Memaksakan Kehendak pada Anak; Baik atau Buruk?

Dalam sebuah acara, salah satu dari kami pernah bertanya, “Ada nggak sih di antara kita yang sejak kecil sudah bercita-cita menjadi PNS?”

Kelompok kami yang terdiri nggak lebih dari 50 orang itu semuanya menggelengkan kepala. Profesi PNS bukan hanya nggak pernah terpikirkan di masa kanak-kanak tapi juga besar kemungkinan nggak dikenal. Rata-rata anak akan menjawab ingin menjadi dokter. Lantas, kenapa begitu memasuki usia dewasa dan siap bekerja, sebagian dari kita malah berbelok arah dari cita-cita semula, berduyun-duyun mengikuti Tes CPNS?

Source: Pexels

Keinginan sendiri atau maunya orangtua?

Kalau maunya orangtua, memangnya semua maunya orangtua harus diikuti, ya? Nggak bisa menjadi diri sendiri, dong. Kok apa-apa diatur orangtua, ya? Nggak enak banget.

Jadi, gimana?

***

Dalam sebuah acara yang lain, sekitar dua tahun lalu, saya duduk bersebelahan dengan seorang ibu. Cantik, pembawaannya lembut, dan kami terlibat diskusi hangat saat itu. Eh, tapi kami nggak ngobrol di tengah-tengah acara lho, ya. Waktu itu acaranya di bulan Ramadhan jadi ada sesi buka puasa bersama. Nah, kami ngobrol di sesi itu.

Beliau mempunyai dua orang anak, dua-duanya berstatus mahasiswa di dua perguruan tinggi negeri ternama di Bandung dan Medan. Suaminya bekerja di salah satu perusahaan pertambangan, sering berada di site karena tuntutan pekerjaan, sehingga beliau lebih sering sendirian. Rumah yang luas terasa makin luas saja jadi beliau memutuskan tinggal di apartemen. Ruangan dan perabot yang secukupnya, fasilitas lengkap, membuat beliau merasa lebih nyaman. Setiap sore, beliau turun dan berjalan-jalan di taman. Menikmati sore sambil ngobrol dengan penghuni apartemen lain yang biasanya sambil menemani anak-anak bermain di playground.

Source: Pexels

Saat itu saya baru ngeh kalau penghuni apartemen pun bisa bersosialisasi dengan tetangganya juga. Saya kira semuanya punya sifat individualis tapi ternyata nggak, ya. Hihihih … Maklum belum pernah punya apartemen.

Kuliah di luar kota, membuat beliau jarang bertemu dengan anak-anaknya. Kalau yang di Bandung, beliau sesekali masih datang menjenguk atau anaknya yang pulang. Kalau yang di Medan, komunikasi lebih sering via telepon saja. Anaknya jarang pulang karena pertimbangan waktu. Saya yang suka kepo ini lalu bertanya soal ketenangan hati melepaskan anak kuliah di pulau seberang. Pastinya sekalian juga dengan tips-tips agar bisa membawa putra-putranya masuk ke perguruan tinggi negeri ternama. Seperti ibu-ibu pada umumnya, tips tersebut dikemas dalam sebuah cerita yang paaanjang, hahaha … Saya sih suka menyimaknya karena bisa jadi referensi juga sebagai orangtua.

Ibu itu bercerita kalau semasa anak-anaknya masih sekolah, beliau adalah ibu yang super cerewet dan punya aturan ketat. Nggak ada cerita main ke rumah teman kalau bukan acara belajar kelompok. Buat beliau, terserah anak-anak mau kuper atau apa yang penting anak-anak berada di rumah, menghabiskan waktu dengan belajar, ngobrol dengan orangtua, dan mau nonton apapun dalam pengawasan orangtua. Beliau maunya begini untuk meminimalkan masuknya pengaruh buruk kepada anak-anak baik dari tontonan maupun pergaulan.

