Jalan-Jalan di Semarang; Ada Pelajaran Penting Soal Liburan (Part 2)

Haaaiiii …. Akhir pekan kemarin kemana saja, Buibu? Kalau saya sih bekerja sambil jalan-jalan di Bandung. Mumpung di sana ceritanya, yaaa. Pastinya seru banget. Tapi keseruan di Bandung tunda dulu karena saya mau melanjutkan cerita jalan-jalan di Semarang beberapa waktu lalu. Sebelumnya, saya sudah pernah posting Part 1-nya di sini, ya Jalan-Jalan di Semarang; Ada Pelajaran Penting Soal Liburan (Part 1)

Kembali ke Kota, Nih …

Sepulangnya dari Eling Bening, kami melanjutkan perjalanan kembali ke Semarang kota. Wara-wirinya bikin puyeng, ya. Tapi itinerary yang seperti ini memang disengaja. Kawasan wisata di Bandungan dan Ambarawa selalu dipenuhi pengunjung di akhir pekan. Makanya kami sengaja datang kesana di hari Kamis dan Jumatnya.

Kami tiba di Semarang di malam hari. Langsung menuju ke Louis Kienne Pandanaran. Dari namanya, sudah jelas bahwa lokasinya berada di Jalan Pandanaran, salah satu daerah strategis di pusat kota. Kalau nggak salah ada dua Louis Kienne lagi, yaitu di Simpang Lima dan Jalan Pemuda. Louis Kienne Pandanaran merupakan hotel yang terintegrasi dengan apartemen. Bagian depan merupakan hotel, di belakangnya apartemen.

Begini nih tampilannya.

Kami menginap di La Villa Lala, salah satu unit apartemen di Louis Kienne Apartment. Reservasi kami lakukan melalui aplikasi Airbnb. Jadi setiap unit yang disewakan di Airbnb itu biasanya diberi nama sendiri, contohnya La Villa Lala ini. Berhubung kami datang berempat dengan anak-anak yang biasanya jadi riweuh (beneran, kan?), kami memilih tinggal di apartemen saja.

La Villa Lala adalah sebuah studio apartment, luasnya 30m2 saja. Tempat tidurnya bisa memuat empat orang tanpa paksaan jadi aman nggak ada yang menggelinding tengah malam. #PengalamanBanget

Enaknya tinggal di apartemen, kami nggak perlu pusing memikirkan peralatan makan. Semuanya disediakan lengkap mulai dari sendok, garpu, piring, pisau, mangkuk, serbet, gelas, teko, tisu, sampai kantong sampah besar-besar. Host alias pemilik apartemen juga menyediakan aneka minuman dingin di dalam kulkas. Di lemari, juga tersedia mie instant. biskuis, wafer, kecap, saos, sampai sabun cuci piring. Berasa di rumah tapi sayangnya ini bukan rumah saya hahaha …

Ini pertama kalinya saya menggunakan aplikasi Airbnb. Awalnya agak bingung karena metode pembayaran hanya menggunakan kartu kredit dan Paypal. Saya nggak paham Paypal. Bagi yang nggak punya kartu kredit, siap-siap pinjam teman. #KayakSiapaHayo

Kurs mata uangnya pun dalam dolar Amerika Serikat alias USD. Saya coba buka pengaturan dan memang nggak menemukan kurs rupiah. Sedih, ih. Harga kamar via Airbnb ini buat saya ekonomis banget. Di La Villa Lala, harga dibandrol di USD 20 per malam. Bulan Maret lalu, kurs belum setingi sekarang, ya. Saya lupa berapa. Tapi kalau dikalikan Rp 15.000 saja baru dikenai Rp 300 ribu per malam. Padahal fasilitasnya lengkap. Ini alasan saya berikutnya terus memilih apartemen via Airbnb kalau berlibur bareng anak-anak.

Pelajaran Penting Kedelapan:

Salah satu keberhasilan dalam perjalanan ini adalah memilih penginapan dengan fasilitas lengkap seperti ini. Yeay!

