Jalan-Jalan di Semarang; Ada Pelajaran Penting Soal Liburan (Part 1)

Kurang dari dua minggu dari sekarang, Oktober sudah akan habis. Berganti November, Desember, lalu tibalah masa liburan, yeay!

Kami sekeluarga lebih sering liburan dadakan. Entahlah, sudah menyiapkan begitu rupa jauh-jauh hari, ada saja yang membuat batal. Tapi liburan saya dan anak-anak beberapa waktu lalu saya siapkan dengan begitu manis. Namanya juga perjalanan jauh dan bawa anak-anak. Nggak mau dong nanti repot di tengah jalan.

***

Saya dan kakak adik dilahirkan di kota Semarang, Jawa Tengah. Kami sempat berpindah-pindah tempat tinggal sampai akhirnya kini mendarat dengan manis di kota hujan. Saya hanya mengalami tinggal di Semarang sampai kelas satu SD. Semasa di sana pun nggak punya teman selain teman sekolah karena kami tinggal di mess. Dikelilingi tembok tinggi, tetangga sekitar ya pabrik-pabrik juga. Ada sih pemukiman penduduk tapi agak jauh dan saya memang nggak punya teman di sana.

Childhood

Source: Pexels

Teman sekolah pun saya nggak akrab. Yakin dulu teman-teman malas main dengan saya karena tingkat kecengengan yang luar biasa. Diledek sedikit nangis, ditinggal sebentar nangis, tukang nangis deh, pokoknya.

Kami nggak punya rumah di sana jadi memang nggak pernah mudik. Banyak sih saudara-saudara dari ibu yang tinggal di sana. Tapi sepertinya uang orangtua semasa saya kecil dulu memang pas-pasan jadi daripada buat mudik ya lebih baik untuk keperluan sehari-hari. Yang namanya mudik itu sesuatu yang mewah deh pokoknya.

Ceritanya, beberapa bulan lalu saya kangen sekali sama kota kelahiran ini. Ingin main-main kesana, jalan-jalan mengunjungi tempat-tempat wisata dan bersejarah, menengok kembali kawasan tempat tinggal kami dan sekolah saya dulu, dan tentunya mau kulineran juga. Makanan Semarang kan enak-enak. Meskipun sebenarnya di lidah saya tuh cuma ada rasa enak dan enak banget.

Persiapan Liburan, Menyeimbangkan Keinginan Pribadi, Anak-Anak, dan Orangtua

Maret lalu, saya memutuskan berangkat ke Semarang bersama anak-anak dan Eyang Uti (ibu saya).

Saya membeli tiket dan reservasi penginapan satu bulan sebelum berangkat. Sebenarnya kepengen banget naik kereta api karena belum pernah menginjakkan kaki di Stasiun Tawang. Masa lahir di Semarang tapi belum pernah ke Stasiun Tawang, ya kan?

Tapi mempertimbangkan ibu di perjalanan jauh dan jadwal sekolah anak-anak, akhirnya saya memilih naik pesawat. Dari sisi biaya memang lebih mahal pesawat tapi selisihnya masih bisa ditolerir, deh. Sesuai rencana, kami akan menuju Semarang kota, daerah Semarang atas di Bandungan, dan Ambarawa. Waktu kami nggak banyak karena anak-anak pun bolos sekolah selama dua hari (Kamis dan Jumat). Dududu, nggak sabaran banget ya menunggu sampai musim liburan sekolah.

Persiapan kami matang sekali, pakaian lengkap, keperluan anak-anak, makanan, semua komplit deh. Bahkan saya menyiapkan printilan yang iseng banget sampai segitunya disiapkan. Nih, ya:

Sandal Jepit Karakter

Pesan dari teman di Facebook. Temanya disesuaikan dengan kesukaan anak-anak. Sulung kala itu sedang cinta-cintanya sama pesawat tempur dan bungsu sedang heboh-hebohnya sama kuda poni. Beli sandalnya kenapa? Nggak ada alasan khusus, sih. Kepengen aja bisa jalan santai bareng anak-anak dengan sandal seragam.

