan Palang Merah Indonesia (PMI). Organisasi ini dibentuk pertama kalinya di Indonesia 3 September 1945. Tetapi baru diresmikan pada 17 September 1945. Oleh sebab itu saat ini kita mengenal 17 September sebagai Hari PMI.

Gedung PMI di Jakarta

Source: PMI

Sebagai pusat bank darah di Indonesia, PMI seringkali mengalami kekurangan stok. Apalagi masih beredar  luas mitos mengenai donor darah bahwa kegiatan ini dapat menjadi sumber penularan penyakit, menyebabkan tekanan darah menjadi rendah, dan lain-lain, sehingga calon pendonor menjadi ragu, takut, dan akhirnya tidak jadi mendonorkan darahnya.

Dalam rangka menyambut peringatan hari Palang Merah Indonesia (PMI) tahun 2018, DokterSehat mengadakan kegiatan #AksiSehatCeria yang bertemakan “Healthy Lifestyle in Everyday Life”, berbagi dan lebih sehat melalui donor darah. Tuh kan, donor darah itu menyehatkan lho.

#AksiSehatCeria by DokterSehat

Dilansir dari https://doktersehat.com donor darah mempunyai banyak manfaat, baik bagi yang menerima maupun yang memberikan. Berikut di antaranya:

Kesehatan Jantung

Penyakit kardiovaskular berkaitan erat dengan tingginya kandungan zat besi di dalam tubuh. Kadar zat besi yang berlebihan dapat menyebabkan oksidasi kolesterol. Proses oksidasi ini akan menumpuk di dinding arteri dan sangat berpotensi terhadap serangan jantung dan stroke.

Meningkatkan Sel Darah Merah

Bagi yang merasa takut melakukan donor darah karena khawatir kehilangan jumlah sel darah merah, ketahuilah bahwa sumsum tulang belakang kita akan kembali mengisi sel darah yang hilang akibat didonorkan. Pendonor akan terus mendapatkan sel darah merah baru setelah proses donor darah, lho. Jadi, donor darah ini justru menjadi stimulan efektif untuk pembentukan sel darah merah yang baru di tubuh kita.

Menurunkan Berat Tubuh

Ada yang mati-matian diet demi memperoleh timbangan yang bergerak ke kiri? Lanjutkan saja dietmu selama tetap di koridor gaya hidup sehat, teman-teman. Tapi jangan lupakan juga bahwa donor darah pun efektif untuk menurunkan berat tubuh. Dengan menyumbangkan sekitar 450 ml darah, akan terjadi pembakaran 650 kalori. Penurunan kalori yang cukup tuh untuk merampingkan pinggang.

Menurunkan Resiko Kanker

Setuju ya, kalau kanker merupakan salah satu ancaman penyakit yang mematikan? Berubahnya kondisi lingkungan, gaya hidup tidak sehat, dan kadar zat besi dalam tubuh menjadi faktor penyebabnya.

Pita Peduli Kanker

Source: Pixabay

Dengan mendonorkan darah, pendonor dapat meminimalkan resiko serangan kanker ini terutama kanker pada organ tubuh yang terkait dengan zat besi, seperti hati, usus besar, paru-paru, kerongkongan, dan perut.

Mengurangi Kadar Zat Besi Dalam Darah

Hasil penelitian di Amerika Serikat menunjukkan bahwa 1 dari dua ribu penduduk negara tersebut mengalami gangguan kesehatan yang disebut dengan hemokromatosis. Ini adalah kondisi ketika tubuh kelebihan kadar zat besi. Jika dibiarkan akan menyebabkan kerusakan pada ginjal, pankreas, jantung, serta menimbulkan kematian jika tidak ditangani. Duh, ngeri ya.

Merawat Kesehatan Organ Hati

Hati merupakan salah satu organ penting di dalam tubuh. Makanya lebih baik sakit hati daripada sakit gigi. Ups, malah dangdutan. Hati dan gigi sama pentingnya dong, ya. Lagi-lagi berkaitan dengan kadar zat besi di dalam tubuh, apalagi kadar berlebihan terjadi pada hati, maka penyakit Hepatitis C akan datang mengancam.

Mendeteksi Penyakit

Kalau banyak di antara teman-teman yang ragu melakukan donor darah karena takut tertular penyakit, justru di sini kita malah tahu kalau ada penyakit yang sebelumnya tidak diketahui. Darah yang didonorkan nantinya akan ditransfusikan kepada orang-orang yang membutuhkan, tentunya PMI atau rumah sakit juga harus memastikan bahwa pendonor dalam keadaan sehat.

Ada serangkaian tes darah yang harus dilakukan seperti tes HIV, Hepatitis B, Hepatitis C, malaria, dan lain-lain. Malah dapat bonus nih, ya.

Pemeriksaan Kesehatan Gratis

Pemeriksaan Kesehatan Gratis

Source: Pixabay

Selain serangkaian tes yang memastikan calon pendonor tidak terinfeksi penyakit menular, PMI atau rumah sakit juga perlu melakukan tes kesehatan lain yang lebih sederhana, seperti denyut nadi, tekanan darah, suhu tubuh, dan kadar hemoglobin.