Hari Ketiga di Semarang

Malam itu kami beristirahat dengan nyenyak. Meskipun di pagi harinya, kaki saya rasanya kaku banget. Pagi harinya, saat membuka tirai jendela, wuiiinggg pemandangan Lawang Sewu tampak di depan mata. Begitu seksi dan membuat penasaran. Saya berencana kesana agak sore saja karena pagi harinya mau nostalgia sekaligus napak tilas daerah masa kecil di Semarang. Tapi pagi itu, saya mau lari pagi dulu ke Simpang Lima, alun-alunnya kota Semarang. Biar lemas sedikit kakinya.

Pelajaran Penting Kesembilan:

Kalau kaki terasa pegal, capek, lawan saja dengan berlari. Jadi lemes lagi, lho.

Kejutan luar biasa, saya keluar dari Louis Kienne pukul 05.10 dan mendapati udara yang setara dengan udara di kota Bogor pukul 08.00-09.00. Wah, nggak ada segar-segarnya. Yak, lari pagi dimulai. Jalanan masih lumayan kosong, lebih didominasi pengendara sepeda. Asyik deh pemandangan paginya. Simpang Lima seperti biasa, ramai sekali. Saya sempat diajak lari bareng bapak-bapak. Ditantang 10 putaran, uhuk! Tantangan yang saya tolak dengan halus padahal dalam hati berkata, “Busyet, pingsan siapa yang mau gotong?”

Capek lari, teguk sari jeruk asli dulu, ya.

Saya kembali ke hotel sekitar pukul 07.30. Lumayan keringatan. Jaraknya juga lebih bagus dibandingkan di Bandungan kemarin. Kali ini 6,9 km. Keringkan badan, lalu mandi. Eh tapi saya tergoda buat naik ke rooftop di lantai 30. Di sana ada fitness center dan kolam renang. Sulung saya ajak. Pemandangannya asyik banget. Bayangkan deh, berendam di kolam renang sambil menikmati suasana kota. Pasti malas beranjak.

Selesai mandi, sarapan, dan menyiapkan apa-apa yang perlu dibawa, kami berangkat memulai napak tilas. Daerah yang kami kunjungi bernama Jalan Mpu Tantular, di Semarang Utara. Dengan bantuan mas sopir, mencari-cari lokasi sekolah saya dulu, TK dan SD Barunawati. Bangunan sekolah tersebut ditemukan tapi kondisinya tampak nggak terawat.

Kami lanjut mencari daerah tempat tinggal dulu. Jalan Mpu Tantular ini bisa dibilang paling nggak terawat dibandingkan bagian Semarang lain yang sudah saya lewati. Jalanannya rusak, semrawut, nggak ada indah-indahnya. Bangunan yang dulu pernah kami tinggali pun terlihat seperti gudang yang sudah lama nggak dipakai. Semak belukar tumbuh di mana-mana. Saya masih ingin melihat Pelabuhan Tanjung Mas. Dulu saya pernah deh naik kapal kecil di sana. Menakjubkan melihat kapal-kapal besar. Mas sopir sempat menunjuk kapal-kapal besar yang posisinya agak jauh dari kami. Itu katanya kapal pesiar dari Eropa. Terlihat mewah banget. Kami nggak lama-lama di sini karena panas mataharinya sukses membuat saya stress. Padahal baru jam sembilan pagi, lho.

Lihat kapalnya asyik, panasnya yang nggak asyik.

Perjalanan kami lanjutkan ke Mesjid Agung Semarang. Masih pagi tapi anak-anak cemberut. Semarang memang berudara panas. Saya merasa bersalah banget nggak mempertimbangkan faktor cuaca. Bogor memang sekarang panas juga, tapi saya nggak menyangka Semarang sebegini panasnya. Senyum mereka sedikit terkembang waktu saya ajak naik ke menara mesjid yang terletak di lantai tujuh. Tiket masuknya terjangkau banget, cukup membayar Rp 7.000 per orang. Setelah memperoleh tiket, kami diantar naik ke atas menggunakan lift.

Waktu kami sedang mengantri tiket, ada empat tamu asing yang mau naik juga. Mereka ditahan oleh petugas. Selang beberapa waktu kemudian, ada petugas yang mendekati mereka sambil menyodorkan sarung. Sepertinya petugas pun nggak bisa berkomunikasi dalam bahasa mereka. Jadilah hanya menggunakan bahasa isyarat. Turis-turis asing tersebut diminta untuk menutupi tubuh mereka dengan menggunakan sarung. Memang sih, mereka mengenakan pakaian yang sangat terbuka. Tapi dalam hal ini, pengelola cukup bijaksana dengan membolehkan mereka masuk tapi dengan syarat menutup tubuh, bukan serta merta nggak boleh masuk.

