Pilihan Akomodasi Nyaman dan Murah Bersama RedDoorz

Mau bagaimana pun bentuknya, spring bed merah tua di dalam kamar saya adalah tempat ternyaman untuk memejamkan mata dan bermimpi. Dalam waktu dekat sepertinya tetap harus diganti juga, sih, karena sudah terlalu lama.

Tapi ada waktu-waktu ketika saya harus tidur di luar rumah. Eh, ini bukan dalam rangka pulang larut malam lalu nggak dibukakan pintu, ya? Seketika ingat lagunya Slank. #KamuHarusPulang

Kebutuhan pekerjaan yang sekali-kali mewajibkan saya untuk melakukan perjalanan keluar kota membuat saya juga harus tidur jauh dari rumah. Saya dan teman-teman di Profita Institute – boleh dong mampir ke http://www.profitakita.com – secara rutin mengadakan training pelatihan saham di beberapa kota di Indonesia. Biasanya saya memilih akomodasi yang menjadi satu dengan tempat akan dilangsungkannya acara.

Argo Parahyangan yang akan membawa saya ke Bandung.

Tinggal di hotel yang seperti itu terus terang kurang gregetnya. Yaaa, saya ini kadang suka berpetualang meskipun kalau menemukan sesuatu yang mengejutkan ya jadi terkejut-kejut sendiri. Menjadi member di salah satu group backpacker membuat saya cemburu sama teman-teman yang sudah pernah menikmati backpacker hostel. Kan seru, ya. Tinggal ramai-ramai sama orang-orang yang belum pernah kita temui sebelumnya, di kamar yang mirip asrama, fasilitas mencukupi tapi sederhana, berasa keren gitu karena jadi petualang betulan.

Apa coba enaknya tinggal di hotel standar? Gregetnya nggak ada! Ini kalau perjalanan dilakukan secara solo dan cuma menumpang mandi dan tidur, ya.

Minggu lalu saya dan seorang teman harus mengisi kelas training kami di kota Bandung. Sama-sama ingin merasakan tinggal di backpacker hostel dan saya menemukan yang lokasinya masih terjangkau dari tempat dilangsungkannya training tersebut. Tapi ya beginilah saya, mendengar bahwa di backpacker hostel itu rawan terjadi pencurian barang, langsung deh mentalnya melempem. Ini namanya petualang yang kurang gemblengan, hahaha …

Akhirnya, saya batal tinggal di backpacker hostel tersebut dan memilih tinggal di hotel budget. Saya  penasaran mencoba RedDoorz Near Braga Street. Sudah sering sih baca iklannya lewat di beranda media sosial. RedDoorz merupakan jaringan hotel budget yang menawarkan pelayanan selayaknya hotel pada umumnya seperti jaringan WiFi, televisi satelit, air mineral, dan perlengkapan mandi. Jaringan hotel ini tidak mempunyai bangunan sendiri, melainkan bekerjasama dengan hotel-hotel dan rumah-rumah kost. Di setiap hotel atau rumah kost yang menjalin kerjasama, biasanya RedDoorz hanya akan menyediakan beberapa unit kamar saja. Mungkin dua atau tiga kamar.

Saya mereservasi kamar di RedDoorz ini melalui aplikasi ShopBack lalu masuk ke booking.com. Kenapa sih nggak melalui Online Travel Agent (OTA) atau aplikasi RedDoorz langsung?

Jadi ya, yang namanya emak-emak kan maunya dapat diskon atau promo, ya. Nah, kalau melakukan reservasi atau belanja online, selalu ada promo menarik dari ShopBack. Kapan-kapan saya cerita, ya.

Singkat kata, satu unit kamar di RedDoorz Near Braga Street sudah tereservasi. Saya memperoleh kamar di harga Rp 213.750 sudah termasuk pajak. Ini jauh lebih murah dibandingkan harga sewa kamar di hotel bintang dua pada umumnya. Hotel bintang dua biasa disebut budget hotel juga. Nah, berarti standarnya sama, kan? Kalau lebih murah, bagaimana fasilitasnya?