Bukan sekali dua kali beliau mendengar komentar teman-teman anaknya yang bilang, “Masa main keluar aja nggak boleh, sih.” Tapi beliau cuek saja. Kalau mau kumpul dengan teman-teman di rumah saja. Mau makan dan minum apa, semuanya disediakan. Wuih, ini sih saya juga mau hahaha … Sssttt tapi kalau sudah kesorean, teman-teman yang main ke rumah disuruhin pulang, hahaha …

Source: Pexels

Saya sempat bertanya, mungkin nggak sih anak-anak berbohong? Misalnya bilangnya mau mengerjakan tugas kelompok tapi ternyata mengerjakan yang lain. Beliau sih cukup ketat untuk urusan satu ini. Ditanya dulu tugasnya mengerjakan apa dan hasilnya mana. Dueng … Tiati ya jangan coba-coba berdusta.

Saat anak-anak nggak ada di rumah, beliau selalu menelepon ke rumah teman yang dikunjungi. Menghubungi ke nomor telepon rumah, yang dicari si pemilik rumah alias orangtua teman anaknya. Kalau betul ada di sana, beliau bernapas lega. Meskipun nggak pernah ada ceritanya anak yang dicari ternyata malah nggak ada yang artinya berbohong.

Nggak tanggung-tanggung, beliau meneleponnya bukan cuma sekali, tapi bisa tiga sampai empat kali. Pertama untuk mengecek dan mengingatkan makan siang, kedua mengingatkan sholat Dzuhur, ketiga mengingatkan sholat Ashar, dan keempat mengingatkan waktunya pulang. Mmm … Kalau saya jadi anaknya sih bakalan merasa risih tapi kalau dilihat dari tujuannya, setuju banget.

Semua hal di atas beliau lakukan mulai anak-anak kecil sampai lulus SMA. Wow! Nggak ada kata bantahan, semua harus menurut.

Source: Pixabay

Menuju bangku kuliah, beliau membebaskan kedua putranya untuk memilih jurusan yang disuka tapi di kota yang ibunya suka. Lho? Beliau yakin bekal dan kebiasaan baik semenjak kecil sampai lulus SMA bisa mereka bawa dan teruskan hingga dewasa. Tapi yang namanya pengaruh dari lingkungan, siapa coba yang bisa menjamin? Itu sebabnya, beliau hanya mengijinkan anak-anaknya kuliah di kota yang terjangkau dari Jakarta atau di kota tempat beliau berasal. Di sana ada keluarga besar yang bisa membantu mengawasi supaya orangtua tetap bisa tenang tinggal berjauhan. Ini nih alasan beliau mengijinkan anak kedua kuliah di Medan. Ternyata beliau memang asli kota tersebut dan sang anak tinggal bareng neneknya.

Sewaktu kami berdua ngobrol, anak-anaknya datang – tadinya mereka sedang ke meja prasmanan untuk mengambil makanan. Dari bahasa tubuh dan cara mereka ngobrol, kelihatan banget lho kehangatannya. Jadi, segala ketegasan beliau tuh nggak bikin hubungan ibu dan anak menjadi kaku.

***

Beberapa hari lalu, saat tengah menunggu antrian di RS, saya kembali dipertemukan dengan another ibu-ibu. Yah beginilah, ibu-ibu ketemunya dengan ibu-ibu juga. Bedanya saya ibu-ibu muda, yang satunya ibu-ibu senior. Mau bilang ibu-ibu tua kan gimana gitu, ya. Beliau dan suami dulunya adalah seorang guru. Mempunyai empat orang anak yang semuanya sudah bekerja. Beliau datang ke RS sendirian karena anak-anaknya nggak bisa meninggalkan pekerjaan.

Saya dapat nomor antrian 305, beliau 295, dan saat itu nomor antrian yang dipanggil masih di angka 170. Praktis, kami memilih ngobrol daripada bosan lalu mengantuk. Dulu, beliau dan suami keukeuh banget membawa anak-anak mereka menjadi guru. Saat putri pertama lulus ujian masuk pendidikan guru, mereka berdua senang luar biasa. Tapi sebaliknya, sang putri nggak suka. Setahun kuliah, dia memutuskan ikut ujian masuk perguruan tinggi negeri di jurusan pertanian dan diterima!