Saya agak lupa kami berhenti di lantai berapa saja. Di bangunan menara ini, ada beberapa lantai yang digunakan sebagai musem dan sebagian lainnya untuk ruangan kantor. Museumnya nggak terawat dengan baik. Pencahayaan terlalu minim, jadi kami pun kesulitan membaca tulisan apapun yang berada di sana. Museum di sini kebanyakan menyimpan Al Qur’an dari jaman-jaman wali, pahatan cerita masa lalu, dan sejarah beragam pondok pesantren di Indonesia. Buat anak-anak saya, belum cocok sih.

Begitu tiba di lantai teratas dan menemukan udara bebas, baru deh anak-anak sedikit terhibur. Hembusan angin cukup kencang, lumayan deh buat meluruhkan udara panas. Mesjid Agung Semarang tampak cantik deh dari atas sini.

Hari masih pagi saat kami meninggalkan Mesjid Agung Semarang. Kami memang cuma sebentar di sana. Diskusi dengan mas sopir, masih banyak tempat yang belum kami kunjungi. Sedangkan ini sudah hari ketiga kami di Semarang, besok seharusnya pulang dan mas sopir cuma bisa mengantar sampai hari ini karena besok dia kondangan huahaha …

Perjalanan kami lanjutkan ke Sam Poo Kong. Ini merupakan tempat persinggahan pertama seorang Laksamana Tiongkok muslim bernama Cheng Ho. Bangunan ini kemudian dikenal sebagai kelenteng, tempat beribadahnya penganut agama Kong Hu Cu. Agak membingungkan sih, patungnya Laksamana Tionghoa muslim tapi tempatnya dijadikan tempat beribadah umat Kong Hu Cu. Patung Cheng Ho sendiri dianggap sebagai patung dewa. Tapi katanya hal ini bisa dimaklumi karena bagi penganut Kong Hu Cu, orang yang sudah meninggal dapat memberikan pertolongan (sebagai dewa) kepada yang masih hidup.

Sam Poo Kong Temple. Indah tapi panas, Mak!

Kami nggak lama-lama berada di sini. Panasnya luar biasa. Apalagi saat itu waktu menunjukkan pukul 13.00. Cetar deh mataharinya. Seperti biasa, anak-anak rewel karena itu.

Pelajaran Penting Kesepuluh:

Sedia payung berlaku bukan hanya sebelum hujan, tapi juga menangkis gaharnya matahari. Saya nyesel nggak bawa! Huaaa …

Sebelum melanjutkan perjalanan lagi, saya dan mas sopir diskusi dulu. Agak galau karena waktu semakin terbatas sedangkan ini hari terakhir jalan-jalan bareng dia. Berhubung saya lagi senang-senangnya mengunjungi tempat bersejarah, kami putuskan mampir dulu ke Museum Ronggowarsito, lalu lanjut ke Goa Kreo. Tempatnya searah, supaya nggak repot dengan urusan kemacetan menjelang sore nanti.

Kami tiba di museum ini saat hujan deras. Langsung deh, lari-larian masuk ke dalam. Suasana museum sepi banget. Iyalah, saya belum pernah menemukan museum ramai kecuali ada rombongan dari sekolah atau apa. Mungkin juga karena kami datang bukan di akhir pekan. Kami membayar tiket masuk seharga Rp 10 ribu per orang. Terjangkau banget.

Museum ini punya koleksi benda bersejarah yang cukup lengkap. Mulai dari koleksi peralatan makan, peralatan kesehatan, perhiasan, lukisan, senjata tajam dan api, sampai peralatan musik tradisional. Pastinya, semua berasal dari jaman dulu. Tempatnya juga luas dan bersih.

Layaknya museum-museum pada umumnya, benda-benda di sini disimpan di dalam kotak kaca. Tengah asyik melihat-lihat, saya melihat sebuah kotak berukuran lebih besar dari lainnya yang ditutupi kain hitam dan selendang batik. Saya penasaran lalu berjalan mendekat. Ternyata seluruh sisi kacanya memang ditutupi kain hitam dan selendang batik itu. Saya sampai celingukan ingin tahu isinya. Di sisi yang tadi nggak terlihat dari jauh, ada bagian bawah kaca yang selendangnya tersingkap. Dari hasil membungkukkan tubuh, saya melihat kaki kursi goyang. Mendadak bulu halus di tangan dan leher tegak berdiri. Buru-buru saya mencari anak-anak dan mengajak pulang.