Sandal mas sulung entah di mana.

Padahal sih saat dipakai wujudnya ya sandal jepit biasa juga. Kan karakternya ada di bagian alas kaki jadi nggak akan kelihatan.

Bantal Leher

Eta, Aidil, dan Hot Mama … Eaaa …

Bantal ini khusus dipesan di sekolah tempat anak-anak menimba ilmu. Pas sekali saat itu sekolah sedang buka PO. Jadilah saya pesan tiga bantal dan masing-masing sudah diberi nama. Aidil (sulung), Eta (bungsu), dan Hot Mama (saya) …. Prikitiw! Ibu guru di sekolah sampai ketawa.

Pakaian Renang Baru

Pakaian renang sulung dan bungsu sudah di atas lutut semua dan mereka malu karena auratnya jadi kelihatan. Aw aw aw, jadilah saya beli dulu termasuk pakaian renang buat saya sendiri. Ini aslinya cuma buat berendam lho karena saya belum bisa berenang hahaha ….

Saatnya Berangkat, Let’s Go!

H-1. Semua keperluan sudah masuk ke dalam koper dan ransel, kecuali barang bawaan anak-anak yang mereka memang kepengen bawa sendiri. Untuk perjalanan yang cuma 5 hari 4 malam, barang bawaan kami sebenarnya nggak banyak tapi jadi rempong karena nggak dimasukkan ke dalam satu tempat.

Kami membawa koper medium berukuran 25cm, tas besar tanpa roda buat pakaian anak-anak, sebuah ransel yang cukup besar (soalnya nggak bisa deh kalau kemana-mana tanpa ransel) + sling bag (buat gegayaan aja sih) + bantal leher, tasnya sulung dibawa sendiri + bantal leher, tasnya bungsu dibawa sendiri + sling bag kuda poni + bantal leher, dan Eyang Uti dengan tas maha besarnya. Guede banget, beneran. Ya sudahlah, yang penting semua senang, riang, gembira, ya.

Hari Selasa, sepulang sekolah, anak-anak sudah ramai besok mau jalan-jalan. Sesuai tiket, pesawat akan membawa kami terbang di hari Rabu pukul 17.30. Sudah saya rencanakan, nih, sepulangnya dari sekolah pukul 14.00 wuzz kami langsung ke bandara. Pasti sambil deg-degan karena arus tol menuju bandara seringkali tersendat. Lari-larian kalau sendiri sih oke, lha ini bawa dua bocah dan orangtua.

Sempat terpikir meminta ijin pulang lebih awal tapi saya urungkan. Kamis dan Jumat sudah minta libur, masa Rabu minta pulang cepat juga? Sayang ah, bayar sekolahnya kan juga sudah mahal. Emak nggak mau rugi hahaha …

Beruntung, ternyata di hari itu, anak-anak pulang lebih awal. Lupa deh apa alasannya.

Pelajaran Penting Pertama:

Sabar menanti masa liburan tiba. Supaya pengaturan waktunya lebih mudah, nggak diburu-buru.

The Challenges are Coming!

Thermometer mana thermometer?

Kurang dari 24 jam sebelum keberangkatan, sulung demam. Saya langsung berikan madu dan sirup penurun demam. Keesokan harinya demamnya turun tapi masih agak slememet, apa ini bahasa Indonesianya? Hangat gitu, deh. Di pagi itu juga, bungsu ikutan demam. Duh, kalau bungsu yang sakit saya suka panik. Biasanya agak lama dan bawaannya rewel.

Fever

Source: Pixabay

Demi tetap berangkat siang harinya, segala macam cara saya lakukan. Diminumi madu, sirup penurun panas, dibaluri bawang merah dan baby oil. Demamnya belum juga turun. Sempat terpikir untuk membatalkan keberangkatan tapi kok sayang sih sudah bayar tiket dan penginapan. Emak egois pakai banget!

