Sebuah Janji dari Masa Lalu

Aku terbangun dengan setengah berteriak pada ruangan kamar yang temaram. Bulir keringat terasa berjatuhan dari kulit kepala, melintasi pelipis, membasahi leher, hingga ke punggung. Mimpi itu datang lagi. Menyeruak di antara tidur yang tak pernah lelap.

***

Aku mengenalnya sejak masa kanak-kanak. Bertemu dengannya di setiap pagi di depan pagar rumah. Kala itu aku masih mengenakan seragam biru berkotak setinggi lutut dan sepatu hitam bergesper dengan kaos kaki berenda. Dia mengenakan seragam merah putih dengan sepatu hitam yang disemir mengkilat. Kami berjalan bersama hingga ujung jalan. Lalu saling melambaikan tangan sebelum berpisah. Aku berbelok masuk dalam genggaman tangan ibu memasuki bangunan pagar bercat warna-warni. Melupakan dia beberapa detik setelah mataku menangkap ayunan, perosotan, jungkat-jungkit, hingga mangkok putar aneka warna.

Kami tumbuh besar bersama. Selain dia, ada anak-anak usia sebaya yang tinggal di sekitar tempat tinggal kami. Punya banyak waktu bermain petak umpet, galasin, benteng, sampai tubuh kami berdua dan teman-teman lainnya basah kuyup oleh keringat karena saling berteriak dan berlari.

Adakalanya kami hanya duduk-duduk di atap rumah. Memanjat melalui teras atas rumahku yang digunakan ibu untuk menjemur pakaian. Menyaksikan burung-burung gereja mencicit menyambut senja. Lalu kami akan terbirit turun melihat mobil ayahnya memasuki halaman rumahnya yang berseberangan dengan rumahku.

Namanya Arkha. Dia bukan sekedar tetangga depan rumah. Dia adalah teman, sahabat, laki-laki yang berjanji akan selalu menjagaku. Aku ingat suatu hari sepulang sekolah saat kami SMP, aku berdiri seorang diri di tepi jalan. Entah kenapa, angkutan kota yang searah tempat tinggal kami penuh terus. Hari itu Arkha tidak pergi ke sekolah. Dia dan teman-temannya di kelas tiga tengah berkemping di kegiatan pramuka sejak dua hari lalu. Baru akan kembali hari ini.

Tanpa kusadari dua orang anak datang mendekati. Mereka memaksaku menyerahkan uang. Aku bilang tidak punya. Meskipun sebenarnya ada uang lebih di dalam tas. Semula uang itu akan ditabung di sekolah. Tapi ternyata wali kelasku tidak masuk.

Mereka tidak percaya. Sebuah cutter kecil dikeluarkan dari dalam saku. Tasku ditarik-tarik. Aku tidak mau menyerah. Tetap mempertahankan tas dengan kedua tangan. Aku tidak mau menyerah. Tetap mempertahankan tas dengan kedua tangan.

“Berhenti!” Terdengar teriakan dari kejauhan.

Arkha! Aku senang bukan kepalang. Di belakangnya, sebuah bus besar mulai menurunkan satu persatu penumpangnya. Siswa-siswa kelas tiga sekolah kami. Bapak dan ibu guru juga mulai terlihat dan tampak berjalan mendekat. Kedua orang tadi mulai panik. Mereka melepaskan tarikan pada tasku. Sialnya mereka sempat menggoreskan cutter tadi ke tangan kiriku.  Darah mengucur. Aku merasakan perih luar biasa. Tapi perih itu tidak seberapa dengan rasa lemas melihat darah.

“Aku di mana?” Aku memijiti pelipis. Mengedarkan pandangan ke sekitar. Aku terbaring di ruangan mungil dengan dinding serba putih. Sepertinya bukan ruangan yang asing.

“Kamu nggak papa, kan? Lukanya udah diobati.” Arkha duduk di sebuah kursi di sisi tempat tidur.

Ah ya, ini ruangan UKS. Seharusnya aku mengenalinya sejak tadi.

“Ayo, bangun. Cuma luka sedikit pakai pingsan segala. Malu-maluin.”

Sontak aku mendelik. Memukuli lengan Arkha. Kami pulang berjalan kaki hari itu. Arkha mengantarkan sampai ke dalam rumah. Dia merasa perlu menceritakan pada ibu peristiwa yang kualami siang tadi. Alasan aku terlambat tiba di rumah. Arkha tahu betul, ibu tipe perempuan yang mudah khawatir.