Sebenarnya nggak ada apa-apa, tapi entahlah, saya membayangkan ada seseorang yang duduk di sana lalu tiba-tiba menyapa, meringis, mengerlingkan mata, atau malah mendelik, jiaaah … Ini pikiran-pikiran saya semata, sih. Tapi buat saya ketika tiba-tiba kita jadi merinding, sepertinya ada sesuatu. Apalagi museum sedang sepi-sepinya dan diiringi backsound hujan deras. Jreng, jreng!

Pelajaran Penting Kesebelas:

Membiasakan diri tetap bersama-sama yang lain saat berada di tempat sepi. Kalau ada apa-apa kan nggak berfantasi yang syerem-syerem kayak saya. Tetap berpikir secara logis dan nggak meninggalkan kesan buruk buat anak-anak untuk datang ke museum.

Kami menunaikan sholat Dzuhur dijamak dengan Ashar di mushola museum. Tempatnya sempit dan lembab banget, huhuhu …

Sesuai rencana, kami menuju ke Goa Kreo. Letaknya lumayan jauh. Tapi mas sopir pede kami bisa mencapai lokasi, jalan-jalan, dan kembali ke kota untuk berkeliling ke kawasan kota tua. Jadi semua tempat sesuai rencana dihabiskan hari ini.

Perjalanan menuju Goa Kreo melalui jalanan yang berkelok dan naik turun. Nggak banyak kendaraan yang melintas, makanya mas sopir pede soal waktu. Iyalah, jalanan lancar begini. Mendekati Goa Kreo, kami melewati pintu masuk bendungan Jatibarang. Katanya jembatan di Goa Kreo nanti melintasi bagian atas bendungan. Wah, bendungannya berarti luas banget karena jarak dari situ ke lokasi goa masih lumayan jauh. Kami juga ditunjuki spot-spot foto baru di kawasan ini seperti berfoto di balon udara atau di atas awan. Spot fotonya sendiri berada di halaman belakang rumah penduduk. Lumayan kreatif ya idenya. Bisa mendatangkan rezeki, pastinya. Tapi saya nggak tertarik. Maunya naik balon udara betulan di Cappadocia, wuinkkk! #InternationalTripModeOn

Kami tiba di Goa Kreo sekitar pukul 15.00. Bagi kami yang sudah stress dengan panasnya kota Semarang, tubuh rasanya dimanja banget sama udara segar di sini. Sesuai pesan dari mas sopir, kami dilarang membawa makanan kalau nggak ingin direbut sama gerombolan kera. Iya, di sini kera-kera hidup bebas. Mereka nggak mengganggu kok selama kita nggak bawa-bawa makanan, apalagi makan di depan dia.

Posisi goa berada di ujung dalam. Kami harus menuruni tangga dari semen, melintasi jembatan yang di bawahnya merupakan bendungan, menaiki tangga, baru deh tiba di jalanan tanah dan berbatu menuju goa. Di sini, bungsu minta gendong lagi. Full digendong. Ulala, pegalnya naik turun tangga sambil menggendongnya. Saya sampai nggak berfoto di sini lho saking bungsu nggak mau turun. Difoto berdua juga nggak mau.

Satu jam kemudian kami memutuskan pulang. Mengejar waktu supaya tiba di kawasan kota tua sekaligus menghindari kemacetan menuju kesana. Ternyata Semarang macetnya luar biasa ya di waktu jam berangkat dan pulang kantor. Ini sama sekali nggak terbayangkan sebelumnya. Anak-anak rewel sepanjang perjalanan. Apalagi bungsu yang memang selalu mabuk darat. Wajahnya pucat lagi, hiks.