Source: Pixabay

Beliau dan suami sedih, tapi putri pertama bahagia luar biasa. Mulailah pindah kuliah. Saat lulus, putrinya ini banyak menerima tawaran pekerjaan. Semuanya di daerah perkebunan di Sumatera Selatan. Nggak pernah jauh dari anak-anak, beliau dan suami nggak merestui. Suami beliau malah mengajak putri pertamanya itu untuk kembali ke cita-cita semula, menjadi guru. Sang putri menolak tapi terus dirayu dan akhirnya mau mencoba. Tiga bulan mengajar, sang putri menemui pasangan suami istri itu lalu bilang, “Ayah, Mama, aku kayaknya mau terus jadi guru, deh. Asyik, ternyata.”

Wah, kebayang deh itu rona bahagia beliau dan suami, ya.

Hal serupa berlanjut ke anak-anak yang berikutnya. Ada seorang anak yang benar-benar nggak mau menjadi guru. Beberapa tahun bekerja di profesi lain. Tapi beliau dan suami ini kompak banget pokoknya semua anak mereka harus menjadi guru. Kepada satu anak ini, mereka nggak lagi memaksakan secara verbal, tapi melalui jalur lain. Dalam setiap sholat, beliau dan suami memohon pada Allah SWT agar sang anak digerakkan hatinya, dibelokkan jalur profesinya agar menjadi guru. Dan, terkabul! MasyaAllah doanya orangtua, ya.

Source: Shutterstock

Saya penasaran banget alasan beliau dan suami memaksakan anak-anaknya menjadi guru. Di benak saya, “Ah, paling biar jadi PNS, dapat pensiun, masa depan terjamin.” Pasti begitu, deh. Ibu saya juga begitu #Oppss …

Di sisi lain, jadi guru itu waktunya fleksibel, jam kerjanya enak, punya banyak waktu juga dong buat mengurus rumah. Lalu, ada satu keistimewaan lagi. Liburnya paling banyak! Ya iyalah, murid libur guru ikutan libur gitu, lho.

Tapi ternyata bayangan saya salah semua.

“Jadi guru itu sebagai pengingat buat mereka. Kalau mau berbuat jahat, bohong, dosa, malu sama profesi. Biar inget kalau mereka itu guru. Seharusnya jadi contoh, panutan, teladan. Jadi mereka nggak sia-siakan hidup di dunia.”

Jleb banget nggak, sih? Alasannya begitu sederhana tapi sudah meliputi urusan dunia akhirat.

Source: Pixabay

Selain itu, beliau juga punya kebiasaan lain terhadap anak-anaknya. Kalau ibu yang pertama tadi getol mengingatkan anak sudah sholat atau belum, sudah makan atau belum, ibu yang satu ini beda lagi. Buat beliau sarapan itu wajib. Jadi kalau sedang libur dan anak-anaknya malas sarapan, semuanya diseret ke meja makan, dipaksa duduk, disuapi satu persatu. Jangan bayangkan empat anak-anak usia TK dan SD yang berkumpul di meja makan, ya. Kebiasaan ini pun dilakukan beliau sampai anak-anaknya SMA.

“Biarin aja, kalau nggak gitu pada susah sarapan. Katanya belum lapar, nanti aja. Ibu mah nggak ada begitu-begitu. Sarapan itu wajib. Biar pada sehat.”

Jadi mengingat-ingat nih, kapan ya terakhir kali saya makan disuapi?

***

Belajar dari ibu-ibu senior tadi, mungkin sebagian orang akan setuju dan sebagian lainnya nggak. Soal cita-cita, kan anak yang menjalani. Biar saja mengejar impiannya. Soal tempat kuliah, rezeki siapa yang tahu? Memangnya keinginan orangtua sudah pasti sama dengan takdir dari Allah? Soal bergaul, apa anak jadi nggak percaya diri begitu bertemu dengan dunia perkuliahan yang lebih luas? Soal makan, jangan-jangan anaknya jadi nggak mandiri karena sampai besar makan masih disuapi?