Sesuai namanya, RedDoorz Near Braga Street berlokasi di dekat Jalan Braga, Bandung. Hotel tempat kami akan mengadakan acara berada di Jalan Braga. Jadi, saat reservasi saya berpikir kalau lokasinya dekat, tinggal jalan kaki. Meskipun saat reservasi, tertera alamatnya di Jalan Kejaksaan.

Hotel ini berada di sudut pertigaan jalan, Jalan Kejaksaan dan Jalan Tamblong. Unitnya ada di dalam Ersada Hotel. Mudah dicari karena di depan hotel tertera plang bertuliskan RedDoorz dengan dasar putih dan tulisan merah. Terpampang jelas dari kejauhan. Malah lebih terang benderang tulisan RedDoorz dibandingkan Ersada Hotel. Eh, tapi yang biasa pakai kacamata harus tetap dipakai ya karena tulisannya nggak terlalu besar.

Check in dulu …

Ersada Hotel sepertinya merupakan bangunan lama. Terlihat dari bentuk dan interior serta perangkat furniturenya. Jadi sewaktu masuk, check in, melihat-lihat lobi, saya merasa tengah bertamu di rumah orang. Proses check in dilakukan melalui resepsionis Ersada Hotel. Jadi meskipun berbeda kepemilikan tapi tetap ya, check in dan segala macamnya dikomunikasikan dengan petugas hotelnya Ersada.

Hotel ini terdiri atas tiga lantai. Saya memperoleh kamar di lantai dua. Tidak ada lift, jadi jalan sehat saja melalui tangga. Hotel ini sepertinya mengangkat konsep rumah dan kekeluargaan. Di setiap ruangan yang luas, diisi kursi dan meja, begitu juga di setiap lorongnya. Cocok banget kalau menginap di sini bareng keluarga besar. Kalau buat keluarga besar saya, bisa nih satu hotel disewa semua, hahaha … Maklum keluarga besarnya punya member banyak banget.

Kunci pintu di sini masih menggunakan model rumahan. Masukkan anak kunci ke lubang pintu, putar, ceklek. Jangan sampai keder menempelkan anak kunci di dekat gagang pintu ya, buibu. Seperti saya kemarin, hehehe … #KeyCardModeOn

Begitu masuk ke dalam kamar, wuih … di luar bayangan. Ukurannya lebih luas dari yang saya bayangkan untuk sebuah budget hotel. Kamar tidur dilengkapi dengan rak sepatu, dua kursi dan meja, rak berisi televisi ukuran 32 inchi, meja rias, dan … ups, twin bed.

Duh, dapatnya twin bed.

Seketika saya merasa nggak nyaman. Ini bukan soal kamarnya, hotelnya, pengelolanya, tapi soal twin bed. Yes, saya memang nggak suka tinggal sendirian di kamar hotel yang menyediakan twin bed. Setiap melakukan perjalanan dan harus bermalam, saya selalu memilih kamar dengan double bed. Tapi untuk perjalanan kemarin itu, saya benar-benar lupa nggak memerhatikan tempat tidurnya.

Memangnya ada apa sih dengan twin bed? Saya biasa bangun dini hari pukul 01.00-01.30. Tidur dengan lampu temaram. Bayangkan coba kalau jam segitu saya bangun, dunia masih sepi, lampu menyala seadanya, lalu tiba-tiba di tempat tidur satunya tiba-tiba ada yang mengisi. Ya memang nggak ada, sih. Tapi saya jadi membayangkan yang bukan-bukan. Memang ya, ini kepala takut horor tapi senang mikirin yang horor-horor.

Jadi malam itu saya nyaris nggak tidur. Pihak hotel memang menempatkan dua tempat tidurnya dengan posisi berhimpitan, jadi kalau saya tidur di atasnya, nggak akan sadar kalau itu twin bed. Tapi berhubung sudah melihat duluan, kepala saya nih langsung berpikir sisi saya dan sebelah adalah dua tempat yang berbeda. Agak-agak aneh ya, tapi yaa beginilah saya hahaha …

Lengkap, lho …

Balik soal RedDoorz, hotel menyediakan toilettries lengkap mulai dari handuk, sabun, shampoo, sikat gigi, pasta gigi, kantong plastik, cutton bud dan sisir. Sayangnya, hotel nggak menyediakan sandal. Jadi saya nyekerlady saja di dalam kamar. Halah, di rumah juga biasa nyeker, kok.