Pelajaran Penting Kedua:

Pastikan anak-anak terjaga makanan, minuman, dan waktu tidurnya. Datangnya sakit memang nggak ada yang tahu, tapi meminimalkan hal-hal yang nggak diinginkan itu penting.

Oh My God, Amnesia Lalu Nyasar!

Sesampainya di bandara, kendaraan online yang kami tumpangi menurunkan kami di terminal 1A. Saya lupa-lupa ingat perjalanan daerah Pulau Jawa ada di mana. Yakinnya sih terminal 1C. Dengan menggendong bungsu saya dan Eyang Uti mendorong troli berisi koper dan kawan-kawan menuju terminal 1C. Tahu dong, ya, jarak antar terminal di Soekarno Hatta itu cakep buat membakar lemak? Peluh bercucuran dan sesampainya di terminal 1C, eh lho, kok salah? Pulau Jawa seharusnya di terminal 1A!

Kepala saya mikirin apa, siiih? Jalan di bandara kok pusingnya seperti nyasar di hutan?

Pelajaran Penting Ketiga:

Percaya pada petunjuk tertulis dibandingkan keyakin diri sendiri. Jangan malas membaca papan petunjuk!

Childhood

Source: Pixabay

Huaaa, mau menangis karena sudah capek tapi saya harus semangat dong biar anak-anak semangat juga. Dengan bantuan porter, saya kembali ke terminal 1A. Bungsu saya dudukkan di troli. Lumayan juga menggendong anak seberat 20 kg lebih mondar-mandir.

Beruntung, kami berangkat lebih awal jadi masih ada banyak waktu berjalan santai menuju ruang tunggu. Bungsu masih nggak mau berjalan sendiri. Oke, gendong lagi. Melihat saya menggendong anak yang tengah sakit, petugas di bandara meminta saya naik ke ruang tunggu dengan menggunakan lift. Sebenarnya ini dikhususkan bagi penumpang disabilitas. Tapi petugas bandaranya sepertinya nggak tega melihat saya ngos-ngosan dan wajah menahan pegal.

Sulung? Apalagi Ini?

Sesampainya di ruang tunggu, saya dan Ibu menyempatkan diri untuk sholat Ashar. Saya sholat duluan, Eyang Uti menyusul kemudian. Selesai sholat, kembali ke ruang tunggu dan mendapati cobaan berikutnya, sulung mimisan. Banyaaak.

Merasa bersalah dong ya, mungkin dia belum cukup fit dan tadi lelah berjalan antar terminal. Sulung memang cukup sering mimisan. Penyebabnya nggak selalu sama. Biasanya kalau kelelahan. Sempat kebingungan mau dibersihkan pakai apa. Beruntung, Eyang Uti bawa stok tisu banyak. Terima kasih, Eyang Uti …

Pelajaran Penting Keempat:

Kenali kebiasaan anak dan siapkan keperluan untuk menghadapinya. Seharusnya saya membawa beberapa lembar daun sirih.

Unexpected Moving Gate

Pukul 17.00 petugas menginformasikan melalui pengeras suara bahwa nomor penerbangan kami dipersilakan boarding. Tapi lho kok, beda gate? Olalala, kami diminta berpindah dulu ke Gate 13 dan saat itu kami berada di Gate 6. Terlalu! Pindah gate tuh mbok ya ke gate sebelah saja gitu, kan?

Bungsu belum mau berjalan sendiri. Jadilah saya kembali menggendongnya menuju Gate 13. Mau marah rasanya tapi sayang deh, jadi membuang energi. Saya simpan saja energinya untuk menyusuri lorong, lalu menuruni tangga, dan berjalan menuju feeder bus sebelum tiba di depan pesawat.