Pendapat-pendapat di atas besar kemungkinan masih akan dihubungkan dengan aneka catatan parenting baik dari seminar maupun buku.

Bagi saya pribadi, aneka metode pengasuhan yang disampaikan dalam seminar atau tertuang di dalam buku, bukan menjadi panduan baku. Sebagai referensi saja karena penerapannya di setiap rumah akan berbeda. Mempertimbangkan faktor ini dan itu.

Source: Pixabay

Kira-kira saya masuk tim ibu-ibu di atas atau yang di tim lawan, ya? Terus terang saya masih bingung. Maunya anak-anak bebas menggapai cita-citanya, dong. Sulung mau jadi pilot pesawat tempur dan punya minat tinggi di dunia satwa liar, bungsu konsisten banget mau jadi guru. Maunya anak-anak bisa dapat beasiswa sekolah di luar negeri, tapi kalau kangen nggak punya ongkos lalu gigit jari. Maunya anak-anak mandiri, tapi terus terang saya pun masih suka gendong mereka kesana-kemari. Ahhh, galau jadinya.

Kalau buibu sekalian, masuk tim setuju atau nggak, hayooo …

 

The Happier Me,

Melina Sekarsari

Facebook Comments

Posted by melinase

Mom of two kids, living within good books and extraordinary people

16 thoughts on “Memaksakan Kehendak pada Anak; Baik atau Buruk?”

  1. Klu Sy harus tau dulu kemampuan & bakat anak’y d’bidang apa,,,,lalu tanyakan mau jd apa,,,,baru dh sbg OrTu memberikan saran dan arahan kpd anak dlm rangka mengejar cita² ….!

  2. Kalau saya lebih membebaskan anak inginnya apa, tapi tetap diberi pengarahan agar mereka tahu mana yang lebih manfaat dan mana yang mudlorot dari sudut pandang agama.

  3. obrolan yang seru. kalau saya kebayangnya akan mendukung passion anak tanpa lupa kesepakatan dan komitmen. hehe kebayang saat nanti masanya udah tiba, anak-anak udah dewasa huhuhu

  4. kalau aku lebih membebaskan sih anak maunya apa. Tapi terkadang suka memaksakan kehendak juga karena menurut ak itu hal cukup membahayakan utk mereka ke depannya 🙂
    Terima kasih untuk sharingnya ya mbak 🙂

  5. Seneng ih bacanya.. jadi bikin introspeksi diri sendiri akan bagaimana kelak. Krn yes skrg masih galau sih, maunya anak mandiri tapi ada momen2 yg pengen ngelonin dan nimang2 anak. Hahaha.. but one thing for sure, yg terbaik utk anak pastinya. Dia happy aku juga happy 🙂

    1. Asyiik … Ada teman galau hahaha … Yes, semua orangtua ingin yang terbaik buat anaknya ya, Mbak. Mari kita eksplor dulu kesukaan mereka apa dan kita dukung. Anyway, thank you yaaa sudah mampir dan beropini di sini.

  6. Semoga saya bisa menjadi orang tua yang bijak.
    Mendidik dan mengurus anak itu ‘seni’, perlu kepekaan agar mampu bersikap yang tepat

    1. Iya ya, Mbak. Mengurus ‘benda hidup’ soalnya. Apalagi ada pertanggungjawaban kelak di hadapan Yang Maha Kuasa. Terima kasih sudah mampir dan beropini, yaaa …

  7. Hiks jadi introspeksi euy udah bener gak ya ngasuh bocahnya. Huhuhu galauuu.. Aku sih gak akan maksain mereka mau jadi apa, selama mereka punya passion terhadap sesuatu aku udah happy deh.

  8. Pernah merasakan jadi anak, pastinya menurut dengan ortu harapannya dimudahkan dalam hidup. Tapi begitu menikah, passion bekerja menjadi sesuatu yg harus dikomunikasikan dgn pasangan.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.