Rumah terlihat sepi seperti biasa. Sehari-hari memang hanya ada aku dan ibu. Ayah bekerja di luar kota dan pulang sebulan sekali. Tidak ada kakak atau adik. Itu sebabnya aku senang memiliki Arkha.

Beberapa menit kami menunggu. Tidak ada jawaban dari ketukan pintu maupun salam yang kami ucapkan. Kutekan gagang pintu perlahan. Tidak terkunci. Perasaanku tidak enak. Ibu tidak pernah membiarkan pintu dalam keadaan tidak terkunci. Apalagi pagar depan juga tidak. Aku ingat betul, setiap kali berangkat bekerja, ayah berpesan agar pintu rumah selalu terkunci. Jarak kami berjauhan, jika terjadi sesuatu, ayah tidak akan bisa segera pulang.

Aku urung mendorong pintu. Perasaan tidak enak tadi masih berkecamuk. Kutolehkan wajah pada Arkha, meminta persetujuan. Dia mengangguk. Aku melangkah perlahan. Arkha mengikuti di belakang.

Di ruang tamu, langkahku terhenti. Seperti ada sesuatu yang mendorong untuk menuju kamar ibu. Pintunya sedikit terbuka. Lidahku terasa kelu. Ingin memanggil ibu tapi suara tercekat di kerongkongan. Tenang, Aida, tenang. Nggak akan ada apa-apa, hati kecilku menenangkan.

Source: Pexels.

Setelah memejamkan mata dan menarik napas beberapa saat, aku mendorong pintu agar terbuka lebih lebar.

“Aaargghhh!” Aku berteriak histeris. Tubuhku gemetar. Aku terus-terusan menjerit.

Arkha menggeser tubuhku. Merangsek masuk ingin melihat. Secepat kilat dia meraih tanganku. Aku tidak punya kekuatan untuk menggerakkan tubuh.

“Ayo!” Arkha berteriak keras. Dia menarik tanganku kuat-kuat hingga pergelangan tangan ini terasa panas. Kami berlari cepat menuju rumahnya.

“Mama! Tolong! Tolong!” Arkha terus berteriak. Sementara aku, hanya berdiri dengan tubuh gemetar di sampingnya.

***

Waktu terus berjalan. Banyak hal berubah. Tubuhku meninggi, begitu juga dia. Rambutku yang dulu tidak pernah lebih dari sebahu, kini tergerai hingga ke pinggang. Dia tumbuh menjadi lelaki tampan. Tinggiku hanya sebatas telinganya. Satu yang tidak berubah, kami masih bersama-sama. Bahkan hingga takdir membawa kami ke kota hujan. Tempat tinggal yang tepat bagi kami untuk mengisi keheningan di hati masing-masing.

Aku lihat Arkha lebih cepat melupakan, sedangkan aku tidak. Tapi di saat kami terjebak dalam kesepian, aku sering melihat kilat kemarahan di matanya. Sesuatu yang akan kembali meredup ketika melihatku.

Dia akan menyuruhku duduk di sampingnya. Merangkul bahuku dan berkata, “Kita akan hadapi semuanya bersama-sama. Aku akan singkirkan semua yang bikin kamu nggak bahagia.” Aku menjanjikan hal yang sama padanya.

Kami menjalani segalanya bersama-sama, termasuk jatuh cinta. Aku yang jatuh cinta kepada Dhreka dan Arkha yang jatuh cinta kepada Ratna.

Tapi setelah episode jatuh cinta itu, sepertinya lukaku menganga lebih besar darinya. Tahu kenapa? Arkha dan Ratna saling jatuh cinta, sedangkan Dhreka menyimpan perasannya untuk Ratna. Sungguh perempuan yang begitu beruntung.

“Kamu akan ninggalin Ratna, kan?” tanyaku pada suatu petang.

“Kenapa?” Dia bertanya. Aku tidak menjawab. Hanya memandangi lalu-lalang angkutan kota dengan gelisah.

“Dhreka cinta sama dia.” Aku berkata lirih. Di antara keriuhan jalan raya, entah Arkha mendengarnya atau tidak.

Tapi dari gerakan tubuhnya yang memutar ke arahku, aku yakin dia mendengar, “Tahu dari mana?”