Setelah melewati kemacetan yang menggila, kami tiba juga di kawasan kota tua. Nuansanya di saat senja, wuih … eksotis banget! Sudah terbayang di kepala saya mau ambil gambar sebanyak-banyaknya. Tapi karena bungsu rewel dan minta digendong terus. saya coba alihkan perhatiannya dengan masuk ke 3D Trick Museum. Ini sebenarnya studio foto tiga dimensi yang di mana-mana ada. Tapi ini kan dalam rangka menarik perhatian bungsu, ya. Melihat gambar-gambar di dinding dan lantai yang bagus-bagus banget, pasti dia suka.

Begitu masuk ke dalam, diarahkan untuk berfoto oleh petugas, eng ing eng, batere ponsel saya sudah berada di angka 15%. Waduh! Nggak bener, nih. Charger saya ada di apartemen. Saya coba menyalakan airplane mode demi menghemat batere, tapi baru satu studio, pet! Mati betulan. Mau nangis kenceng tapi malu. Akhirnya diputuskan menggunakan kamera ponselnya Eyang Uti. Dulu ini ponsel punya saya jadi tahu banget kameranya bagus.

Tapi ternyata saat saya memberikan ponsel itu ke beliau, saya nggak mengubah pengaturan login ponsel tersebut dengan alamat email lain. Alhasil, semua nama kontak di ponsel pribadi, masuk juga ke kontak beliau. Parahnya, semua gambar yang saya ambil dari ponsel pribadi selama ini, masuk juga ke memori ponsel beliau. Jadi apa? Yes, memori beliau tiba-tiba full. Kami duduk terbengong. Masuk studio foto ya pastinya buat berfoto, tapi satu ponsel baterenya habis, satu ponsel lagi memorinya penuh. Ini seperti dikirim disuguhi makanan banyak dan enak tapi mulut kita disekap dan tangan kita diikat. Ini analoginya nyambung nggak, sih? #StressHebat

Petugas di sana sih baik-baik banget. Keliling mencarikan charger yang cocok dengan ponsel saya. Duduk menunggu lama dan akhirnya nggak ketemu juga, hahaha … Jadilah salah satu dari mereka meminjamkan ponselnya untuk kami. Sesi foto-foto juga gagal total karena bungsu pasang wajah kuyu dan sulung nggak mau difoto. Katanya, “Mama ngapain sih foto-foto terus?” Glek! Dia nggak tahu mengumpulkan foto bukan cuma buat koleksi pribadi tapi jadi modal di kemudian hari. Contohnya modal mengisi blog ini, maksudnya.

Selesai dengan sesi berfoto yang sama sekali nggak menyenangkan, kami memutuskan pulang. Nomor WA saya tinggalkan ke petugas, buat kirim-kirim foto, kan? Nggak ada tuh acara mengeksplor kota tua di malam hari. Sulung merengek, bungsu menangis. Saya sih maunya menjerit #KiddosBluesSyndrome

Pelajaran Penting Keduabelas:

Selalu membawa charger dan powerbank dengan batere penuh saat melakukan perjalanan. Minimalkan penggunaan media sosial supaya lebih berhemat. Plus lebih khusyuk liburannya. Pastikan memori ponsel sudah dicek juga. Kosongkan dulu supaya nggak was-was mau berfoto sampai ratusan kali.

Malam itu kami habiskan di dalam kamar. Saya cuma bisa memandangi Lawang Sewu dari balik tirai jendela. Yah, kehilangan momen mengambil gambar keeksotisannya di malam hari. Biarlah, yang penting anak-anak nyaman dulu. Masih ada hari esok sebelum kami pulang. Eh, pulang? Beli tiket saja belum. Parah kan, saya, hahaha …

Jadi ceritanya dengan kondisi bungsu yang masih anget-anget terus begitu, saya galau mau pulang atau dulu di Semarang. Sewaktu malam-malam browsing mencari tiket pulang, kereta api sudah dicoret, semua perjalanan habis. Cuma ada pesawat besok pagi yang sedikit lebih murah dan saya rasanya nggak rela kalau besok pagi nggak kemana-mana. Pokoknya menyempatkan ke kota tua dulu baru pulang. Akhirnya, malam itu saya tutup lagi segala macam aplikasi travel online.

Besok paginya, bungsu mulai demam lagi, hiyaaak! Sirup penurun panas sudah diberikan, tapi masih lesu. Tidur malam pukul 20.00, bangun pukul 05.00, makan sedikit, minum obat, lalu tidur lagi sampai pukul 11.00. Jadi, bagaimana dong jalan-jalannya? Arrghh, mau menangis tapi air mata susah banget keluarnya.