Lumayan repot karena selain menggendong bocah, kami juga ada bawaan kabin berupa dua tasnya anak-anak, slig bag boneka, tiga bantal leher, dan kantong berisi makanan dan minuman. Ini bawaan yang anak-anak keukeuh nggak mau dimasukkan ke bagasi. Begitu duduk di dalam kabin, air minum dalam botol saya tenggak sampai habis. Haus!

Syukurlah, penerbangan berjalan lancar. Bungsu tidak rewel meskipun terus-terusan minta dipeluk.

Source: Pexels

Pelajaran Penting Kelima:

Atur barang bawaan sedemikian rupa. Usahakan menempatkan barang bawaan dalam satu tempat. Cukup membawa barang yang mudah penting dan mudah dibawa ke dalam kabin supaya memudahkan pergerakan dari check in, ruang tunggu, sampai boarding.

Malam Pertama Tanpa Nyenyak

Malam itu kami menginap di Quest Hotel Semarang. Tubuh sudah lelah, tapi masih harus membongkar koper untuk mengganti pakaian anak-anak. Keinginan kulineran malam saya hapus dulu. Memesan makan malam melalui room service kelihatannya lebih bijaksana. Lelah, kenyang, seharusnya saya bisa tidur pulas tapi anak-anak nggak. ACnya nggak berfungsi dan mereka kepanasan. Hiyaaak! Petugas sudah berusaha memperbaiki, tapi nggak ada perubahan.

Oiya, soal AC sepertinya jadi masalah utama di hotel ini. Saat saya check in, ada tiga orang yang berbaris di meja dispatcher dan komplain soal AC. Kamarnya sempit, AC-nya bermasalah, tapi makanannya banyak dan enak-enak, dan petugas hotelnya ramah-ramah. Silakan dipertimbangkan ya kalau mau menginap di sini.

Pelajaran Penting Keenam:

Baca betul-betul review akomodasi di situs online. Jujur, saya memang nggak membacanya saat mereservasi. Buat anak-anak yang terbiasa di tempat sejuk, udara panas jadi siksaan banget buat mereka.

Hari Pertama di Semarang 

Morning Disaster

Sesuai rencana, hari pertama akan kami gunakan untuk menikmati kawasan Semarang atas. Melalui Ungaran, Bandungan, lalu menginap di kawasan Bandungan juga. Saya sudah menyewa mobil beserta sopir dan rencana perjalanan sudah diatur bersama sejak beberapa waktu lalu.

Saya bangun paling awal, mandi, supaya semua bisa bergerak cepat. Selesai mandi, sulung mimisan lagi. Bungsu masih lesu, hiks. Kolam renangnya kecil tapi lokasinya asyik banget, persis di depan kamar kami. Sulung ogah-ogahan berenang, bungsu apalagi. Akhirnya saya turun ke bawah buat tanya-tanya ke petugas soal hotel lokasi pasar. Mau cari daun sirih, ceritanya.

Menimbang-nimbang anak-anak yang kemungkinan rewel kalau saya tinggal, diurungkan dulu deh niat jalan ke pasarnya. Takut saya khilaf juga kan, malah mampir ke penjual jajanan pagi.

Saya menghubungi mas sopir, memastikan dia akan tepat waktu menjemput pukul 09.00, sekaligus meminta tolong dicarikan daun sirih. Setelah itu kami sarapan. Menu sarapan pagi di Quest Hotel lengkap sekali dan semuanya enak. Saya dan Eyang Uti makan dengan lahap. Sulung cuma mau makan sereal dan susu, bungsu makan nasi sedikit tapi dikeluarkan lagi. Huhuhuhu …

Sambil menunggu mobil datang, balur-balur minyak lagi deh ke sekujur tubuhnya bungsu ini. Pukul sembilan tepat, mobil datang. Mas sopir turun dan menyerahkan kantong kresek besar berwarna hitam. Isinya apa? Daun sirih beserta batang, akar, dan tanahnya! Hahaha, mungkin pikir mas sopir sekalian buat kenang-kenangan kali, yaaa.