“Dia sendiri yang bilang. ” Aku mengangkat wajah. Saat mata kami bertemu, pelupuk mata yang menghangat itu tidak bisa kucegah.

“Jangan menangis. Kamu tahu, aku nggak bisa melihat kamu menangis.” Arkha menggengam tanganku. Menariknya menuju sepeda motor yang terparkir di tepi jalan. Dia mengantarku menuju tempat kost kami. Mendengarkanku bercerita sepanjang malam. Dia mulai mengantuk dan beranjak ke kamarnya yang berada persis di sebelah kamarku.

“Lihat Arkha, nggak?” tanyaku beberapa kali pada teman-teman mahasiswa di koridor kampus. Semuanya berkata ‘tidak’ atau menggelengkan kepala. Aku kesal, sebegini banyak orang di kampus dan tidak satupun melihat Arkha. Memangnya menghilang kemana dia?

Sosok perempuan berjalan mendekat. Ratna. Dia sendirian. Berarti Arkha tidak bersamanya. Ada kelegaan di dalam hatiku. Jarak kami semakin dekat. Dia menyapaku dan tersenyum lebar. Ratna memang perempuan yang ramah. Tidak dingin dan pencemas sepertiku. Dia mengajakku ke kantin karena lapar dan ingin makan. Meskipun kami tidak akrab, entahlah kenapa aku mau saja mengikuti langkahnya.

“Tadi Arkha bilang, kalau ketemu kamu, diminta ajak makan siang dulu. Katanya kamu susah makan kalau nggak ditemenin.” Sepiring nasi goreng ayam yang sudah berada di atas meja urung kujamah. Punggungku menegak.

“Kamu ketemu Arkha?”

“Iya, tadi kami ke perpustakaan bareng. Ada tugas. Bukan tugas kelompok, sih. Tapi tadi Arkha ngajak kesana bareng. Ya udah deh kami jalan. Tugasnya langsung beres. Arkha memang pintar, ya?” Ratna bercerita dengan begitu santai dan riang. Dia kehilangan momen melihat kemarahan di mataku.

Ponselnya di atas meja bergetar. Meskipun dengan posisi terbalik, aku bisa melihat nama peneleponnya. Dhreka. Kenapa Dhreka menghubunginya?

“Ya, Dhre. Oh, ada Arkha di situ? Boleh, kasih aja ponselnya ke dia.”

Percakapan yang terdengar tidak menyenangkan di telingaku. Melihat Ratna tersenyum, tertawa, dan mengerlingkan mata.

“Aku udah bilang Arkha ya, kamu ada di sini. Jangan kemana-mana, nanti dia mau kemari.” Aku hanya mengangguk-angguk. Mengaduk nasi goreng dengan pikiran berkecamuk.

“Tadi itu Arkha?” Aku mencoba bertanya untuk meyakinkan diri.

“Bukan. Dhreka. Lagi di parkiran sama Arkha. Batere ponsel Arkha habis.”

Ratna memang perempuan yang menyenangkan. Darinya aku tahu bahwa Arkha memang benar-benar menyayangiku. Arkha mengakuiku sebagai adik. Tapi masalahnya bukan itu. Arkha mulai mengingkari janjinya. Dia berada terlalu dekat dengan orang-orang yang tidak membuatku bahagia. Dhreka, Ratna. Kenapa tidak menghubungiku? Kenapa Ratna?

Ah, jika seperti ini jadinya, aku tidak bisa tinggal diam. Lain waktu, aku perlu mengajak Ratna makan siang bersama. Di suatu tempat, dengan makanan yang kusiapkan sendiri.

***

Mimpi di masa kecil itu datang lagi. Menyeruak begitu saja. Mengingatkan aku pada masa bermain indah bersama Arkha. Pada permainan petak umpet kami, galasin, dan benteng. Tentang sore hari kami di atap rumah. Kami tertawa-tawa. Rasanya aku berbaring dengan tawa mengikik di malam hari. Mungkin saja seseorang yang saat itu tengah masuk dan memeriksa akan tersenyum bahagia. Mengetahui bahwa ada kenangan manis yang bisa kuungkit lagi.