Jadi siang itu, tanpa pikir panjang lagi saya segera membuka aplikasi travel online, memesan tiket pesawat menuju Jakarta untuk keberangkatan sore harinya. Harga empat kali lipat dari harga tiket berangkat. Nyesek! Tapi setelah itu masa bodoh, deh. Pokoknya kami harus pulang.

Pelajaran Penting Ketigabelas:

Siapkan liburan sematang mungkin termasuk jadwal pulang. Mesti membayar empat kali lipat begini sama sekali nggak kece. Belum lagi waktu yang dihabiskan buat searching tiket lagi. Nggak efisien waktu! Huh.

Sebelumnya kami menyempatkan diri mampir membeli lumpia sebagai buah tangan.

Saran dari sopir transportasi online yang kami tumpangi, Lumpia Cik MeMe nggak boleh dilewatkan. Ini adalah lumpia premium yang sudah tentu harganya lebih mahal tapi rasa juga jauh lebih enak. Mengingat lumpia pun banyak dijual oleh pedagang dan pembuat dari kalangan Tionghoa, Lumpia Cik MeMe ini sudah bersertifikat halal MUI. Jadi lebih tenang, ya. Dan, rasanya memang enak banget. Beda dari lumpia yang saya beli di depan apartemen pagi sebelumnya.

Kami tiba di area Bandara Ahmad Yani satu jam sebelum keberangkatan pesawat. Semarang diguyur hujan deras. Jadi, selama kami di sana hujan melulu. Hujan deras itu juga yang membuat kami stuck di pintu masuk bandara. Antriannya panjaaang. Melihat bandara yang kecil mungil mini (waktu itu, ya), rasanya saya ingin keluar dari mobil terus lari-lari aja gitu ke dalam. Tapi kan ya nggak mungkin karena mesti gendong anak, seret koper, panggul ransel, endebra-endebre. Alhasil, kami butuh waktu sampai 45 menit hanya untuk sekedar sampai di dekat pintu masuk. Sopir taksinya baik banget, memayungi kami satu persatu dari keluar mobil sampai pintu. Bolak-balik. Eleuh, pahlawan kami di sore itu deh, pokoknya.

Beruntung, bandara ini imut-imut jadi kami lari-larian sambil dorong trolinya nggak ngos-ngosan seperti di Soekarno Hatta. Keberuntungan yang lainnya, pesawat terlambat karena faktor cuaca. Dalam hati sih bersorak, “Asyiikk!!”

Pesawat akhirnya berangkat satu jam lebih lambat dari jadwal. Perjalanan cukup lancar. Anak-anak menonton film sambil tertawa-tawa. Senang rasanya. Kami tiba di rumah hampir tengah malam. Keesokan harinya, semua bangun tidur dengan ceria, termasuk bungsu. Tanpa demam, lho. Wajahnya sumringah banget. Kalau sudah begini, rasanya saya menyesal, mungkin nggak seharusnya kemarin memaksakan diri berangkat. Badan yang sedang nggak enak, ditambah cuaca panas, betul-betul membuat mereka nggak nyaman.

Pelajaran Penting Keempatbelas:

Pastikan daerah tujuan ramah anak, termasuk soal cuaca. Terlebih bagi anak-anak yang mudah terganggu kenyamanannya saat mengalami perubahan signifikan dengan tempat tinggalnya.

Terima kasih yang seluas samudera juga buat mas sopir yang sudah jadi sopir sekaligus pemandu wisata. Tertolong banget, deh. Buat yang mau liburan tanpa nyasar di Semarang, boleh deh kontak doi, yes.

Akhir kata, saya cuma mau bilang ini dia nih liburan saya yang paling greget. Bagaimana dengan liburan kalian, buibuuu?

 

The Happier Me,

Melina Sekarsari

 

 

Facebook Comments

Posted by melinase

Mom of two kids, living within good books and extraordinary people

6 thoughts on “Jalan-Jalan di Semarang; Ada Pelajaran Penting Soal Liburan (Part 2)”

  1. Dari dulu pengen banget ke Semarang tapi gak pernah terwujud. Semarang tuh kampung mertuaku. Artikelnya keren, kita jadi punya gambaran enaknya ke mana aja nanti kalau ke Semarang.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.