Setibanya di sana, mandi, saya memutuskan jalan-jalan sore sendirian. Sebenarnya mau dijemput teman tapi dia masih di perjalanan. Keluar dari hotel, ke sebelah kiri akan langsung bertemu dengan Jalan Tamblong. Persis di depan hotel, adalah sisi kiri RASA Bakery and Coffee. Jadi bagian depannya menghadap ke Jalan Tamblong. Sepertinya tempatnya nyaman dan makanannya enak karena mobil pengunjung silih berganti datang dan pergi. Dari luar sih seperti bangunan jaman dulu.

Dipandangnya syahdu euy …

Sore itu saya sengaja mencari mesjid terdekat karena ingin merasakan sholat Ashar di sana. Sebenarnya sih, saya mulai gimana gitu sendirian di dalam kamar. Begitu keluar hotel, bertemu Jalan Tamblong, ke arah kiri kira-kira 30 meter, langsung ketemu Mesjid Lautze. Saya nggak menyangka di sini ada mesjid. Lokasinya persis di tepi jalan. Tanpa halaman, begitu keluar mesjid langsung bertemu trotoar. Sewaktu saya masuk, sedang ada pengajian. Sambil permisi-permisi gitu, deh jadinya. Selesai sholat, langsung ngacir. Bukannya ikut ngaji dulu gitu ya, daripada nganggur di kamar.

Jadi yang dibilang RedDoorz Near Braga Street itu, gimana? Nah, kalau keluar hotel lalu ke arah kanan, lurus terus, kita akan langsung bertemu Jalan Braga. Nggak jauh, kira-kira 80 meter. Buat saya yang suka banget jalan kaki, jalanan di sini surga banget. Jalan Braga ini seperti kawasan seni, ya. Cakep deh buat pemotretan. Eh, gambar ini diambil dengan gaya lincah. Maksudnya, pose, ada mobil ngacir, balik lagi, pose lagi, ada motor datang, ngacir lagi, begitu deh sampai dapat hasil foto yang paling bagus.

RedDoorz Near Braga Street yang lucu tempatnya.

Jalan-jalan lihat kanan kiri ini sebenarnya juga sambil mencari tahu kira-kira besok saya bisa beli sarapan apa di sekitar hotel. Jadi harga unit di setiap RedDoorz itu tanpa sarapan ya, buibu. Buat yang pagi-pagi perut suka keroncongan sebaiknya siap-siap makanan di kamar. #KayakSaya

Menginap di RedDoorz jadi pengalaman menarik buat saya. Bersih, nyaman, dan murah. Pas banget buat orang-orang yang singgah hanya untuk sekedar melepas lelah dan mandi. Kalau membawa anak-anak untuk totally berlibur di hotel, saya nggak merekomendasikan. Budget hotel seperti ini sepertinya nggak bekerjasama dengan hotel-hotel yang memiliki fasilitas kolam renang.

Kalau sekiranya ada perjalanan solo lagi, saya sih mau banget mencoba RedDoorz di kota-kota lain di Indonesia.

Happy traveling …

The Happier Me,

Melina Sekarsari

Facebook Comments

Posted by melinase

Mom of two kids, living within good books and extraordinary people

11 thoughts on “Pilihan Akomodasi Nyaman dan Murah Bersama RedDoorz”

  1. Lhah keren banget nih hotel. Harus install aplikasinya kah? Sebagai orang Bandung kayaknya boleh juga tuh, staycation via RedDoorz. Mayan istirahat…Hehe…

  2. Waw hotelnya bikin kita ngerasa lagi tinggal di rumah sendiri. Minimalis dan terlihat nyaman. Hahh udah lama pengen tidur juga di hotel sambik jalan-jalan. Tapi sayangnya jalan-jalannya baru di tempat yang deket2 aja. Hihihi. Allhamdulillah

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.