Anyway, thank you lho …

Penjelajahan Dimulai

Sesuai arahan dari mas sopir, kami harus berangkat pagi-pagi supaya nggak ketemu kemacetan di Ungaran. Yes, berhasil. Rencananya mau ke Semarang atas, nih. Bandungan. Saya penasaran sama Umbul Sidomukti. Mas sopir nih gigih banget bilang kalau Umbul Sidomukti ini tempatnya bagus. Saya menyempatkan diri mampir di Vihara Watu Gong. Sekalian lewat, kan?

Tapi ibu saya tidak mau karena harus naik tangga dan kakinya tidak kuat. Beliau cemberut karena kami malah mampir di sini. Akhirnya hanya kami bertiga yang masuk. Sulung ogah-ogahan, jalannya mulai nggak fokus, tiga kali tersandung dan jatuh. Bungsu sudah mau jalan kaki sendiri dan berusaha tersenyum saat diambil fotonya. Kami cuma sebentar banget di sana. Namanya juga mampir.

Mobil kembali melaju. Kata mas sopir, sebentar lagi kami akan melewati Benteng Willem II. Penasaran, tapi lagi-lagi tiga orang di sekitar saya nggak ada yang mau. Akhirnya saya mengalah lagi. Langsung saja kami menuju Umbul Sidomukti. Jalanannya menanjak. Mengingatkan saya pada kondisi jalan menuju daerah-daerah wisata di sekitar Gunung Bunder atau Gunung Salak di Bogor. Udara lumayan sejuk tapi buat saya sih masih masih kalah seuk dari puncak Bogor, ya.

Umbul Sidomukti

Sekitar satu jam kemudian, kami tiba di Umbul Sidomukti. Tapi waktu sudah menunjukkan jam makan siang, kami memilih makan siang dulu sebelum masuk ke kawasan wisata. Biasa deh, saya kan suka gagal segala macam kalau perut lapar. Kami makan siang di Pondok Lesehan, berada di bagian atas kawasan Umbul Sidomukti. Kota Semarang tampak kecil dan jauh sekali dari sini.

Langit mendung. Agak deg-degan nih, semoga nggak turun hujan. Anak-anak mulai lari-larian. Tiket masuk per orang Rp 10.000, sudah bisa berenang. Tapi kalau mau mengikuti aktivitas outdoor seperti flying fox, marine bridge, highest triangle, dan lain-lain, harus membayar tiket sendiri.

Source: Umbul Sidomukti

Perjalanan ke lokasi melalui jalanan berbatu dan menurun. Sengaja dibuat berbatu supaya nggak licin, ya. Udaranya segar, pemandangannya serba hijau, Gunung Ungaran terlihat anggun. Tengah asyik menikmati, bres! Hujan deras tiba-tiba mengguyur. Anak-anak cepat saya bawa berteduh di sebuah food court. Lebih dari satu jam, nggak ada tanda-tanda hujan akan berhenti. Saya meminta bantuan mas sopir memayungi anak-anak sampai ke atas. Kalau berangkat tadi jalanannya menurun, keluar dari lokasi jalanan menanjak. Bungsu kembali minta gendong. Baiklah, di punggung ada tas penuh berisi pakaian, di kiri depan ada bocah dalam gendongan, di tangan kanan membawa payung. Ahhh, susah dilukiskan dengan kata-kata.

Berhubung hujan deras dan sepertinya bakal lama, kami memutuskan langsung mencari penginapan. Tempat wisata di Bandungan lokasinya terbuka semua. Jadi no choice, deh. Sesuai rekomendasi mas sopir, ada penginapan sederhana yang bagus. Malam itu, kami mengurung diri di dalam kamar dengan dua piring nasi goreng kambing (porsinya besaaar), dua gelas susu jahe, dan teh manis. Tidur kami cukup nyenyak. Tapi kalau dipikir-pikir, satu hari pertama sudah dibuang percuma. Semoga besok cuaca bersahabat dan anak-anak sehat.