Tapi pemandangan sore itu ikut mengikuti perjalanan di dalam mimpi. Teriakan histerisku melihat dua tubuh bersimbah darah tanpa busana. Ibu dan lelaki yang tidak aku kenal. Penyelidikan polisi kemudian menemukan bahwa ibu membunuh lelaki itu sebelum menghabisi nyawanya sendiri. Peristiwa yang tidak bisa aku mengerti. Tidak sampai beberapa minggu kemudian, kutemukan surat dengan tulisan tangan ibu di bawah lemari pakaiannya.

Surat tentang ibu yang harus melupakan kekasihnya demi menikah dengan ayah. Tapi sia-sia karena cinta ayah masih terpatri untuk perempuan lain. Hingga usiaku 12 tahun saat itu, cinta ayah hanya untuk perempuan yang begitu dekat denganku. Dia adalah ibu dari sahabatku, Arkha. Aku menangis, Arkha meraung. Aku meraung, Arkha terdiam membisu. Kami berdua sama-sama terluka, kehilangan, dan memilih melaluinya berdua. Tidak boleh ada yang menyakitinya, tidak boleh ada yang menyakitiku. Kami akan saling melindungi.

Aku berteriak-teriak. Ada empat tangan yang menggoncang-goncangkan lengan. Membuka mata, dua wajah tersenyum menenangkan.

“Tenanglah, tenang ….”

Tapi suara itu hanya serupa bisikan. Aku tidak bisa tenang. Terus berteriak memanggil nama Arkha. Sebuah benda yang mulai akrab di mataku terlihat jelas. Tipis, panjang, tajam, menyakitkan, tapi kemudian membawaku bermimpi lagi. Mataku melemah perlahan. Aku menangis. Rasa sakit itu datang lagi. Tidak ada yang lebih menyakitkan dari rasa sepi.

“Arkha ….” Aku merintih.

Bayangan itu datang lagi. Tentang Arkha yang begitu panik saat Ratna dibawa ke rumah sakit karena keracunan makanan. Juga kemarahannya saat mengetahui aku adalah sumber di baliknya. Orang-orang di bawah sana terlihat lebih kecil dari tempat kami berdiri saat ini. Dia yang tengah memarahiku.

“Kamu mengingkari janji, Arkha. Kamu bilang, kita akan menyingkirkan orang-orang yang membuat masing-masing dari kita nggak bahagia. Tapi kamu malah berteman dengan Dhreka. Malah dekat dengan Ratna. Kamu bohong!”

“Demi Tuhan, Aida. Janji itu bukan berarti kamu boleh menyakiti. Berpikirlah terbuka. Sudahi amarah kita. Aku lelah menyimpan dendam. Kita buka lembaran hidup yang baru. Hidup kita masih panjang, Aida. Ya?” Jari Arkha bergerak menyusut air mataku.

“Kamu sungguh-sungguh?”

Arkha mengangguk kuat. “Kita sama-sama terluka, Aida. Tapi kita sama-sama kuat. Aku bisa menghadapi masalahku. Kamu juga.”

“Masalahku lebih besar dari kamu, Arkha. Aku mencintai orang yang malah mencintai perempuan yang dekat denganmu. Aku harus melihat orang yang aku cintai bersahabat sama kamu.”

“Itu karena kamu nggak berusaha menerima, Aida. Menerima, nanti Tuhan akan berikan yang terbaik, orang yang mencintai kamu.”

“Jadi masalahnya ada di diri aku?”

“Iya, cobalah untuk memaafkan, Aida. Memaafkan orangtua kita, masa lalu kita, Aku yakin kamu bisa.”

Aku tidak berkata apa-apa lagi. Hanya terus saja mendengarkan kalimat dari bibir Arkha. Sampai kemudian Arkha menyadari, “Aida, kamu mau apa?” Arkha terus melangkah mundur, melihatku yang terus bergerak maju.

“Aku mau menepati janji. Menyingkirkan siapapun yang membuat aku nggak bahagia.”

Tatapan Arkha berubah dari penuh permohonan menjadi kebencian. “Kamu gila, Aida. Kamu gila!”

Tanganku bergerak maju. Sedetik kemudian, sebelum tubuh Arkha membentur conblock di bawah sana, aku merasakan kehilangan yang begitu pekat.

*****

 

The Happier Me,

Melina Sekarsari

 

 

Facebook Comments

Posted by melinase

Mom of two kids, living within good books and extraordinary people

10 thoughts on “Sebuah Janji dari Masa Lalu”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.