Menyehatkan Psikologis Kita

Pernah dengar, bahwa pada saat kita menolong, berbuat baik, dan membahagiakan orang lain, sesungguhnya kita tengah menciptakan kebahagiaan bagi diri sendiri. Begitu pula dengan donor darah ini. Coba bayangkan, ada nyawa-nyawa yang dapat terselamatkan dengan niat dan tindakan baik kita.

Kebahagiaan

Source: Pexels

Informasi lainnya bisa dibaca juga di https://doktersehat.com/manfaat-donor-darah-bagi-kesehatan

Mau Mendonorkan Darah? Penuhi Dulu Syaratnya

Wah, membaca manfaat donor darah yang ternyata banyak sekali itu, saya jadi ingin juga mencoba mendonorkan darah. Apalagi kalau bisa seperti teman-teman saya itu yang rutin mendonorkan darah setiap tiga bulan. Upaya menyehatkan tubuh secara alami kalau istilah mereka.

Ternyata, mendonorkan darah juga tidak boleh sembarangan, lho. Sebagai pendonor darah, wajib hukumnya menjaga kesehatan tubuh. Ya dong, bayangkan saja, darah kita akan mengaliri tubuh orang lain. Jangan sampai niat baik malah jadi bencana karena kondisi tubuh yang tidak sehat.

Ini adalah syarat-syarat umum menjadi pendonor darah:

  1. Berusia antara 17-70 tahun.
  2. Memiliki berat tubuh minimal 45 kg.
  3. Temperatur tubuh normal antara 36,6-37,5 derajat celcius.
  4. Tekanan darah normal, yaitu sistole 100-160 mmHg dan diastole 70-100 mmHg
  5. Kadar haemoglobin perempuan minimal 12 gram% dan laki-laki minimal 13 gram%
  6. Frekuensi donor darah maksimal 5 kali dalam setahun atau berjarak minimal 3 bulan

Kalau dilihat dari persyaratan umum di atas, seharusnya saya bisa tuh ikutan donor darah juga. Tinggal melakukan pengecekan lainnya dan tentunya mengumpulkan keberanian untuk menyaksikan darah yang mengalir melalui selang. Sudah cukup berani belum, ya?

Ayo sehat dan ceriakan hidup kita, ya.

Ketakutan tentang melihat darah sebenarnya tidak ada apa-apanya dibandingkan dengan kenangan masa lalu ketika saya tidak berhasil menolong tantenya teman. Sedihnya luar biasa. Makanya, sekarang harus berani memotivasi diri, nih. Memikirkan sisi positif tentang saudara-saudara kita yang tertolong, bukan tentang ngerinya melihat darah.

Tapi lebih dari itu, yuk hidup sehat dulu, agar siap mendonorkan satu kali dalam tiga bulan. Sehat dan ceriakan hidup dengan aksi mendonorkan darah. Sudah siap?

 

The Happier Me,

Melina Sekarsari

 

Sumber:

htttps://www.dokter.id

https://www.himedik.com

https://id.wikipedia.org/wiki/

https://www.alodokter.com

https://www.femina.co.id

 

 

 

 

 

About

Mom of two kids, living within good books and extraordinary people

7 Comments

  • Nyknote October 15, 2018 at 4:10 pm Reply

    Wah detil banget I don’t ask tentang hidup sehat juga tentang donor darah. Almarhum Ayah saya smpi dpt sertifikat krn melakukan donor darah lebh 50x. Kalau kita sering melakukan donor bagus untuk darah kita semakin segar dan sehat. saya masuk kriteria pendonor… Pengen tapi belum kesampaian… Insha Allah suatu saat… Hehe

  • erny Kusumawaty October 15, 2018 at 4:39 pm Reply

    Wah detil banget tentang hidup sehat juga tentang donor darah. Almarhum Ayah saya smpi dpt sertifikat krn melakukan donor darah lebh 50x. Kalau kita sering melakukan donor bagus untuk darah kita semakin segar dan sehat. saya masuk kriteria pendonor… Pengen tapi belum kesampaian… Insha Allah suatu saat… Hehe

    • melinase October 16, 2018 at 1:50 am Reply

      MasyaAllah, sehat banget itu ayahnya, Mbak. Teman-teman sekitar yang rutin donor darah memang aku lihat sehat-sehat banget, lho. Makanya kan jadi kepengen jugaaa.

  • lisa lestari October 15, 2018 at 5:15 pm Reply

    BB saya nggak pernah memenuhi syarat buat donor. Padahal pengen banget tapi kok susah naikin BB. Ditambah tekanan darah saya selalu di angka 90 aja. Jadi kangen olah raga. Kapan yaa…sok sibuk sih ya

    • melinase October 16, 2018 at 1:49 am Reply

      Waaah, banyak juga ternyata yang belum pernah donor darah. Asyiiik ada temannya. Iya, sih. Tensi kadang rendah juga. Duh, semoga nanti saat tes bisa ya.

  • Ika Yudaningrum October 15, 2018 at 8:17 pm Reply

    Keren banget mbak, seru ya ternyata diambil darahnya. Kalau saya karena ramping dan mungil enggak bisa donor darah enggak memenuhi syarat. 😂😂😂

    • melinase October 16, 2018 at 1:46 am Reply

      Aduuh, aku baru tes golongan darah aja udah pingsan. Ini juga kalau dicek lebih jauh belum tentu lulus sih, Mbak hahaha …

Leave a Comment

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.