Hari Kedua di Semarang

Jika phobia harus dilawab dengan mendekati sesuatu yang membuat takut, maka pegal di kaki saya akibat berjalan jauh sambil menggendong bungsu juga harus dilawan dengan olahraga kaki juga. Pagi ini saya bangun pagi-pagi untuk mulai berolahraga. Diniatkan lari pagi keliling wisma sampai sejauh 5 km. Pemandangan sekitar wisma indah, lho.

Saat sedang melintas depan kamar, tiba-tiba bungsu muncul dan ikut lari-larian. Senangnya bungsu sehat dan ceria lagi. Jalan-jalan hari ini bakal asyik, nih.

Wisma ini terletak di daerah Bandungan, Kabupaten Semarang. Rate kamar per malam Rp 150 ribu – Rp 250 ribu per malam. Penampakannya sederhana, udaranya sejuk, nyaman, airnya dingin banget. Petugasnya juga baik dan ramah. Tapi tapi, maafkan ya, saya lupa nama penginapannya apa wkwkwk …

Untuk makan minumnya juga murah banget. Makanan paling mahal Rp 12.000 per porsi dan minuman paling mahal Rp 5.000 per gelas. Masakan andalannya nasi goreng kambing dan babat gongso. Minumannya sudah tentu yang hangat-hangat seperti kopi, kopi susu, susu jahe, dan teh manis.

Pukul delapan pagi, mas sopir datang menjemput. Membayar rasa penasaran kemarin, kami menuju Umbul Sidomukti sebagai tujuan pertama. Anak-anak sudah siap dengan kostumnya, siap masuk ke kolam renang berbatu itu. Belum sampai 30 menit, bungsu bilang kedinginan. Saya segera angkat, mandikan, dan mengganti pakaiannya. Segelas teh manis dan sosis bakar semoga bisa menghangatkan tubuhnya. Ibu dan sulung masih asyik bermain di bawah sana.

Jadi kalau main-main ke tempat ini, jangan lupa membawa pakaian renang atau pakaian ganti, ya. Soalnya bakal tergoda banget buat nyebur di kolam renang alam ini. Selesai bermain air dan mengisi perut, saya kepengen dong ya, jalan-jalan sebentar sambil mengambil gambar. Apa dikata? Kedua anak bertengkar cuma gara-gara siapa yang jalan duluan di belakang mamanya. Diajak foto pun sudah cemberut-rut. Gemes deh, jadinya.

Kami meninggalkan Umbul Sidomukti sambil mata saya melirik pasrah pada permainan flying fox yang kepengen banget saya coba. Lintasan flying foxnya panjang sekali (270 meter) dengan ketinggian 70 meter. Seru banget pasti. Tapi lagi-lagi, saya harus mengalah. #MenangisDalamHati

Selanjutnya kami menuju Ambarawa. Jalanan lancar. Museum Kereta Api nggak masuk ke dalam daftar karena kereta tuanya hanya dioperasikan di akhir pekan. Anak-anak kurang suka kereta api juga, soalnya.

Lagi-lagi sesuai rekomendasi mas sopir, kami dibawa ke Kampoeng Rawa. Ternyata di sini nih lokasinya Rawa Pening. Saya ingat, jaman SD dulu suka membaca cerita rakyat tentang kisah seekor ular bernama Baru Klinthing yang bertubuh besar dan ditakuti warga desa sampai akhirnya dibunuh. Darahnya mengalir deras dan membentuk kumpulan air yang dinamakan Rawa Pening.

Anak-anak sangat menikmati wisata naik perahu mengelilingi kawasan rawa. Tiket per orang Rp 50 ribu saja. Ini seharga tiket naik perahu di Ancol. Bedanya di sana panas, di sini anginnya semilir dengan pemandangan Gunung Tenjomoyo, Gunung Merbabu, dan Gunung Merapi. Di sisi lain, ada pemandangan Gunung Ungaran juga. Terlihat jauh lebih kecil, tapi tetap cantik.

Enceng gondok tumbuh di mana-mana. Menurut cerita mas sopir, enceng gondok sudah membabat area rawa menjadi jauh lebih dangkal dan sempit dari sebelumnya. Lama-lama, rawa ini bisa hilang.

Rawa Pening, semilir anginnya bikin terbuai.

Wah, padahal menurut saya ini luas banget. Bagaimana dulunya, ya? Tapi kalau sampai rawa ini hilang akibat efek pendangkalan sungai dari enceng gondok, sayang banget ya. Generasi ke depan nggak akan pernah melihat Rawa Pening lagi.

Makan siang di Kampoeng Rawa tapi agak kecewa soal rasa

Piknik terakhir kami hari itu kami habiskan di Eling Bening. Meskipun tempat wisata ini terkesan kurang alami, tapi anak-anak suka karena ketemu kolam renang lagi. Tempat masuk wisata ini gratis, kecuali kalau mau masuk ke kolam renang, harus membayar Rp 20 ribu per orang. Tempat mandi dan ruang ganti pakaiannya juga lebih bersih, beda dari Umbul Sidomukti yang kotor dan dihiasi sarang laba-laba. Dari tempat ini, mata kita dimanjakan oleh jejeran pegunungan dan rawa pening. Indah sekali di waktu sore. Sayangnya hasil gambar kurang bagus karena langit juga mendung. #NyalahinLangit

Banyak spot foto menarik di Eling Bening ini. Buat yang suka foto dan narsis media sosial (seperti saya), pas banget. Sayangnya saat itu tengah banyak renovasi di sana-sini. Jadi waktu berkunjung kami kurang pas, deh.

Oiya, kecuali sedang berenang, jangan mengenakan pakaian terbuka karena angin berhembus cukup kencang.

Pelajaran Penting Ketujuh:

Selama anak-anak sehat dan ceria, jalan-jalan pasti menyenangkan. Jadi penting banget ya menjaga anak-anak tetap sehat. Kalaupun terlanjur sakit seperti ini, pastikan mereka tetap makan, konsumsi obat, sedia minyak kayu putih, baby oil, minyak telon, dan minuman hangat.

Seperti hari kedua ini, nih. Semoga besok jalan-jalannya semakin asyik, deh.

Sampai ketemu di part 2, ya.

The Happier Me,

Melina Sekarsari

About

Mom of two kids, living within good books and extraordinary people

18 Comments

  • Ima satrianto October 19, 2018 at 8:23 am Reply

    Naaahh bener bangeeet kan yaaa, perjalanan selalu mengajarkan pada kita banyak hal. Dari berperjalanan kita akan belajar menjadi hamba yg pandai mengambil hikmah dari setiap kejadian.

    • melinase October 19, 2018 at 3:06 pm Reply

      Bener banget lho, Mbak. Jadi terpikirkan banyak hal yang semula nggak terpikirkan. Hikmahnya mah banyak banget. Pinter-pinternya kita buka mata dan mau mengakui kalau ada yang salah atau kurang. Kalau hati keukeuh bener mah susah. Ya nggak, Mbak?

  • Jeanette Agatha October 19, 2018 at 10:02 am Reply

    Seru banget perjalanannya. Itu sendal jepit unik pisan hahahaha

    • melinase October 19, 2018 at 3:06 pm Reply

      Nano-nano pisan Teh, rasanya. Unik ya? Ikutan pesan atuh. Gambar kartun naon kitu hahaha …

  • Nyknote October 19, 2018 at 11:03 pm Reply

    Semarang bnyk tempat wisatanya yaa mb? Saya msh penasaran dengan Umbul Mukti. Hehe… Salut deh mb bisa handel dan semangat liburan dgn anak-anak yg krg fit. Tp jd ada pljaran atau hikmahnya ya?

    • melinase October 20, 2018 at 3:34 am Reply

      Banyak, Mbak. Semarang atas masih ada sejuknya. Kalau kotanya ampun deh panasnya. Recommended deh kalau Umbul Sidomukti. Capeknya luar biasa. Beneran deh aku nggak akan lupa hahaha …

  • Eni Rahayu October 20, 2018 at 3:18 am Reply

    Seru banget mbak Mell… Saya ikut bgos ngosam saat baca kejadian di bandara. Tapi semua terbayar saat bersenang-senang ya. Dan critnyaaa… Detail bangeet,.. warbiyasah

    • melinase October 20, 2018 at 3:42 am Reply

      Capeknya total, Mbak. Antara pengen nangis atau gimana entahlah. Soetta itu kan luas banget. Kalau terjadi di Juanda mah jalannya bentar. Tapi kalau ngingetnya sekarang jadi suka ketawa sendiri hahaha …

  • Bunda Erysha (yenisovia.com) October 20, 2018 at 5:51 am Reply

    Wah mba pasti galau banget ya waktu itu mau jalan-jalan, udah sewa penginapan dan pesan tiket dan tiba-tiba anak saki. Ahhhh nggak kebayang ama aku itu galau beratnya. Hiks. Tapi untungnya udah terlewati ya

    • melinase October 20, 2018 at 8:59 am Reply

      Banget, Mbak. Udah mepet pula, kan? Mau batalin, pesawat dipotong 25%. Penginapan, kayaknya udah terlalu mepet. Berhasil tapi modal nekat dan ekstra tenaga sih, Mbak hahaha …

  • NininMenulis October 23, 2018 at 2:24 pm Reply

    Selalu suka klo k semarang, apalg makanannya

    • melinase October 24, 2018 at 10:25 pm Reply

      Nah iya, makanan Semarang itu enak-enak. Ah, saya sih apa yang nggak enak? Hahaha …

  • Meirida October 23, 2018 at 6:08 pm Reply

    Waah, jalan2nya seruuuu. Jadi tantangan tersendiri ya mbak, traveling bawa krucil yg lagi demam. Alhamdulillah sehat lagi. Senang liat senyum ceria anak-anak.

    • melinase October 24, 2018 at 10:24 pm Reply

      Seru sekalian nano-nano, sih, hahaha … Capeknya berlipat-lipat pastinyaaa. Jangan deh mengalami hal serupa. Nggak enaaak hahaha …

  • Damar Aisyah October 25, 2018 at 8:11 am Reply

    Traveling emang banyak mengandung pelajaran kehidupan. Maka berjalanlah unutk melihat lebih banyak hal. Semangat jalan-jalan ya, Mbak Mel.

    • melinase October 27, 2018 at 9:13 am Reply

      Betul, Mbak Damar. Dari diri kita juga harus pintar memetik hikmah, ya.

  • Jalan-Jalan di Semarang; Ada Pelajaran Penting Soal Liburan (Part 2) - Melina Sekarsari October 26, 2018 at 6:10 pm Reply

    […] Haaaiiii …. Akhir pekan kemarin kemana saja, Buibu? Kalau saya sih bekerja sambil jalan-jalan di Bandung. Mumpung di sana ceritanya, yaaa. Pastinya seru banget. Tapi keseruan di Bandung tunda dulu karena saya mau melanjutkan cerita jalan-jalan di Semarang beberapa waktu lalu. Sebelumnya, saya sudah pernah posting Part 1-nya di sini, ya¬†Jalan-Jalan di Semarang; Ada Pelajaran Penting Soal Liburan (Part 1) […]

  • Unforgettable Traveling List; and This Is My List. - Melina Sekarsari February 17, 2019 at 7:22 am Reply

    […] Jalan-Jalan di Semarang; Ada Pelajaran Penting Soal Liburan (Part 1) […]

Leave a Comment

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.